
Nabila turun dari tempat tidur dan beranjak masuk kamar mandi. Ia segera masuk ke dalam bath up yang baru saja selesai ia isi dan ia tambahkan minyak esential.
Hatinya masih terasa sesak dengan tuduhan yang diberikan suaminya. Dan semakin bertambah sesak ketika suaminya sangat kasar dalam aktivitas bercinta yang baru saja terjadi karena masih diliputi kemarahan.
Air mata sesekali masih membasahi wajahnya, bercampur dengan air yang tengah menghangatkan tubuhnya yang terasa perih. Wangi dari minyak essential yang menenangkan akhirnya membawanya pelan-pelan ke alam mimpi.
Denis memilih bangkit dan duduk bersandar di kepala ranjang tatkalala tangannya yang meraba tempat tidur di sebelahnya, tak mendapati teman bercintanya tak ada di tempatnya.
"Sayang... Nabila... ", Denis memanggil Nabila dengan suara serak khas bangun tidur, sementara matanya yang baru saja dikucek-kucek mulai menyapu ruangan tempat ia berada.
Karena tak mendapati orang yang dicarinya, dengan malas Denis turun dari ranjang tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Tempat yang menjadi tujuan pertamanya adalah kamar mandi.
Ia mengetuk beberapa kali kamar mandi tapi tak ada jawaban. Lalu ia mencoba memutar handle pintu, ternyata pintu langsung terbuka karena memang Nabila tidak menguncinya.
Denis masuk ke dalam kamar mandi. Matanya membulat tatkala mendapati istrinya tertidur di bath up, disaat ia baru saja membuka tirai bagian tengah kamar mandi itu.
"Kenapa bisa tidur disini", batin Denis. Dengan gerakan cepat, ia mengangkat tubuh Nabila dan meletakkannya di atas ranjang. Ia meninggalkan wanita itu untuk membersihkan diri ke kamar mandi, setelah terlebih dulu menutupi tubuh wanita itu dengan selimut dan mencium keningnya sejenak.
"Kamu sudah bangun, Nab?", Tanya Denis yang saat itu baru keluar dari kamar mandi dengan kimono handuk yang membalut tubuhnya, mendapati istrinya sudah membuka mata dengan tatapan kosong menghadap langit-langit kamar.
Nabila yang sempat menoleh ke arah Denis, seketika bangkit dan duduk bergeser mundur sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Rona ketakutan sangat jelas nampak di wajahnya.
Kepalanya semakin lama semakin dalam menunduk seiring langkah Denis yang kian mendekatinya.
"Nab, maafkan aku ya", ucap lembut Denis yang baru saja mendudukkan tubuhnya dia atas tempat tidur. Kepalanya yang ikut menengkleng, mencoba melihat wajah istrinya namun tak berhasil.
Pria itu kini meraih kedua pundak istrinya dengan kedua tangannya, mencoba menegakkan pundak itu agar ia bisa melihat wajah wanita yang ada di depannya itu. Tapi, Nabila memalingkan wajahnya ke tempat lain tak mau menghiraukan kehadiran Denis yang ada di hadapannya.
Karena tak mendapat apa yang diinginkan, Denis menggeser tubuhnya semakin mendekati Nabila, lalu dengan sekali tarikan Nabila jatuh ke pelukannya.
Begitu kepalanya membentur dada bidang milik suaminya, tangannya seolah tak mau kalah. Tangan Nabila ikut memukul berkali-kali dada Denis. Awalnya pukulan itu sangat keras, namun kelamaan pukulan itu melemah diiringi tangis Nabila yang semakin kencang.
"Maafkan aku, Nab. Aku minta maaf. Aku khilaf. Tak seharusnya aku menyakitimu", lirih suara Denis. Ia menghujani kepala Nabila dengan ciuman. Membuat tangis Nabila perlahan memelan.
Sambil masih memukulkan tangannya pelan ke tubuh Denis, Nabila berkata, "Kamu jahat mas...jahat...aku benci denganmu". Mendengar ucapan Nabila, Denis pun semakin mengeratkan pelukannya.
Perlahan Danis mendorong tubuh Nabila menjauh, kemudian menangkup wajah wanita yang masih sesenggukan itu dengan kedua telak tangannya, sembari jari-jarinya mengusap air mata Nabila yang masih betah turun.
Kedua pasang mata saling bertemu. Nabila melihat ada gurat penyesalan dari pria itu, yang terpancar dari matanya yang kini nampak terlihat mengkilat karena ada air yang melapisinya.
Pria itu menciumi seluruh bagian wajah Nabila dengan lembut, kemudian kembali memeluk tubuh mungil istrinya dengan erat. "Hukumlah aku dengan apapun, asalkan kau mau memaafkanku dan tak membenciku". Kini air matanya ikut merembes membasahi wajahnya.
__ADS_1
Nabila yang awalnya hanya diam, tak merespon perlakuan suaminya, kini mulai membalas pelukan Denis. Dengan lembut ia mengusap punggung suaminya itu, membuat kenyamanan tercipta diantara keduanya.
Cukup lama mereka dalam posisi berpelukan, hingga akhirnya Denis mendorong perlahan tubuh istrinya, kemudian bangkit dan berjalan menuju lemari pakaian.
Denis terlihat sibuk memilih-milih pakaian yang ada di dalam lemari. Setelah mendapatkan apa yang di cari, ia kembali berjalan ke arah Nabila.
"Ini" Denis menyerahkan pakaian yang baru saja diambilnya kepada Nabila. Nabila menerimanya sambil mengucapkan Terima kasih.
"Segera kenakan pakaian itu agar tak masuk angin, aku akan segera kembali!" Kata Denis yang kemudian pergi keluar kamar.
Tak berapa lama, Denis masuk kembali ke dalam kamar dengan membawa sebuah kotak obat. Ia merangkak naik ke tempat tidur, mendekati istrinya yang kini sedang berselonjoran dengan kemeja kedodoran milik suaminya yang kini membalut tubuhnya yang putih.
"Buka kancing bajunya" Perintah Denis kepada Nabila.
"Mas Denis mau apa? Aku lelah mas", kata Nabila pelan sambil meremas kerah bajunya.
Denis tersenyum melihat tingkah istrinya, meskipun gurat penyesalan masih mendominasi wajah tampannya. "Aku akan mengobati lukamu", ucapnya
Wajah Nabila seketika merona malu sebab telah salah sangka terhadap maksud suaminya. Perlahan ia membuka beberapa kancing bajunya bagian atas hinga menampakkan tubuh mulusnya.
Denis yang melihat pemandangan yang ada di depannya hanya menelan salivanya. Ia mencoba mengembalikan pikiran nakalnya agar kembali ke maksud tujuannya semula.
"Perih ya? Tahan sedikit ya!" Ucap Denis lembut lalu mengecup lembut kening istrinya yang baru saja menggelengkan kepala.
"Sudah selesai!" Seru Denis, membuyarkan lamunan Nabila. Pria itu kemudian membenahi pakaian istrinya dan mengancingkan kembali pakaian itu.
Pria itu meletakkan telapak tangannya di pipi istrinya. "Duduklah di sofa itu, aku akan membawakan makanan untukmu! Kamu pasti lapar kan? Katanya.
Denis hendak beranjak berdiri, namun tangan Nabila menahannya. "Biar aku ikut turun ke bawah saja ya, kita makan bersama di meja makan. Biar kamu nggak repot"
"Aku nggak merasa repot, Nab. Aku tau kamu lelah, biar aku yang bawa makanannya ke sini saja ya", ucapan Denis sembari mengelus punggung tangan Nabila yang kemudian menganggukkan kepalanya. Denis beranjak keluar setelah Nabila melepas tangannya.
Denis yang sudah membawa masuk makanan dan minuman di atas nampan, duduk di sebelah Nabila yang kini tengah mengerutkan kening melihat suaminya membawa sepiring nasi dan lauk yang penuh menggunung.
"Kok banyak banget, mas?" Tanya Nabila
"Ini buat berdua, Nab. Aaakk... ", pinta Denis sambil menyodorkan sesendok makanan di depan mulut Nabila.
"Aku bisa makan sendiri, mas!" Ujar Nabila menggeleng
"Sudah buka mulutnya! Aku akan menyuapimu", kata Denis.
__ADS_1
Nabila akhirnya menurut, membiarkan Denis memasukkan sendok demi sendok makanan ke mulutnya.
"Nab, besok pagi kita balik ya?" Tanya Denis yang baru saja menelan seluruh makanan yang ada di mulutnya.
"Katanya pengin disini lama, kok udah minta balik besok. Kenapa, mas?", tanya Nabila. Belum sempat Denis menjawab, Nabila kembali berbicara. "Apa karena aku ya? Aku beneran nggak ada apa-apa mas dengan dia, aku bersumpah" Kata Nabila yang kini wajahnya kembali murung.
"Bukan karena itu, Nab", kata Denis sambil meletakkan piring yang ia bawa ke atas meja.
"Lalu kenapa? Aku masih betah disini. Disini tenang, sejuk, pemandangannya bagus, hijau. Besok-besok aja ya baliknya?", ucap Nabila sambil menarik ujung lengan kimono Denis.
Denis menyentuh pipi Nabila dengan telapak tangannya. "Sayang, besok malam ada undangan dari sahabatku untuk acara penyambutannya pindah ke Indonesia. Aku tidak mungkin meninggalkanmu malam-malam disini. Aku juga terlanjur berjanji padanya, akan datang bersama dirimu."
"Uhhuuukkkk.... Uhukkkkk.... Uhukkkkk".Tiba-tiba Nabila terbatuk-batuk tanpa tau apa penyebabnya.
"Kamu kenapa?” Tanya Denis sambil menyodorkan segelas air kepada Nabila.
Nabila hanya menggeleng, kemudian meneguk air itu hingga habis.
"Ayo istirahatlah lagi, aku akan menemanimu!" Ajak Denis sembari berdiri dan menarik tangan Nabila hati-hati, agar wanita itu mengikutinya.
Mereka berdua naik kembali ke atas ranjang, setelah keduanya membersihkan diri di kamar mandi. Denis menyelimuti tubuh Nabila hingga bagian dada, kemudian pelan-pelan ia berbaring disamping istrinya.
"Tidurlah!", perintah Denis lirih, sembari menyelipkan rambut istrinya ke belakang telinga. Kedua mata mereka saling bertemu.
"Mas, jangan lagi bersikap seperti itu ya!" Pinta Nabila yang kemudian bergelung di dada suaminya.
"Suami mana yang tidak marah melihat istrinya bersama pria lain dan terlihat akrab? Apa kata orang nantinya? Bisa jatuh wibawa seorang suami", kata Denis sembari membelai lembut kepala Nabila dengan mata yang sudah mulai meredup.
"Apakah hanya karena itu?" Tanya Nabila. Namun, ia tak mendapatkan jawaban. ia memberanikan diri menengadahkan kepalanya agar bisa melihat ekspresi Denis. Namun sayang, ternyata kini Denis tengah tertidur.
"Dasar kamu memang tak pernah berubah, mas. Selalu saja, egois. Semua-semua yang kamu lakukan semata-mata demi dirimu sendiri", ucap Nabila dalam hati.
____________
Apa yang kira-kira terjadi pada Nabila besok?
**Jangan bosan-bosan ya mampir ke ceritaku.
jangan lupa tinggalkan jejak like, comment, vote
Happy reading**
__ADS_1