Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Pengumuman Besar


__ADS_3

"Silahkan tuan, anda sudah ditunggu oleh tuan Denis di ruangannya di lantai 20", kata Resepsionis ramah kepada seorang tamu pria yang saat ini ada di depannya.


Setelah mengucapkan terimakasih kepada si Resepsionis, pria itu berjalan menuju lift. Ketika hampir sampai di lift, tiba-tiba seseorang menabraknya dari arah samping.


"Maaf tuan", kata si penabrak, yang tak lain adalah Fendi, adik Nabila.


Tamu pria itu mengernyitkan dahi menatap Fendi yang sedang sibuk memungut kertas yang tercecer. "Fendi?", ucapnya sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Fendi.


Fendi yang merasa namanya disebut, mengangkat kepalanya. "Kak Andre! Ngapain kakak disini?Jangan bilang kakak nyari kak Nabila!", serunya.


Andre mencoba memahami kata-kata Fendi. "Nabila? Nabila bekerja disini?", tanyanya.


"Hemm", Jawab Fendi sambil menganggukkan kepala. "Kak aku duluan ya, takut di marahi boss", ucapnya lirih, kemudian berlari kecil menuju ke arah pintu keluar.


"Tung___" belum sempat Andre meneruskan katanya, Fendi sudah menjauh. Padahal dia ingin memastikan apakah benar Nabila sudah menikah seperti apa yang ia katakan di e-mail tempo hari.


Tapi ia masih yakin bahwa Nabila belum menikah, itu hanya trik Nabila saja agar ia menjauhi wanita yang dicintainya itu. Ia pun melangakhan kaki, melanjutkan niatnya untuk bertemu sahabat yang lama tak dijumpainya.


"Woiii nis!", sapa Andre, mengejutkan pemilik ruangan yang baru saja ia masuki.


Senyum Denis mengembang bersamaan dengan tubuhnya yang ikut bangkit dari kursi kebesarannya, lalu berjalan mendekati tamunya yang juga berjalan ke arahnya. Pelukan persahabatan terjadi ketika jarak antara mereka semakin tipis.


"Bagaimana kabarnya pak dokter?" Seru Denis, sambil melepaskan pelukannya.


"Seperti yang kau lihat saat ini", Jawab Andre sambil membuka kedua tangannya ke samping, yang kemudian di rangkul pundaknya oleh Denis dan diajak berjalan menuju sofa warna putih di ruangan itu.


Mereka berdua duduk di sofa yang sama dengan jarak yang tidak begitu jauh.


"Apa loe resmi pindah kesini?" Tanya Denis.


"Belum resmi bro, rencana nanti akan ada pesta peresmiannya", jawab Andre, yang kemudian di ikuti dengan tawanya.


"Tunggu saja undangannya, jangan lupa loe mesti hadir", imbuhnya.


"Jangan khawatir, mana mungkin gue nggak datang. Aku pasti akan datang bersama bidadariku", timpal Denis.


Andre mengerutkan dahinya. "Bidadari? Wanita mana lagi yang loe goda bocah nakal? Kemana ratumu? Apa dia sudah loe pensiunkan?", ejek Andre diikuti suara tertawa dari keduanya.


"Ratu sudah turun tahta semenjak negara api menyerang", Jawab Denis diikuti suara kekehannya.


"Beneran, bro?Bukankah loe cinta mati sama ratumu itu, bro?", tanya Andre dengan muka serius, membuat Denis tertawa melihatnya.


"Itu dulu! Aku lebih memilih wanita baik-baik untuk melahirkan anak-anakku kelak", ucap Denis serius.

__ADS_1


"Kayaknya loe serius banget sama yang ini, bro?", Tanya Andre.


"Nggak serius! dipecatlah gue jadi suaminya", terang Denis.


"Suami? Maksud loe, dia?"


"Ya, dia istri gue"


"Busyettt.... Udah nikah aja loe, tanpa undang gue"


"Jadi penasaran nih, kayak apa kakak ipar gue sampai si play boy ini klepek - klepek", goda Andre.


"Loe nggak usah penasaran sama istri gue! Ketemu malah suka lagi loe sama dia, kan ancur, bro", ledek Denis.


"Tunggu....tunggu....bro, itu nggak bakalan terjadi bro. Gue udah punya inceran bro, bisa dipastikan dia lebih cantik dari istrimu, bro", kata Andre.


"Yakin?", kata Denis yang kemudian di jawab dengan anggukan oleh Andre.


"Dia kerja disini juga, boss!" Tambah Andre


Denis membulatkan kedua matanya. "Siapa?"


"Ntar gue kenalin kalau gue udah nglamar dia, kalau sekarang janganlah, ntar loe suka lagi sama dia, secara dia kece", ucap Andre diikuti suara tawa yang pecah dari mereka berdua.


Andre sudah berada di dalam lift, setelah sebelumnya. dia berpamitan dengan sahabatnya itu. Suasana kantor sangat ramai dengan karyawan yang berlalu lalang karena saat itu masuk waktu makan siang. Begitu juga kondisi di dalam lift.


Saat berada di lantai 18, pintu lift terbuka karena dari luar ada orang yang akan ikut masuk menggunakan lift. Mata Andre tertuju pada satu titik dimana seorang wanita melintas di depan matanya, orang yang sangat dia kagumi, orang yang mengisi hatinya beberapa tahun ini.


"Nada", refleks Andre meneriakkan nama itu saat pintu lift mulai menunjukkan tanda akan segera menutup. Kakinya ingin melangkah keluar, namun keadaan tidakemungkinkan karena ia terdesak oleh banyaknya pengguna lift.


Ia pun hanya menghembuskan nafas perlahan, pasrah dengan keadaan. Namun dia optimis bahwa suatu hari, ia akan segera bertatap muka dengan wanita yang dicintainya itu.


Nabila yang berjalan menuju pantry, tiba-tiba mendengar suara seseorang yang ia kenal memanggil namanya. Dan hanya orang tersebut yang memanggilnya dengan nama itu. Ia menengok ke kiri dan ke kanan, tapi orang yang ia pikirkan tak nampak, membuat bulu kuduk nya berdiri.


"Apa aku berhalusinasi ya? Tapi mengapa mesti dia", pikirnya bingung. Ia pun bergegas masuk pantry.


"Selamat siang mbak Nabila, kok baru kelihatan?", tanya Lisa kepada Nabila, diiringi senyum manisnya.


"Siang, Lis!" sahut Nabila, yang kemudian duduk di salah satu kursi.


"Mbak Nabila mau dibuatkan minum?"


"Boleh", ucap Nabila sambil meletakkan dagunya di atas meja, sedangkan tangannya sibuk dengan ponsel yang baru ia keluarkan dari sakunya.

__ADS_1


"Mata Mbak Nabila kenapa?", Tanya Lisa sambil menatap lekat-lekat wanita yang ada di depannya sembari meletakkan secangkir teh ke atas meja.


Nabila hanya menggelengkan kepalanya untuk menanggapi pertanyaan Lisa.


"Pasti habis bertengkar sama pacarnya!", tebak Lisa.


"Sok tau", seru Nabila sambil mengambil cangkir yang ada di depannya, lalu meneguk isinya.


Lisa duduk di kursi, berhadapan dengan Nabila sambil menyodorkan sekotak kue basah. "Makan dulu mbak, pasti mbak Nabila belum makan siang", ucapnya.


Nabila mengambil satu kue yang ada di kotak itu, kemudian memakannya. Mereka menikmati kue sembari ngobrol-ngobrol. Baru setengah perjalanan obrolan mereka, wajah lisa tiba-tiba berubah. ia nampak tertegun, matanya membulat sempurna. Lalu perlahan ia berdiri dan menundukkan kepalanya, " Siang tuan, ada yang perlu saya bantu?" ucapnya dengan suara bergetar.


Nabila mengikuti arah pandang Lisa. Ia memutar tubuhnya sehingga bisa melihat siapa gerangan yang baru datang dari arah belakangnya. "Mas", ucapnya lirih, namun masih bisa di dengar orang yang ada di ruangan itu.


Tanpa permisi, Denis berjalan melewati Nabila, kemudian duduk di kursi yang tadi di tempati Lisa. "Bisa tinggalkan kami sebentar?", pintanya.


Lisa pun mengangguk, lalu dengan bergegas ia keluar dari ruangan itu.


Denis meletakkan dua kotak makanan ke atas meja, kemudian menggeser salah satunya tepat di dekat Nabila. "Makanlah!" perintahnya, sambil membuka kotak miliknya, kemudian beralih membuka kotak milik Nabila.


Sudah beberapa sendok makanan masuk ke perutnya, namun ia melihat makanan milik istrinya belum tersentuh sama sekali. "Kenapa tidak makan? makanlah! nanti kau bisa sakit bila tak makan", kata Denis, namun Nabila diam tak menjawab, wanita itu sibuk membuang pandangannya ke arah lain.


Denis menggeser kotak makannya ke samping, kemudian menarik kotak makan Nabila ke arahnya. "Buka mulutmu!" perintahnya, sambil mengangkat sendok berisi penuh makanan ke depan mulut Nabila.


Nabila merebut sendok itu, kemudian menarik kotak makannya kembali ke dekatnya, sembari berkata, "Aku bisa makan sendiri!" Ia dengan terpaksa makan makanan yang dibawakan oleh suaminya. Denis tersenyum lucu melihat tingkah istrinya.


Tak ada obrolan selama mereka sibuk dengan makanannya. Hingga Denis menutup makan siangnya dengan meneguk botol air mineral, kemudian berkata, "Maafkan aku ya". Denis meletakkan telapak tangannya di atas punggung tangan Nabila, namun Dengan cepat ia menarik tangannya menghindar.


"Sudah tidak ada yang dibicarakan lagikan?", ucap Nabila sembari berdiri hendak melangkah pergi, Namun dengan cepat Denis menarik tangan Nabila.


"Biar aku saja yang pergi", kata Denis, yang kemudian melangkah pergi meninggalkan tempat itu, namun sebelumnya ia sempatkan untuk mencium lembut kening istrinya itu.


Sepeninggalan Denis, Lisa kembali masuk dan duduk di tempatnya tadi. "Ooo Nona Nabila istri Tuan Denis itu mbak Nabila toh", ucap Lisa heboh.


"Siapa yang bilang?" seru Nabila, sambil tersenyum melihat tingkah Lisa yang lucu.


"Tuan Denis sendiri. Kemarin waktu mbak Nabila nggak ngantor, Tuan Denis memberi pengumuman bahwa mbak Nabila adalah istrinya"


Nabila tertegun mendengar perkataan Lisa. "benarkah?", gumamnya dalam hati.


_______


**happy Reading 😍

__ADS_1


ditunggu like and votenya ya😉**


__ADS_2