Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Tertekan


__ADS_3

"Kamu mau apa mas?" Suara Nabila terbata-bata.


Denis tidak menjawab pertanyaan Nabila dan berhenti melepas kancing bajunya. Ia tersenyum licik ke arah Nabila, lalu menggeser tubuhnya mendekati istrinya itu, sehingga tubuh Nabila terpojok menyentuh pintu mobil di belakangnya.


Nabila nampak semakin gugup seiring tubuh Denis yang semakin mendekat ke arahnya. Ia berusaha mendorong kuat tubuh Denis, agar menjauh dari tubuhnya. Namun tak membuat Denis untuk berhenti mendekati istrinya. Justru kini wajahnya berada sangat dekat dengan wajah Nabila hinga hangatnya hembusan nafas keduanya bisa dirasakan pasangan mereka.


"Mas jangan begini, malu dilihat orang", ucap Nabila gugup.


"Nggak ada yang bisa lihat, yang" Ujar Denis.


"Lalu kamu mau apa?" Tanya Nabila lagi.


"Mau bersenang-senang sama kamu", kata Denis sambil memasang wajah genitnya. Ia memandang bibir Nabila yang kini terlihat berbeda karena sentuhan lipstik berwarna cerah yang jarang sekali ia pakai, membuat ia menelan salivanya.


Niatnya untuk mengusili istrinya justru malah membuatnya terjebak ingin mengicipi bibir lembut istrinya yang membuatnya ketagihan. Apalagi kini Nabila tengah menutup matanya, seolah memberikannya izin untuk merealisasikan keinginannya.


Wajah Denis terus mendekat dan berhenti di dekat telinga Nabila. "Tolong ambilkan bajuku di bagasi, yang", ucapnya lembut.


Suara Denis seketika membuat Nabila membuka dan membulatkan matanya. Rona merah menghiasi kulit wajahnya yang putih.


Denis yang melihat mimik wajah istrinya itu tertawa sambil mengusapkan telapak tangannya ke wajah istrinya. "Apa yang kamu pikirkan, yang", rodanya diikuti tawa kembali, membuat Nabila mencubit dengan keras pinggang Denis dan sukses membuat pria itu mengaduh.


"Bentar aku ambilkan", kini Nabila memutar tubuhnya untuk membuka pintu mobil. Namun suara Denis menghentikan aktivitasnya, "Tunggu, yang!"


"Apalagi sih mas?" Suara Nabila nampak sebal. Kini tubuhnya berbalik kembali menghadap Denis yang masih belum berpindah dari tempatnya tadi.


Cuuppp......tanpa banyak bicara Denis langsung menyambar bibir istrinya yang nampak menggoda dihadapannya. Denis mencium bibir itu dengan lembut dan **********. Ia menggigit kecil bibir itu sebelum mengakhiri ciumannya, lalu berkata "ini hadiah untukmu, kuberikan diawal karena mau mengambilkan suamimu ini baju. Hadiah lebih besar nanti akan kuberikan dirumah. OK, sayang!" Ucap Denis, sambil menepuk lembut pipi Nabila.


Nabila pun keluar dari mobil dengan muka yang tampak berseri. Setelah mengambil sebuah kaos dari bagasi, Ia segera kembali kepada suaminya dan menyerahkan pakaian itu, tanpa berani masuk kembali ke dalam mobil.


"Yang, jangan cepet-cepet!", teriak Denis kepada Nabila yang berjalan di depannya dengan jarak yang lumayan jauh, namun tak menghentikan langkah wanita itu atau menurunkan kecepatan berjalannya.

__ADS_1


Wanita itu baru berhenti ketika telah mendapati tempat yang hendak ia tuju. Yaitu sebuah warung tenda yang menjual menu nasi goreng kambing, yang dari luar siapa saja yang melihat pasti berpikiran bahwa warung itu sangat laris.


Nabila hendak masuk ke dalam warung itu begitu aroma daging kambing yang berpadu dengan bumbu nasi goreng menggoda indra penciumannya. Namun ia mengurungkan niatnya begitu menyadari suaminya masih berjalan cukup jauh di belakangnya.


"Cepet sini cepet" Nabila memanggil suaminya tanpa mengeluarkan suara, hanya bibirnya saja yang bergerak-gerak sambil melambaikan tangannya agar Denis bersegera datang kepadanya.


Namun Denis malah sengaja tidak menghiraukan apa yang diinginkan istrinya. Ia justru memperlambat jalannya, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku dan wajahnya mengarah ke arah kiri dan kanan, tanpa mempedulikan Nabila yang kini tak sabar menunggu langkah suaminya, sehingga membuatnya mengalah untuk mendekati suaminya.


"Ayo cepet, lambat amat sih, mas!", Nabila tiba-tiba menarik lengan Denis dengan begitu kuat agar berjalan lebih cepat mengikutinya. Denis pun memilih untuk menurut.


Mereka sudah masuk ke dalam warung dan memesan dua porsi nasi goreng. Cukup lama mereka menunggu, namun pesanan mereka tak kunjung datang karena memang kondisi warung saat itu sangat ramai. Hal itu membuat Denis bosan dan cemberut.


Nabila yang melihat wajah suaminya sedang tak bersahabat, berusaha mengajak ngobrol sambil sesekali menyedot es jeruk yang ada di depannya. "Mas, ini kamu yang traktirkan?" Ucapanya.


"Ya nggaklah, kamu yang traktir, kamu yang ngajak kesini. Lagian ini masuk pengeluaran makan, aku kan udah ngasih jatah ke kamu juga", kata Denis tak terima.


"Perhitungan amat sih, katanya direktur tapi nraktir sepiring nasi goreng aja ogah", sahut Nabila.


"Ya udah aku yang traktir", tiba-tiba Denis berubah pikiran.


"Beneran?" Ucapan Nabila semangat.


"Iya, tapi bayar pakai cium", kata Denis sambil menunjuk bibirnya dan menaik turunkan alisnya.


"Ok. Siapa takut! Kata Nabila bersemangat.


"Kamu yakin? tapi ciumnya disini!" Kata Denis sembari tersenyum licik.


"Huhhh....dasar modus!" Nabila mendorong dada Denis, kemudian Denis menangkap tangan Nabila.


"Silahkan mbak, mas! Maaf menunggu lama", ucap seorang pelayan sambil meletakkan dua piring nasi goreng kambing di atas meja, membuat Nabila segera menarik tangannya dari Denis dan beralih ke sendok yang ada di atas piring nasi goreng.

__ADS_1


"Selamat makan", ucapanya kemudian segera memasukkan satu sendok penuh Nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Hahhh.... Hahhhh.... Panas.... Panas..." Ucap Nabila tak jelas, karena mulutnya kepanasan.


Denis yang melihat tingkah istrinya itu bukannya prihatin malah, tertawa. "Makannya kalau makan itu di perhatikan dulu, makanannya panas atau nggak"


Nabila hanya menyebikkan bibir bawahnya mendengar kata-kata Denis, kemudian memakan lagi dengan lahap nasi goreng yang ada di hadapannya, tak menghiraukan Denis yang kini memandanginya dengan senyum lucu.


"Semenjak menikah, baru malam ini aku melihat Nabila yang benar-benar ceria. Tetaplah seperti itu, karena aku menyukainya", tutur Denis serius, membuat Nabila seketika menghentikan makannya dan menoleh ke arahnya.


"Sebenar-benarnya aku memang ceria, mas. Tapi semenjak menikah denganmu, hidupku jadi tertekan", Kata Nabila dengan wajah datar. Kemudian melanjutkan makannya.


Denis menahan tangan Nabila yang hendak menyendok makanan, hingga membuat Nabila berpaling menghadap wajah suaminya yang kini nampak sedih. " Benarkah menikah denganku membuatmu tertekan? Kamu benar tak bahagia dengan pernikahan ini?" suara Denis memelas.


Nabila mengangkat dagunya dan tersenyum tipis, kemudian menyentuh lembut pipi Denis. "Awalnya aku memang tak bahagia karena aku belum mengenalmu. Tapi kini aku sangat bahagia, bahkan akulah mungkin wanita paling bahagia di dunia karena mendapatkan banyak perhatian darimu"


Kata-kata Nabila membuat Denis kembali bernafas lega. Hal itu nampak dari senyumnya yang kini mulai mengembang. Ia mengambil telapak tangan Nabila, lalu berujar, "Terimakasih, Nab. Terimakasih untuk kehadiranmu dan kesedihanmu selalu berada di sampingku".


Setelah menghabiskan makananya, Denis dan Nabila segera melangkah keluar dari warung menuju parkiran, tempat dimana mobil Denis sekarang berada. Awalnya mereka berjalan beriringan namun lama kelamaan jarak mereka semakin jauh saja.


Kini Denis yang ada di depan. Menyadari Nabila masih tertinggal dibelakangnya, Denis segera berbalik arah untuk menjemput Nabila.


"Kamu kenapa? Pelan sekali jalannya. Kamu capek?", tanya Denis kepada Nabila


"Hee'emm" Suara Nabila manja. "Perutku kekenyangan. Sepatu ini juga, bikin aku tambah capek", keluh Nabila sambil menunjukkan sepatunya.


"Ya udah, Ayo kugendong!" Denis menawarkan punggungnya untuk Nabila, tapi Nabila menolaknya.


Nabila melepas sepasang sepatu yang ia pakai, kemudian menyerahkan kepada Denis. "Nih yang, bawain!" Pinta Nabila sambil menyerahkan sandalnya kepada Denis yang sebenarnya enggan menerimanya, namun Denis tak tega menolaknya.


Nabila kemudian menyelipkan tangannya ke lengan Denis. "Ayo jalan!", ajaknya. Denis pun menuruti ajakan Nabila.

__ADS_1


__ADS_2