Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Istri Saya


__ADS_3

"*Bagaimana kalau tuan Denis, menikah sama anak saya saja? Sepertinya kalian cocok"


"Bagaimana Shei*?", ucap Yusuf sambil mengusap punggung anaknya. Sheila nampak begitu senang dengan ucapan daddynya.


"Uhhuuukk....uhhuuukkk...", tiba-tiba Denis tersedak mendengar ucapan Yusuf. Matanya pun nampak ikut merah.


Dengan cepat Sheila berdiri dan menyerahkan segelas air yang ada di meja kepada Denis. "Minumlah", ucapnya. Denis menerimanya, tanpa bisa mengucapkan terimakasih, ia segera meminum air itu hingga tinggal separuh.


"Anda baik-baik saja tuan Denis?", tanya Yusuf.


Setelah mengelap mulutnya dengan napkin, Denis menganggukkan pelan kepalanya dan tersenyum kepada Yusuf. "Oh ya tuan Yusuf, apa kita nanti siang jadi survey lokasi?", tanya Denis. Ia segaja mengalihkan perhatian Yusuf agar tidak membahas tentang perjodohan dengan anaknya.


Sheila yang menyadari Denis menghindari pertanyaan daddynya tentang pernikahan itu, cemberut. Tapi dia meyakinkan hatinya untuk tidak menyerah. Ia akan menggunakan tangan ayahnya untuk memuluskan langkahnya mendapatkan Denis.


Nabila sudah masuk ke restoran hotel tanpa Denis sadari. Nabila berjalan melewati meja Denis, namun ia sama sekali tidak menegur suaminya yang kala itu tengah sibuk dengan makanannya. Semenjak menikah, tiap kali di tempat umum Nabila selalu memposisikan dirinya seolah tak kenal suaminya. Ia hanya berlaku sebagaimana suami istri ketika sedang berdua saja dengan suaminya atau ketika berada di tengah-tengah keluarga mereka. Dan itu memang keinginan Denis.


Ketika Denis memalingkan wajahnya ke arah kanan, dia tidak sengaja melihat istrinya berjalan menjauhinya. Refleks dia berdiri dan memanggil nama Nabila. Nabila yang merasa kenal dengan suara orang yang memanggilnya, menghentikan langkahnya dan berbalik melihat kearah orang itu.


"Maaf tuan Yusuf, saya tinggal sebentar", ucap Denis. Ia kemudian mempercepat langkahnya mendekati Nabila. Ia segera meraih pinggang Nabila dan melingarkan tangannya disana, ketika sudah berada sangat dekat dengan istrinya itu.


Denis membisikkan sesuatu ke telinga Nabila, sehingga Nabila mau ikut dengannya. Denis menuju meja, tempat dimana dia tadi makan sambil tetap melingkarkan tangannya dipinggang istrinya. Ia berhenti tepat di belakang kursi yang tadi ia duduki.


Yusuf dan Sheila sempat saling berpandangan, mereka nampak bingung dengan apa yang dilakukan oleh Denis. Wajah Sheila menunjukkan sangat tidak suka dengan wanita yang ada di samping laki-laki yang mulai ia kagumi itu.


"Perkenalkan ini istri saya, namanya Nabila", ucap Denis sambil tersenyum hangat ke kedua orang yang sedang duduk menghadapnya. Tentu saja ucapan Denis membuat kedua orang tadi kaget.


"Sayang, ini Tuan Yusuf dan ini nona Sheila, putri tuan Yusuf", ucap Denis lembut.


Nabila mengulurkan tangannya ke arah Yusuf dan mendapat sambutan. "Senang bertemu dengan anda, nona Nabila", ucap Yusuf yang kemudian melepaskan tangannya dan kembali duduk.

__ADS_1


Setelah bersalaman dengan Yusuf, Nabila mengulurkan tangannya kepada Sheila, namun Sheila tidak menyambut uluran tangan itu. Sheila berpura-pura tak melihat sambil makan roti yang ada di hadapannya. Nabila pun menarik kembali tangannya dengan kecewa.


Denis menarik kursi untuk Nabila. " Kamu disini dulu ya, biar aku yang ambilkan sarapan buat kamu". Nabila hanya mengangguk mendengar ucapan Denis, kemudian duduk di kursinya.


"Kamu mau makan apa?", ucap Denis dengan sangat lembut.


"Terserah mas, aja", jawab Nabila diiringi senyum tulus.


Setelah pamit dengan yang lain, Denis melangkah untuk mengambilkan istrinya makanan untuk sarapan.


"Dad, aku ambil minum dulu ya. Minumanku terlalu manis, aku tidak suka", Ucap Sheila yang kemudian diiyakan oleh Yusuf.


Kini di meja makan itu hanya ada Yusuf dan Nabila. Yusuf, mencoba mengamati Nabila. Ia mengernyitkan dahi, seolah-olah mengingat sesuatu. "Nona Nabila, bukankah anda teman Sheila waktu SMP?", ucap Yusuf ragu.


Nabila tersenyum, kemudian berkata "Benar, tuan Yusuf".


"Hmmmm...kalau tidak salah kamu anaknya tuan Dahlankan?", tanya Yusuf yang di jawab senyuman dan anggukan oleh Nabila.


Sementara Denis yang sedang memilih makanan untuk istrinya, dikagetkan oleh kehadiran Sheila yang tiba-tiba sudah ada di sebelahnya. Dia hendak hendak pergi menjauh dari Sheila, tapi Sheila berusaha menahannya, dan berhasil.


"Tunggu Tuan Denis!", perintah Sheila pada Denis, membuat laki-laki itu menghentikan langkahnya namun tetap tak mau melihat ke arah Sheila.


"Saya tidak menyangka, orang baik-baik seperti anda memiliki istri seperti Nabila", ucap Sheila sambil menarik satu ujung bibirnya.


Denis menatap Sheila dengan tatapan tidak suka. "Apa maksud anda?"


"Saya bahkan lebih mengenal siapa Nabila daripada anda Tuan Denis", ucap Sheila.


"Lihat saja disana!", perintah Sheila. Denis menuruti untuk melihat ke arah yang di tunjuk oleh Sheila. Saat itu dia melihat istrinya sedang berbincang sesuatu dengan Yusuf. Nabila nampak akrab dan beberapa kali terlihat tersenyum dengan lawan bicaranya.

__ADS_1


"Begitulah dia, tak pernah berubah dari dulu. Dasar penggoda!", ucap Sheila. Mendengar apa yang diucapkan Sheila, Denis sebenarnya ingin marah tapi dia berusaha menahan diri.


Denis segera mengambil makanan yang bisa dijangkau dengan tangannya, tanpa memperdulikan lagi istrinya senang atau tidak dengan pilihannya. Lalu ia bergegas kembali ke tempat istrinya duduk


Sheila tersenyum jahat, ketika melihat Denis berjalan bergegas meninggalkannya dengan wajah yang dia kira sedang menahan kemarahan. Apa yang dilakukannya tadi ia anggap berhasil. Denis sepertinya termakan dengan omongannya. Ia kemudian menyusul Denis, kembali ke meja makan yang tadi ia tinggalkan dengan membawa makanan yang sudah ia pilih.


Sampai di tempat Nabila, Denis meletakkan makanan yang ia bawa tepat di depan Nabila. Ia berusaha tidak mengabaikan apa yang tadi diucap kan Sheila, sehingga kemarahannya dapat diredam.


"Terimakasih, mas", ucap Nabila sambil tersenyum tulus kepada suaminya.


"Sama-sama, sayang", Denis tersenyum kemudian duduk di kursinya. "Sedang ngobrol apa sepertinya seru", imbuhnya.


Nabila melihat ke arah Denis. "Tuan Yusuf ini sebenernya teman baik papi dulu, sebelum beliau pindah kesini. Saya tidak menyangka beliau masih ingat kalau saya teman SMP Sheila"


"Ayahnya Nona Nabila dulu sangat dekat dengan saya Tuan Denis. Sudah seperti saudara sendiri. Tapi, karena saya disini dan kesibukan kami masing-masing akhirnya terputus komunikasi", ucap Yusuf dengan semangat dan dibalas senyuman oleh Denis.


Denis merengkuh pundak istrinya sehingga tubuh Nabila mendekat ke arahnya, kemudian dengan lembut ia mencium pelipis istrinya. "Segeralah makan, dan ayo kita kembali ke kamar!" Ucap Denis dan hanya dibalas anggukan oleh Nabila.


Sheila yang sudah duduk kembali ke kursinya, sangat tidak suka melihat pemandangan yang disuguhkan oleh suami istri itu. Dia meremas tangannya sendiri, dibawah meja.


"Nabila, kamu masih ingat tidak dengan Rendra?", ucap Sheila tiba-tiba.


Mendengar ucapan Sheila, Nabila refleks menghentikan makanannya. Ia melihat ke arah Sheila, membuat mata mereka saling bertemu.


Namun sekejap ia kembali melanjutkan kegiatan makannya. Ia tidak berminat menjawab pertanyaan Sheila. Denis melihat ke arah Nabila, mencoba menerka-nerka apa yang akan dipikirkan istrinya.


"Kamu tau nggak Nabila, demenjak peristiwa di lapangan basket itu, Rendra mencari-carimu, tanya kesana - kemari karena kamu tidak pernah muncul lagi. Ahh Rendra memang so sweet", ucap Sheila dengan wajah yang dibuat imut.


__________

__ADS_1


Terimakasih untuk yang selalu baca novel ini. jangan lupa dukung author dengan like, comment, atu vote ya🙂


__ADS_2