
Ketika waktu istirahat habis, Nabila segera kembali ke ruangan kerjanya. Ia berharap dapat menyelesaikan dengan cepat pekerjaan-pekerjaannya yang banyak hari ini, agar selesai tepat waktu.
Di tengah kesibukannya bergelut dengan pekerjaan, telpon di mejanya berbunyi. Karena jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat dia duduk, sekali deringan, langsung ia angkat.
Saat berbicara dengan orang di seberang telpon, wajah Nabila tiba-tiba berubah tegang. Manager HRD meminta dia menghadap setelah jam pulang kantor.
Sebenarnya hal seperti ini sudah diprediksi oleh Nabila sebelumnya, melihat akhir-akhir ini ia sering izin bahkan bolos bekerja, meskipun pekerjaannya tetap selesai sesuai waktu yang dijadwalkan. Tapi tetap saja perasaan kuatir itu ada.
Nabila sudah menyelesaikan pekerjaannya hari ini, sebelum jam kantor berakhir. Untuk mengisi waktu senggangnya ia mengeluarkan ponsel dari tas, yang sedari pagi di kantor tidak ia sentuh sama sekali.
Ia memeriksa kotak pesan, berharap suaminya menghubunginya, tetapi nihil. Dari puluhan pesan yang ia terima, tak satupun pesan dari Denis muncul.
Nabila menghembuskan nafasnya perlahan, mencoba menenangkan pikirnya yang sebenarnya sedari tadi cemas memikirkan kondisi suaminya yang diceritakan sopirnya tadi pagi. Ia menimbang-nimbang, ia memutuskan untuk mengirim pesan pada suaminya.
Beberapa kali Nabila mengetik pesan kemudian di hapus, mengetik lagi kemudian dihapus begitulah berulang-ulang, hingga ntah ketikan yang keberapa, ia baru yakin pesannya itu layak untuk dikirimnya. Namun sebelum dikirim, ia sempat membacanya beberapa kali lagi.
"Assalamu'alaikum. Mas Denis, apa kabarnya? Sehat? Sudah makan? Tadi aku bawakan bekal, tapi ternyata mas Denis nggak ngantor. Kenapa mas Denis nggak ngantor? Apa mas sakit? Mas aku minta maaf ya mas atas segala kesalahanku. Aku ingin mas pulang atau kita ketemu, agar masalah kita nggak berlarut-larut. Aku ingin menyelesaikan kesalahpahaman ini segera"
Akhirnya Nabila mengirim pesan itu, saat dia sudah mantap.
Nabila berjalan menemui manager HRD setelah jam kerja berakhir, sesuai yang sudah di intruksikan olehnya. Ia masuk keruangan salah satu orang penting di kantor itu, ketika ia sudah diizinkan masuk.
"Silahkan duduk, Nona Nabila!", perintah Manager HRD, yang kemudian dituruti oleh Nabila.
"Anda tau, kenapa anda saya minta menghadap?" Tanya sang Manager HRD
Nabila hanya menggeleng dan menundukkan kepalanya.
"*Yang pertama, mengenai presensi anda beberapa bulan terakhir sangat buruk. Dan kami tidak bisa mentolerir ini terus menerus, meski pekerjaan anda terbilang bagus. Kerena ini adalah aturan perusahaan yang wajib anda patuhi"
"Yang kedua, mengenai pribadi anda. Anda pasti menyadari kabar yang tengah beredar di tengah-tengah karyawan di sini tentang anda. Kami tak akan ikut campur jika memang tidak menyangkut nama baik perusahaan, tapi kenyataannya sebaliknya bahkan ini berhubungan dengan orang penting di perusahaan ini. Jadi, tolong jaga sikap anda*"
__ADS_1
Nabila mengangkat kepalanya. "Maaf Bu, saya akan berusaha memperbaiki kesalahan-kesalahan saya dan melakukan yang terbaik untuk perusahaan", ucap Nabila penuh penyesalan. Dia sebenarnya bisa saja menceritakan siapa dia sebenarnya agar bebas dari teguran, tapi ia tak ada keinginan sama sekali untuk melakukan itu.
"Kami memang berharap demikian.Tolong anda gunakan dengan baik kesempatan yang kami berikan ini, jika anda masih ingin berkarir di perusahaan ini", ucap Manager HRD dengan tegas.
*********
Malam hari di apartemen, Nabila nampak meringkuk di kamar tidurnya. Sesekali ia menengok ponselnya, berharap suaminya membalas pesan yang ia kirim tadi sore.
Harapan tinggal harapan, sampai malam hampir larut sama sekali tak ada kabar dari suaminya. Ia bertekat untuk menelpon Denis. Namun, beberapa kali ia mencoba, tetap tak berhasil. Denis tak mengangkat telpon darinya.
Dengan deraian air mata yang masih membasahi wajahnya, Nabila akhirnya tertidur.
Begitulah aktivitas Nabila yang terus berulang di beberapa malam setelah suaminya meninggalkannya di apartemen sendiri.
*******
Pagi hari yang cerah mulai menghangatkan seluruh isi bumi. seperti biasa, Nabila akan selalu menyediakan bekal makan siang untuk suaminya di kantor.
Setelah peristiwa bekal yang diberikannya kepada Karina karena Denis tidak masuk kantor, dua hari berturut-turut bekal yang ia titipkan ke Karina untuk suaminya, selalu dikembalikan karena Denis tidak mau menerimanya. Dan terpaksa ia memberikan bekal itu kepada Lisa, yang akhir-akhir ini sering menemaninya minum teh di pantry.
Kali ini Nabila bertekat akan memberikan bekal yang ia bawa langsung kepada suaminya, ia tidak akan menitipkan lagi ke sekretaris suaminya.
Oleh karenanya ketika jam makan siang datang, Nabila bergegas menuju ruangan suaminya. Ia membuka pintu ruangan Denis, tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada Karina, sekretaris Denis.
Tapi ketika pintu ruangan Denis terbuka, Nabila heran karena ternyata suaminya tak ada disana. Ia pun berjalan ke meja Karina yang tengah sibuk untuk meminta informasi tentang atasannya itu.
"Nona Karina, kenapa Tuan Denis tidak ada di ruangannya?" Tanya Nabila, tanpa sedikitpun ada senyum yang biasanya nampak jika ia bertemu Karina.
"Maaf mbak, hari ini Tuan Denis tidak masuk kerena beliau sedang sakit", ucap Karina sopan.
Begitu tau suaminya sakit, Nabila nampak begitu panik. Tanpa mengucapkan apapun, Nabila segera meninggalkan Karina yang hanya bengong melihat sikapnya.
__ADS_1
Nabila segera kembali keruang kerjanya untuk mengambil tasnya, kemudian keluar dari kantor untuk mencari taksi. Ia tidak peduli lagi dengan resiko yang akan diterimanya ketika ia sekarang kembali melanggar peraturan di perusahaan tempat ia bekerja.
Setelah mendapatkan taksi ia segera menuju ke rumah keluarga Denis. Dengan berbekal ingatannya ia pergi ke tempat itu. Nabila sebelumnya pernah beberapa kali pergi ke rumah keluarga Denis saat ayah Denis masih aktif di kantor, sehingga ia masih ingat diamana alamat rumah itu.
Nabila segera turun dari taksi, ketika taksi sudah sampai di depan gerbang rumah keluarga Gumilang. Setelah ia menekan bel yang ada di gerbang, seorang satpam menyambutnya.
"Selamat siang nona, ada yang bisa saya bantu?", Tanya satpam
"Tuan Denis ada, pak?", tanya Nabila
"Ada, tapi tuan sedang sakit. Apa anda sudah membuat janji dengan tuan?", ucap Satpam
"Saya istrinya, pak", seru Nabila membuat si Satpam kaget. Satpam itu memang selama ini tidak mengetahui istri tuan mudanya karena Denis memang belum pernah mengajaknya kemari. Yang ia tahu hanya sekedar informasi bahwa tuan muda sudah menikah dan istrinya bernama Nabila.
"Maaf Nona Nabila, silahkan masuk. Mari saya antar", ucap Satpam dengan penuh sopan.
Nabila mengikuti satpam itu. Sampai di depan pintu rumah, pelayanan segera membukakan pintu, begitu si satpam mengetuknya.
"Ini Nona Nabila, mau bertemu tuan muda, tolong antarkan!" Perintah Satpam kepada pelayan.
"Silahkan masuk Nona, tuan muda sedang ada tamu juga", ucap pelayan itu.
Pelayan itu mengantarkan Nabila menuju ruang keluarga, tempat Denis berada saat itu bersama tamunya.
Saat Nabila masuk ke ruang keluarga, seorang wanita yang merupakan tamu Denis, terkejut melihat kedatangan Nabila yang tiba-tiba. "Nabila!" Ucapnya.
___________
Maaf ya kalau author jarang update akhir-akhir ini. sebagai permintaan maaf, author langsung up 2 episode.
Jangan lupa, beri dukungan kepada author dengan like, comment dan vote ya ^_^
__ADS_1