Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Pantai Senggigi


__ADS_3

Tetiba Nabila memeluk tubuh Denis dengan eratnya, tetes air mata tak lagi mampu dibendungnya sehingga membasahi pundak suaminya.


Denis mendorong pelan bahu Nabila dan mencermati wajahnya.


"Kenapa kamu menangis?" Tanya Denis, sambil mengusap air mata yang ada di pipi Nabila dengan jarinya. "Sudah jangan nangis lagi. Sini aku pakaiakan", kata Denis sambil membuka kotak perhiasan tadi.


Denis mengambil kalung dari kotak perhiasan, kemudian menyingkap kerudung istrinya dan memakaikan kalung itu ke lehernya. Ia juga memasang gelang ke tangan dan cincin ke jari istrinya.


"Terimakasih ya, mas", ucap Nabila lirih. Denis tersenyum mendengar ucapan Nabila, lalu dia mengangkat rahang Nabila dan memeberikan ciuman di bibir Nabila. Nabila membalas ciuman itu sehingga lama kelamaan ciuman itu menjadi panas.


Bibir mereka saling bertaut, memberikan kelembutan bagi pasangan mereka masing-masing. Andai saja tidak ada bunyi ponsel dari Nabila, mungkin saja pasangan suami istri itu akan melakukan hal yang lebih jauh.


Nabila mengambil ponsel yang ada di tasnya dan melihat siapa yang sedang menghubunginya. Dia agak kaget melihat nama orang yang menghubunginya di ponselnya itu. Dia bingung antara mengangkat panggilan itu atau tidak.


Denis, yang melihat Nabila nampak bingung, mulai bertanya, "*siapa? "


"Anak-anak tim, mas*", Jawab Nabila


"Angkat saja!", Perintah Denis.


" Boleh?", Tanya Nabila untuk memastikan kembali jawaban suaminya. Dan Denis menjawabnya dengan anggukan.


Ketika Nabila mengangkat panggilan itu, terdengar suara sangat riuh dari ponsel Nabila. Terang saja, karena panggilan yang diterimanya adalah panggilan berupa video call grup.


"Bu Nabila lama nggak masuk, kemana aja?"


"Mbak, Nab kapan masuk lagi? kami kangen"


"Mbak Nab nggak lagi sakit kan?"


"Bu, lagi dimana nih?"


Dan banyak lagi pertanyaan yang dilontarkan oleh mereka, namun hanya dijawab Nabila dengan senyuman.

__ADS_1


"Kerja-kerja, ngobrol aja", teriak Denis ke arah ponsel Nabila dan terdengar oleh orang-orang yang muncul dilayar ponsel Nabila.


Mereka kembali riuh, berbagai pertanyaan terlontar.


"*Siapa, Mbak?"


"Pacar bu Nabila, ya?"


"Wah, Mbak Nabila, udah punya gandengan nih*"


Lagi-lagi Nabila hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan senyuman.


Tiba-tiba Denis mengambil alih ponsel dari tangan Nabila dan menghadapkannya ke depan wajahnya. Tentu saja anak buah Nabila kaget, ketika mengetahui siapa orang yang nampak di ponselnya. Mereka bertanya-tanya kenapa boss besar bisa bersama atasannya.


"Sudah kembali kerja sana, jangan ngerumpi terus", ucap Denis, kemudian memutus obrolan.


Hari ini benar-benar liburan buat Denis dan Nabila. Setelah belanja di sentra perhiasan mutiara, mereka berkunjung ke pusat wisata kuliner di pulau itu untuk menikmati menu-menu khas pulau Lombok. Tak hanya itu, mereka berdua juga mengunjungi pusat oleh-oleh untuk membeli beberapa cinderamata untuk adik dan teman Nabila.


Dan sekarang mereka dalam perjalanan menuju pantai senggigi. Wajah Nabila begitu nampak berseri-seri ketika Denis mengatakan padanya bahwa tujuan mereka selanjutnya adalah pantai Senggigi.


Nabila tampak begitu bahagia, begitu kakinya menginjak pasir pantai. Nabila melepaskan sepatunya, kemudian berlari menceburkan diri ke laut sehingga seluruh pakaiannya menjadi basah.


Denis yang melihat tingkah istrinya, tersenyum bahagia. Ia pun akhirnya turut menyusul Nabila ke laut tanpa mengenakan alas kaki. Puas bermain air mereka berdua merebahkan tubuhnya di atas pasir pantai.


Di pantai itu mereka menikmati bahagianya bermain pasir dan snorkeling menikmati pemandangan karang bawah laut. Mereka juga menikmati romantisme sunset ditepi laut sambil menyantap jagung bakar yang masih hangat.


Setelah matahari tenggelam. Mereka memutuskan kembali ke hotel dengan pakaian basah dan kotor. Tak lama perjalanan menuju hotel karena memang jaraknya cukup dekat.


Begitu sampai di kamar tempat mereka menginap, mereka berebut untuk masuk kamar mandi terlebih dahulu. Denis berhasil masuk ke kamar mandi terlebih dahulu karena memang tenaganya lebih kuat. Namun karena, kasihan dengan istrinya ia menarik Nabila yang ada di depan pintu untuk masuk ke kamar mandi.


Ini pertama kalinya ritual mandi bersama mereka lakukan. Awalnya memang mereka hanya ingin sama-sama membersihkan diri, namun hasrat yang tinggi diantara keduanya membuat aktivitas mandi kali ini bukan menjadi aktivitas mandi yang biasa.


Seusai makan malam, tak banyak aktivitas yang mereka lakukan kecuali menikmati indahnya malam ini dengan berdua saja di dalam kamar dan melakukan agenda olahraga malam suami istri hingga kelelahan menyergap mereka.

__ADS_1


Tengah malam Nabila terbangun karena merasa tenggorokannya sangat kering. Ia memutuskan turun dari ranjang untuk mengambil minum di kulkas kecil yang ada di dalam kamar mereka, namun sebelumnya ia memakai kembali piyama yang tadi terlepas dari tubuhnya.


Setelah minum beberapa teguk air, Nabila kembali naik ke atas ranjang. Ia berusaha menutup matanya kembali namun tak kunjung bisa. Ia pun memutuskan untuk turun dari ranjangnya kembali dan berjalan menuju sofa.


Ia mengambil laptop yang ada di meja, kemudian duduk bersandar di sofa dan menyalakan alat yang ada di pangkuannya itu. Ketika ia memeriksa e-mail yang masuk, tiba-tiba ia teringat dengan pesan dari seseorang semalam yang belum sempat ia balas.


Ia membuka pesan itu kembali dan membacanya. Kemudian dengan hati-hati mengetik balasan pesan itu.


(Wa'alaikumsalam. Alhamdulillah kabar kami baik semua. Alhamdulillah, akhirnya cita-citamu dapat terwujud semoga ilmu yang kamu punya bisa bermanfaat untuk banyak orang.


Maaf, tidak perlu lagi kamu menemui mami. Saat ini aku sudah menikah, sehingga aku tidak mungkin menerima tawaranmu. Semoga kamu akan segera menemukan pendamping yang baik.)


Setelah membaca berulang hasil ketikannya Nabila akhirnya mengirim pesan itu. Ketika hendak menghapus pesannya itu, tiba-tiba ada sentuhan tangan di pundaknya yang membuatnya menoleh dan terkejut.


"Mas", suara Nabila penuh kepanikan karena saat itu memang wajah Denis benar-benar nampak marah.


"Ngapain kamu disini?" Tanya Denis, yang kemudian pindah duduk di sebelah istrinya.


Belum sempat Nabila menjawab, Denis bersuara kembali "Jawab!". Tapi suaranya kali ini berupa bentakan keras yang membuat Nabila semakin takut.


"Mas...", Nabila mencoba berucap, sambil meraih tangan suaminya itu, Namun Denis menepis tangan Nabila dari tangannya. Mata Nabila mulai berkaca-kaca


Denis mengangkat rahang Nabila, dan menekan jarinya ke kedua pipinya. "Siapa pria itu?" Tanya Denis, sambil menunjuk laptop Nabila yang ada di meja. Nabila hanya diam, tak menjawab pertanyaan Denis.


"Jawab!" Teriak Denis, membuat Nabila kaget. Airmata tiba-tiba mengalir ke pipinya.


"Di-di-dia... ", belum selesai Nabila menjawab, Denis kembali bertanya, " Apa dia pacarmu?". Nabila menggelengkan kepalanya.


"Apa kau mencintainya?" Tanya Denis kembali. Kali ini Nabila hanya menundukkan kepalanya tak berani menjawab pertanyaan Denis itu.


____________


Happy Reading😉

__ADS_1


Jangan lupa like, comment dan votenya ya🙂


__ADS_2