Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Ada Apa?


__ADS_3

"Omm Bram, cukup omm. Apa omm baru akan berhenti ketika Jenica, anak kandung omm mati?" Kata Denis sembari menarik dengan kuat kerah baju Bram, yang hendak kembali menampar putrinya.


"Omm sekali ini tolong dengarkan Denis, setelah itu terserah omm mau apa!" Kata Denis, dengan darah yang sedikit mengotori sudut bibir dan hidungnya karena pukulan Bram, gegara ia yang berusaha membela Jenica.


Denis mendorong tubuh Bram ke sofa yang ada di ruangan itu, dan menahan tubuh pria itu agar tak berdiri lagi dan mendekat ke putrinya yang kini menangis dan menahan sakit bekas tamparan papanya.


"Bi Atik, bawa Jen ke kamar dan obati lukanya!" Perintah Denis. Seketika Bi Atik menuruti perintah anak majikannya itu.


"Cinta itu bukan dosa omm. Lalu apa salahnya jika Jen dan Roy saling mencintai? Apa omm mau Jen menikah dengan pilihan omm, tapi dia tak bahagia. Hidupnya menderita. Omm mau?", kata Denis penuh penekanan.


"Jen anak omm satu-satunya. Dia satu-satunya yang akan menemani omm di masa tua, bukan pengawal-pengawal omm. Karena ketika omm makin tua dan lemah, pengawal-pengawal tadi akan menjauh dari hidup omm", kata Denis lagi.


"Apa omm mau, di masa tua omm nanti, omm harus melihat anak omm merana hidupnya, kerena sebuah keputusan tak adil yang omm buat saat ini", kata Denis.


Bram tak bergeming mendengar apa yang diucapkan Denis. Otot-otot dan pikirannya yang tadi menegang mulai melemas. Matanya pun tak segarang yang ia tunjukkan tadi.


Denis perlahan melepaskan cengkramannya di baju Bram, kemudian duduk tepat di samping Bram.


"Asal omm tau, Roy dan Jen sudah lama menjalin kasih, bahkan ketika ia masih bersamaku. Kenapa Jen tak menggugurkan kandungannya, padahal nasib Roy masih belum jelas, masih hidup atau sudah jadi mayat di tangan omm? Itu karena dia sangat mencintai Roy", kata Denis lagi tanpa memandang sama sekali orang yang ada di sebelahnya.


Bram mengusap wajahnya dengan kasar dan menghembuskan nafasnya dengan kasar pula, hingga menarik perhatian Denis untuk melihat ke arah laki-laki yang rambutnya mulai beruban, namun masih menunjukkan semangat mudanya itu.


"Kenapa omm? Apa omm masih memikirkan status Roy yang hanya seorang pengawal suruhan omm? Kalau omm tidak suka dengan status Roy, kenapa omm tidak mengubah statusnya menjadi lebih baik. Omm punya kemampuan untuk itu", ucapan Denis memang benar, tapi ego Bram sebagai orang tua sedikit terusik hingga membuatnya mengepalkan tangan dan memukulkannya ke sofa.


"Omm", Denis mencoba menenangkan kembali pria di sebelahnya itu. "Tekad Roy untuk menerima hukuman apapun dari omm, adalah bukti sebuah pengorbanan terhadap orang yang dicintainya. Ia akan pergi meninggalkan anak omm, jika ia memang tak cinta. Tapi kenyataannya?"


"Omm, tak akan menyesal memilih Roy menjadi pendamping Jen. Jen akan hidup bahagia di sisi Roy. Tolong pikirkan itu, omm", kata Denis yang kemudian beranjak dari duduknya hendak meninggalkan pria tadi, untuk pulang menemui istrinya yang pasti tengah menunggunya di rumah.


Namun, baru hendak meninggalkan ruang tengah di rumah milik keluarganya itu, panggilan Bi Atik menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Tuan muda, tunggu!" Panggil bisa Atik sambil menuruni tangga dengan langkah agak dipercepat.


"Kenapa Bi?" Tanya Denis yang baru menengokkan kepalanya ke arah pelayan rumah orangtuanya itu.


"Itu, nona Jenica, pendarahan lagi. Darahnya banyak sekali,tuan", kata Bi Atik sambil menunjuk ke arah kamar yang ditempati Jenica.


Dengan cepat Denis memutar tubuhnya dan berlari melewati anak tangga untuk menuju ke kamar Jenica.


Sedangkan Bram, pria itu sebenarnya ingin sekali menyusul Denis, namun ia menahan diri. Dia memilih untuk tetap duduk di sofa ruang tengah itu.


"Jen, kamu nggak apa-apa?" Tanya Denis tatkala melihat Jenica yang nampak kesakitan dengan mata berderai air mata.


"Tolong aku Nis, tolong selamatkan anakku!", kata Jenica dengan wajah yang sudah nampak pucat.


Dengan sigap, Denis segera menggendong Jenica keluar dari kamar itu.


"Roy....anak kita Roy... ", air mata Jenica semakin deras saja.


"Pergi, aku tak punya orang tua sepertimu!" Teriak Jenica ketika Bram akan membantu Denis mengagkat tubuhnya.


"Omm, tolong siapkan mobil! Kita harus bawa Jen kerumah sakit", ucap Denis, yang membuat Bram berjalan cepat keluar rumah untuk memerintahkan anak buahnya menyiapkan mobil.


Sepanjang perjalanan hingga sampai ke rumah sakit, Jenica hanya menangis dan memanggil-manggil nama Roy.


Dokter telah menyampaikan bahwa kandungan Jenica tak dapat diselamatkan, hal itu membuat psikologi Jenica terguncang. Ia menjerit dan menangis meminta anak di kandungannya di kembalikan. Denis dan Bram yang melihatnya dengan kasihan.


Denis hendak menghubungi istrinya untuk memberitahukan apa yang terjadi sekaligus memberitahukan kepadanya, bahwa ia harus menjaga Jenica sementara, karena Jenica hanya mau dia yang menunggui. Namun, ketika dia hendak mengeluarkan ponselnya, dia baru menyadari bahwa ponselnya tak ia dapati di kantong bajunya.


Dia mencoba mengingat-ingat kembali kemana ia meletakkan ponselnya tadi. Namun, ia tak dapat mengingatnya. Ia hanya mengira-ngira ponselnya jatuh di rumah ketika tadi papa Jenica sempat memukulnya dengan pukulan yang keras.

__ADS_1


*******


Sementara Dirumah, Nabila yang masih belum benar-benar pulih, baru saja mendapatkan telepon dari adik dan kakaknya yang membuatnya merasa tak tenang. Kabar yang ia dapatkan, Maminya kini sedang mengalami sesak napas dan terus mencarinya.


Beberapa kali ia menghubungi ponsel suaminya, namun nomor yang dihubungi selalu saja tidak aktif. Hal itu membuatnya cemas sekaligus kecewa.


Entah beberapa kali ia berjalan mondar-mandir, memikirkan bagaimana langkah yang akan ia ambil. Tetap di rumah sampai menunggu suaminya pulang ataukah pergi saja dari tempatnya kini berada untuk menemui orang yang sangat dicintainya, yaitu maminya.


Dikala kebingungan masih melanda, ponselnya berdering kembali. Panggilan itu dari Nadira, kakaknya. Nadira mengabarkan bahwa kondisi maminya semakin memburuk. Orang tua itu mengeluarkan darah dari mulutnya. Tentu saja hal itu membuat histeris Nabila.


Ia berusaha menghubungi lagi suaminya, namun hasilnya tetap sama. Tak mau menunggu lagi, setelah berganti pakaian, wanita itu segera pergi meninggalkan rumah di tengah hujan deras di sore itu.


Menahan dinginnya air hujan, Nabila berjalan menuju jalan raya untuk mencari taksi. Air mata tak bisa lagi ia tahan untuk tidak turun. Perasaan takut akan kondisi Maminya terus menghantuinya. Begitupun rasa kecewanya pada dang suami yang tidak bisa diandalkan dalam situasi seperti ini.


Taksi yang ia tumpangi melaju dengan kecepatan cukup kencang, sesuai permintaannya, hingga ia bisa sampai seperempat jam lebih cepat dari biasanya untuk sampai ke tempat yang pernah ia tinggali bersama mami dan adiknya.


Tak memperdulikan bagaimana penampilannya kini, dengan pakaian yang agak basah karena hujan tadi di tempatnya tinggal dan muka yang sembab karena terus menangis, ia berjalan menyusuri gang menuju rumahnya.


Deggggg....perasaannya semakin tak tenang tatkala sampai di halaman rumahnya, ia mendapati tetangga-tetanggnya tampak berdatangan ke rumahnya dan nampak sibuk melakukan berbagai aktivitas.


"Mbak Nabila, baru datang?" Sapa tetangga yang baru saja melewatinya yang berdiri diam di halaman rumah.


"Ini ada apa bu, kok ramai sekali?" Tanyanya bingung.


_______________


**Terimakasih buat teman-teman yang masih setia dengan novel ini dan terimakasih pula atas dukungannya 😘


Rasanya author tak tega untuk segera menamatkan cerita ini, tapi mau tak mau harus tamat untuk menjaga alur cerita agar tetap terarah. Jangan lupa mampir di novel kedua saya ya😘

__ADS_1


Happy Reading🌷**


__ADS_2