
"Bu, sudah sampai", suara sopir taksi memecah keheningan di dalam alat transportasi semi umum itu. Namun tak membuat Nabila tersadar dari lamunannya, hingga akhirnya sang supir taksinya menegur kembali penumpangnya. " Bu, apa anda jadi turun di sini?"
"I-iya, pak", Nabila bangun dari lamunannya. Memberikan beberapa lembar uang warna biru sebelum kakinya turun dari sana.
"Ini terlalu banyak, Bu", kata sopir taksi sambil memutar badannya dan menyodorkon uang kembalian kepada Nabila.
Nabila tersenyum, " Buat Bapak saja!". Langkah panjang ia ayunkan, setelah menutup pintu taksi dan mendapatkan ucapan terimakasih dari pengemudi itu.
Sapaan ramah menyambutnya, setiap bertemu penghuni gedung perusahaan, tempat dimana suaminya menjadi pimpinannya. Iapun tak kalah ramah membalas sapaan-sapaan yang beberapa diantaranya adalah orang-orang yang sudah akrab dengannya, meskipun dalam hatinya kini ada emosi yang ia tertahan dan beberapa puluh menit lalu hampir meledak.
"Nona Karina, apa kabar? Apa suamiku ada?" Tanya Nabila pada seorang wanita yang sedang sibuk di depan komputernya, yang tak lain adalah sekretaris suaminya.
Tanpa disuruh, wanita berkacamata itu berdiri dan menyapa istri dari atasannya itu. "Bu Nabila", sapanya dengan senyum ramah. "Tuan Denis baru saja selesai meeting dan masuk ke dalam ruangannya. Silahkan masuk saja!" Ucapnya lagi.
"Kalau begitu, saya masuk dulu ya, nona Karina", kata Nabila yang kemudian melangkah menuju ruangan suaminya, setelah sebelumnya dipersilahkan oleh sekretaris itu.
Klekkk.....Pintu di depan Nabila terbuka setelah ia menarik gagang pintu dan mendorongnya perlahan. Tanpa bersuara ia masuk kedalam ruangan suaminya, bersamaan dengan itu sepasang mata sudah mengarah ke arahnya.
"Sayang!" Serunya ketika melihat Nabila yang baru saja menutup pintu kembali. Pria itu meletakkan kertas-kertas yang ada di tangannya, kemudian melangkah mendekati istrinya yang hanya berdiri diam di dekat pintu.
"Ada apa kemari, sayang? Kenapa tidak memberi kabar mau kesini? Naik apa tadi kesini?" Denis memberondong Nabila dengan banyak pertanyaan ketika ia sudah tepat berada di depan istrinya , tapi tak satupun pertanyaan itu dijawab oleh istrinya. Wanita itu justru tiba-tiba memeluk suaminya, hingga membuat suaminya bertanya-tanya.
Beberapa saat diam dalam pelukan suaminya, Denis mendorong tubuh istrinya itu pelan, sehingga kini ia mampu melihat wajah istrinya. "Kangen ya?" Denis mencoba menebak, pasalnya memang akhir-akhir ini istrinya begitu enggan berpisah dengannya. Tapi, lagi-lagi Nabila tak menjawab.
Diapitnya wajah ayu istrinya dengan kedua telapak tangannya, kemudian ditatapnya dalam-dalam kedua mata wanita itu. "Kenapa diam saja hmmm?" Kata Denis yang kemudian memberikan ciuman hangat di kening istrinya.
"Kenapa menangis?" Kata Denis yang mendapati mata dan wajah istrinya kini basah. Ia menghapus dengan lembut air mata Nabila dengan telapak tangannya.
"Aku tidak mau berbagi dirimu dengan siapapun....huhuhu" Suara Nabila bersamaan dengan tangis yang pecah. Kini ia tengah memeluk erat tubuh suaminya yang kekar.
"Aku tidak akan membiarkan orang lain merebutmu.....huhuhu" Lanjut Nabila. "Berjanjilah padaku mas, kamu nggak akan berpaling kepada yang lain, mas. Hanya aku...hanya aku saja....huhuhu".
__ADS_1
Denis memeluk semakin erat tubuh Nabila yang masih bergetar, karena tangis yang masih belum mau mereda. Memberikan banyak sekali ciuman di puncak kepala wanita itu.
"Aku sudah bilang kan, aku mencintaimu! Itu berlaku sampai nanti aku mati, dan cinta itu hanya untuk kamu, bukan yang lain", kata Denis.
flash back on: [POV Nabila]
Dengan tangan bergetar, aku mengambil kertas itu. Lututku tiba-tiba lemas tak bersendi sehingga memaksaku harus menjatuhkan tubuhku diatas kursi putar milik suamiku, tatkala dengan jelas netraku mendapati siapa nama yang tertulis di kertas itu.
Air mataku lewat begitu saja dan membasahi wajahku. Wanita mana yang akan tetap bisa berdiri tegak jika ada dalam posisiku. "Kenapa dia, kenapa bukan aku saja" Aku menangis semakin kencang, merutuki nasibku.
Entah berapa lama sudah aku menangis, yang aku tau, itu tidak sebentar karena aku merasakan mataku bengkak hingga membuatnya menyipit.
Lelah dengan tangisku, aku mencoba menenangkan hatiku, mengembalikan emosiku ke posisi semula. Mencoba meraih kewarasan otakku, untuk berfikir jernih, memikirkan nasibku selanjutnya.
Kupandangi lagi kertas itu dengan seksama, membaca tiap tulisan yang ada di situ, seolah ada yang menggiringku untuk melakukan itu. Benar saja, sepertinya nasib baik masih berpihak kepadaku.
Aku tau betul bagaimana mengartikan kode-kode yang tertera di atas kertas itu, karena beberapa bulan ini aku rutin juga mendapatkan kertas yang serupa. Dan seseorang telah menunjukanku bagaimana cara mengartikan kode-kode itu.
Aku telah mendapatkan kebenaran yang sebenarnya. Aku merasa diriku seperti orang bodoh, tadi. Menyesal telah mengeluarkan begitu banyak air mata untuk hal sekonyol itu.
Tanganku dengan terampil menyisir satu-persatu pesan di aplikasi pengiriman pesan, mencari akun orang yang rencana akan kuajak bertemu, karena memang aku tak menyimpan nomor orang itu di kontakku. Karena aku tak pernah menganggapnya orang penting di hidupku.
Tak butuh waktu lama untukku menemukan nomor sosok yang kucari. Karena foto profilnya sangat mencolok menampakkan dirinya. Aku segera mengetikkan pesan untuknya.
Aku ingin bertemu denganmu. Kutunggu di beautiful cafe satu jam lagi (Nabila~Istri Denis)
Setelah menulis pesan, aku hendak bersiap -siap, namun aku merasakan perutku terasa lapar kembali, padahal satu jaman lalu aku baru saja mengisinya. Entahlah, sudah beberapa hari ini nafsu makanku begitu besar. Bahkan dalam satu hari aku bisa makan 4-5kali. Akhirnya, aku kembali turun dan menikmati sisa makanan yang tadi kumasak.
Selepas mengisi perut karetku itu, aku begitu mengantuk, namun kutahan mengingat aku sudah ada janji dengan seseorang. Aku segera merias diriku, berdandan secantik mungkin tapi tetap natural. Kali ini aku ingin menunjukkan bahwa aku tidak kalah cantik dari orang yang akan aku temui.
Aku begitu tidak sabar menunggu pertemuan ini. Memberi pelajaran pada orang itu dan mungkin sedikit keterlaluan, aku ingin membuatnya malu dengan kelakuannya yang tidak tau malu.
__ADS_1
Langkahku sudah sampai di pagar rumah, bermaksud menemui taksi yang baru saja kupesan. Kali ini aku tak meminta izin keluar kepada suamiku, karena pasti dia akan memberondongku dengan berbagai pertanyaan, ketika aku meminta izin. Dia sungguh posesif belakangan ini.
Membelah jalanan kota yang agak longgar, sekitar 20 menit, taksi yang kutumpangi sampai di tempat yang kutuju. Sebelum aku keluar, aku berpesan pada sopir taksi yang sudah nampak tua itu agar tak kemana-mana. Tentu saja aku janjikan padanya akan memberikan kompensasi atas waktu yang ia gunakan untuk menungguku.
Salah satu pelayan kafe, yang aku kunjungi, membukakan pintu untukku sambil menyapa ramah. Mataku menyapu ruangan yang penuh meja dan kursi itu untuk mencari orang yang akan kutemui. Namun di cafe yang masih nampak sepi itu, tak kutemui sosok yang kucari.
Aku memilih acak tempat duduk yang akan kutempati, lalu memesan minuman untuk melepaskan dahagaku.
Sekitar sepuluh menit semenjak aku di tempat itu, mataku menangkap sosok yang kutunggu baru saja melewati. Dia nampak clingak-clinguk mencariku. Setelah matanya menangkap keberadaanku, ia berjalan berlenggak-lenggok ke arahku.
Seperti biasa, dia sering berpenampilan berani, sehingga membuat beberapa laki-laki yang ada di tempat itu menatapnya tanpa berkedip.
"Nabila", sapanya kepadaku. "Ada apa mengundangku kemari? " Tanyanya lagi. Ia menarik kursi yang ada di depanku dan duduk disana tanpa kuminta.
"Kenapa masih bertanya, tentu saja kau sudah tau maksudku", kataku
Wanita itu tersenyum lebar kepadaku, "Jadi dia sudah cerita kepadamu?" Tanyanya.
"Begitulah", jawabku santai
"Terus? Apa sekarang kamu ingin bernegoisasi denganku?" Katanya lagi dengan sombong.
"Bernegosiasi? Untuk apa?" Tanyaku dengan senyum yang coba kubuat semanis mungkin.
"Apa ini artinya kau akan mundur, dan menyerahkannya padaku saja?" Tanyanya lagi penuh harap.
"Jangan mimpi!" Kataku jelas penuh penekanan.
"Apakah berarti, undangan kali ini adalah undangan untuk perang?" Tanyanya lagi sambil bersedekap.
"Perang untuk apa? Aku tak ada urusan denganmu", kataku.
__ADS_1
Brakkkk..... Dia menggebrak meja yang ada di depan kami, membuat beberapa pengunjung melihat ke arah kami.
Bersambung....