Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Lebih Cantik


__ADS_3

Denis mengalihkan pandangannya ke arah Nabila. Ia mencoba masuk lebih dalam ke kedua buah bola mata istrinya yang saat ini juga tengah menatapnya, untuk mencari sebuah jawaban yang akan membantunya menetapkan keputusan.


"Gimana Den? Bisakan?" Tanya Vivi lagi.


Dan suara itu memutus kontak mata pasangan suami istri itu. Namun, sebelum Nabila benar-benar mengalihkan pandangannya ke arah lain, sekilas tersungging samar senyum dari bibir wanita itu bebarengan dengan anggukan kepalanya.


"Maaf tante, saya tidak bisa. Banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan hari ini juga. Lagipula malam ini saya sudah berjanji kepada Nabila untuk menemaninya berbelanja", kata Denis membuat Nabila berani mengangkat kepalanya kembali, lalu tersenyum senang ke arah suaminya.


Nampak jelas, kekecewaan di wajah Vivi dan Vanya. Tapi tidak dengan Dahlan. Pria itu nampak senang dengan jawaban yang dilontarkan Denis. "Aku bangga denganmu anak muda! Memang seharusnya kau lebih memprioritaskan keluargamu daripada sibuk mencari kesenangan sendiri diluaran", kata Dahlan kepada Denis.


Nabila terhenyak mendengar ucapan Dahlan. "Apakah kau sendiri seperti itu? Sok bijak!", batinnya. Matanya jelas menunjukkan ketidaksukaannya terhadap pengusaha sukses itu.


"Ayo-ayo kita makan dulu, nanti ngobrolnya kita lanjut lagi!" seru papa Denis.


Semua yang orang yang mengelilingi meja makan, segera menjamah dan menikmati makanan yang tengah terhidang di meja yang cukup besar itu. Tak terkecuali Vivi yang begitu lahap menikmati makanan itu.


"Lama tidak berjumpa, masakanmu semakin lezat saja, mbak", puji vivi kepada mama Denis.


"Iya, tante. Enak banget. Apalagi udang asam manisnya. Mommy sih lewat tan", seru Vanya sambil terus menikmati makanannya.


"Ini masakan mantu vi, aku cuma bantu aja, iya kan sayang" Senyum mama Denis pada Nabila, membuat Vivi dan Vanya saling pandang, seolah mereka menyesal telah memberikan pujian tadi.


"Alhamdulillah jika semua suka, ini semua berkat mami yang sudah mengajari masak sejak remaja karena tuntutan kehidupan", kata Nabila penuh maksud.


Bersamaan dengan ucapan Nabila tadi, tiba-tiba suara batuk Dahlan mengalihkan fokus orang-orang yang ada di meja makan kepada pria itu. "Dady, kenapa?" Tanya Vivi sambil menepuk punggung suaminya, lalu menyodorkan segelas air putih kepada pria itu.

__ADS_1


"Sudah sayang, tak perlu diingat apa yang terjadi dulu. Aku akan selalu berusaha membahagiakanmu", ucap Denis sembari membelai lembut kepala istrinya yang berbalut pasmina berwarna biru langit itu. Nabila sekilas mengalihkan pandangannya ke arah Denis sambil tersenyum tipis.


"Aku memang bersalah bil. Aku ayah yang tidak baik. Bahkan bisa-bisanya aku hampir ikut mencelakakan darah dagingku sendiri, demi anak yang lain", batin Dahlan sembari memandang Nabila dengan penuh sesal. Pria ini kemudian menunduk, tatkala putrinya itu membalas pandangannya.


"Denis kamu sudah menikah berapa lama, sih?" Tanya Vivi, setelah meletakkan gelas yang isinya baru saja iya sesap.


"Berapa sayang?", tanya Denis, pura-pura lupa, membuat orang yang ditanya mengerucutkan bibirnya. "Maaf-maaf sayang", katanya sambil tertawa mengacak kepala istrinya. "Udah sekitar 10 bulan, tan", lanjut Denis merespon pertanyaan Vivi.


Vivi melirik ke arah Nabila dengan sinis. " Ya Tuhan..., Denis, kamu ini sudah menikah 10 bulan, kok istrimu belum hamil. Apa jangan-jangan__" Belum sempat menyelesaikan omongannya, tiba-tiba terdengar suara lain memotong pembicaraan Vivi.


"Vivi, jangan keterlaluan!" Bentak Dahlan.


"Lho dady, kok bentak mommy! Mommy cuma berpendapat dad, karena kebanyakan begitu adanya. Harusnya kalau baik-baik saja, satu sampai tiga bulan ya sudah isi dad", sahut Vivi ngotot.


Mendengar omongan Vivi, wajah Nabila nampak murung, nampak kilatan air bening yang coba ditahan agar tidak jatuh dari matanya. Dan Denis yang sedang mengarahkan pandangannya ke arah istrinya, membaca akan hal itu.


"Nggak usah terlalu dipikir ya, sayang. Mama dan papa dulu punya Denis juga setelah enam tahun menikah. Lagian mama sama papa juga nggak buru-buru harus segera punya cucu. Nikmati aja dulu masa berdua-duanya", kata Mama Denis sambil tersenyum dan dibalas mantunya dengan anggukan kepala dan senyum tipis.


"Nadira nggak ikut pulang ke Indoneaia, Vi?" Tanya mama Denis, sengaja membuyarkan suasana yang tiba-tiba canggung.


"Ikut mbak, tapi waktu tadi kita berangkat, dia masih tidur. Secara dia baru pulang jam 3 pagi. Dia kalau sudah keluar sama temen-temennya, nggak pernah kenal waktu, mbak. Emang sih Vanya juga suka clubbing, tapi dia nggak pernah pagi baru pulang atau berhari-hari baru pulang, iya kan dad?", kata Vivi luwes.


Dahlan tak mengacuhkan apa yang ditanyakan Vivi. Ia lebih memilih menghabiskan makanan yang ada di piringnya daripada menanggapi ocehan istrinya itu.


"Tapi hebat ya, Vi, dia. Meskipun begitu pergaulannya, tapi dia tetap berprestasi", kata mama Denis.

__ADS_1


"Iya sih mbak, tapi itu juga karena bantuan papinya juga", imbuh Vivi tidak terima dengan ucapan mama Denis.


"Nabila, kamu tau nggak kalau dulu kak Nadira pernah jadian sama kak Denis? Kata orang - orang mereka sangat serasi. Kak Nadira, itu kakakku. Dia cantik banget, bahkan lebih cantik dari semua cewek - cewek yang pernah jadi pacarnya kak Denis", kata Vanya yang dengan sengaja ingin membuat panas hati Nabila.


"Vanya! Apa-apaan kamu? Jangan merusak suasana!" Bentak Dahlan pada Vanya, namun sama sekali tak ada ketakutan nampak pada diri Vanya.


"Dady! Aku bicara apa adanya. Lalu salahku dimana? Dady__"


Belum selesai Vanya bicara, Dahlan yang matanya kini sudah melotot ke arah anak tirinya itu dan berbicara dengan keras. "Vanya! Jika kamu masih saja tidak sopan seperti itu, kita pulang saja! Jangan buat malu di rumah orang!" Kata Dahlan, yang kemudian meneguk air dalam gelas yang ada di hadapannya.


"Aku minta maaf Gumilang, atas sikap anakku", kata Dahlan yang baru saja meletakkan gelas minumnya. Ia berniat untuk bangkit dari duduknya, namun Gumilang dan Vivi mencegahnya. Dahlan pun duduk kembali dengan berat di kursinya.


"Anda tidak perlu tidak enak, tuan Dahlan, karena suami dan mertua saya sudah menceritakan semua", ucap Nabila dengan santainya. Tentu saja ucapan Nabila membuat Dahlan kecewa.


" Tuan?" Batin Dahlan.


Belum selesai makan siang, suara bel yang baru saja ditekan mengalihkan perhatian orang-orang yang ada di dalam rumah.


"Biar Nabila aja ma, yang buka pintunya" Kata Nabila ketika melihat gelagat mertuanya akan meminta salah satu asisten rumah tangganya untuk membukakan pintu.


Nabila beranjak berdiri dari tempat ia duduk, kemudian berjalan agak cepat menuju ruang tamu. Ketika sampai di depan pintu, Nabila segera menarik tuas pintu dengan kuat.


Napasnya serasa berhenti berhembus seketika, ketika ia mendapati siapa tamu yang tadi menekan bel barusan. Sama halnya dengan kondisi orang yang saat ini ini ada di depannya.


"Nabila"

__ADS_1


_________________


Maaf untuk akhir-akhir ini agak jarang up, karena lagi butuh ekstra fokus di pekerjaan dan anak🙏


__ADS_2