Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Kalian Cocok


__ADS_3

Cahaya matahari pagi mulai masuk celah - celah kaca kamar sepasang suami-istri yang sedang memulihkan energi, setelah pagi ini mereka mengulang kembali aktivitas meraih kenikmatan bercinta seperti tadi malam.


Denis berusaha membuka matanya dengan susah payah dan mulai mengumpulkan kesadarannya. Begitu matanya sudah bisa membuka sempurna dan kesadaran sudah mulai di dapat, ia mencoba bangkit dan duduk bersandar di kepala tempat tidur.


Ia menjatuhkan penglihatannya pada sosok yang ada di sebelahnya, yang hampir seluruh tubuhnya di tutupi dengan selimut sehingga yang nampak hanya kepalanya saja. Denis menarik kedua ujung bibirnya saat mengingat kejadian semalam dan beberapa jam lalu.


Dibelainya kepala istrinya itu dengan lembut. Bahagianya sungguh tak terkira. Ada perasaan bangga bahwa sebagai laki-laki dia sudah mampu membuktikan keperkasaannya dan menunaikan kewajibannya sebagai suami.


Ingin sebenarnya ia menyusup ke dalam selimut yang membalut tubuh istrinya yang masih terlelap dan mengajaknya bergumul kembali hingga siang hari, namun jam dinding yang ada di hadapannya sepertinya tidak mau bersahabat dengan rencananya.


Jam menunjukkan pukul 07.49. Dengan malas Denis turun dari tempat tidur, setelah sebelumnya mengecup kepala istrinya itu. Denis segera masuk ke kamar mandi. Beberapa menit lagi dia sudah ada janji sarapan bersama orang yang sudah sempat ia temui tadi malam, untuk melanjutkan pembahasan kesepakatan-kesepakatan yang belum selesai mereka bahas semalam.


Denis yang baru keluar dari kamar mandi, segera memakai pakaian yang baru diambilnya dari lemari pakaian. Kali ini dia memilih hanya mengenakan kaos yang menutupi 2/3 lengannya dan celana jeans.


Setelah rapi menyisir rambutnya, ia naik ke atas tempat tidur. Ia memeluk tubuh Nabila dengan posesif sambil sedikit digoyang-goyangkan. Ia menyengaja untuk membangunkan istrinya itu. "Nab, bangun sayang, sudah siang", bisiknya ke telinga Nabila.


Perlakuan Denis membuat Nabila akhirnya membuka matanya. Matanya yang masih nampak mengantuk, terbuka lebar ketika melihat orang yang dihadapannya sudah nampak segar dan rapi. "Mas kok sudah rapi, mau kemana?", ucap Nabila sambil menutupkan rapat selimut ke dadanya yang berusaha dijamah suaminya.


Denis tersenyum nakal melihat tingkah istrinya, menggemaskan pikirnya. Ingin sekali ia memakan kembali istrinya saat ini.


"Mandilah! Setelah itu turun ke bawah untuk sarapan. Aku tunggu kamu disana", ucap Denis yang kemudian melepaskan pelukannya dan duduk.

__ADS_1


Nabila bangkit dan duduk di sebelah Denis. Selimut masih menutup rapat tubuhnya. Nampak ia terdiam sambil menatap Denis dengan tatapan bingung.


"Kok malah diam saja, ayo segera mandi sana. Apa mau aku yang mandiin?", goda Denis.


"Apaan sih mas", Nabila meninju pelan dada Denis membuat Denis tertawa.


"Aku malu, nggak pakai baju. Kamu keluar dulu sana", pinta Nabila.


"Kenapa malu, aku kan sudah lihat", ucap Denis dengan senyum nakalnya.


"Pokoknya keluar!"


******


Denis sudah sampai di restoran hotel. Saat dia baru saja masuk melewati pintu restoran, seorang laki-laki melambaikan tangan ke arahnya dengan tersenyum. Denis membalas senyum itu dan berjalan ke arah laki-laki itu.


Sampai di depan meja pria tadi, Denis mengulurkan tangannya dan disambut oleh pria itu. " Maaf tuan Yusuf saya terlambat, saya bangun kesiangan", ucap Denis sambil melepaskan salamannya.


"Tidak masalah tuan Denis, saya menyadari anda pasti cukup lelah dengan perjalanan kemarin", ucap Yusuf yang kemudian mempersilahkan Denis duduk.


Denis duduk berhadapan dengan Yusuf. Mereka membahas kembali hal-hal yang belum sempat mereka bicarakan saat bertemu tadi malam mengenai kerjasama mereka sambil menikmati sarapan yang mereka pilih masing-masing.

__ADS_1


Disela mereka sarapan muncul seorang wanita muda dengan berpakaian minim menghampiri Yusuf. Dia mencium pipi kanan dan kiri Yusuf. "Morning, dad", ucapnya manja.


"Morning, sayang" Jawab Yusuf.


Wanita itu meletakkan segelas jus dan roti gandum yang dibawanya ke meja, kemudian menarik kursi dan duduk tepat di sebelah Yusuf yang tak lain adalah ayahnya.


"Oh ya tuan Denis, perkenalkan ini adalah putriku, Sheila", ucap Yusuf, melihat ke arah Denis dengan senyum yang sulit diartikan.


Sheila melihat ke arah Denis dan tersenyum manis ke pada pria yang ada di depannya itu saat Denis melihat sekilas kearahnya. Denis hanya melihat Sheila sekilas dan menganggukkan kepala sebagai salam perkenalan.


Yusuf dan Denis masih meneruskan pembicaraan yang tadi sempat terputus karena kedatangan Sheila. Sheila mengamati dengan seksama wajah pria yang ada di depannya. Sebelumnya Yusuf sudah menceritakan sosok Denis yang muda, single, ganteng, dan sukses kepada Sheila.


"Benar apa yang diucapkan daddy, dia memang ganteng dan sempurna", batin Sheila dengan matanya yang masih tak mau lepas dari sosok yang ada di depannya.


Yusuf yang menyadari sikap putrinya saat itu, teringat akan rencananya sebelum datang untuk sarapan. Tanpa sungkan dia berucap "Tuan Denis, saya sungguh salut pada anda. Di usia anda yang masih relatif muda, anda sudah memiliki prestasi yang luar biasa. Apa anda tidak berencana mencari pendamping hidup?"


Denis yang baru memasukkan makanan ke dalam mulutnya hanya tersenyum mendengar ucapan Yusuf. Setelah makanan di dalam mulutnya habis, ia berniat untuk menjawab apa yang di tanyakan kliennya itu. Namun, belum sempat ia menjawab, Yusuf melanjutkan ucapannya.


"*Bagaimana kalau tuan Denis, menikah sama anak saya saja? Sepertinya kalian cocok"


"Bagaimana Shei*?", ucap Yusuf sambil mengusap punggung anaknya. Sheila nampak begitu senang dengan ucapan daddynya.

__ADS_1


__ADS_2