Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Komentar Pedas


__ADS_3

Nabila segera masuk ke kamar, setelah Jen berpamitan pulang. Ia duduk di tempat tidur dengan memeluk kedua kakinya, air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya jatuh juga membasahi wajahnya. Kedua pundaknya naik turun, senada dengan isakan tangisnya.


"Kenapa sesakit ini mas, mendengar cerita-cerita dia", lirihnya.


Flashback on


"Kalau boleh tau, Jen apanya tuan Denis? Maaf kalau lancang", ucap Nabila, dengan mimik yang dibuat sewajar mungkin.


"Aku juga bingung Nabila, bagaimana hubunganku dengan Denis. Dulu kami sangat saling mencintai, bahkan sampai saat ini aku masih punya rasa yang sama padanya. Dan aku yakin Denis juga begitu", kata Jen.


Hati Nabila terasa teriris mendengar apa yang dikatakan Jen, kalau bisa memilih, ingin rasanya dia berlari sekarang juga ke kamar kemudian menangis sejadi-jadinya. " kanapa satu persoalan belum selesai, muncul persoalan lainnya", gumamnya dalam hati.


"Dasar tukang selingkuh", lirih Jen, tapi masih bisa terdengar oleh Nabila sehingga membuat kepala yang tadi menunduk kini sudah berdiri tegak.


"Siapa Nona? eh maaf Jen", ucap Nabila dengan tetap memaksakan senyum.


"Ya, majikanmu itu. Dulu papa memintaku pergi ke Jepang untuk melanjutkan kuliahku yang berantakan di sini, tapi aku nggak mau karena pasti bakal susah ketemu Denis. Tapi setelah 3 tahun kita pacaran, Denis selingkuh sama sahabatku sendiri. Akhirnya aku memilih menerima tawaran papaku untuk ke Jepang. Aku berangkat tanpa berpamitan dengannya", cerita Jen mengalir sambil sesekali ia tetap melanjutkan aktifitas makannya.


"Denis sempat menemuiku sekali di Jepang tapi_", Jen berhenti bicara. Ia mengambil gelas berisi air yang ada di depannya kemudian meneguknya. Ia lalu melanjutkan makannya kembali.


"Tapi kenapa Jen?", tanya Nabila penasaran.


Jen menatap Nabila dengan tatapan menyelidik. Sempat terlintas curiga akan sosok Nabila sebenarnya. "Kamu kenapa begitu penasaran dengan ceritaku, Nab?" ucapnya.


"Hehehe...... seru aja, kayak lihat sinetron", Nabila mencoba berkilah.


"Kamu cantik, kenapa harus bekerja kayak gini? Tanya Jen, dan hanya dijawab senyuman oleh Nabila.


"Kamu beneran nggak ada hubungan apa-apa kan sama Denis", tanya Jen dengan pandangan penuh selidik.


"Maksudnya?" Ucap Nabila.

__ADS_1


"Kamu kan masih muda, cantik lagi, tiap hari sering berduaan di apartemen sama Denis. Bisa saja kan kalian__”. Jane tidak melanjutkan omongannya, dia melihat Nabila dengan seksama, lalu tersenyum.


"Ehemmmm.... tapi, aku tau bagaimana perempuan yang disukai Denis. Kalau lihat mantan-mantannya yang banyak itu, kayaknya kamu nggak masuk kriterianya deh", ucap Jen. "Maaf ya Nabila, jangan tersinggung", lanjutnya.


Nabila hanya tersenyum pahit, mendengar apa yang diucapkan lawan bicaranya itu. Ia lalu berdiri untuk meletakkan alat bekas makannya ke tempat cucian piring.


Jenica yang baru saja menyelesaikan makannya, masih memandangi Nabila. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan wanita yang dikiranya adalah ART milik mantan kekasihnya itu.


Jenica melirik ke arah jam dinding. "Nabila, sepertinya aku sudah terlalu lama disini. Aku pamit dulu ya", ucap Jen sambil bangkit dari tempat duduknya.


Nabila yang sudah selesai dengan cucian piringnya, berjalan ke arah Jen yang sudah melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.


Jen berhenti dan memutar badannya, sesampainya di pintu. "Nabila, terimakasih makan malamnya. Senang bertemu dan ngobrol denganmu", ucap Jen diikuti senyum yang mengembang dari bibirnya.


Nabila mengganggukkan kepalanya dan membalas senyum Jenica.


Flashback off


Kling... Klong... Kling... Klong.... Suara bel berbunyi mengalihkan perhatian Nabila dari aktivitasnya saat ini. Setelah mengelap tangannya dengan serbet, ia bergegas membuka pintu.


"Pak Gun", sapanya, ketika mengetahui siapa orang yang ada di depannya kini.


Pak gun tersenyum dan menundukkan kepalanya sejenak. "Selamat pagi nona, tuan muda meminta saya untuk mengambilkan beberapa setelan jas untuk ke kantor", ucapnya sopan.


"Masuk dulu Pak Gun, saya abilkan pakaiannya dulu", kata Nabila yang kemudian berjalan bergegas menuju kamar suaminya.


Setelah mengambil beberapa pakaian yang diminta sopirnya, Nabila kembali keluar.


"Pak Gun kok nggak duduk dulu", ucap Nabila ketika melihat sopirnya itu tetap berdiri di depan pintu. Ia memberikan pakaian yang ia bawa kepada sopirnya.


"Terimakasih nona. Anda saya tunggu di bawah", kata Gugun kemudian berlalu.

__ADS_1


Setelah semua urusannya selesai, Nabila bergegas turun kebawah. Sampai diparkiran ia segera masuk ke dalam mobil, yang pintunya sudah di buka Pak Gugun, begitu tau istri majikannya datang.


Mobil melaju dengan perlahan, menerobos kemacetan. "Kenapa tuan muda tidak ambil bajunya sendiri, Pak Gun?" Tanya Nabila.


"Tidak tau, Non. Tapi dari kemarin datang, kata para pelayan, tuan marah-marah terus. Malahan tadi malam sampai-sampai perabot-perabot dalam kamar tuan hancur berantakan, Non", kata pak Gun sembari tetap fokus dengan kemudinya.


Nabila menarik nafas dan membuangnya kasar. Kemudian menatap keluar jendela hingga ia sampai tiba di halaman kantor.


Seorang satpam menyapa Nabila dengan ramah saat ia melewati pintu masuk, tapi tidak begitu dengan karyawan lainnya. Sejak ia masuk ke dalam gedung bertingkat itu, tatapan-tatapan sinis dan tidak suka ia dapatkan dari banyak karyawan disana, bahkan tak sedikit yang melontarkan pernyataan-pernyataan pedas.


"*Kayaknya polos ternyata murahan"


"Pantesan cepet naik pangkatnya, ternyata ada main ya sama si boss"


"Dasar wanita ganjen"


"Ini toh simpenannya boss*"


Itu beberapa komentar dari beberapa karyawan yang di dapat Nabila ketika bertemu atau berpapasan. Hal itu membuat tanda tanya besar dalam diri Nabila. "Apaan sih orang-orang ini", batinnya. Tapi. Ia masih mencoba tetap tenang dan menahan amarahnya.


Tak terkecuali di dalam lift saat itu ia ada di dalamnya. Beberapa karyawati yang juga ada di situ berkerumun, menatapnya dengan tatapan meremehkan. Kemudian mereka saling berbisik, namun bisikannya masih mampu ia dengar.


"*Ini toh simpenan boss"


"Cantik, tapi sayang nggak punya harga diri"


"Ternyata prestasinya selama ini hasil rayuan dan menjilat*"


Lalu mereka tertawa bersama-sama.


Nabila yang sedari tadi berusaha menahan diri, mulai goyah pertahanannya. Tangannya mengepal ingin mencari pelampiasan dan matanya sudah mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


__ADS_2