
Lewat tengah malam, Denis baru tiba di apartemen miliknya. Setelah meletakkan jas dan tasnya di atas sofa di ruang tengah, ia bergegas menuju kamarnya. Rasanya ia sungguh tak sabar ingin segera melihat wanita yang sejak tadi ia rindukan itu.
Denis membuka pintu kamarnya perlahan, karena tak ingin mengganggu istirahat istrinya. Rasa rindunya hilang seketika tatkala matanya dapat menangkap tubuh istrinya yang kini sedang meringkuk di atas tempat tidur. Ia pun mendekatinya dengan hati-hati.
Denis meletakkan buket bunga mawar merah yang ia bawa, di atas nakas. Setelah ia menyingkirkan ponsel yang ada di samping istrinya dan menutup tubuh istrinya dengan selimut, Denis pun memberikan ciuman hangat di kening dan bibir istrinya itu.
Denis naik ke atas tempat tidur setelah membersihkan dirinya. Tangannya dengan sengaja ia lingkaran ke perut Nabila, sebelum akhirnya ia ikut menyusul istrinya menutup mata dengan sempurna dan pergi menjelajah ke alam mimpi.
*******
Suara azan subuh membangunkan Nabila dari tidurnya. Seolah langsung diperintah otaknya, tangan Nabila meraba tempatnya dia berbaring, seolah si empunya tangan ingin memastikan ada sesuatu di sebelahnya.
Namun, lagi-lagi Nabila harus kecewa karena apa yang dia cari, tidak dia dapati. Padahal semalam ia merasa laki-laki yang sangat ia rindukan sekaligus yang membuat hatinya terluka sedang memeluk erat dirinya, bahkan ia merasakan suaminya itu bahkan memberikan ciuman di wajahnya.
Jika biasanya setelah sholat subuh, Nabila akan turun ke dapur dan mengerjakan tugas kerumahtanggaan, tapi tidak untuk pagi ini. Ia memilih untuk naik kembali ke atas tempat tidur.
Ketika sebagian tubuhnya tengah menempel di tempat tidur, lensa matanya tersita dengan sesuatu yang ada di atas nakas. Dengan cekatan tangan Nabila meraih buket mawar merah yang tadi malam dibawakan oleh Denis untuknya itu.
Ia mencium dalam-dalam aroma wangi dari bunga yang kini sudah ada di dekat indra penciumannya itu. Ada perasaan tenang yang ia rasakan, meski sebentar. "Berarti mas Denis tadi malam benar-benar ada di sini", batinnya.
"Tapi mengapa ia tidak membangunkanku, bahkan meninggalkanku sepagi ini tanpa sepatah katapun. Apa maksudnya?" Batinnya lagi. Kali ini air mata lolos kembali dari pelupuk matanya yang masih tampak bengkak karena tangisan semalam.
"Apa dia ada di ruang kerja?" Nabila berusaha menenangkan pikirnya. Ia pun bangkit dan buru-buru keluar kamar untuk menemukan keberadaan suaminya. Nabila menengok semua ruang yang ada di dalam apartemen suaminya itu, namun sosok yang ia cari tidak ia dapati. Ia pun kembali masuk ke kamar dengan gontai.
Di raihnya ponsel miliknya yang ternyata sudah mati karena kehabisan daya. Ia pun segera mengisi ulang baterai ponselnya. Meski baru terisi beberapa persen, ia menyalakan ponsel tersebut. Bebarengan dengan nyala ponsel, muncul pemberitahuan panggilan masuk hingga 17 kali tadi malam dari nomor suaminya.
Meski masih tidak bisa menghilangkan perasaan kecewa dalam hatinya, ia sedikit terhibur dengan pemberitahuan tersebut, karena ternyata suaminya semalam masih sempat menghubunginya. Tak berapa lama berselang, muncul beberapa pesan dari nomor yang sama yang sebenarnya sudah dikirim beberapa menit yang lalu.
~*Maaf ya sayang, aku harus meninggalkanmu lagi. Aku sengaja tidak membangunkanmu, karena sepertinya tidurmu sangat nyenyak.
__ADS_1
Dan aku tidak mau mengganggumu. Aku pergi ke Singapore karena ada urusan yang harus kuselesaikan, insya Allah besok malam aku sudah kembali ~ Denis
~Jaga diri baik-baik ya sayang. Jangan lupa makan. Jika ingin keluar rumah, mintalah pak Gugun mengantarmu. Ingat, jangan berdandan terlalu cantik, OK! ~Denis
~Rindukan aku ~ Denis
~Karena aku juga merindukanmu~Denis*
Setelah membaca semua pesan yang h tak bisa menerima apa yang dilakukan suaminya itu. "Setelah bermain-main dengan wanita lain, dia bermanis-manis denganku, kemudian menghilang lagi tanpa ada penjelasan. Dia menganggap aku apa?" batinnya.
Sehari semalam Nabila hanya mengunci diri di kamar. Dia hanya berbaring diatas tempat tidur. Hanya sesekali saja dia turun dari tempat tidur hanya untuk ke kamar mandi, sholat atau duduk di balkon mencari udara segar. Tak sejumput pun makanan masuk ke dalam perutnya, meskipun Bi Atik yang hari ini bertugas di apartemennya sudah merayunya untuk makan.
Karena Denis tak kunjung bisa menghubungi nomor ponsel istrinya yang memang sengaja dimatikan, Denis pun memilih menghubungi Bi Atik supaya mendapatkan kabar tentang istrinya. Akhirnya kabar tentang kondisi Nabila sampai ke telinga Denis, sehingga membuat pria itu memutuskan untuk pulang lebih awal dari jadwal yang dia rencanakan sebelumnya.
Denis terpaksa harus kembali ke Indonesia, tanpa mama papanya yang seharusnya malam nanti pulang bersama dia. Dengan menggunakan penerbangan siang itu, Denis akhirnya sampai juga di Indonesia sekitar satu jam lebih. Ia langsung melanjutkan perjalanan ke apartemen begitu tiba dibandara, dengan menumpang taksi.
"Istriku kemana bi? Apa dia sudah makan siang?" Tanya Denis, sambil memberikan tasnya kepada bi Atik, lalu menerobos masuk ke dalam apartemen dan berhenti di ruang tengah ketika mendengar jawaban bi Atik.
"Nyonya muda masih di kamarnya, tuan. Nyonya masih belum mau makan", ucap Bi Atik hati - hati.
Ada gurat kecemasan menghiasi wajah Denis. "Bi, tolong siapkan makan siang. Aku akan menemaninya makan", perintah Denis pada Bi Atik, kemudian berlalu meninggalkan asisten rumah tangga itu menuju kamarnya sembari menggulung lengan bajunya.
Denis memutar daun pintu dengan hati-hati. Ia masuk ke dalam kamar begitu pintu telah terbuka sebagian. Ia menutupnya kembali dan berjalan menuju tempat tidur, dimana ada sesosok perempuan berbaring di atasnya. Nabila yang nampak melamun, tak menyadari kedatangan Denis.
"Sayang!" Suara Denis dan pantulan tempat tidur yang disebabkan tubub Denis yang baru saja mendarat di atasnya, membuat Nabila tersadar dari lamunannya dan membalikkan badan ke arah sumber suara.
Denis tersentak ketika mendapati kondisi istrinya saat ini. Wajahnya memucat, matanya yang nampak bengkak menunjukkan bahwa wanita itu terlalu banyak menangis dan kurang tidur, rambutnya pun tampak tak terurus, demikian juga bibirnya yang mengering mengindikasikan bahwa sesuatu yang masuk ke dalam pencernaannya sangat minim atau bahkan tidak ada sama sekali.
"Kamu kenapa, Nab?" suara Denis terdengar sedih, begitu juga tatapan matanya menunjukkan keprihatinan. Tangannya mencoba menyingkirkan rambut-rambut yang menutupi wajah istrinya.
__ADS_1
Alih-alih menjawab pertanyaan suaminya. Nabila yang sudah duduk di tempat tidur malah memukuli dengan kuat tubuh suaminya dengan keras. Denis tak menghindar atau mencegah apa yang dilakukan istrinya, dia justru menarik tangan istrinya kemudian memeluknya dengan erat, meski Nabila mencoba berontak.
Denis mengelus dengan sayang kepala Nabila, sehingga membuat wanita itu mulai mereda emosinya. Perlahan-lahan, ia akhirnya berhenti memukuli suaminya, meski suara tangisnya masih bisa terdengar jelas di tiap sudut ruangan itu.
"Coba katakan mengapa kamu semarah ini padaku?" Tanya Denis sembari masih memeluk tubuh Nabila dan membelai kepalanya. Namun Nabila hanya menangis saja tak menjawab pertanyaannya. "Apa karena aku pergi tanpa izinmu? Atau karena aku tak menjawab telponmu?โ Tanya Denis lagi, Namun Nabila tetap tak bersuara.
"Jika memang aku ada salah, aku minta maaf. Tapi kamu jangan menyiksa diri begini. Aku sedih melihat kondisimu begini", ucap Denis lembut.
"Biarkan aku pergi mas", ucap Nabila pelan, namun masih terdengar jelas di telinga Denis dan membuat pria itu terkejut.
Denis melepas pelukannya. Kedua tangannya kini mencengkram lengan Nabila, namun tak menyakitinya. Matanya menatap kedua bola mata istrinya, mencoba mencari tahu makna ucapannya tadi. "Apakah kesalahanku begitu besar hingga kamu ingin pergi dariku?"
Denis menggoyang tubuh Nabila karena Nabila tak kunjung membuka mulutnya, sembari berkata, "Katakanlah Nab! Biar aku bisa memperbaiki kesalahanku. Aku sudah belajar mencintaimu, lalu apakah itu kurang bagimu?" Suara Denis mulai meninggi, diiringi air mata yang begitu saja lepas dari pelupuk matanya.
Nabila mencoba melepaskan tangan Denis, dan ia berhasil melakukannya. "Aku capek mas, aku nggak kuat lagi dengan sandiwaramu dan tingkah lakumu. Lepaskan saja aku dan pergilah cari kesenanganmu sendiri hu.....hu....hu....". Tiba-tiba Nabila berkata dengan nada tinggi sembari menangis dengan begitu kencang.
"Sandiwara apa? Sikapku yang mana?" Denis mencoba mengontrol dirinya agar tak lepas kendali.
Nabila melemparkan ponselnya di depan Denis, kemudian turun dari ranjang menuju balkon. Denis hanya melihat istrinya itu pergi tanpa berniat untuk untuk mengejarnya.
___________
Terimakasih untuk para readers yang masih setia mengikuti novel ini.
Terimakasih juga untuk yang telah mengirimkan saran dan kritiknya ๐
Untuk beberapa readers yang kecewa dengan alur novel ini, saya mohon maaf jika mengecewakan anda. Terimakasih jika anda masih bersedia mengikuti jalan cerita Nabila n Denis, dan saya juga hargai pilihan readers yang kecewa kemudian memutuskan untuk tidak lagi mengikuti novel ini๐
Untuk cerita ini, alurnya sudah dirancang seperti apa hingga tamat, sebelum novel ini saya terbitkan disini. Jadi mohon maaf jika ada yg tidak sepakat dengan alur yang saya buat. Banyak teka-teki yang terjadi di awal cerita, nanti akan terjawab di akhir2 cerita ini... jadi ikuti saja alur yang sudah saya buat. Saya tidak bisa mengubah alur cerita ini mengikuti keinginan pembaca. mohon maaf๐
__ADS_1