Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Menginap


__ADS_3

Fendi menghampiri maminya dan menceritakan apa yang terjadi pada kakaknya barusan. Mami hanya bisa geleng-geleng menanggapi sikap anak perempuannya itu. "Dasar bocah nakal", batin mami.


"Nak Denis, maafin kelakuan anak mami ya", ucap mami.


Denis tersenyum tipis. "Nggak papa mi, mungkin Nabila memang capek dan ngantuk"


"Sejak Nabila tadi datang, mami sudah bisa membaca kalau kalian ada masalah. Tapi, mami nggak mau ikut campur urusan rumah tangga kalian. Kalian sudah besar, sudah tau bagaimana menyelesaikan masalah kalian, tanpa harus dibantu orang lain. Nabila memang terlihat keras di luar, tapi sebenarnya hatinya sangat lembut. Dia tidak akan marah dalam waktu lama, paling satu dua hari saja begitu, selanjutnya sudah biasa lagi. Kamu yang sabar ya menghadapi anak mami. Setiap pernikahan pasti ada ujiannya, semoga kalian bisa mengatasinya dengan baik" Kata mami kepada mantunya.


Denis mengangguk - anggukan kepalanya. "iya mi. Tolong doakan kami mi, supaya pernikahan kami langgeng, rukun, dan kami saling memahami satu sama lain", pinta Denis.


Mami mengulas senyum tipisnya, kemudian berucap, "Pasti nak Denis, tanpa kalian minta mami selalu mendoakan pernikahan kalian. Mami juga selalu berdoa semoga kalian segera diberikan momongan. Mami sudah nggak sabar pengin gendong cucu"


"Terimakasih, mi. Kami akan berusaha memenuhi keinginan mami", ucap Denis, kemudian senyum mengembang menghiasi mukanya yang sudah nampak letih.


"Kamu pasti belum makan malamkan? Anak itu ngambek sampai lupa kewajibannya. Maafkan Nabila ya, ayo sekarang makan di sini biar mami yang gantikan Nabila nyiapkan makan malammu", ajak Mami yang kemudian berdiri dan melangkah masuk diikuti Denis di belakangnya.


Denis duduk di kursi sembari menikmati makanan yang telah disiapkan ibu mertuanya. Matanya yang tak mau lepas dari pintu kamar Nabila, membuat mami yang sedari tadi memperhatikannya ter senyum-senyum sendiri. "Dasar pasangan muda sekarang", gumam mami dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.


"Nak Denis menginap di sini saja, ya! Nanti tidur di kamarnya Fendi, biar Fendi tidur di depan televisi", ucap Mami sambil membereskan meja makan karena Denis telah menyelesaikan makan malamnya.


"Biar saya tidur di ruang tamu saja mi", ucap Denis. Ia beranjak daribduduknya dan melangkah ke ruang tamu, setelah berpamitan kepada ibu mertuanya.


Setelah melepas sepatunya Denis membaringkan keseluruhan tubuhnya di atas sofa dengan bantal yang menyangga kepalanya, sementara selimut mulai ia tarik ke atas untuk menutup badannya. Sinar lampu yang telah dipadamkan adik iparnya sesaat setelah mengantarkan bantal dan selimut kepadanya, menemaninya yang sudah mulai menutup mata.

__ADS_1


**********


Denis kembali naik ke atas sofa sesaat setelah kembali dari sholat subuh bersama adik iparnya di masjid, buka untuk melanjutkan tidurnya, hanya merebahkan tubuhnya yang terasa ngilu karena posisi yang kurang nyaman saat tidur semalam.


Glodakkk......suara gagang sapu membetur kaki meja, membuat Denis memalingkan pandangannya ke arah suara. Meski lampu ruang tamu masih mati, namun kondisi disana tidak terlalu gelap karena mendapat pancaran lampu dari ruang tengah yang di buka lebar gordennya. Sehingga Denis tau siapa tokoh yang berperan membuat bunyi itu.


Denis diam mematung agar Nabila yang sedang menyapu ruangan itu, tidak menyadari keberadaannya saat ini. Namun begitu istrinya sudah berada di dekat tempat dia berbaring, Denis dengan cepat menarik tangan istrinya, hingga kini Nabila jatuh diatas tubuh Denis.


Nabila yang kaget, baru saja mau membuka mulutnya, namun dengan cepat Denis membungkam mulut itu. "Jangan berteriak! Apa kamu mau orang lain melihat kita dalam posisi yang begini?" Bisik Denis, kemudian menurunkan telapak tangannya dari mulut Nabila. Kini justru kedua tangannya dengan erat melingkar ke tubuh istrinya.


"Lepasin", bisik Nabila, sambil mencoba melepaskan diri dari tindakan suaminya. Tapi semakin Nabila berontak, semakin erat pula Denis memeluknya. Akhirnya Nabila menyerah, ia membiarkan saja Denis memeluk dirinya.


"Apa kamu tidak merindukanku?", lirih suara Denis sembari menatap dalam Nabila dan Nabila membalas tatapan itu. Nabila terdiam tak menjawab apa yang ditanyakan Denis.


Cupppp..... Denis mencuri ciuman di bibir Nabila, kemudian mengencangkan pelukannya sembari menggeser tubuhnya untuk duduk bersender si kepala kursi. Nabila hanya mengikuti apa yang dilakukan Denis sehingga kini kepalanya bersender di dada bidang suaminya.


Denis menjauhkan tubuh Nabila, kemudian merangkum wajah wanita itu dengan kedua telapak tangannya, tak lupa memberikan tatapan yang begitu dalam.


"Katakan kau juga merindukanku, Nab?", ucap Denis lembut kemudian menggerakan kepalanya mendekati wajah istrinya yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan sendu.


Ketika bibir Denis hampir menyentuh bibir Nabila, tiba tiba Nabila terisak. Kedua tangannya yang terkepal begitu ringan memukul dada suaminya berkali-kali. Membuat Denis menjauhkan wajahnya yang kini telah berubah menjadi sedih.


"Kamu jahat mas, jangan beri aku harapan, jangan mendekatiku, jika tubuh dan hatimu masih untuk wanita lain", ucap Nabila dengan air mata yang yang sudah mengalir deras, sementara tangannya masih asik memukul dada suaminya yang hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan istrinya itu.

__ADS_1


"Aku benci kamu, mas", ucap Nabila sembari berlari meninggalkan Denis yang hanya diam mematung, namun tak berapa lama ia ikut menyusul.


"Nab, buka pintunya!", pinta Denis berulang- ulang sembari mengetuk pintu kamar istrinya yang tertutup.


Mami dan Fendi yang ada di dalam kamar masing-masing, keluar menuju arah keributan yang mengganggu telinga mereka. Mereka ingin mencari tau apa yang sedang terjadi.


Mami mendekati Denis yang masih sibuk mengetuk pintu kamar Nabila dan menepuk lengan atasnya perlahan. "Biarkan saja nak Denis, nanti juga baikan kalau pikirannya sudah tenang", nasihat mami kepada Denis. Kemudian berlalu meninggalkan mantunya itu ke dapur.


Badan Denis melemas, kepalanya menunduk, dan satu telapak tangannya bertumpu di pintu yang masih tertutup rapat. Tiba-tiba ada seseorang merangkulnya dari arah belakang.


"Ayo kak cari hiburan di luar aja", ajak Fendi yang kemudian menuntun kakak iparnya ke luar rumah.


Fendi meletakkan timba di dekat motornya dan mobil Denis, kemudian menarik selang yang terpasang di kran air hingga sudah tak nampak berbentuk gulungan lagi, sembari berkata pada pria yang hanya berdiri di de belangnya, "Kak Nabila kalau marah emang serem, tapi santai saja kak, nggak bakal lama".


Denis tersenyum kecil, berharap apa yang dikatakan adik iparnya benar. Sungguh rasanya ia tak sanggup jika harus berlama-lama di cuekin istrinya yang sebenarnya super perhatian itu.


Denis berjalan mendekati Fendi yang kini tengah sibuk menyemprot motornya dengan selang dan menepuk ringan lengannya. "Siapa saja lelaki yang pernah dekat sama Nabila?", pertanyaan itu tiba-tiba muncul begitu saja dari mulut Denis".


Fendi melihat ke arah Denis sekilas, kemudian fokus kembali ke motor yang ada di depannya. Nampak ia mengingat - ingat sesuatu di kepalanya.


"Apa ini yang menyebabkan pertengkaran kalian? Kak Nabila tidak pernah sekalipun membawa laki-laki pulang ke rumah atau terdengar dekat dengan laki-laki, meskipun banyak laki-laki yang mengejarnya, kecuali satu orang"


"Siapa?" Tanya Denis penasaran

__ADS_1


_____________


Happy Reading😉


__ADS_2