Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Bertemu Sepupumu


__ADS_3

Nabila duduk di sebuah bangku yang ada di sebuah taman yang tak jauh dari rumah keluarga Denis. Ia mencoba menenangkan dirinya dan mengembalikan pikirannya yang tadi entah ada dimana. Ia mulai berfikir apa yang ia harus lakukan setelah ini.


Tangan Nabila merogoh ke dalam tas yang ada dipangkuannya, untuk mencari ponselnya. Namun, tangannya sama sekali tak bisa meraih benda persegi panjang pipih yang dicarinya itu.


Tak puas dengan kerja tangannya, Nabila memeriksa dengan matanya setiap sisi dari tas itu dengan jeli, Namun benda itu tetap tak bisa ia temukan. Ia mencoba mengingat-ingat lagi, dimana terakhir ponselnya terlihat.


Refleks ia menepuk keningnya, ketika ingat bahwa ponselnya masih ada di laci meja di kantor. Dia melihat ke arah kiri kanan jalan dan mulai bingung memikirkan bagaimana cara dia untuk pulang. Di jalanan ini jelas tidak mudah untuk mencari taksi. Mau pesan taksi online, ponsel tidak ada di tangan.


Nabila menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kemudian, ia memutuskan untuk berjalan ke jalan raya, meski dengan mata yang masih sangat sembab. Harapannya mencari taksi atau kendaraan umum di jalan raya yang kira-kira berjarak 500m dari tempat dia berada sekarang itu lebih mudah.


Nabila melihat jam di pergelangan tangannya. Jam tangan itu menunjukkan pukul 15.05. Nabila memilih untuk segera berjalan ke jalan raya agar dia tidak kemalaman di jalan, lagi pula langit sedang nampak mendung.


*******


Sementara di rumah kediaman Gumilang, Denis kembali turun ke ruang keluarga setelah pak Damar memberitahu padanya bahwa Nabila sudah pergi. Dia nampak mencari-cari sesuatu. Begitu tak kunjung mendapati yang dicarinya, ia berteriak memanggil seorang pelayan yang biasa membersihkan ruangan itu.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya seorang pelayan dengan nafas yang masih terengah-engah karena dia telah berlari dari dapur ke ruang keluarga.


"Dimana kotak bekal yang tadi ada disini?" Tanya Denis sambil menunjuk meja.


"Tadi saya bawa ke dapur tuan, saya pikir___"


Belum selesai pelayan itu berbicara, Denis memotongnya."Bawa kemari!" Perintahnya


Setelah pelayan membawa kotak bekal yang ia maksud ke hadapannya, Denis membawanya masuk ke dalam kamar. Dia menikmati begitu lahap isi kotak bekal itu tanpa tersisa sedikitpun, entah karena dia lapar karena seharian perutnya tidak terisi atau karena masakan yang dibuat istrinya itu sangat lezat.


******


Sudah hampir satu jam Nabila menunggu taksi di trotoar jalan, namun kendaraan yang ia tunggu tak kunjung muncul. Memang ada beberapa taksi yang sudah lewat, tapi di dalamnya selalu saja ada penumpangnya.


Karena merasa tubuhnya mulai letih, Nabila memilih mendudukkan dirinya di sebuah bangku semen yang ada di depan sebuah ruko yang nampak sudah tidak dihuni. Matanya masih mengamati jalan raya yang tidak cukup ramai itu sambil berharap segera datang kendaraan yang akan mengangkutnya.


Kini Nabila merasa ada sedikit penyesalan ketika tadi ia menolak tawaran Pak Damar agar diantar pulang oleh sopir. "Bagaimana ini ya, jika nggak ada taksi yang lewat? Masa balik ke tempat Denis? Uhhhh apa kata dunia, memalukan. Bismillah, yakin nanti ada taksi", gerutu Nabila dalam hati.


Bersamaan ketika ia sedang meneguk air dalam botol minuman kemasan yang tadi sempat ia beli di sebuah toko saat berjalan menuju jalan raya, sebuah mobil berwarna putih berhenti di depannya.

__ADS_1


Nabila menutup botol air yang baru saja di minumnya, kemudian mengernyitkan keningnya dan mencoba berspekulasi tentang mobil itu. Raut wajah Nabila berubah datar ketika melihat seseorang turun dari mobil dan berjalan ke arahnya yang sudah mulai berdiri dari duduknya.


"Kamu Nabilakan, sepupunya Denis?" Tanya pria itu kepada Nabila.


Nabila hanya menganggukkan kepalanya untuk merespon pertanyaan dari pria itu, yang tak lain adalah Adam, sahabat Denis. Memang ketika mereka bertiga pernah bertemu di supermarket kala itu, Denis memperkenalkan Nabila sebagai sepupunya.


"Sedang apa kamu disini?" Tanya Adam lagi.


"Menunggu taksi", jawab Nabila sambil memutar matanya mengamati jalan raya.


"Kamu mau kemana? Bareng saya saja ya, nanti kuantar sampai tujuan", kata Adam.


"Tidak, terima kasih banyak tawarannya. Saya menunggu taksi saja", ucap Nabila tanpa mau melihat ke arah Adam.


"Kamu takut ya sama saya?", kata Adam sambil mengamati raut wajah Nabila.


Ucapan Adam membuat Nabila akhirnya melihat ke arah pria itu. Kemudian ia menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu ayo kuantar, lihatlah sepertinya ini mau hujan", ujar Adam sambil wajahnya menengadah ke langit.


Karena tawarannya ditolak, Adam memilih segera masuk kembali ke dalam mobilnya dan meninggalkan tempat itu. Sedangkan Nabila kembali duduk ke tempatnya tadi, menatap ke arah mobil Adam yang mulai menjauh.


******


Di dalam mobil Adam menggerutu mengingat Nabila yang menolak tawarannya tadi bahkan umpatan sempat keluar dari mulutnya. Tapi disisi lain ia juga kuatir dengan saudara dari sahabatnya itu, melihat langit sudah semakin gelap saja.


Ia mengambil ponsel yang ia letakkan di dekat kemudinya. Dengan terampil tangan kirinya mencari kontak sahabatnya dan tangan kanannya tetap di kemudi. Setelah nama Denis ketemu, ia segera memencet icon telpon.


Tak perlu menunggu lama, hingga telpon itu akhirnya tersambung.


"Hallo, Denis" Kata Adam


"Ada apa loe nelpon?" Tanya Denis ketus


"Ngapain loe bro sore-sore begini?" Adam berbasa-basi.

__ADS_1


"Lagi nyiram toge" Jawab Denis sekenanya.


"Serius loe bro? Emang toge harus disiram ya?", Tanya Adam.


"Hemmm" Denis mulai kesal


"Ngapain juga loe nanem toge, nis?" Tanya Adam penasaran.


"Ehhh ****, ngapain juga loe bingung masalah toge. Cepet ngomong ada apa loe nelpon gue?"


"Itu sepupu loe tuh kasihan, urusin sono" Ujar Adam.


"Sepupu? Sepupu gue yang mana? Kayaknya semua sepupu gue ada di luar?" Denis nampak bingung.


"Loe amnesia ya, noh si Nabila noh, masak punya sepupu yang cantik kayak bidadari begitu sampai loe lupa", jawab Adam degan gregetan.


Denis menepuk keningnya. Ia lupa jika ia pernah memperkenalkan Nabila kepada Adam sebagai sepupunya, bukan istrinya.


"Ada apa memangnya sama si Nabila?" Tanya Denis.


"Tuh dia luntang-lantung di jalan nunggu taksi di dekat rumah loe", kata Adam.


Denis kaget mendengar apa yang diucapkan Adam. Dia sejenak berfikir dan bergumam dalam hati "Berarti Nabila sampai sekarang belum sampai rumah? Kenapa nggak pulang sama pak Gugun atau pesan taksi online saja? Dasar bodoh!"


"Denis! Denis!" Teriak Adam karena tak ada suara sahutan dari sahabatnya itu.


"Biarin aja, sudah gedhe juga, dia bisa jaga dirinya sendiri", Suara Denis dibuat setenang mungkin meski sebenarnya dia merasa kuatir dengan istrinya.


"Tau begitu, gue tadi paksa dia buat ikut gue pulang daripada punya saudara juga nggak guna kayak loe", ujar Adam.


"Jangan macam-macam loe sama dia, atau mau gue sembelih loe", ujar Denis.


"Gue nggak keberatan lah berkorban buat di sembelih, klo bisa dapatin wanita semanis Nabila", ujar Adam yang diikuti suara tawanya yang keras membuat Denis menjauhkan ponselnya dari telinga.


"Dasar playboy cap tikus bunting", teriak Denis kemudian secara sepihak memutus sambungan telpon.

__ADS_1


__ADS_2