
Tidak sesuai prediksi yang ia buat, ternyata Denis harus berada tempat terpencil itu jauh lebih lama. Ini adalah hari ke delapan ia berada di tempat itu. Dan selama itu pula ia tak dapat terhubung dengan sang istri yang pasti juga sangat merindukannya.
Seperti malam ini, dibalik rumah kayu itu Denis hanya bisa menahan rindu pada sang istri. Untuk penawarnya, pria itu hanya membuka galeri ponselnya untuk melihat foto-foto maupun video yang berisi gambar istrinya.
"Sayang, sedang apa kamu sekarang?" Denis berbicara sendiri sambil megusap foto istrinya yang ada di ponsel.
Tok... tok.... suara pintu di ketuk, membuat pria itu mau tak mau harus bangkit untuk membuka pintu kamarnya.
"Bagaimana?" Tanya Denis saat berhasil membuka pintu dan melihat siapa orang yang tadi mengetuk pintunya.
"Kapal penyebrangan sudah siap besok pagi
Tuan, kami akan segera berangkat ke tempat penyebrangan sebentar lagi", kata salah satu pekerja Denis yang akan mengantar beberapa karyawan yang tetiba sakit, ke rumah sakit di kota.
"Sebentar!" Denis kembali masuk ke kamarnya, tak lama kemudian ia kembali keluar membawa ponsel dan menyodorkan benda itu pada anak buahnya tadi.
"Bawalah ini ke kota. Aku telah mengirim banyak pesan kepada istriku. Jika nanti di kota ada sinyal pasti pesan-pesan itu akan segera terkirim. Jika istriku meneleponku, angkatlah dan katakan aku baik-baik saja. Katakan juga aku akan segera pulang, dia tidak perlu mengkhawatirkanku", kata Denis.
"Baik tuan, saya akan melakukan perintah tuan", kata pegawai itu.
"Terimakasih", ucap Denis, sebelum kembali masuk ke kamar dan menutup kembali pintunya.
********
Di tempat lain, Nabila yang sedang menikmati sarapan paginya terpaksa menghentikan aktivitasnya, tatkala ponsel yang tadi ia letakkan di sofa berbunyi terus menerus, yang menandakan banyak sekali pesan masuk ke dalam ponselnya.
Dengan malas wanita itu bangkit dan berjalan mendekati suara ponsel yang belum berhenti juga.
"Mas Denis", lirihnya sambil membungkam mulutnya seolah tak percaya, saat membaca nama si pengirim pesan.
Antara haru dan bahagia, tanpa menunggu lama, Nabila segera menghubungi no suaminya melalui panggilan telepon.
"Assalamu'alaikum, mas. Mas Denis bagaimana keadaannya, baik-baik kan, sehatkan? Aku sama adek kangen banget sama kamu, mas", Nabila bicara tanpa jeda.
__ADS_1
Namun ia harus kecewa tatkala orang diujung telepon sana, ternyata bukan suaminya yang sangat dirindukan, melainkan pegawai suaminya. Di balik kekecewaannya, dia merasa tenang karena suaminya baik-baik saja.
Terdengar suara bel berbunyi, tatkala Nabila sedang sibuk membalas pesan-pesan dari suaminya. Bi Atik yang memang sengaja dipekerjakan di rumah selama Denis pergi, berjalan ke depan untuk membukakan pintu.
Selang beberapa menit kemudian, muncul-muncul dua orang paruh baya berjalan menghampiri Nabila. "Sayang, bagaimana kabarmu? Kenapa tidak tinggal di rumah mama saja biar ada yang menjagamu", celoteh mama Denis.
Nabila bangkit dari duduknya lalu menyapa kedua mertuanya tersebut. "Mama sama papa kapan pulang?" Tanya Nabila sambil mencium pipi mama mertuanya.
Mama Denis menuntun menantunya untuk duduk di sofa. "Dari awal Denis kasih kabar pergi, mama sebenarnya udah pengin balik, tapi papamu masih belum benar-benar sehat", kata Mama Denis.
"Kamu tinggal di rumah kami saja selama Denis pergi, biar ada yang mantau", kata papa Denis.
Sebenarnya Nabila lebih suka berada di rumahnya sendiri, tapi karena merasa tidak enak dengan mertuanya, ia akhirnya memilih untuk menerima tawaran mama dan papa Denis.
********
Sebulan sudah Nabila tinggal di rumah mertuanya. Rasa bosan mulai menghantui wanita itu, karena di sana, mertuanya melarangnya untuk melakukan pekerjaan ini dan itu, sebagai bentuk penjagaan terhadap dirinya dan bayi yang di kandungannya.
"Mas, kapan kamu pulang? Aku kangen banget sama kamu, mas", Nabila yang meringkuk di atas tempat tidur, bermonolog sendiri sambil memandangi foto suaminya yang ada di ponsel miliknya.
Mama Denis nampak tersenyum, sambil membelai kepala menantunya itu. "Nggak apa-apa sayang, mama cuma ingin tau kondisimu saja", kata Mama Denis.
"Aku baik-baik saja ,ma. Hanya saja aku kangen banget sama mas Denis", kata Nabila yang kemudian tiba-tiba memeluk mama mertuanya.
"Mama tau sayang. Suamimu pasti juga merasakan hal yang sama. Kalian harus sabar ya, ini juga untuk masa depan kalian juga", kata Mama Denis sambil mengusap punggung menantunya dengan sayang.
"Iya ma", jawab Nabila.
"Sekarang kamu istirahat ya, jangan banyak pikiran. Suamimu pasti segera pulang. Kasihan cucu mama, kalau kamu sedih terus", kata Mama Denis. " Oh ya sayang, pintu kamarnya jangan di kunci ya, jadi kalau ada apa-apa, Mama bisa datang cepet", lanjut Mama Denis sebelum meninggalkan menantunya yang akhirnya kembali berbaring di tempat tidur.
Seperti biasa, sebelum adzan subuh berkumandang, Nabila dipastikan sudah tersadar dari alam mimpi. Namun ada yang aneh dari biasanya.
Nabila merasa ada yang memeluk tubuhnya dengan hangat dari belakang. Ia juga mencium aroma khas tubuh seseorang yang sangat dia kenal, yaitu suaminya. Pikirannya bingung, apakah yang dia rasakan benar adanya atau hanya mimpi sebagai buah dari kerinduannya pada pasangannya.
__ADS_1
Wanita itu mencubit tangannya. Begitu merasakan sakit, ia segera memalingkan kepalanya ke belakang. "Mas Denis", ucapnya dengan lantang sambil membalik tubuhnya.
Dipeluknya tubuh Denis dengan erat sambil bercucuran air mata, hingga suaminya yang baru saja memejamkan mata, terpaksa bangun.
"Sayang, kamu kenapa menangis?" Tanya Denis sembari membalas pelukan Nabila dengan erat.
"Kenapa mas Denis baru pulang. Aku rindu banget", kata Nabila sambil terus menangis dan memukul pelan dada bidang suaminya yang terbuka.
Denis menciumi wajah Nabila berulang-ulang, mencoba mengutarakan perasaannya bahwa ia sama rindunya dengan istrinya. "Aku juga sangat rindu denganmu, juga dengan anak kita", kata Denis sambil kembali memeluk tubuh Nabila erat seolah tak ingin berpisah lagi.
Hari itu benar-benar menjadi waktu yang begitu membahagiakan bagi pasangan itu. Bahkan sampai menjelang sore, mereka sama sekali tidak keluar kamar. Mereka sibuk bercerita, bermanja, dan bercinta.
Denis bangkit dari ranjang dan berjalan mendekati Nabila yang masih sibuk mengeringkan rambutnya. Dipeluknya sang istri dari belakang. "Sayang", panggil Denis lirih sembari mengecupi leher istrinya.
Nabila yang mulai terbawa suasana dengan perlakuan suaminya, mencoba menjauhkan kepala suaminya dari tubuhnya itu. "Sayang, sudah. Aku sudah mandi, nanti kotor lagi", ucapnya sambil menahan kepala suaminya yang masih mencoba memaksa untuk bergelut di lehernya.
"Tapi aku masih ingin, sayang. Satu hari nggak cukup buat menggantikan yang satu bulan lebih, yang", rengek Denis.
"Tapi kita kan mau ke dokter", kata Nabila.
Denis menepuk keningnya, "Kok aku lupa, ya", kata Denis. " Ya udah, aku mandi dulu ya", kata Denis lagi yang kemudian bergegas masuk ke kamar mandi.
"Ayo, sayang!" Ajak Denis yang baru saja turun dan berjalan mendekati Nabila yang duduk santai di sofa ruang tengah.
Nabila tersenyum mendapati suaminya sudah berpakaian rapi dan nampak semakin ganteng, menurutnya. "Ayo!" Kata Nabila sambil beranjak dari duduknya.
"Bentar sayang!", Denis menarik tangan Nabila yang hendak berjalan mendahuluinya, hingga tubuh Nabila berbalik menghadapnya. Dengan cepat Denis menangkap tubuh wanita itu, dan dengan cepat pula Denis mengambil ciuman dari bibir istrinya.
Nabila hendak menolak dengan mendorong tubuh suaminya, namun gagal karena gerakan Denis lebih gesit. Ciuman memabukkan itu terjadi cukup lama, hingga suara deheman akhirnya membuyarkan semuanya.
"Papa!" Seru Denis sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sedangkan Nabila yang sempat melihat wajah mertuanya, segera menunduk karena malu
########
__ADS_1
Yang lama nggak ketemu, ohhhh makin romantis aja😍😍😍
Happy Reading semua😉