
"Karina suruh Arsyad segera siapkan mobil, sekarang!", kata Denis yang baru saja keluar dari ruangannya sambil menggendong Nabila.
Denis melangkahkan kakinya lebih cepat menuju lift.
"Sayang, jangan panik ya", Nabila menenangkan suaminya di saat rasa mulas menghilang lagi.
Denis hanya tersenyum kecil, lalu mengecup kening istrinya. Rona khawatir, tak bisa hilang dari wajahnya meski dia berusaha bersikap tenang.
Memang ia sudah banyak membaca buku tentang persalinan, mendapatkan informasi terkait persalinan di kelas ibu hamil saat mendampingi istrinya maupun dari dokter kandungan, namun siapa yang bisa tidak khawatir melihat istrinya kesakitan.
"Awww", teriak Nabila tatkala merasakan ada sesuatu yang aneh, seperti ada air yang hangat tiba-tiba menyembul begitu saja.
"Kenapa, sayang?" Tanya Denis. "Kenapa ini basah semua? Kamu nggak apa-apa?" Kepanikan semakin terasa di dalam lift tatkala ia merasakan basah di pakaian istrinya bagian bawah.
"Kayaknya ketubanku pecah, mas. Aduhh sakitt, mas", kata Nabila sambil meremas bagian depan pakaian suaminya.
"Sabar ya sayang, kita akan segera ke rumah sakit", nampak mata Denis berkaca-kaca.
Saat lift telah terbuka, Denis setengah berlari membawa Nabila menyusuri lobi yang tampak cukup ramai menuju pintu utama, sehingga ia sempat menjadi pusat perhatian orang-orang di tempat itu.
"Cari rumah sakit terdekat!" Perintah Denis, saat tubuhnya mulai masuk ke dalam mobil yang sudah di persiapkan Arsyad di depan pintu utama kantornya itu.
Di dalam mobil, Denis terus saja mengomel kepada sang sopir, untuk melajukan mobil lebih kencang. Padahal memang jalanan saat itu memang padat.
"Ayo cepatlah, mengapa lambat sekali. Kasian istriku", kata Denis dengan nada tinggi.
Arsyad tak menyahuti omongan bossnya itu. Ia tau bossnya sedang panik. Tak ada gunanya merespon ucapan bossnya saat situasi begini, yang ada ia malah akan kena semprot terus.
Tak ingin membuat suaminya semakin panik, Nabila berusaha tak mengeluh ketika rasa sakit datang kembali. Ia hanya keras pakaian Denis untuk menghilangkan rasa sakitnya. Namun tetap saja Denis bisa membaca kesakitan yang dialami istrinya.
"Bertahan ya sayang, sebentar lagi kita sampai", kata Denis menghibur istrinya sambil mengusap keringat di wajah wanita itu.
Sampai rumah sakit, Nabila segera di bawa ke ruang persalinan. Beberapa perawat segera melakukan tindakan. Nampak suasana yang tiba-tiba sibuk di ruangan itu.
"Sudah berapa lama pasien mengalami mulas-mulas teratur?" Tanya seorang wanita yang muncul dari balik tirai, dari nama dadanya sepertinya ia seorang dokter kandungan.
"Saya tidak tau", jawab Denis sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Sudah sejak pagi dok sebenarnya, tapi tidak sesakit satu jam-an ini. Awww sakit, mas", Nabila menggenggam tangan suaminya erat tatkala ia merasakan rasa sakit kembali melanda.
"Ketubannya sudah pecah, tapi masih di pembukaan enam. Kita tunggu sampai pembukaan sempurna", kata dokter yang baru saja memeriksa Nabila.
Dokter itu melihat jam dinding, nampak seperti menghitung sesuatu. "Kita tunggu sampai empat jam kedepan. Jika belum terjadi pembukaan sempurna, kita ambil tindakan berikutnya", kata dokter itu dengan tenang.
"Kenapa nggak sekarang saja dok, empat jam terlalu lama. Istri saya ini sudah kesakitan", kata Denis yang masih menggenggam tangan istrinya kuat.
"Tenang pak, kita harus menjalani prosedur yang ada. Insya Alloh istri bapak akan baik-baik saja", kata dokter dengan sabar, sebelum ia berpamitan meninggalkan sepasang suami istri itu bersama dua orang perawat yang bersiaga.
Denis duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang Nabila. Satu tangannya masih bertautan erat dengan tangan istrinya, sementara tangan yang lain mengusap lembut kepala istrinya.
"Kamu kuat ya sayang, bentar lagi adek lahir", kata Denis menghibur istrinya yang sedang dalam kondisi tenang.
"Iya mas. Aku nggak sabar, pengin ketemu dia", jawab Nabila dengan senyum tipis terlukis di wajahnya. "Mas, tolong kasih tau mama ya kalau aku mau lahiran, aku pengin ditungguin mama", kata Nabila.
Denis menuruti permintaan istrinya. Dengan segera ia menghubungi mamanya dan memintanya untuk segera datang ke rumah sakit.
Beberapa kali nampak Nabila merasakan kesakitan. Saat merasakan kesakitan ia akan mencengkeram kuat tangan Denis yang berusaha memberi semangat padanya.
"Sudah pembukaan delapan, kita tinggal menunggu sebentar lagi. Ibu Nabila yang semangat ya dan Pak Denis anda harus menguatkan Istri anda dengan tidak panik", kata dokter sebelum meninggalkan mereka.
Seorang perawat membawa makanan ke tempat Nabila sekarang berbaring. "Ibu Nabila, Ibu makan dulu ya, biar punya tenaga nanti", kata seorang perawat sambil memberikan nampan berisi sepiring makanan dengan lauknya serta segelas air, kepada Denis.
"Makan ya sayan", kata Denis sambil menyodorkan sesendok makanan ke mulut Nabila. Tapi, Nabila menggelengkan kepala, menolak.
"Aku nggak lapar, mas", kata Nabila. Astaghfirullah ini sakit banget mas, sakit banget", tiba-tiba Nabila kesakitan kembali. Dengan cepat Denis meletakkan piring yang ia bawa, lalu memeluk istrinya dengan erat dan menyemangatinya.
"Sayang", mama Denis yang baru saja masuk ke ruang perawatan Nabila segera mendekati menantunya yang sedang menahan rasa sakitnya. Tiba-tiba saja air mata begitu saja turun membasahi wajah wanita yang sudah berusia 50 tahun lebih itu.
"Mama", Nabila mengulurkan tangannya kepada mertuanya. Dengan cepat mama Denis menyambutnya, lalu memeluk menantunya yang wajahnya nampak pucat.
"Ma, maafin Nabila ya ma, kalau Nabila punya salah", kata Nabila sambil bercucuran air mata. "Doakan persalinan Nabila lancar ya, ma", kata Nabila lagi.
Mama Denis melepas pelukannya, lalu membelai lembut kepala menantunya itu. "Pasti sayang, pasti mama doain yang terbaik buat kamu juga cucu mama. Tanpa kamu minta, mama sudah memaafkan semua kesalahanmu. Mama sangat sayang sama kamu", kata mama Denis sambil berurusan air mata.
"Makasih, ma", kata Nabila lirih.
__ADS_1
Atas permintaan Denis, mama Denis berhasil merayu Nabila agar mau memakan makanannya. Mertuanya itu dengan telaten menyuapi sesendok demi sesendok makanan hingga hampir habis, meski di selingi sesekali rintihan Nabila saat perutnya berkontraksi kembali.
"Mas Denis, ini sakit banget mas. Aku nggak kuat", Nabila menangis menahan rasa sakit yang datang kembali. Wanita itu memeluk erat suaminya. "Sakit mas, sakit", lanjutnya.
"Iya sayang, mas tau", kata Denis yang ikut mengeluarkan air mata. Ia berusaha menenangkan istrinya hingga rasa sakit itu hilang lagi.
Namun baru saja Nabila tenang, ia merintih lagi karena rasa sakit yang luar biasa. "Mas bantu aku mas, ini sakit sekali", kata Nabila.
"Iya, sayang, mas akan bantu kamu", kata Denis sambil mengelus punggung istrinya.
"Maafin aku ya mas, aku banyak salah sama mas Denis. Awwww...sakit mas", Nabila berteriak kesakitan, sambil mencakar punggung Denis.
Air mata Denis semakin deras, melihat kondisi istrinya yang nampak semakin kesakitan. "Ma bilang sama dokter ma, suruh operasi Nabila saja. Aku nggak kuat melihat dia seperti ini", kata Denis pada mamanya.
"Sayang, kamu nggak boleh lemah begini. Nabila butuh dukunganmu. Dia pasti bisa melewati ini", mama Denis berusaha menenangkan anaknya sambil mengusap lembut punggung putranya itu.
"Mas Denis, aku nggak sanggup mas. Mama, tolongin Nabila", ucap Nabila sambil kembali mencakar punggung suaminya yang erat memeluknya.
"Dokter, tolong istri saya!" Teriak Denis.
Dokter yang baru saja datang segera memeriksa kembali pembukaan serviks Nabila. "Bagus, sudah sempurna. Kita tinggal menunggu si kecil bersiap keluar. Ibu Nabila yang semangat ya, anda pasti bisa", kata Dokter yang kemudian memerintah perawat untuk menyiapkan semua peralatan.
"Mas ini makin sakit mas, tolong aku mas. Dok, aku mau buang air dok", teriak Nabila.
"Iya Ibu, tarik nafas dan lepaskan perlahan. Jangan mengejan dulu. Tunggu arahan dari saya", kata dokter sambil memeriksa jalan lahir.
bersambung
#########
Yang udah pernah melahirkan, pasti tau rasanya ya. Nano-nano pokoknya ππππ«π«π«
Happy Readingπ»π»π»π»
Jangan lupa mampir ke karyaku yang lain ya, yang nggak kalah seru dari kisah Denis dan Nabila. Judulnya "Harga Sebuah Pengorbanan (Sita's Love Story)"
__ADS_1