Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Hipotermia


__ADS_3

Sampai di depan pintu gerbang, pegangan tangan Denis terlepas dengan kasar, membuatnya langsung melihat ke arah si pemilik tangan. Kecemasan langsung nampak di mukanya, ketika melihat tubuh sang istri sedang menggigil hebat.


Klakson berkali-kali ia bunyikan agar penjaga rumah membukakan gerbang. Didekapnya tubuh Nabila erat. Kemudian ditepuk-tepuk pipi istrinya itu. "Kamu kenapa, sayang?", lirih Denis.


Begitu pintu gerbang terbuka, Denis segera melajukan mobilnya masuk ke halaman rumah mewah itu. Tepat di depan pintu masuk rumah, mobil berhenti. Denis segera turun dari mobilnya dan membawa tubuh Nabila keluar dari sana.


Danis menggendong nabila masuk rumah, berjalan secepat mungkin menuju kamarnya. Sejalan dengan itu ia berteriak memanggil semua penghuni rumah agar datang mendekat ke arahnya.


Begitu para pelayan datang ke arahnya dengan terburu-buru, tanpa mengurangi kecepatannya berjalan, Denis meminta pelayan untuk memanggil dokter, menyiapkan kompres, minuman hangat dan segala hal yang bisa membuat kondisi istrinya lebih baik.


Denis meletakkan tubuh Nabila yang mulai hilang kesadarannya di atas ranjang. Dengan gerakan cepat ia membuka bahkan merobek pakaian yang menempel di tubuh istrinya, lalu menutupinya dengan beberapa selimut tebal.


Ia mengompres leher Nabila dengan air hangat. Di tepuknya kedua pipi istrinya itu agar kesadarannya kembali. "Sayang bertahanlah", ucapnya lirih. Air mata yang sedari tadi ditahannya, lolos begitu saja dari pelupuk matanya.


Sementara beberapa pelayan sibuk membalurkan berbagai macam minyak untuk menghangatkan tubuh istri majikannya itu. Suasana kepanikan yang mendominasi ruangan itu sedikit menurun tensinya, ketika perlahan Nabila mulai bisa membuka matanya.


"Mas", Nabila menggerakkan bibir memanggil Denis, namun suara tak muncul dari tenggorokannya.


Mata Denis memancarkan kebahagian, melihat kondisi istrinya, meskipun rona khawatir masih belum hilang dari wajah tampannya. Ia dengan hati-hati mendudukkan tubuh Nabila, kemudian meletakkan bibir gelas berisi teh hangat ke bibir Nabila yang masih nampak membiru.


Setelah meminum beberapa teguk, Denis membaringkan kembali tubuh Nabila yang masih lemah. Perlahan Nabila menutup matanya kembali karena rasa kantuk dan lelah yang begitu menyerang. Hal itu membuat Denis seketika panik kembali.


"Kenapa dokter sampai sekarang belum datang? Suruh dia datang lebih cepat!", teriak Denis membuat seisi ruangan nampak ketakutan.


"Dokter masih dalam perjalanan dari Rumah Sakit, tuan. Coba saya hubungi kembali", ucap pak Damar dengan hati-hati kemudian keluar dari kamar Denis.


"Maaf tuan, saya pernah menemui kondisi seperti nona. Anda tak perlu khawatir, sepertinya nona hanya tidur sekarang, bukan pingsan", ucap seorang pelayan.


"Bagaimana tidak khawatir jika kondisi istriku seperti ini, diam saja dan lakukan pekerjaanmu dengan baik!", ujar Denis dengan nada jengkel.


"Maaf", ucap lirih pelayan itu, kemudian kembali membaluri tubuh Nabila dengan minyak angin yang ia bawa.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, seorang dokter masuk ke kamar Denis. Tanpa dikomando, semua pelayan yang ada di ruangan itu keluar serempak. Kini tinggal tiga manusia yang ada di dalam kamar itu.


Dokter yang di ketahui namanya Ratih, mengeluarkan beberapa peralatan untuk memeriksa kondisi Nabila. Dengan terampil ia menggunakan alat-alat itu satu persatu. Sementara Denis hanya sibuk melihat apa yang dilakukan dokter sekaligus temannya itu, sembari terus mengusap lembut kepala istrinya.


"Bagaimana kondisinya, tih?" Tanya Denis dengan khawatir.


"Alhamdulillah kondisinya sudah membaik. Untung loe segera melakukan pertolongan pertama, kalau nggak kondisinya bisa tak sadarkan diri bahkan bisa mengarah ke kematian", kata Dokter Ratih dengan serius.


"Kematian? Apa bisa sampai begitu? Memang Nabila sakit apa?" Tanya Denis penasaran.


"He'em, ketika seseorang mengalami hipotermia, suhu tubuhnya akan mengalami penurunan drastis, bisa sampai mengalami kematian jika tidak segera tertangani dengan benar", jawab Dokter Ratih sambil mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


Dokter menulis sesuatu diatas kertas, lalu memberikannya kepada Denis. "Diminumkan setelah ia makan!", perintahnya.


"Apa kondisi seperti ini bisa kambuh kembali?" Tanya Denis lagi.


Dokter Ratih tersenyum melihat Denis yang nampak begitu khawatir. "Ini bukan penyakit Denis, semua orang bisa mengalaminya jika secara tiba-tiba suhu tubuhnya turun drastis. Seperti ehmmm...Nabila. Ia kehujanan dalam waktu lama, perutnya kosong juga lemas karena haid, akibatnya kena deh itu hipotermia"


Denis mengangguk-angguk mendengar penjelasan Dokter Ratih.


Denis menggelengkan kepalanya, membuat Dokter Ratih mengernyitkan keningnya. "Dasar playboy! Jangan-jangan nih cewek istri orang nih", selidik Dokter Ratih.


"Sialan loe", umpat Denis sambil melempar bantal ke arah dokter cantik itu, namun dengan cepat bisa ditangkap.


"Lalu?", Tanya Dokter Ratih sambil memasukkan alat-alat medis yang ia keluarkan tadi, ke dalam tasnya.


"Dia istriku", jawab Denis santai.


"Wah..... Wah.... Si playboy udah tobat nih kayaknya. Cepat juga loe mengakhiri masa lajang loe yang gila. Pasti banyak cewek yang patah hati nih", ujar Dokter Ratih diikuti suara cekikikannya.


"Berisik loe, pulang sana, tuh sudah di tungguin sama pasien-pasien loe", ujar Denis sambil mengibaskan tangannya.

__ADS_1


"Mentang-mentang sudah nikah loe, sombong sekarang. Main usir-usir aja. Awas aja loe kalau butuh gue lagi, ogah gue datang", seru Dokter Ratih sambil berdiri dari duduknya dan menjinjing tas yang dibawanya tadi.


Dokter Ratih berjalan ke arah pintu kamar. Ia meraih gagang pintu begitu sampai di depan pintu berwarna putih itu. Namun tiba-tiba ia memutar tubuhnya dengan cepat menghadap Denis. "Segera beri makan ketika dia sudah bangun dan jangan lupa minumkan obatnya!", perintah Dokter Ratih dan diiyakan oleh Denis.


Dokter Ratih sudah melangkah keluar kamar. Sebelum pintu benar-benar tertutup, dengan cepat kepalanya nyelonong ke dalam. "Tahan tuh hasrat lagi lihat istri telanjang, ingat lagi haid hahahaha" goda Dokter Ratih.


Dengan cepat Denis melempar bantal ke arah pintu, tetapi tak sampai karena jaraknya terlalu jauh. Denis yang kesal dengan sikap dokter sekaligus temannya itu, tak sungkan untuk mengumpat, "Dasar dokter sinting!"


Selepas kepergian Dokter Ratih, Denis turun dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi berniat mengganti pakaiannya yang basah karena kehujanan tadi. Namun sesampainya dikamar mandi, ia memutuskan mandi sekalian.


Tak lama, Denis keluar dari kamar mandi dan sudah berpakaian santai. Ia melangkah menghampiri Nabila yang masih diam dalam tidurnya. Kemudian Denis duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponsel yang baru ia ambil dari meja.


Nampak beberapa panggilan telpon tak terjawab dari nomor yang tak dikenalnya, begitu ponsel dinyalaka. Denis segera menelpon balik ke nomor itu. Beberapa kali deringan, telpon tersambung.


"Hallo, Denis!" Terdengar suara seorang laki-laki dari seberang telpon.


"Siapa?" Tanya Denis


"*Baru setahun kita tak jumpa, udah lupa aja loe sama suara gue"


"Udah nggak usah main tebak-tebakan, gue lagi pusing nih*", ucap Denis ketus.


"*Galak amat bro, habis diputisin cewek mana lagi loe sampai uring uringan gitu?"


"Sorry bro kebalik, gue nggak pernah diputusin cewek. Mutusin iya*", jawab Denis dengan percaya diri.


"Lusa gue ke kantor loe ya? Biar loe nggak penasaran lagi siapa gue. Ok bro?"


Seketika sambungan telpon terputus.


######

__ADS_1


Hai.... Hai... readers masih setia kan baca tulisan author. Sorry ya, masih belum bs update rutin tiap hari. Tapi selalu author upayakan sebisa mungkin author nggak lama-lama breaknya.


Dukung author ya agar lebih semangat nulisnya. kritik, saran, like, comment, votenya author tunggu ya ☺


__ADS_2