Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Calon Tunangan


__ADS_3

"Siapa dia?", tanya Vanya pada Denis, setelah melepaskan pelukannya dan melihat Nabila yang sedari tadi memandang mereka berdua.


Denis tak menjawab pertanyaan Vanya. Denis malah meninggalkan Vanya berjalan ke arah Nabila. Namun Vanya tak membiarkannya, dengan berlari kecil hingga meraih lengan Denis dan menyelipkan tangannya disana.


Denis hendak melepaskan tangan Vanya, tapi Vanya ngotot tak mau melepaskan. Denis hanya pasrah. Merekapun berjalan ke arah Nabila.


"Nab, kenalkan ini Vanya, anak rekan bisnis papa", kata Denis dengan tetap menatap Nabila yang juga masih menatap mereka berdua.


"Nabila", kata Nabila memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya mengajak bersalaman. Namun Vanya tidak membalas uluran tangan Vanya.


"Vanya, calon tunangan kak Denis", kata Vanya sambil menatap Nabila tidak suka, kemudian beralih menatap Denis dengan senyuman yang manis. Tangannya tetap tak mau lepas dari lengan Denis.


Denis yang mendegar ucapan Vanya kaget. "Vanya! Apa maksudmu?", bentak Denis, sambil melepaskan tangan Vanya.


"Loh, papi sudah merencanakan pertunangan kita jauh-jauh hari, kak. Pasti tante juga sudah menyampaikan ke kakak kan", kata Vanya sambil menatap Denis lekat, sementara Denis masih tidak berhenti manatap Nabila.


" Kakak belum jawab pertanyaanku, dia siapa?", kata Vanya sambil melirik ke arah Nabila.


Denis belum sempat menjawab, tiba-tiba Nabila mendahuluinya untuk menjawab, "Saya karyawan di kantornya Tuan Denis", sambil tersenyum yang dipaksakan kemudian menundukkan kepala.


" Oh, cuma karyawan, gue pikir__”, Vanya tidak melanjutkan kata-katanya. "Kak hayuk ikut aku bentar, aku kesini tadi sama temen-temen, ada Oscar dan Luis juga", kata Vanya memaksa sambil menarik-narik lengan Denis.

__ADS_1


"Kalian pergi saja, aku masih ingin jalan-jalan sendiri", kata Nabila.


Sebenarnya Denis enggan pergi, tapi setelah mendengar kata-kata Nabila itu dia memutuskan ikut dengan Vanya.


"Kamu benar tidak apa-apa kutinggal, atau kau ikut saja?" Ucap Denis.


"Pergilah, aku bukan anak kecil yang kemana-mana harus ditemani", kata Nabila sambil melangkah pergi meninggalkan keduanya.


Denis yang berjalan sambil ditarik-tarik Vanya hanya mengikuti pasrah. Sesekali dia menengok ke belakang untuk melihat Nabila yang semakin jauh darinya.


Nabila hanya mengikuti kemana kakinya melangkah. Kejadian yang dia lihat tadi membuat suasana hatinya berubah. Bukan karena cemburu, sungguh bukan karena belum ada cinta di hati Nabila untuk Denis.


"Hah, mungkin aku terlalu konyol. Siapa aku? Akupun sampai saat ini tidak mengerti kenapa ia menikahiku. Cinta? Jangan berharap Nabila, bahkan untuk mengakui pernikahan kita saja dia tidak berani. Mana mungkin dia perduli dengan perasaanmu", gerutu Nabila dalam hati, sesekali ia menghirup nafas perlahan dan menghembuskannya dengan kasar.


" Aku rindu sekali denganmu mami", gerutunya lagi. Nabila masih duduk di sebuah kursi yang di depannya nampak pemandangan kolam yang airnya begitu menyejukkan mata orang yang melihatnya.


Denis telah berpisah dengan Vanya dan kawan-kawannya yang memilih pulang lebih dulu. Segera kakinya melangkah mencari keberadaan istrinya.


Dia mengamati ke kanan dan kekiri tiap jalan yang dilewati, namun tak nampak batang hidung istrinya. Sesekali ia bertanya pada seseorang untuk mencari keberadaan istrinya, dengan menyebutkan ciri-cirinya. Namun hasilnya nihil.


Denis mengeluarkan ponsel, berniat menelpon istrinya. Namun ketika dia mulai membuka ponselnya, tiba-tiba bibirnya mengumpat, "sialan", sambil tangan kanannya menjambak rambutnya sendiri.

__ADS_1


Dia lupa kalau sampai saat ini, dia tidak pernah menyimpan no telpon istrinya.


Setelah berjalan kesana kesini, akhirnya Denis menemukan sosok yang dicarinya. Orang itu duduk diam di sebuah bangku. Diapun menghampiri sosok yang dicarinya itu.


"Masih betah disini?", kata Denis sambil mendudukkan tubuhnya di sebelah Nabila.


Nabila hanya diam, tak menjawab pertanyaan Denis. Dia melihat ke arah Denis sekilas, kemudian matanya kembali tertuju pada pemandangan indah yang ada di depannya.


" Sebentar lagi sudah sore, ayo kita keluar dari tempat ini. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat yang pasti kamu suka", kata Denis.


Cukup lama Nadia terdiam, kemudian dia berkata "kita pulang saja ya, aku sangat lelah" Sambil menatap Denis dengan tatapan memohon.


"Baiklah, kita kesana besok saja", kata Denis.


Mereka berdua pun keluar dari tempat itu, kemudian melaju dengan mobil Denis. Diperjalanan suasana mobil nampak hening, meraka saling diam dengan pikiran mereka masing-masing. Sesekali Denis melirik ke arah Nabila yang sedari tadi menatap kaca jendela mobil yang ada di sampingnya. Hingga akhirnya mobil sampai di pelataran rumah orang tua Denis.


_________


maapken author yang kadang gak bisa post tiap hari ya.


tetep dukung novel ini ya dengan like dan komen, atau bolehlah vote nya😁

__ADS_1


__ADS_2