Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Jadi Pemenang


__ADS_3

"Apa ini yang menyebabkan pertengkaran kalian? Kak Nabila tidak pernah sekalipun membawa laki-laki pulang ke rumah atau terdengar dekat dengan laki-laki, meskipun banyak laki-laki yang mengejarnya, kecuali satu orang"


"Siapa?" Tanya Denis penasaran


"Teman kampus kakak dulu. Dia sempat melamar kakak sebelum pergi ke luar negeri meski akhirnya di tolak. Aku pikir kak Nab akan menikah dengan dia, setelah dia balik dari luar negeri, ternyata aku salah. Malah kak Denis yang jadi pemenangnya", ucap Fendi santai sambil menggosokkan spoons ke motornya.


Tanpa sadar Denis tersenyum-senyum sombong, merasa menang dari yang lain karena telah mendapatkan seorang Nabila.


"Kenapa kakakmu menolak?”tanya Denis sembari mengambil selang air yang tergeletak di bawah kemudian mengalirkan airnya ke body mobil hitam miliknya.


Fendi mengangkat kedua bahunya, sembari berkata, "Entahlah". Kemudian melanjutkan mencuci motornya.


Pagi itu, kedua saudara ketemu gede itu, disibukkan dengan mencuci kenderaan milik mereka. Fendi lebih dulu menyelesaikan pekerjaannya. Ketika melihat Denis masih sibuk dengan kanebonya, Fendi tak segan membantunya.


"Kamu bisa bawa mobil Fen?" tanya Denis, sambil melirik Fendi yang kini ikut mengelap pintu mobilnya.


"Bisa kak, pernah minta ajari teman. Kak Nabila pernah janjiin buat beli mobil, katanya buat bantu-bantu mami ngantar pesenan, juga buat kalau pengen pergi bertiga sama mami, karena kakak nggak bisa naik motor, tapi belum kesampean karena tabungan kakak belum cukup", ucap Fendi.


"Selasai!" Teriak Denis senang, ketika bisa menyelesaikan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh sopirnya itu. Dia kemudian berjalan mendekati Fendi yang sedang memanasi mesin motornya.


"Fendi, motor kamu buat kak Denis ya", pinta Denis sembari mengangkat kedua alisnya.


Fendi menatap Denis dengan tatapan bingung. "Motor ini kak?" Tanya Fendi, sambil menepuk jok motornya dan di balas anggukan oleh Denis. "Kakak kan bisa beli yang kayak gini banyak, kenapa mesti motorku yang kakak minta", kata Fendi merasa sebal.


"Mana kuncinya siniin! Kutukar sama ini" Denis kemudian meletakkan kontak mobilnya diatas spidometer motor milik Fendi, membuat Fendi bengong, mencoba mencerna maksud kakak iparnya itu.


"Mau nggak?" Seru Denis

__ADS_1


"Beneran, kak!?" Tanya Fendi


"Heemm" Sambil mengangguk


Fendi turun dari motor dan menyerahkan kunci motornya kepada Denis, lalu mengambil kontak mobil yang ada di atas spidometernya. Ia mendekat dan memeluk memeluk Denis. "Thanks kak" Ucap Fendi dan Denis pun membalas pelukan itu.


"Jaga baik-baik, ini salah satu mobil kesayangan kakak", Nasihat Denis dan dibalas anggukan kepala oleh Fendi.


Denis naik ke atas motor yang kini menjadi miliknya itu, namun tak menyalakan mesinnya. "Fen, tolong ntar barang-barang kak Denis yang ada di mobil bawa semua ke kamar kak Nabila , ya!" Fendi yang hendak membuka pintu mobil pun mengacungkan kedua jempolnya membelakangi Denis.


"Dek, sarapan dulu!" suara Nabila mengalihkan pandangan dua pria itu kepadanya.


Denis turun dari motornya kemudian berjalan beberapa langkah, sehingga bisa dengan jelas melihat wajah istrinya, meskipun jaraknya tidak terlalu dekat.


"Kok Fendi saja yang ditawari sarapan, aku nggak ditawari, nih?" Goda Denis. Nabila tidak mengomentari apa yang di katakan suaminya, malah membuang muka kemudian berbalik badan hendak masuk ke dalam rumah.


Denis berlari kecil mendekati Nabila. Begitu tubuhnya hampir sejajar dengan istrinya, ia merangkul pundak Nabila, namun dengan cepat Nabila menurunkan tangan suaminya. Denis merangkul kembali, namun cepat pula ia menurunkannya. Begitu sampai berkali-kali. Dan akhirnya Nabila menyerah, membiarkan suaminya melakukan itu. Nampak senyum kemenangan menghiasi wajah Denis.


Denis sudah masuk ke kamar mandi, namun ketika hendak menutup pintunya, ia memilih untuk keluar kembali karena melihat istrinya yang sedang masak, berdiri membelakanginya.


Nabila yang sedang meracik kopi dikejutkan dengan keberadaan Denis yang tiba-tiba datang dan melingkarkan tangannya ke pinggangnya dari arah belakang.


"Masss, malu kalau ada yang lihat", ucapnya lirih sambil berusaha melepaskan tangan Denis.


"Biarin! Istri aku juga bukan istri orang lain", balas Denis, tak peduli dan semakin menguatkan pelukanmu.


"Iya istri kamu, tapi ini bukan rumah kamu, jadi jaga sikap!", bantah Nabila yang masih sibuk dengan aktivitas dapurnya.

__ADS_1


Denis diam tak membalas ucapan Nabila. Kini ia sibuk membenamkan mukanya ke kepala belakang Nabila, menutup matanya dan menghisap dalam-dalam aroma rambut istrinya yang wangi itu.


"Kamu wangi banget, yang", rayu Denis yang kemudian menarik kepalanya dan mengalihkannya ke bagian lain, cuppp...ia mengambil ciuman di pipi Nabila, membuat istrinya itu protes.


"Masss...udah ahh, mandi___".Kata-kata yang diucapkan Nabila terputus tatkala Denis berhasil memutar tubuh istrinya itu, sehingga kini mereka saling berhadapan dengan posisi yang sangat dekat. Tangan Denis masih setia melingkar di pinggang Nabila.


Mata mereka saling bertemu sejenak, hingga akhirnya dengan cepat Nabila berusaha menundukkan kepalanya bebarengan dengan raut mukanya yang sudah bersemu memerah.


Denis membungkukkan badannya sedikit, kemudian cuppp..., ia kembali mengambil ciuman di pipi Nabila di sisi yang lainnya. Ia tersenyum lebar tatkala menangkap wajah istrinya yang memerah itu.


"Kita sudah menikah lama lho sayang, tapi kamu masih malu-malu begini", ucap Denis gemas sembari memuaskan diri melihat wajah istrinya yang masih tertunduk malu.


Nabila benar-benar ingin lari dan bersembunyi saja mendengar ucapan yang keluar dari mulut suaminya itu, karena tak kuat menahan malu yang semakin besar saja.


Ia mendorong tubuh Denis untuk menjauh, tapi tak berhasil. "Lepasin, mas. Tuh, airnya dah mendidih", ucap Nabila sambil mengarahkan dagunya ke arah kompor sebagai isyarat.


Dengan gerakan cepat Denis mematikan kompor itu dan kembali meletakkan tangannya di tempat semula.


Nabila yang terkejut dengan tingkah suaminya, tanpa sadar mengangkat kepalanya untuk melihat ekspresi pria itu. Dan Denis tak membuang kesempatan itu. Dengan cepat ia mengambil ciuman di bibir istrinya yang dari tadi sudah diincarnya.


Ciuman yang terjadi beberapa detik itu berakhir tatkala Denis dengan sengaja menggigit kecil bibir manis istrinya yang membuatnya gemas dan refleks membuat Nabila memukul dada Denis.


Denis melepaskan pelukannya, menyalakan kompor yang tadi ia matikan, kemudian melangkah menuju kamar mandi dengan suara tawa yang keras, meninggalkan Nabila yang menggerutu karena kesal dengan sikap suaminya.


_________


**Happy reading 😉

__ADS_1


Selamat berhari minggu, semoga hari kalian semua menyenangkan!


Jangan lupa tinggalkan jejak cintamu buat author, dengan like, comment, dan vote**.


__ADS_2