
Kicauan burung yang meramaikan suasana terbitnya sang mentari pagi sudah mulai terdengar jarang, seiring mulai mengeringnya embun di pucuk-pucuk dedaunan dan rerumputan, tak membuat dua manusia yang kini ada di balik balutan selimut itu berniat untuk beranjak dari tempat tidurnya.
Sejak selepas subuh tadi mereka telah melewati dua kali pergulatan romantis yang memabukkan, padahal semalaman pergulatan itu telah terjadi berkali-kali diantara mereka. Bak pengantin baru, rasa itu ingin diulang-ulang terus tanpa ada bosan dan lelahnya.
Wajar sebenarnya jika suasana pengantin baru yang sedang hangat-hangatnya, masih lekat dengan mereka. Bagaimana tidak, meski sudah sekitar lima bulan pernikahan mereka berjalan, aktivitas suami istri yang membuat candu itu baru mereka lakukan beberapa kali, tak lebih dari hitungan jari yang ada di satu telapak tangan.
Jika di jam-jam seperti ini Nabila biasanya sudah selesai menyiapkan sarapan untuknya dan sang pangeran, kali ini lain. Ia masih nyaman bergelung di dada suaminya yang dengan hangat memeluknya dan menghujaninya dengan ciuman sayang di kepalanya.
Andai semalam asistennya tak mengingatkan bahwa hari ini ada pertemuan penting dengan klien, bisa dipastikan adegan dewasa itu akan terulang kembali, bahkan bisa terjadi sampai siang. Berat rasanya bagi Denis untuk jauh dari istrinya barang sedikit saja, belakangan ini.
Suara dering ponsel memaksa Denis untuk menggeser tubuhnya, agar bisa meraih benda penting yang ada di atas nakas itu. Dia kembali ke posisi semula setelah ponsel berada di genggamannya.
"Boss, saya sudah dalam perjalanan ke tempat anda, jika perjalanan lancar, sekitar 1,5 jam lagi, saya tiba di sana", ucap seseorang di sebrang telpon yang baru saja Denis matikan.
"Siapa mas?" Tanya Nabila yang kini mendongakkan kepalanya ke arah wajah suaminya.
"Kamu sudah bangun, sayang?" Tanya Denis, diikuti kecupan di kening istrinya. Ia semakin mengeratkan pelukannya. "Aku ada meeting hari ini, sayang. Sebentar lagi Arsyad menjemputku" Tuturnya.
"Kita balik hari ini, mas?" Tanya Nabila. Ada sedikit kecewa dibalik tanyanya itu.
Denis mengecup bibir Nabila sekilas, "Nggak, sayang. Aku masih ingin berada di sini beberapa hari lagi. Aku hanya ke kantor sebentar, setelah urusannya selesai, aku balik ke sini lagi".
"Apa kamu nggak kecapean harus perjalanan bolak-balik, mas? Aku ikut pulang aja kalau begitu ya, biar kamu nggak kerepotan", kata Nabila, masih mendongakkan kepalanya.
"Nggak mau aku kecapean atau nggak mau aku tinggal?" Denis menarik hidung Nabila, kemudian mengeratkan pelukannya. Dan Nabila membalas pelukan itu.
"Kalau begitu ayo bangun dan sarapan, biar nanti pas di jemput bisa langsung berangkat!" Ajak Nabila, berusaha lepas dari pelukan suaminya.
"Ayo sarapan!", kata Denis sambil menyusupkan kepalanya ke leher Nabila dan tangannya bergerilya kemana-mana, membuat Nabila memukul pundak pria itu.
"Katanya ngajak sarapan, kok malah begini" Nabila berusaha menjauhkan kepala Denis dari tubuhnya.
__ADS_1
"Aku mau sarapan yang ini dulu sayang sebelum berangkat, biar semangat" Kata Denis dengan manjanya.
"Alahhh... Modus!" Kata Nabila, membuat Denis terkekeh dan menghentikan aksinya. Kemudian ia bangkit dari posisinya.
"Ayo kita mandi!" Seru Denis bersemangat, dengan gerakan cepat ia sudah menggendong Nabila untuk dibawanya ke kamar mandi, sementara wanita itu meronta-ronta minta diturunkan dari gendongan suaminya.
Lagi-lagi, adegan panas itu terjadi. Kali ini bath up yang menjadi tempat pilihan mereka.
Mereka baru saja menyelesaikan sarapan paginya, sarapan yang sebenarnya! Tatkala suara klakson memberikan signal bahwa seseorang telah menunggu Denis untuk segera beranjak dari tempat itu.
"Aku berangkat dulu ya sayang". Kedua tangan Denis sudah merengkuh pinggang Nabila tepat di belakang pintu keluar.
"Cium sini!" Denis mendekatkan wajahnya, agar Nabila memberikan ciuman kepadanya. Dengan malu, Nabila memberikan ciuman hangat di pipi suaminya itu.
"Yang lainnya dong, sayang", protes Denis, meminta lebih, membuat Nabila mencubit pinggang suaminya dengan gemas dan membuat Denis mengaduh manja.
"Jika bosan, pergilah jalan-jalan, tapi jangan jauh-jauh. Bisa minta temani Bi Parti. Aku akan langsung kembali begitu urusan selesai" Kata Denis, yang kemudian mencium lembut bibir Nabila. Ia mengacak-acak rambut Nabila, sebelum benar-benar ia keluar dari pintu.
Sepeninggalan suaminya, Nabila memilih untuk masuk ke kamar sembari membawa beberapa buku yang baru dia ambil dari lemari buku di ruang tengah. Namun baru membaca beberapa lembar, rasa bosan mendera sehingga dia memilih untuk turun ke dapur.
"Bi" teguran Nabila membuat Bi Parti menoleh ke arah orang yang memanggil sembari melemparkan senyum ramah.
"Nona, ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya sopan.
"Aku pengin bikin kue, bi. Ada bahan-bahannya nggak, bi?" Nabila melangkah mendekati kulkas, ingin mencari sesuatu yang bisa ia olah menjadi makanan lezat.
"Non, mau bikin kue apa? Kalau sekedar bolu sih ada, non", ucap Bi Parti.
"Ya udah bi, bikin cake pisang aja. Nih ada pisang bagus", kata Nabila sambil menunjukkan pisang yang baru dia keluarkan dari kulkas.
"Saya bantu apa, non?" Tanya Bi Parti
__ADS_1
"Nggak usah bi, bibi istirahat aja. Nanti makan siang pakai lauk tadi pagi aja, diangetin. Mas Denis nggak makan siang di rumah kok", kata Nabila.
Meski dilarang membantu Bisa Parti tak mau beranjak dari dapur, dan memaksa membantu nona mudanya itu.
"Bi, telaga yang ada di dekat hutan masih ada bi? Aku pengin kesana kalau masih ada", kata Nabila sembari tangannya sibuk dengan bahan-bahan kue.
"Masih lah non, cuma hutannya sudah nggak kayak dulu, sudah rusak. Non mau saya antar kesana?" tawar Bi Parti.
"Nggak usah, bi. Aku kesana sendiri saja. Aku masih ingat kok jalannya, nanti kalau lupa bisa tanya-tanya", kata Nabila.
Setelah menyelesaikan makan siangnya, Nabila kembali naik ke kamarnya hendak berganti pakaian dan mengirim pesan ke suaminya bahwa ia akan pergi ke telaga. Tanpa menunggu diizinkan atau tidak, Nabila memutuskan untuk berangkat saat itu juga, karena niatnya mengirim pesan hanya untuk pemberitahuan bukan meminta izin.
Nabila berangkat berjalan kaki karena jarak telaga dengan villa tidak terlalu jauh. Dengan berbekal sedikit ingatan dan keberanian untuk bertanya kepada orang yang ia temui, akhirnya ia berhasil sampai ke telaga yang airnya nampak berwarna biru ke hijauan.
Banyak perubahan yang terjadi di sekitar telaga, karena memang dia terakhir ke tempat itu waktu kelas 6 SD. Pemandangan di sekitar Telaga benar-benar memanjakan mata dan pikirannya.
Ia bisa bebas melihat gerak-gerik ikan di dalam air dari atas jembatan kecil, tempat dimana ia duduk sekarang sembari kakinya bermain-main dengan air. Suasana hijau di sekitar telaga membuat pikiran terasa fresh. Sungguh tidak rugi jika harus berlama-lama di tempat itu.
Karena hari sudah semakin sore, Nabila memutuskan untuk kembali ke villa. Namun, di tengah perjalanan di daerah perkebunan Teh, Nabila lupa arah jalan pulang.
Sampai akhirnya ia mendapati ada seseorang yang mengendarai motor mau berhenti tepat di depannya, karena ia sengaja menghentikan pengendara itu.
"Pak, bisa tunjukkan saya arah menuju Villa keluarga Gumilang? Saya lupa arah menuju kesana", Tanya Nabila Sopan pada sosok laki-laki yang menggunakan pakaian khas pegawai negeri itu.
Laki-laki itu melepaskan kacamata hitamnya, kemudian melihat Nabila dengan seksama. "Kamu Nabilakan?" Tanya laki-laki itu dengan sedikit ragu.
"Dia mengenaliku! Siapa dia?" Tanya Nabila dalam hati, sebelum akhirnya ia mengiyakan pertanyaan laki-laki itu, sehingga membuat laki-laki itu mengembangkan senyum di bibirnya.
_______
**Bersambung.....
__ADS_1
Happy Reading😉**