
Kakinya terasa membeku tatkala tau tubuh siapa yang ada di atas hospital bed itu. Cairan bening begitu saja meluber membasahi sebagian besar wajahnya. Pria disampingnya dengan cepat membawa wanita itu dalam dekapannya. Ia tau pasti wanita itu kini sedang butuh sandaran.
Dengan kaki yang masih terseok, dengan bantuan suaminya, Nabila berjalan mendekati sosok yang dihidungnya kini terpasang selang oksigen.
Denis mendudukkan tubuh Nabila di kursi yang ada di sebelah kanan hospital bed. Nabila perlahan mengambil telapak tangan wanita yang masih tak sadarkan diri itu, lalu menggenggamnya dengan kedua telapak tangannya. Suara sesenggukan kini terdengar semakin jelas.
Wanita muda itu melepaskan pandangannya dari sang ibu, lalu beralih pada ruangan yang bernuansa putih, sebelum akhirnya berhenti pada sosok yang ia sebut adik. Sorot matanya yang tajam, seolah ingin meminta penjelasan atas apa yang terjadi pada orang yang sangat ia cintai itu.
Tanpa diminta, Fendi turut mendekat di tempat kakaknya kini duduk. "Kata dokter, gula darah mami turun drastis", ucap pemuda itu dengan muka bersalah.
"Kenapa mami sampai begini?" kata Nabila. Air matanya masih membajiri wajahnya, meski sudah mulai surut.
"Beberapa hari ini mami nggak mau makan, aku sudah berusaha merayunya, tapi tak berhasil", kata Fendi.
"Apa mami sedang ada banyak masalah?" Tanya Nabila penuh selidik.
Fendi hanya diam menunduk. Membuat Nabila mengernyitkan dahinya. Wanita itu kemudian berdiri menghadap adiknya, setelah menghapus bekas air mata di kedua pipinya.
"Katakan, mami ada masalah apa?" Tanya Nabila serius. "Fendi!" Katanya lagi, ketika mendapati adiknya diam, tak kunjung menjawab pertanyaan darinya.
"Mami terus meminta ketemu kak Dira", kata Fendi gugup.
__ADS_1
Apa yang diucapkan Fendi membuat Nabila terperanjat. Begitu pula Denis. Dalam benaknya, Denis menduga-duga apa Dira yang dimaksud Fendi adalah Dira yang ia kenal dan apa hubungan Dira dengan mertuanya.
Nabila sejenak memandang maminya yang masih belum sadarkan diri, dengan wajah sedih, kemudian beralih kepada adiknya kembali. Wanita itu menghirup udara yang ada disekelilingnya, kemudian menghembuskannya dengan kasar.
"Kamu cerita ke mami kejadian itu?" Tanya Nabila dengan emosi. Dan Fendi hanya membalas dengan anggukan.
"Apa kamu nggak mikir dulu akibatnya jika kamu cerita. Kamu harusnya mikir, bagaimana perasaan mami. Kamu bukan satu dua hari tinggal sama mami, harusnya ngerti bagaimana karakter mami. Pasti mami syok dan kepikiran terus", ucapan Nabila meninggi.
"Kakak kecewa sama kamu, dek", ucapan Nabila pelan. Wanita itu kemudian beranjak keluar dari ruangan itu, setelah sebelumnya dengan kasar ia menabrakkan pundaknya ke lengan adik laki-lakinya itu.
Nabila tak menghiraukan panggilan suaminya yang kini berjalan dibelakangnya. Wanita itu terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan perasaan marah bercampur sedih. Air matanya kembali mengguyur parasnya nan ayu.
"Kamu tau rumah tuan Dahlankan? Tolong antarkan aku kesana!" Kata Nabila
"Kamu mau apa, sayang?" Tanya Denis penasaran. Namun Nabila tak menjawab. Wanita itu kembali berjalan untuk meninggalkan fasilitas kesehatan itu.
Denis yang sedang menyetir mobil, beberapa kali menatap istrinya yang hanya diam seribu bahasa. Wajah laki-laki itu menunjukkan bahwa ia ingin tahu sesuatu dari istrinya.
Nabila yang menyadari sikap suaminya itu, memilih untuk memutar kepalanya ke arah suaminya. Dipandanginya wajah serius orang disampingnya, mencoba menimbang-nimbang perlu atau tidak ia membuka suara.
"Kak Dira adalah kakak kandungku dan tuan Dahlan adalah papiku", kata Nabila, yang berhasil membuat Denis kini mengalihkan perhatiannya kepadanya.
__ADS_1
"Kenapa kamu nggak pernah cerita?" Kata Denis.
"Karena menurutku itu tidak penting", kata Nabila dengan tatapan ke arah depan.
"Bagiku, semua yang menyangkut dirimu adalah penting", kata Denis yang kemudian mengambil jari-jari tangan istrinya untuk dia kecup.
"Setelah sekian tahun aku tak pernah melihat mereka. Untuk pertama kalinya kembali, aku melihat mereka disaat makan siang di rumah papa tempo hari", ucapan Nabila.
"Papi meninggalkan kami, saat aku masih kelas 2SMP. Dia pergi bersama sekretarisnya, sekaligus kekasihnya. Dan kak Dira yang memang lebih dekat dengan papi, memilih ikut bersama papi", cerita Nabila. Lagi-lagi air matanya sukses meluber.
"Papi meninggalkan kami begitu saja dengan rumah yang akhirnya dijual mami dengan harga murah, demi kami bisa bertahan hidup dan biaya pendidikanku, juga Fendi. Mami yang sebelumnya tak pernah bekerja dan tak memiliki sanak famili satupun di sini, harus memulai usaha dari nol", lanjut Nabila.
"Bisa kamu bayangkan, bagaimana kita yang biasa hidup enak kemudian harus bersusah payah untuk bisa bertahan hidup. Belum lagi trauma yang kita rasakan karena orang yang kita cintai meninggalkan kita begitu saja", ucap Nabila dengan tangis yang makin pecah.
Denis yang baru saja meminggirkan mobilnya, meraih tubuh Nabila dalam dekapannya. "Maafkan aku, yang tak tau bahwa orang yang sangat kusayangi ini pernah merasakan penderitaan yang begitu besar", ucapnya.
"Aku berjanji akan berusaha membahagiakanmu, menjagamu, dan memberikan yang terbaik yang aku miliki", kata Denis lagi. Laki-laki itu kemudian memberikan kecupan berkali-kali di kepala istrinya.
Nabila semakin mengeratkan pelukannya, begitu juga suaminya. "Jangan pernah tinggalkan aku ya, mas. Berjanjilah untuk selalu ada disampingku selamanya", kata Nabila.
"Aku berjanji sayang. Aku akan selalu mendampingimu sampai menua dan mati", ucap Denis.
__ADS_1