Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Jangan Cantik-cantik


__ADS_3

"Kita jalan-jalan, mau?" Tawar Denis pada Nabila yang baru saja memasukan suapan terakhir dari makan siangnya ke dalam mulut.


"Jalan-jalan kemana?" Tanya Nabila yang kemudian meneguk segelas air yang ada dalam gelas di depannya.


"Nanti kamu juga akan tau", Jawab Denis sembari mengangkat alisnya. "Buruan siap-siap sana!" Perintahnya.


"Ditanya apa-apa pasti jawabannya begitu terus, kamu memang suka banget main rahasia-rahasia begitu, mas. Semoga aja nggak ada wanita rahasia juga", sindir Nabila, membuat Denis tertawa.


"Tenang yang, kamu bisa percaya padaku", kata Denis pada Nabila yang kini sudah bangkit dari duduknya dan bermaksud kembali masuk ke kamar.


"Hemmmm", Nabila hanya menimpali singkat ucapan Denis.


"Yang jangan cantik-cantik ya, dandannya. Nanti dilirik banyak orang", kata Denis dengan suara yang cukup keras karena Nabila sudah berjalan menjauh, membuat Nabila menoleh sebentar ke arahnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


*********


"Sudah siap, yang?" Tanya Denis seiring langkahnya masuk ke dalam kamar dan diteruskan masuk ke kamar mandi, namun tak ada jawaban dari Nabila yang kini sedang memasang kerudung untuk menutupi kepalanya.


"Coba kulihat sebentar!" Seru Denis yang kini memutar tubuh istrinya menghadapnya sedangkan dia sendiri yang baru keluar dari kamar mandi terlihat telanjang dada.


"Kenapa berdandan cantik sekali? Kan tadi sudah aku bilang nggak usah dandan berlebihan", protes Denis begitu wajah dan penampilan istrinya tertangkap oleh matanya, diikuti bibirnya yang mengerucut karena tak terima dengan dandanan Nabila yang membuatnya terlihat semakin cantik.


Nabila mendengus, tidak setuju dengan pendapat suaminya, karena ia merasa memang dia tidak berdandan berlebihan. kali ini dia hanya memakai bedak tipis dengan sapuan blush on sangat tipis dan pelembab bibir yang warnanya tidak mencolok untuk menjaga bibirnya tidak kering.


Denis menangkup wajah Nabila, dengan kedua jempol tangannya menyapu bibir tipis Nabila. "Jika kamu berdandan secantik ini, semua mata laki-laki akan mengarah padamu, dan aku tidak suka itu"


"Tapi aku hanya__". Belum sempat Nabila menyelesaikan kata-katanya, Denis menyerang bibir wanitanya tanpa ampun. Denis menghentikan aksinya ketika Nabila mendorong dada suaminya itu karena kesulitan bernafas.


Setelah perdebatan sengit tentang penampilan Nabila, akhirnya Denis menyerah membiarkan istrinya tetap dengan dandanan awalnya tadi meski diiringi dengan wajah cemberutnya.


Kini mereka sudah ada di atas motor menuju suatu tempat yang masih dirahasiakan oleh Denis. Nabila melingkarkan dengan nyaman kedua tangannya ke pinggang Denis, hingga akhirnya mereka sampai di sebuah tempat yang telah ramai di padati pengunjung.


Nabila berjalan cepat mendahului Denis, ketika matanya menangkap pemandangan yang begitu istimewa, yang tak jauh dari matanya. Ya, kali ini mereka sudah ada di sebuah taman wisata bunga.

__ADS_1


Berbagai macam jenis dan warna bunga ada di sana. Sepanjang mata memandang hanya ada bunga-bunga yang indah dengan berbagai ragam bentuknya. Nabila tak hentinya mengagumi tempat ini, tak jarang Denis beralih menjadi photograper karena Nabila meminta untuk memotretnya dengan berbagai macam latar bunga yang ada di sana.


Setelah puas berada di antara bunga-bunga nan indah, Denis mengajak Nabila mengunjungi tempat yang tak kalah menarik, yang tak jauh dari villa tempat mereka tinggal. Tempat itu ada di area pegunungan, sehingga tidak kaget jika suhu udara di sana membuat orang kedinginan.


Di sana mereka di manjakan dengan spot-spot yang menarik dan instagramable, sehingga wajar jika banyak pengunjung sibuk untuk memotret dan dipotret. Begitu juga Nabila yang tak ingin tertinggal moment kali itu.


Suasana syahdu dan romantis sangat kental di waktu menjelang matahari terbenam di tempat itu. Nabila dan Denis pun tak ingin tertinggal untuk menyaksikan semburat jingga langit yang indah dari atas ketinggian sembari menikmati secangkir minuman hangat yang disediakan restoran tempat mereka berada kini.


Keasyikan mereka memadu sore ini sempat terusik ketika Nabila menyampaikan kegundahannya yang sedari tadi di pendamnya.


"Mas, dari tadi sepertinya ada yang mengikuti kita", bisik Nabila kepada Denis yang ada di sampingnya membuat Denis refleks mengamati suasana yang ada di sekelilingnya.


"Orangnya ada di arah jam 3, tapi mas Denis jangan menengok kesana, nanti orangnya curiga", bisik Nabila lagi.


Denis mengambil jemari Nabila dan meletakkan di dadanya. "Mungkin hanya kebetulan, dia terus berada di dekat kita, sayang", ucap Denis mencoba menenangkan.


"Tapi dia mulai mengikuti kita dari taman bunga tadi mas, bukan disini saja. Dia dari tadi melihat ke arah kita, bahkan aku sempat mendapati dia memotret kita", kata Nabila dengan raut muka yang kelihatan sangat khawatir.


Ia merangkum wajah istrinya dengan kedua telapak tangannya, sehingga wajah istrinya kini tepat berhadapan dengan wajahnya. "Tenanglah aku berada di dekatmu, tidak akan terjadi apa-apa, aku akan menjagamu", kata Denis lirih diikuti kecupan di kening Nabila.


Selepas maghrib, Denis dan Nabila memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. "Kita makan malam dulu ya?" tanya Denis sembari mengenakan helm ke kepala Nabila.


Nabila mengangguk, tanda menerima tawaran suaminya.


Ketika semua sudah duduk di atas motor, Denis bergegas melajukan kendaraannya. Namun, baru beberapa puluh meter motor mereka melaju, tiba - tiba Denis menghentikan laju motornya.


Ia melepaskan jaket yang ia pakai. "Pakailah, kamu pasti kedinginan", kata Denis sembari memakaikan jaket ke tubuh istrinya, sebelum ia melanjutkan lagi perjalanannya.


Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di sebuah restoran yang cukup mewah di kawasan villa tempat mereka menginap. Denis mematikan mesin motornya dan menunggu Nabila untuk turun, namun ditunggu-tunggu, Nabila tak kunjung turun.


"Kok diem aja?Ayo turun, yang!" Kata Denis yang menengok ke arah istrinya sembari melepas helm yang ia kenakan. Nabila menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? Kamu harus makan! Ayo turun!" Kata Denis lagi, namun Nabila masih tak bergerak untuk turun.

__ADS_1


Nabila kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Denis, membuat Denis membuang nafasnya kasar dan memutar motornya keluar dari area parkir restoran. Denis melajukan motornya dengan kecepatan sedang ke arah suatu tempat yang dimau istrinya.


Setelah menelisir jalan belasan menit, akhirnya Denis menghentikan motornya tepat di sebuah warung tenda pinggir jalan. Tanpa komando, Nabila turun dari motor itu masuk ke dalam warung, meninggalkan Denis yang hanya menatapnya heran sembari meng geleng-gelengkan kepalanya.


Denis sudah masuk dan duduk di sebelah Nabila. Warung itu lumayan ramai oleh pembeli, sehingga mau tak mau mereka duduk dengan rapatnya, karena kursi panjang yang tersedia tidak cukup banyak. Tak menunggu lama, entah pemilik atau pelayan di warung itu meletakkan dia mangkuk makanan di hadapan mereka.


"Yang-yang diajak makan di restoran kok nggak mau, malah mlipir kesini", kata Denis yang melihat heran wajah Nabila yang begitu sumringah, sembari meng garuk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ayo dimakan, mas! Mumpung masih panas", pinta Nabila sembari memeras jeruk limo ke dalam mangkuknya.


Nabila mencicipi kuah makanan yang baru saja diaduknya, mencoba merasa dan mencari kekurangan yang ada di dalamnya. Ia meraih tempat sambal dan menuangkan dua sendok penuh sambal dari tempat itu ke mangkuknya. Ketika akan mengambil sambal untuk yang ketiga kalinya, dengan cekatan Denis mengambil sendok sambal yang ada pada Nabila.


"Yang, kamu apa-apaan sih, makan sambal sebegitu banyaknya kayak orang kesetanan", tegur Denis dengan mata melotot.


"Mas, makan beginian kalau nggak pedes itu kurang nikmat. Cobain deh ini yang udah kukasih sambel", kata Nabila sembari mengaduk makanannya dan mengambilnya satu sendok untuk disuapkan ke suaminya, Namun Denis menggelengkan kepalanya dan menolak, membuat Nabila mengerucutkan bibirnya.


Nabila menikmati sendok demi sendok makanan yang ada di hadapannya dengan lahapnya, sehingga tidak menyadari orang yang ada di sebelahnya tak menyentuh sama sekali makanannya. Pria itu hanya menelan salivanya beberapa kali melihat cara istrinya makan, namun berniat menyentuh makanannya.


Nabila yang hendak memasukkan potongan siomay dan beberapa biji sukro cikur ke dalam mulutnya, mengurungkanya dan meletakkan kembali sendok ke mangkoknya karena matanya menangkap suaminya asyik memandanginya dan membiarkan makananya begitu saja.


"Kenapa nggak dimakan sih, mas? Kamu nggak doyan? Kalau nggak doyan kenapa nggak bilang, kan kita bisa nyari makanan di tempat lain. Kalu begini kamu kan nggak makan", kata Nabila pelan dengan ekspresi sedih sekaligus kecewa.


Nabila tak melanjutkan makan, malahan berdiri hendak meninggalkan kursinya, namun tangan Denis menghentikannya dengan menarik tangan Nabila sehingga wanita itu duduk kembali ke kursinya.


"Ya udah aku makan, tapi aku maunya di suapin, yang", kata Denis manja.


Nabila menyebikkan bibirnya, hendak menolak keinginan suaminya. Namun daripada melihat suaminya tak makan, dia memutuskan menyuapi laki-laki itu dengan muka yang memerah karena malu dilihat pengunjung lain di warung itu.


________


**Happy Sunday semua pembaca setia novel Menunggu Cintamu Berkembang, semoga hari kalian menyenangkan ^_^


Kali ini rencana mau up dua episode sekaligus. Tungguin ya... Jangan lupa tinggalin jejak like, comment and vote 😉**

__ADS_1


__ADS_2