Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Wedding Organizer


__ADS_3

Denis baru selesai membuka satu kancing kemeja yang dipakai istrinya, seiring seseorang mengetuk pintu kamarnya sembari memanggil-manggilnya. Hal itu membuat ia mengumpat dalam hati namun tak menghentikan niatnya untuk terus membuka kancing-kancing berikutnya dan menikmati apa yang ada di dalamnya.


"Mas sudah! buka dulu pintunya! Ayo buruan!", rengek Nabila berulang-ulang, memaksa Denis akhirnya menghentikan aksinya.


Denis memukulkan tangannya ke tempat tidur cukup keras, itu membuat Nabila terkekeh. "Jangan ketawa! Atau nanti kuhukum!" Ancam Denis, yang kemudian mengecup sejenak kening Nabila sebelum beranjak untuk membuka pintu.


"Maaf tuan muda, di bawah ada tamu. Katanya sudah ada janji sama tuan", lapor Bi Parti, sambil menunduk tanpa mau melihat wajah anak majikannya itu.


"Suruh mereka menunggu, aku mau ganti pakaian dulu dan tolong siapkan makan siang untuk kami!" Perintah Denis. Ia dengan cepat menutup pintu kembali, tanpa mendengar jawaban dari pembantunya itu.


"Ada apa mas?" Tanya Nabila.


"Ada orang wedding organizer datang", kata Denis sembari memakai kaos yang baru dia ambil dari lemari.


Nabila yang kini sedang duduk menyisir rambutnya di depan meja rias, mengerutkan keningnya. " Wedding organizer?" Batinnya, lalu memutar tubuh menghadap suaminya.


"Kok ada wedding organizer segala, mas mau apa memangnya?" Tanya Nabila penasaran.


"Nanti kamu juga akan tau. Istirahatlah, aku turun sebentar ya!" Kata Denis. Ia mencium pipi Nabila sebelum keluar dari kamar dan menemui tamunya.


Nabila beranjak dari tempat duduknya, untuk mengganti pakaiannya. Karena pakaian rumahan yang disiapkan oleh Denis hanya bisa dipakai di dalam kamar saja, dia memutuskan untuk mengambil satu kaos dari tumpukan pakaian Denis. Meski kebesaran, ia lebih suka mengenakannya dari pada harus mengenakan pakaian yang seksi.


Nabila memutuskan turun ke bawah untuk membantu Bi Parti yang sedang memasak untuk makan siang, karena jika di dalam kamar saja, pikirannya akan terus diganggu oleh dugaan-dugaan negatif mengenai suaminya yang kini sedang bertemu pihak wedding organizer.


"Sedang masak apa bi?" Tanya Nabila yang baru saja menginjakkan kaki di dapur, membuat bi Parti yang sedang sibuk dengan aneka bumbu dapur menoleh ke arahnya.


"Oh nona muda" Ucap Bi Parti di ikuti senyum tipisnya. "Ini mau masak nasi liwet sama gurami bakar, non", lanjutnya.


"Panggil Nabila saja, bi" Kata Nabila sembari menarik sebuah kursi yang ada di hadapannya, kemudian duduk di situ. "Ada yang bisa kubantu, bi?" Tanya Nabila lagi.


"Nggak usah non, biar bibi saja. Non, istirahat saja, pasti capek tadi perjalanan cukup jauh apalagi pakai motor" Kata Bi Parti. Ia mencuri pandang ke arah Nabila, ntah kenapa wanita itu tampak tak asing dengan nona muda yang ada di hadapannya.


"Bibi, sudah lama kerja disini?"

__ADS_1


"Lumayan non, sudah sekitar 7 tahun. Saya disini menggantikan emak yang sudah tua"


Bi Parti melirik kembali Nabila, meski ragu ia memberanikan diri untuk bertanya. "Nona, apa baru pertama kesini?”


"Kenapa memangnya, bi?"


"Saya tidak asing dengan wajah nona, sepertinya pernah lihat, tapi lupa dimana. Disini atau dimana ya?"


"Ntahlah bi. Sepertinya saya juga tidak asing dengan tempat ini dan pernah kesini tapi sudah luamaaa sekali"


"Sayanggggg, kamu dimana?Sayanggg!" terdengar sayup-sayup suara Denis, membuat Nabila menghentikan perbincangan dengan Bi Parti, lalu keluar dari dapur menuju sumber suara tadi.


"Sayang dari mana saja? Kupanggil-panggil nggak ada sahutan", Protes Denis ketika melihat istrinya datang menghampirinya.


"Dari dapur mas. Mau bantu masak tapi nggak diizinkan sama Bi Parti", kata Nabila yang kemudian memilih berjalan ke arah jendela kaca yang langsung mengarah pada pemandangan di kebun bunga belakang Villa.


Denis berjalan melewati Nabila yang kini sedang bersedekap sembari melihat ke arah kebun bunga dari balik kaca. Ia membuka pintu di dekat jendela dan melangkah ke balkon.


"Apa tujuanmu memanggil wedding organizer? Adakah yang kamu rencanakan, mas?", tanya Nabila yang kini berdiri sejajar dengan suaminya. Matanya menatap wajah Denis dingin.


Denis menoleh ke arah Nabila, kemudian mengulas senyum kepada wanita yang masih menatapnya itu.


"Kenapa?", tanya Denis, yang kemudian beralih duduk di atas kursi rotan panjang dengan bantalan empuk sebagai alasnya.


Nabila masih pada posisinya, tak bergeming melihat gerak Denis.


"Kemarilah!", kata Denis sembari menepuk bantalan kursi di sampingnya. Hal itu tetap tak membuat Nabila mau mendekat bahkan melihat sekalipun pria itu.


Nabila hanya mengalihkan perhatiannya kini ke pemandangan indah yang ada di depannya. Mencoba berperang sendiri dengan pikiran-pikirannya.


Melihat istrinya sekalipun tak menghiraukannya, Denis memilih untuk mengalah dan mendekati istrinya. Di peluknya tubuh Nabila yang ada di depannya, sementara dagunya menumpu pada kepala wanita itu.


"Kenapa tiba-tiba sikapmu sudah berubah lagi?" Tanya Denis.

__ADS_1


"Mengapa kamu masih bertanya? Bukankah kamu sendiri yang membuatku seperti ini?" Jawab Nabila.


"Aku? Kenapa denganku?" Tanya Denis lagi. "Apa ada yang salah dengan ucapan atau sikapku hari ini?" Tambahnya.


Nabila diam, tak merespon lagi apa yang Denis ucapkan. Sehingga membuat Denis membalik tubuh wanita itu, sehingga kini mereka berdua saling berhadapan.


Denis merangkum wajah Nabila dengan kedua tangannya. Di tatapnya dalam kedua mata wanita itu, meski Nabila sendiri enggan melihat suaminya.


"Katakanlah apa yang membuatmu begini?" Katakan apa yang kamu mau? Aku tak bisa jika kau tak acuh seperti itu padaku!"


Nabila melepaskan kedua tangan Denis dari wajahnya, kemudian ia duduk di kursi yang tadi diduduki oleh Denis. "Kenapa kamu nggak mau jujur tentang pertanyaanku tadi, mas?", Tanya Nabila.


Denis mengerutkan keningnya. "Pertanyaan? Pertanyaan yang mana?” Tanyanya dalam hati. Ia mencoba berfikir sejenak, sejurus kemudian senyum kecil nampak di bibirnya.


Ia kini ikut duduk di sebelah istrinya. Mengambil jemari wanita itu dan meletakkan di pahanya. "Aku sudah mengatakannya tadi, belum saatnya sekarang kamu tau. Bukannya aku tidak jujur, sayang. Tapi aku ingin ini menjadi sesuatu yang berkesan buatmu nantinya".


Nabila menoleh ke arah Denis dan mencoba mencari kebohongan di matanya, namun tak dia dapatkan.


"Sini!” perintah Denis, sambil menepuk pahanya, sembari mendorong pundak Nabila yang dia rangkul ke arahnya agar berbaring ke pangkuannya.


"Aku ingin kita mulai semuanya dari awal, sayang. Aku ingin pernikahan yang mungkin awalnya tidak kamu inginkan ini, menjadi ikatan yang tak ingin kamu lepas sampai kapanpun", ucap Denis sembari membelai dengan sayang kepala Nabila yang kini ada di pangkuannya.


Nabila mengubah posisi kepalanya sehingga ia mampu melihat wajah suaminya yang kini nampak teduh. Namun sejenak, tiba-tiba ia melingkarkan tangannya ke perut Denis dan menghadapkan wajahnya ke perut pria itu.


"Berjanjilah, kamu nggak akan menghianati pernikahan ini lagi, mas!" Pinta Nabila dengan suara sendu. Air mata kini sudah jatuh membasahi kain yang menutupi bagian bawah tubuh Denis.


"Aku akan berusaha untuk itu, sayang. Asalkan kamu selalu ada disampingku, melalui semuanya", balas Denis dengan tangan yang masih setia membelai kepala istrinya, hingga tanpa di sadari hal itu membuat istrinya lelap dipangkuannya.


___________


**Happy Reading😉


Maaf rencana mau up sore tadi, ternyata tengah malam baru kesampaian buat up** ^_^

__ADS_1


__ADS_2