Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Kepercayaan


__ADS_3

"Kita ke rumah sakit ya, sayang", Kata Denis sambil menempelkan washlap yang baru saja ia peras ke kening istrinya.


Sudah sejak pagi, tiba-tiba suhu badan Nabila tinggi. Dan sudah berkali-kali pula ia mengajak istrinya ke rumah sakit, namun istrinya menolak. Ia pun sudah menghubungi beberapa kenalan dokter untuk ia minta ke rumah, tapi hasilnya nihil karena hari ini hari minggu.


Denis naik di atas tempat tidur, kemudian berbaring disamping istrinya yang sesekali memejamkan matanya. Ia melingkarkan satu tangannya ke tubuh istrinya, sementara tangan yang lain sibuk mengusap kepala wanita itu.


"Kamu, mau makan apa, biar aku siapkan?" Tanya Denis, yang kemudian hanya di jawab gelengan kepala oleh Nabila.


"Tadi kamu hanya sarapan bubur, itupun hanya beberapa sendok. Kamu harus makan yang banyak biar cepat sembuh hmm", kata Denis lagi sambil menyingkirkan rambut-rambut yang menutupi wajah istrinya.


"Kenapa menangis, sayang?" Denis menghapus air mata Nabila, tidak banyak air mata yang tertumpah, tapi cukup menunjukkan bahwa istrinya sedang tidak baik-baik saja.


"Aku nggak tau, tapi perasaanku sungguh tidak nyaman", ucap Nabila yang kemudian memeluk erat tubuh suaminya, menyembunyikan wajahnya di dada Denis. Gerakan pundaknya yang naik turun menunjukkan ia sedang menangis lebih dalam dari sebelumnya.


Denis berusaha menenangkannya dengan mengusap lembut kepala dan punggung istrinya itu. Tak lama kemudian, hembusan nafas teratur Nabila mewarnai kamar itu, menandakan ia sudah tertidur.


Suara dering dari ponsel Nabila, membuyarkan rasa kantuk Denis yang mulai datang. Denis menggeser tubuhnya perlahan agar tak membangunkan istrinya. Diraihnya ponsel di atas nakas itu, kemudian diangkatnya panggilan setelah matanya mengetahui siapa yang menghubungi istrinya kini.


"Assalamu'alaikum Fen, ada apa?" Tanya Denis.


"Wa'alaykumsalam, kak Nabila ada, kak? Tanya Fendi.


"Kakakmu sedang tidur, dia sedang demam. Kenapa, Fen?" Kata Denis.


"Mami juga sedang kurang sehat, katanya kepalanya pusing. Sempat muntah-muntah juga. Sedari tadi mengigau panggil kak Bila dan kak Dira", kata Fendi.


"Apa sudah diperiksakan?" Kata Denis, sambil mengelus kepala istrinya.


"Mami nggak mau, katanya enakan istirahatan di rumah aja", kata Fendi.


"Apa perlu kakak ke sana, buat bantu bawa mami periksa?" Denis menawarkan dirinya.


"Nggak usah, kak. Kak Denis jagain kak Bila saja. Aku masih bisa jagain Mami sendiri. Udahan dulu ya, kak. Nanti kalau bisa biar Mami ngobrol aja di telepon sama kak Bila. " Assalamu'alaykum", kata Fendi yang kemudian menutup obrolannya.


Setelah meletakkan kembali ponsel Nabila di atas nakas, Denis memilih turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Namun, baru saja Denis mengguyur tubuhnya dengan pancaran air dari shower, tiba-tiba terdengar suara teriakan istrinya. Tanpa menunggu lama, pria itu langsung mengambil jubah mandi dan mengenakannya, kemudian berlari menuju tempat asal suara.


"Kenapa sayang?" Tanya Denis yang kini tengah berada di samping istrinya yang matanya sudah terbuka, meski nampak seperti orang bingung.


Pria itu memeluk erat tubuh istrinya yang mengeluarkan keringat cukup banyak dengan nafas yang terengah-engah.


"Aku mimpi buruk, mas", kata Nabila dengan takut-takut.


Denis makin mengeratkan pelukannya. "Itu cuma mimpi, sayang. Jangan takut!" Aku akan menjagamu disini.


"Jangan kemana-mana, ya!" Pinta Nabila kepada suaminya, sambil membalas pelukan erat suaminya Itu. Denis pun menganggukkan kepalanya, tanda setuju.


"Alhamdulillah, demamnya sudah turun", kata Denis setelah membaca termometer yang baru saja ia ambil dari ketiak istrinya. Ia kemudian memberikan kecupan ringan di kening istrinya.


"Makan ini dulu, ya. Biar ada tenaganya", kata Denis yang baru saja mengambil makanan dari atas nakas, makanan yang tadi sempat ia pesan lewat kurir.


Awalnya Nabila sempat menolak untuk makanan, namun dengan usaha Denis untuk merayunya, akhirnya Nabila bersedia untuk makan.


"Tadi waktu kamu tidur, Fendi telepon. Katanya mami sakit", kata Denis sambil memotong lauk yang akan dia suapkan kepada istrinya dengan sendok.


Nabila seketika berhenti mengunyah. "Kenapa mas Denis nggak bangunin aku?" Katanya kecewa.


"Terus bagaimana keadaan mami sekarang?" Tanya Nabila lagi.


"Kata Fendi, mami manggil-manggil nama kamu dan Dira, terus", kata Denis sambil kembali hendak menyuapkan makanan ke mulut Nabila, namun ditolak.


"Mas Denis sudah menghubungi Kak Dira?" Tanya Nabila, dan dijawab Denis dengan gelengan kepala.


"Bisakah minta tolong ambilkan ponselku, aku ingin menghubungi kak Dira!" Pinta Nabila.


Denis mengambil ponsel Nabila yang tergeletak di atas nakas, kemudian memberikannya pada istrinya.


"Makasih, mas", ucap Nabila sambil menerima ponsel itu.


Wanita itu segera menghubungi Nadira, ia meminta kakaknya untuk segera menemui Maminya. Selepas menghubungi Nadira, ia menghubungi adiknya, namun sia-sia, berkali-kali panggilannya tak ada jawaban. Hal itu membuat dirinya bertambah khawatir.

__ADS_1


"Kenapa nggak diangkat ya, mas?" Tanyanya pada suaminya.


"Tenang, sayang! Mungkin Fendi lagi nggak pegang ponsel. Nanti coba dihubungi lagi atau nanti kamu kan bisa menghubungi Nadira, dia kan sebentar lagi mau kesana", kata Denis, mencoba menenangkan istrinya sembari mengelus kepala wanita itu dengan sayang.


"Kamu istirahat saja dulu, biar badannya kuat buat kesana", kata Denis.


"Aku ke bawah dulu ya buat makan siang, kamu istirahat saja", ucap Denis setelah membantu istrinya berbaring kembali. Tak lupa ia memberikan kecupan sayang di kening Nabila, sebelum meninggalkan wanita itu sendiri di kamarnya.


Baru saja Denis menyuapkan beberapa sendok nasi dan lauknya ke dalam mulut, langkah kaki Nabila menuruni tangga dengan sedikit berlari memaksanya untuk bangkit dari tempat ia duduk dan berjalan ke arah istrinya.


"Kenapa lari-lari? Badanmu masih sempoyongan begitu, nanti kalau jatuh bagaimana!" Kata Denis antara khawatir dan kesal.


Tanpa banyak bicara, dia menggendong istrinya kembali naik ke kamar mereka. Mulutnya tak berhenti mengomel, mengomentari tindakan istrinya yang serampangan dan tak memperhatikan kondisi tubuhnya yang sedang tidak sehat.


"Mas, aku mau ngomong dulu!", sela Nabila yang tak diberi kesempatan bicara oleh suaminya karena sibuk mengomel.


"Jenica, mas. Papa Jenica datang. Barusan Bi Ati telepon. Jenica menangis ketakutan. Kamu harus segera kesana mas! Kasihan dia", kata Nabila, sambil mengangsur duduk setelah Denis menurunkannya di tempat tidur.


"Terus kamu?" Kata Denis sambil menatap satu wajah istrinya.


"Aku sudah nggak apa-apa, aku bisa melakukan semuanya sendiri", kata Nabila sembari menyunggingkan seyum tipis agar suaminya melihatnya baik-baik saja.


"Aku akan baik-baik saja, percayalah", kata Nabila sambil meraih tangan suaminya.


"Sini, peluk dulu!", kata Denis setelah ia mendudukkan tubuhnya diatas tempat tidur.


Pria itu memeluk dengan sayang istrinya, kemudian menghujani kepala istrinya dengan ciuman. Sejenak pula merasakan manisnya bibir wanita yang hampir setahun ini mendampinginya.


"Baik-baik ya sayang, jangan melakukan pekerjaan yang berat-berat! Jika ingin sesuatu, segera hubungi aku. I love you", kata-kata Denis sebelum ia benar-benar meninggalkan istrinya sendiri di rumah.


Kepercayaan adalah kunci utama dalam pernikahan. Kepercayaan Nabila yang begitu besar pada suaminya, membuat Cinta Denis semakin besar kepada wanita itu. Tak terbesit sedikitpun dalam otak maupun kalbunya untuk berbagi cinta kepada yang lain, bahkan tidak pula hanya untuk sekedar menjauh dari wanita itu.


************


Happy Reading 😉

__ADS_1


Jangan lupa mampir di novel keduaku ya 👇



__ADS_2