Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Membiarkan Sendiri


__ADS_3

Saat Nabila masuk ke ruang keluarga, seorang wanita yang merupakan tamu Denis, terkejut melihat kedatangan Nabila yang tiba-tiba. "Nabila!" Ucapnya.


Denis yang semula duduk bersandar di sofa dengan mata terpejam, segera membuka matanya dan mengarahkan pandangan ke arah dimana istrinya berdiri. Gurat kekecewaan masih nampak di wajah pria itu, tapi tak bisa di pungkiri bahwa sorot matanya memancarkan kerinduan yang dalam.


Denis menurunkan pandangannya dari Nabila, kemudian beralih kepada Jenica yang duduk di sebelahnya. "Kau kenal dia?", Tanya Denis pada Jenica sambil memberi isyarat mata ke arah Nabila.


"Iya sayang, aku ke apartemen ketika baru tiba dari Jepang, tapi kamu nggak ada. Jadinya. Ngobrol-ngobrol sama dia. Bahkan Nabila mengajak aku makan malam", ucap Jenica dengan suara manja, sedangkan tangannya sibuk mengusap-usap lengan Denis.


Melihat suaminya diam menikmati sentuhan wanita lain, hati Nabila serasa tergores, ada sesak yang ia rasakan. Belum lagi sebutan sayang yang terucap dari bibir Jen, membuatnya ingin segera meninggalkan tempat itu.


"Masakan Nabila enak banget sayang, pantes kamu betah dapat ART seperti dia", sambung Jenica yang kemudian mendapat tatapan tidak suka dari Denis.


"ART?", gumam Denis dalam hati. Ia kemudian menatap penuh emosi ke arah istrinya yang sekarang hanya menundukkan kepalanya itu. Sorotan mata yang menunjukkan kerinduan itu, kini sudah memudar.


"Ada apa kamu kesini?" Tanya Denis. Namun Nabila tak menjawabnya. Wanita itu hanya berjalan mendekati meja, lalu meletakkan bekal makan siang suaminya yang sengaja ia bawa dari kantor.


"Permisi", Pamit Nabila. Ia mulai melangkahkan kaki hendak pergi dari tempat itu. Namun, baru beranjak dua langkah, suara Denis menghentikan langkahnya.


"Nabila! Kembali dan Duduk!", perintah Denis sembari berteriak.

__ADS_1


Nabila memilih untuk mengalah. Ia mendudukan tubuhnya di kursi yang dekat dengannya berdiri.


"Dan kamu", ucap Denis melihat ke arah Jenica. "Pulang!" Perintah Denis, sambil menunjuk arah jalan keluar.


"Ahhh..... Sayang, aku kan baru aja kesini. Masa disuruh pulang", ucap Jenica sambil mengelus pipi Denis, namun dengan cepat Denis mengelak.


"Kita sudah tidak ada urusan lagi, Jen. Pulanglah! Atau perlu kupanggilkan Jodi untuk membantumu keluar dari rumah ini?", kata Denis dengan penuh emosi.


Jenica menghentakkan kakinya ke lantai. Ia tidak terima dengan sikap pria yang dicintainya itu. Dia mengambil tasnya diatas meja. Sebelum pergi ia mendekat ke Denis, berniat mencium pipi pria itu. Namun dengan tegas Denis menolaknya.


Akhirnya Jenica meninggalkan tempat itu, dengan memasang muka cemberut. Sebelum ia pergi, ia sempat berpamitan pada Nabila dan hanya dibalas Nabila dengan senyuman.


Namun, tiba-tiba Denis bersuara. "Cepat katakan apa yang ingin kamu katakan seperti pesan yang kamu kirim kepadaku!"


Nabila mengangkat kepalanya yang tadi tertunduk. Ia mencoba berpikir cepat, darimana harus mulai bercerita. Dia mencoba membangun kepercayaan diri, berharap semoga apa yang ia katakan nanti akan membuat hubungan mereka membaik.


"Mas, mas Denis pasti sudah sangat paham bahwa pernikahan kita terjadi bukan atas dasar cinta dan kasih sayang. Namun, apa salah jika saya berharap pernikahan ini bukan hanya pernikahan di atas kertas dan terkesan dipaksakan? Apa salah jika saya berharap akan ada cinta dan kasih sayang menghiasi pernikahan kita?"


Nabila mencoba mengambil nafas dalam-dalam kemudian melepaskannya. Sedangkan matanya sudah mulai basah, dan coba di tahannya agar tidak meluber. Ia mencoba kembali untuk menyampaikan isi hatinya.

__ADS_1


"Namun, bukanlah suatu hal yang mudah untuk membangun pernikahan sesuai harapan kita, saya tepatnya. Tapi ketika itu tidak mudah, bukan berarti saya tidak mau mencoba. Saya sudah mencobanya, mas"


Butiran air mata akhirnya lolos dan jatuh membasahi wajah Nabila yang ayu. Tapi, ia masih mencoba bicara meski dengan suara parau dan nafas yang tersengal.


"Setiap orang punya masa lalu, sebagaimana saya dan mas Denis. Saya tidak pernah berniat sama sekali mengejar masa lalu saya itu, meski masa lalu itu berusaha untuk terus datang membayangi. Lalu salahnya apa, mas? Coba jelaskan?"


Tangis Nabila sudah benar-benar pecah. Ia ingin melanjutkan ucapannya, namun ia sudah merasa tidak mampu untuk mengatakannya lagi.


Denis hanya diam mendengar apa yang diutarakan istrinya itu. Muncul rasa iba melihat kondisi istrinya menangis seperti itu, namun egonya tetap belum mampu diajak berkompromi. Bukannya menenangkan istrinya, Denis justru meninggalkannya sendiri dengan segala kesedihannya. Sedangkan ia memilih untuk masuk ke kamar dan menguncinya.


Nabila mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ada kecewa dalam dirinya, melihat suaminya yang pergi begitu saja meninggalkannya tanpa bicara sepatahkatapun.


Ketika dia mulai mampu mengontrol dan menenangkan dirinya, Nabila memilih pergi dari tempat itu. Ia merasa tak ada gunanya lagi tetap bertahan di tempat itu.


Ketika Nabila mendekati pintu, tiba-tiba dari arah belakangnya muncul kepala pelayan. Ia menawari Nabila untuk pulang diantarkan sopir, namun Nabila menolak.


Nabila berjalan berlahan meninggalkan rumah itu. Dia mengikuti saja kemana kakinya membawanya. Yang dia ingin saat ini hanya segera menjauh dari tempat itu.


___________

__ADS_1


Terimakasih untuk semua yang membaca cerita saya. Jangan lupa terus dukung author dengan like, comment, dan vote biar author lebih semangat nyusun ceritanya😉


__ADS_2