Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Kasihan


__ADS_3

Posisi matahari yang mulai meninggi, memancarkan cahaya yang mampu membuat Nabila terbangun dari mimpi singkatnya. Wanita itu segera bangkit dan duduk bersandar di kepala ranjang, ketika matanya menyadari sosok yang dari tadi menemaninya tidur sudah tidak ada di situ.


"Mas", panggil Nabila keras, namun tidak ada balasan dari orang yang ia sebut. Dengan malas kakinya mulai turun dari tempat tidur dengan selimut yang masih melingkar menutupi tubuhnya yang polos.


Disaat kakinya baru melangkah beberapa langkah, ia dikejutkan dengan kemunculan Denis yang tiba-tiba dari dalam kamar mandi. Pria yang hanya mengenakan selembar handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya itu tersenyum hangat dan berjalan ke arahnya.


"Sudah bangun sayang?" Tanya Denis, yang kemudian mencium lembut kening Nabila yang kini hanya berdiri terpaku menatap suaminya yang kala itu nampak begitu tampan di matanya. Dada Denis yang bidang dan lengannya yang berotot, serta rambutnya yang sedikit basah, membuat Nabila tak berkedip di buatnya.


Entah kenapa pagi itu Nabila begitu tersita perhatiannya pada fisik suaminya. Padahal biasanya ia tetap malu untuk memandangnya seberani itu. Tapi kali ini, ia merasa takjub dengan pemandangan yang ada di hadapannya. Hingga tanpa ia sadari, suaminya senyum-senyum sendiri melihat mimik wajahnya yang aneh.


Denis melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Nabila. "Sayang lihat apa?", tanyanya.


Suara Denis menyadarkan Nabila dari kebengongannya. Wajahnya seketika itu memerah karena malu. Ia menarik selimut yang menutup tubuhnya untuk menutupi wajahnya dari pandangan Denis. Kemudian berlari masuk ke kamar Mandi. Di dalam kamar mandi, Nabila merutuki sikapnya yang konyol.


Denis masuk ke ruang kerjanya, setelah menghabiskan sarapan yang di buat Bi Atik. Tak lama Nabila menyusulnya, setelah membantu Bi Atik membersihkan meja makan. "Boleh masuk, mas?" Tanya Nabila sambil melongokkan kepalanya dari pintu yang telah terbuka sebagian.


"Masuk sayang", ucap Denis sambil tersenyum ke arah istrinya sekilas, sebelum ia fokus kembali menata kertas-kertas yang ada di depannya.


Nabila pun berjalan mendekati suaminya, kemudian duduk di kursi yang ada di depan meja kerja suaminya itu. Dia hanya mengamati saja aktivitas yang dilakukan oleh suaminya. Sampai akhirnya dia memberanikan diri untuk bersuara. "Kamu sibuk banget ya mas?" Tanya Nabila.


Denis menoleh ke arah Nabila dan tersenyum, "Nggak sayang. Cuma meriksa sedikit dokumen-dokumen ini aja", jawab Denis.


"Sekarang kan hari sabtu, kok masih sibuk ngurusin kerjaan terus", balas Nabila.


"Biar nggak numpuk-numpuk aja kerjaannya sayang, lagian besok nggak bakalan sempet karena besok pasti bakal repot banget", ujar Denis.


Nabila mencebikkan bibir bawahnya, kemudian bangkit dari duduknya. " Ya udah aku ke kamar aja, kalau kamu sibuk", ucap Nabila yang kemudian berjalan buru-buru menuju pintu keluar.


"Kamu mau kemana?" Tanya Denis, namun Nabila tak menyahuti, sehingga ia melangkah cepat untuk menghentikan langkah Nabila. Denis berhasil meraih lengan Nabila yang sudah menyentuh gagang pintu.


"Kamu ngambek ya", ujar Denis saat berhasil memutar tubuh Nabila menghadapnya, namun Nabila memalingkan mukanya ke arah lain.


Denis merangkum wajah Nabila. "Knapa ngambek?" tanyanya.


"Aku nggak ngambek", Jawab Nabila

__ADS_1


Denis tersenyum. "Wajah kamu itu lihat! udah kelihatan kalau lagi ngambek", kata Denis sambil menarik hidung Nabila.


"Ganti baju sana, kita jalan-jalan! Jangan dandan cantik-cantik dan nggak usah ngambek lagi!" Seru Denis, yang kemudian memberikan ciuman sekilas di bibir Istrinya, sebelum membiarkan wanita itu keluar dari ruangan kerjanya.


*******


"Kita nonton yuk, sayang!" Ajak Denis, ketika kedua kakinya baru saja melewati pintu masuk mall.


"Ntar aja mas, masih terlalu pagi. Kita jalan-jalan aja dulu ya", pinta Nabila, setelah sejenak ia menengok jam yang ada di pergelangan tangannya.


Denis dan Nabila menghabiskan waktu hingga hampir siang dengan keluar masuk toko-toko yang ada di dalam mall. Awalnya Nabila hanya ingin cuci mata saja, namun suaminya memaksa untuk membelikannya beberapa macam barang. Pada akhirnya kini Denis harus membawa beberapa kantong belanjaan istrinya.


"Udah nggak ada yang mau dibeli lagi, sayang?" tanya Denis.


"Dari tadi juga sebenarnya aku nggak mau beli apa-apa, mas. Kamu aja yang maksa bela-belain", kata Nabila sambil memonyongkan bibirnya, membuat Denis tertawa.


"Kalau begitu kita nongkrong dulu di cafe. Gimana?" Tanya Denis.


Nabila melihat jam tangannya. "Katanya mau nonton. Ntar kalau ngafe dulu kelamaan".


"Ya udah kita langsung nonton aja kalau begitu", sahut Denis.


"Kamu duduk situ dulu! Aku carikan minum", kata Denis sambil menunjuk kursi yang berjajar tak jauh dari tempat ia berdiri. Nabila pun mengiyakan dan melangkah menuju kursi tersebut.


Baru saja punggungnya yang mulai kaku ia sandarkan di sandaran kursi yang ia duduki, tiba-tiba saja di depannya berdiri seseorang pria yang tak asing baginya. "Nada", panggil pria itu.


Nabila mengangkat kepalanya yang semula tertunduk. " Mas Andre", ucap Nabila, namun suaranya tak bisa terdengar. Nabila nampak kelihatan canggung dan gugup.


"Apa kabar? Mana Denis?" Tanya Andre.


"Ba_baik, mas. Ehmm... Mas Denis lagi beli minum", jawab Nabila sambil menengok ke kanan dan ke kiri, seolah mencari sesuatu.


"Na, boleh aku tanya sesuatu?" Tanya Andre


"Iya, mas. Silahkan!" Jawab Nabila, namun ia tak mau sama sekali melihat ke arah Andre.

__ADS_1


"Aku ingin kamu jujur, padaku. Apa benar, tak ada sedikitpun aku di hatimu?" Kata Andre.


Nabila terdiam, tak langsung menjawab.


"Katakan, Na! Biar aku bisa bersikap. Apa aku harus terus memperjuangkanmu atau aku harus menyerah mengubur dalam-dalam rasa yang kupunya untukmu".


Belum sempat Nabila menanggapi apa yang diucapkan Andre, tetiba seorang wanita datang menghampiri mereka dengan wajah yang nampak marah. "Andre!" Teriaknya.


"Mama!" Seketika itu tubuh Andre berbalik ke arah suara.


"Ngapain kamu di sini? Sama perempuan ini pula", kata Mama Andre sambil menunjuk Nabila.


"Ma, kita nggak sengaja ketemu di Sini" Jawab Andre.


Nabila hanya diam saja dengan apa yang ada di depannya. Tak ada niat sekalipun untuk membela diri, karena dia paham bagaimana tabiat wanita setengah tua itu.


Mama Andre berjalan mendekati Nabila. "Kamu juga, jadi wanita kok nggak punya malu. Sudah menikah tapi masih menggoda pria lain. Untung anak saya nggak jadi nikah sama kamu. Sepertinya kamu memang suka menggoda pria-pria kaya", hardik mama Andre.


"Mama hentikan! Nabila nggak salah", kata Andre sambil menarik lengan mamanya agar menjauh dari Nabila.


"Maafin mamaku, ya na", ucap Andre pada Nabila, namun Nabila tak merespon.


"Kalau kamu masih berani ketemu anak saya lagi, saya nggak akan segan-segan mengganggu ibumu, mengerti", ancam Mama Andre sebelum anaknya benar-benar membawanya pergi dari hadapan Nabila.


"Mama apa-apaan sih, malu-maluin", kata Andre.


"Kamu yang apa-apaan. Awas kamu ketemu dia lagi!" Ujar mama Andre.


Ketika Andre dan mamanya baru beberapa langkah pergi menjauh dari Nabila, mereka berpapasan dengan Denis yang membawa segelas minuman.


"Tante, Andre!" Sapa Denis lebih dulu.


"Oh kebetulan ketemu kamu, Nis. Tante kasihan sama kamu, kok bisa-bisanya cari istri yang begitu", ucap mama Andre.


Denis terperanjat, keningnya berkerut. "Maksud tante?" Tanya Denis.

__ADS_1


"Sorry bro, nggak usah di dengerin. Nyokap lagi PMS. Kita jalan dulu ya, dahh", kata Andre yang kemudian berjalan tergesa sambil menarik tangan mamanya, setelah menepuk punggung Denis.


Denis memandang Nabila dari kejauhan, namun wanita itu buru-buru membelakangi nya. Banyak pertanyaan yang muncul di kepala pria itu.


__ADS_2