Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Kesal


__ADS_3

"Prakkkkk" Pukulan keras di wajah dahlan membuat pria itu agak terseok.


Ketika masuk ke dalam restoran, Dahlan meminta seluruh pengawalnya untuk tidak mengikutinya. Oleh sebab itu, tidak heran, dengan mudah Fendi memukul ayahnya itu.


"Fendi hentikan!" Teriak Nabila kepada adiknya yang beberapa kali berhasil memukul papinya sembari meneriakkan umpatan-umpatan pada laki-laki agak tua itu. Ia mendekati Fendi berharap agar pria muda itu menghentikan aksinya. Namun sayang usahanya tak berhasil.


Fendi masih ingin memukul kembali pria yang ada dihadapannya itu, meski pria itu sudah nampak kesakitan. Sampai sebuah tubuh menjadikan dirinya tameng bagi laki-laki yang disebutnya papi itu. Dan mampu menahan Fendi untuk tidak melanjutkan aksinya.


"Sudah Fendi, sudah! Jangan pukul papi lagi. Kalau kamu mau, pukul kakak saja", teriak Nadira sembari memeluk tubuh papinya yang masih kuat untuk berdiri. Wanita itu kini menangis kencang.


"Biarkan saja, sayang. Asalkan dengan ini dia bisa memaafkan papi", kata Dahlan, menenangkan putrinya. Nadira menggelengkan kepalanya


"Maaf! Jangan mimpi! Aku tidak akan pernah memaafkan baj****n sepertimu", Fendi masih berusaha menarik pakaian Dahlan meski Nadira sudah berusaha menghalanginya, bahkan Nabila ikut menarik tangan lelaki muda itu agar tak memukul ayah mereka kembali.


"Lepas, kak!" Teriak Fendi kepada kakaknya. "Laki-laki ini tidak patut kau kasihani. Laki-laki yang tega menelantarkan keluarganya demi lari dengan pe***** yang ingin menguras hartanya" Tambahnya.


"Prakkk" Telapak tangan Nabila tetiba dengan keras jatuh di pipi adik leleki satu-satunya, membuat seketika Fendi berhenti bergerak. Nampak gurat kaget sekaligus sedih di wajahnya, mendapati perlakuan demikian dari kakak yang sangat menyayanginya selama ini.


Dengan keras Fendi mengibaskan tangan kakaknya, kemudian melangkah pergi dari restoran itu. Dan Nabila hanya membiarkan begitu saja kepergian adiknya.


Ingin sekali sebenarnya wanita itu mengejar adiknya, Namun lututnya serasa mati rasa ketika ia menyadari akan perbuatannya tadi. Ia masih tertegun dengan tindakannya barusan, sekaligus menyesal telah memukul adiknya.


Nabila dan Nadira segera membatu papinya untuk berjalan dan mendudukkan tubuhnya yang terluka di atas sofa. "Papi nggak apa-apa" Tanya Nadira khawatir. Dahlan hanya menggeleng.


"Harusnya anda tidak kesini dulu, tadi kan saya sudah titip pesan pada kak Dira. Kenapa anda masih ngotot kesini", kata Nabila dengan bahasa yang masih formal karena masih berusaha menjaga jarak dengan papinya itu.


"Aku juga ingin bertemu anakku. Dia tidak salah, akulah yang salah. Benar katanya, bahwa aku telah menelantarkan kalian", ucap Dahlan sedih.

__ADS_1


Beberapa pengawal Dahlan masuk ke dalam restoran. Sepertinya mereka sudah tahu kondisi majikannya yang babak belur, dilihat dari wajah mereka yang nampak khawatir.


"Saya akan menyusul Fendi, mungkin dia masih ada di depan. Maaf atas tindakan adik saya", Kata Nabila yang langsung melangkah pergi tanpa menunggu respon dari Dahlan yang masih dikerubungi anak buahnya.


Benar saja prediksi Nabila. Ketika matanya mencoba mengamati parkiran di depan restoran yang luas, ia masih mendapati kendaraan yang tadi membawanya ke tempat ini masih belum bergerak dari posisinya semula.


Wanita itu dengan pasti melangkah mendekati mobil Fendi, lalu mencoba melihat isinya lewat kaca samping mobil. Nampak disana Fendi sedang membenamkan wajahnya di kedua tangannya yang terlipat dan bertumpu pada setir mobil.


Nabila memberanikan diri untuk mengetuk kaca mobil. Hanya tiga kali ketukan saja, sudah mampu membuat Fendi mengangkat kepalanya dan menengok ke arah kakaknya berada.


Tapi bukannya membuka kaca mobilnya, Fendi justru menghidupkan mesin mobilnya. Pelan tapi pasti, dia memilih untuk meninggalkan parkiran itu beserta pikirannya yang kalut. Suara sang kakak yang berulang kali manggil namanya, sama sekali tak ia hiraukan.


Nabila sempat berfikir untuk menyusul adiknya pulang, namun dengan beberapa pertimbangan, terutama untuk menjaga emosi maminya, ia memutuskan untuk tidak pergi ke sana.


Sambil menumpang taksi, kini Nabila mengarahkan perjalanannya menuju kantor suaminya. Entah kenapa, wanita itu tiba-tiba ingin sekali bertemu dengan suaminya, padahal baru beberapa jam yang lalu mereka berpisah.


Dari masuk lobi kantor, para karyawannya dengan ramah menyapanya, tak jarang mereka yang duduk akhirnya berdiri untuk menghormati istri dari orang nomor satu saat ini diperusahaan itu.


Nabila berencana ingin langsung bertemu suaminya, namun karena info yang ia dapatkan, saat ini sang suami sedang meeting, ia berbelok arah ke lantai 18. Tempat dimana dulu ia menghabiskan waktunya untuk memeras pikirannya untuk membantu kemajuan perusahaan ini.


Saat Nabila masuk ke ruangan dimana dia dan timnya dulu bekerja, semua orang yang ada di ruangan itu heboh bak kedatangan tamu agung. Mereka menghabiskan waktu ngobrol ringan, bercanda dan sedikit berbagi ilmu tentang pekerjaan.


Hingga tak sadar, ketika ia melihat jam yang ada di tangannya, ternyata ia telah menghabiskan 1 jam ada di tempat itu. Merasa suaminya sudah selesai dengan meetingnya, Nabila berpamitan untuk pergi ke ruangan suaminya.


Namun, lagi-lagi ia harus kecewa karena orang yang dicarinya ternyata tak didapatinya di ruangan yang baru saja pintunya ia buka. Dengan perasaan kesal ia mnjatuhkan tubuhnya di atas sofa di dalam ruangan Denis.


Entah kenapa Nabila yang biasanya sangat sabar, kali ini begitu kesal dengan masalah yang sepele. Sambil menggerutu, ia menggulir layar ponselnya, mengamati aktivitas di sosial media untuk menghilangkan rasa kesalnya.

__ADS_1


Duduk diam hanya mengamati ponsel, membuat wanita itu jenuh dan akhirnya tertidur. Hingga tak sadar suaminya yang baru saja menyelesaikan urusannya, kini telah masuk ke ruangan kerjanya.


Denis yang baru saja duduk di kursi putar yang ada dibelakang meja kerjanya, dengan raut yang nampak begitu letih, tiba-tiba begitu saja mengembangkan senyum lebar tatkala melihat ada sesosok tubuh yang amat ia kenal sedang meringkuk di sofa.


Tanpa menunggu lama, ia beranjak dari kursinya dan mendekati Nabila yang masih lelap tertidur.


"Sayang", bisik Denis di dekat telinga Nabila. Namun, wanita itu tak merespon.


Denis menciumi beberapa bagian wajah dan kepala istrinya yang sore itu nampak begitu menggemaskan baginya. Hingga berhasil membuat Nabila menggeliatkan tubuhnya, dan pelan-pelan membuka matanya.


"Sayang", ucap Nabila dengan suara serak nan manja.


"Hemm", Jawab Denis singkat.


"Kenapa lama sekali, ayo pulang!" Kata Nabila sambil menyelipkan tangannya ke lengan suaminya dan kepalanya menyandarkan di bahu pria itu.


Denis mengerutkan keningnya, namun ada sepercik bahagia dengan sikap istrinya kala itu. Pasalnya Nabila selama ini tak suka bermanja-manja, justru dia yang sering bermanja pada istrinya itu.


Denis mengecup puncak kepala Nabila sejenak. "Mas, masih ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan. Kamu tunggu disini sebentar ya? Setelah mas selesai, kita pulang", kata Denis dengan sangat lembut.


"Nggak mau! Pulang sekarang!" Nabila beranjak dari duduknya hendak melangkah pergi. Namun, dengan cepat Denis menahannya.


"Sebentar saja, ya! Karena nanti malam akan dibawa Arsyad menemui klien. Biar nanti juga nggak perlu bawa pekerjaan ke rumah, ya!" Pinta Denis dengan suara melembut. Sementara tangannya masih setia melingkar di pinggang istrinya.


"Beneran bentar aja!" Kata Nabila dengan tampangnya yang masih cemberut.


"Iya, sayang", ujar Denis, lalu memberikan ciuman lembut di bibir istrinya, hingga membuat wanita itu mau mengalah untuk duduk kembali duduk di sofa yang baru saja ia tinggalkan.

__ADS_1


__ADS_2