Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Komporku


__ADS_3

Dengan membawa sebuah buku yang baru saja dia ambil dari perpustakaan mini miliknya, Nabila menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.


Kekecewaan masih tertangkap dari wajahnya, sebab baru saja suaminya mengabarkan bahwa laki-laki itu akan datang terlambat karena masih banyak pekerjaan yang harus ia tangani di kantor.


Padahal, ini hari pertamanya di rumah, setelah beberapa hari ia harus tinggal di rumah mertuanya karena menemani Jenica yang kondisinya sedang tidak baik karena stress dan sering menangis.


Memang selama di rumah mertuanya, Denis juga ikut menginap, namun mereka jarang bersama, karena Nabila lebih sering menemani Jenica.


Baru membaca beberapa lembar buku, rasa kantuk mulai menyerang Nabila. Sekilas ia menatap jam dinding yang sudah menunjukkan waktu hampir pukul 9. Untuk menghilangkan rasa kantuk, ia memutuskan untuk turun dari sofa dan melakukan aktifitas lain.


Ia memilih pergi ke dapur, untuk memanasi kembali makanan, yang dari tadi telah ia siapkan untuk makan malam suaminya. Baru saja ia menyalakan kompor, tiba-tiba ia di kejutkan dengan sebuah buket bunga lili dan lavender yang sangat indah yang ada di depan wajahnya.


Senyum lebar begitu saja terpencar dari wajah Nabila. Tanpa dia menoleh ke belakang, ia tahu siap yang kini memeluknya dari belakang sambil membawa bunga yang baunya begitu harum itu.


"Maaf ya sayang, aku pulang terlambat", bisik Denis sambil dagunya kini menempel di pundak sang istri.


Nabila membalikkan tubuhnya, memberikan senyum termanisnya kepada Denis. Kemudian dengan cepat mencuri ciuman di pipi suaminya itu. "Terimakasih, sayang" Ucapnya sambil malu-malu.


"Kamu suka?" Tanya Denis sambil menarik pinggang istrinya, hingga posisi tubuh mereka sekarang menempel.


"He'em" Kata Nabila, sambil menatap suaminya dengan tatapan yang begitu menggoda.


"Kenapa menatapku seperti itu? Kamu mau menggodaku, ya sayang?" Tanya Denis yang kemudian dengan lembut menarik dagu istrinya dan menempelkan bibirnya diatas bibir istrinya yang natural tanpa polesan itu.


Mungkin karena rindunya yang besar terhadap suaminya, Nabila yang biasanya masih malu-malu tetiba dengan sangat agresif membalas ciuman suaminya itu. Hingga membuat Denis semakin menjadi.


"Komporku", teriak Nabila, selepas ia berhasil melepaskan ciuman, karena mencium bau gosong di ruangan itu.


Seketika Nabila membalik badannya dan mematikan kompor yang nampak masakan di atasnya sebagian sudah menjadi hitam.


Nabila menepuk keningnya dan memutar kembali badannya menghadap Denis. Mukanya nampak begitu sedih. "Maaf ya mas, lauknya gosong", katanya sambil kepalanya tertunduk lesu.


"Nggak apa-apa, sayang", kata Denis sambil tersenyum dan mendekat ke arah istrinya.


"Terus kamu makan apa, mas?" Kata Nabila masih nampak sedih.


Dengan gerakan cepat Denis menarik tubuh istrinya dan membawanya dalam gendongannya. Nabila yang tidak mengantisipasi, kaget dan reflek mengalungkan tangannya ke leher Denis.


"Aku mau memakanmu saja", bisik Denis di telinga Nabila, membuat tubuh wanita itu merinding.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan menuju kamar, Nabila menyembunyikan wajahnya di dada Denis, sambil mencium aroma tubuh suaminya yang sangat ia sukai, lebih-lebih beberapa hari belakangan ini.


Denis meletakkan tubuh Nabila dengan hati-hati di atas tempat tidur. Ia mememindahkan bunga yang masih ada pada istrinya ke atas nakas, sebelum akhirnya kembali menciumi wanita itu dengan penuh cinta.


Denis baru saja selesai membuka dua kancing piyama istrinya, saat nyaring suara ponselnya memenuhi ruangan. Denis berusaha tak terpengaruh dengan suara itu dengan tetap melanjutkan aktivitasnya, namun justru Nabila yang membuyarkan konsentrasinya, tatkala ia mendorong tubuh suaminya itu.


"Sayang, angkat dulu. Siapa tau penting", kata Nabila dengan suara yang bagi Denis saat itu begitu manja dan semakin menggodanya.


Denis tak beranjak dan semakin kuat keinginannya untuk melanjutkan aktivitas ranjangnya itu, namun lagi-lagi Nabila mendorong tubuh kekarnya, agar segera mengangkat telepon yang suara begitu mengganggu itu.


Denis berdecak, kemudian menggeser tubuhnya dengan malas mendekati sumber suara. Nabila yang melihat raut wajah suaminya yang kesal hanya tersenyum-senyum.


"Ada apa?" Tanya Denis dengan kesal, sesaat setelah meraih ponselnya.


"Apa? Iya, kami akan segera kesana, tolong jaga dia ya, bi!" Kata Denis dengan raut muka yang nampak khawatir, sebelum akhirnya mengakhiri obrolan.


"Kenapa, sayang?" Tanya Nabila penasaran.


"Jen, mengurung diri dari tadi sore. Bi Atik sudah berusaha merayunya, tapi dia tidak berhasil", kata Denis sambil memakai celana panjangnya yang tadi sempat ia lepas.


Nabila segera turun dari tempat tidur dan mengambilkan suaminya baju kaos dari lemari, sebelum ia sendiri mengganti piamanya dengan gamis denim sederhana.


"Aku tunggu di mobil ya, sayang", kata Denis meninggalkan istrinya yang masih memasang kerudungnya.


Tanpa diminta, wanita itupun dengan cekatan membantu suaminya yang sedang mengenakan jaketnya.


Sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan diantara mereka. Hanya sesekali Nabila mencuri pandang ke arah suaminya yang fokus menyetir dengan kecepatan yang cukup tinggi. Sehingga tetiba membuat dirinya melow.


"Benarkah mas Denis masih begitu perhatian dengannya? Atau mas Denis masih ada perasaan terhadapnya?" Pertanyaan itu begitu menggelitik perasaannya. Tapi ia mencoba menepisnya, tak ingin hubungannya yang baru saja membaik, memanas kembali karena rasa cemburunya.


Namun, bagaimanapun Nabila berusaha menutupi rasa cemburunya itu. Raut wajahnya yang kini murung, tak bisa menutupinya.


"Kenapa, sayang? Kok tiba-tiba murung?" Tanya Denis, sesaat setelah mencuri pandang ke arah Istrinya. Pria itu mengelus lembut kepala istrinya.


Nabila menggelengkan kepalanya. "Nggak ada apa-apa, mas", katanya.


"Kamu pasti capek ya, harus bolak -balik ke rumah mama?" Tanya Denis.


Sambil menoleh ke arah suaminya dan tersenyum tipis, ia berkata, "Nggak kok, mas. Aku nggak capek. Aku malah kasihan sama kamu, mas. Baru aja pulang kantor, belum makan malam dan istirahat, harus nyetir lagi ke tempat mama", kata Nabila.

__ADS_1


Denis kembali mengelus kepala Nabila dengan sayang, sambil menoleh sejenak ke arah istrinya dan tersenyum. Tanpa membalas ucapan istrinya itu, ia kembali fokus dengan kemudinya.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai ke tempat tujuan. Nabila turun terlebih dulu dari mobil, meninggalkan suaminya yang masih akan memasukkan mobilnya ke garasi.


Nabila langsung berjalan menuju kamar yang di tempati Jenica, setelah ia menyapa Bi Atik yang membukakan pintu untuknya.


Tak butuh waktu lama untuk Nabila merayu dan menasehati Jenica, hingga wanita itu bersedia membukakan pintu untuknya, dan menceritakan masalahnya yang membuat dia ingin menyendiri dan mengunci diri di dalam kamar.


Nabila pun berhasil untuk mengajak Jenica menikmati makan malam yang tadi terlewat. Dengan telaten Nabila mengambilkan makanan untuk Jenica dan suaminya yang ikut makan di tempat itu. Ia pun rela menunggu kedua orang itu hingga menyelesaikan makannya.


"Kita akan menginap di sini lagi, Jen. Jadi kalau ada apa-apa kamu bisa langsung mencariku. Tidurlah! Aku akan kembali ke kamar", kata Nabila yang kemudian berlalu meninggalkan Jenica yang kini sudah berbaring di atas tempat tidur.


Nabila langsung masuk ke dalam kamar milik suaminya, sesaat setelah berhasil membuka pintu berwarna putih itu. Tak lupa ia menutupnya kembali dan menguncinya.


"Sayang, masih lama?" Teriak Nabila sembari mengetuk pintu kamar mandi, karena ia sedang menahan buang air kecil.


Setelah mendapat jawaban dari suaminya, ia menuju lemari pakaian untuk mengambilkan pakaian untuk Denis dan piama untuk dirinya sendiri.


"Sudah selesai, sayang", bisik Denis sambil memeluk Nabila dari belakang.


"Dingin, mas", kata Nabila ketika Denis mendekatkan rambutnya yang masih basah ke pipinya.


Denis pun mencubit pipi istrinya karena gemas, mendengar suara istrinya yang manja.


"Kenapa lagi sama Jen?" Tanya Denis yang kini sedang dibantu istrinya mengeringkan rambut.


"Dia butuh teman buat curhat. Dia lagi banyak pikiran, mas", kata Nabila yang kemudian berjalan masuk ke kamar mandi.


"Apa ini?" Kata Nabila dalam hati, tatkala mendapati ada flek di celana dalam yang baru saja ia lepas. Ada gurat kesedihan yang muncul saat itu juga.


Setelah membersihkan diri, wanita itu berjalan keluar kamar mandi dengan lemas. Kemudian ia naik ke atas tempat tidur dan berbaring membelakangi suaminya yang sedang memainkan ponselnya.


"Sayang, kenapa?" Tanya Denis sesaat setelah meletakkan ponselnya di atas nakas. Pria itu dengan lembut menarik tubuh istrinya agar berbalik menghadapnya.


"Kamu menangis?" Tanya Denis tatkala melihat ada bekas air mata di bawah mata istrinya. "Kenapa?", tanya Denis lagi sambil memeluk tubuh istrinya.


"Maaf mas, aku pikir aku akan segera hamil karena aku telat cukup lama. Tapi__" Nabila kembali menangis. "Aku haid lagi" Ucapnya lagi diiringi tangis yang makin kencang.


"Nggak perlu sedih, sayang. Kita usaha lagi ya", kata Denis menghibur, sembari menciumi kepala istrinya berkali-kali.

__ADS_1


*****


hmmmm.... sudah harap-harap cemas ya pengin Nabila buruan hamil. Hamil, nggak ya? 🌹


__ADS_2