
Denis sudah tampak rapi malam itu, berbalut dengan celana jeans dan kemeja lengan pendek polos berwarna maron yang mengesankan santai tapi tetap berwibawa.
Matanya hanya melirik saja ke arah Nabila yang sedari tadi membututinya kemanapun bergerak. Seperti sekarang, saat Denis sedang menyisir rambutnya di depan cermin, nampak pantulan bayangan istrinya ada di belakangnya, membuatnya tersenyum simpul.
Denis memutar badannya dengan cepat menghadap ke arah Nabila, sehingga membuat Nabila yang tidak siap terperanjat kaget. Denis tertawa melihat raut wajah Nabila yang nampak lucu ketika sedang kaget.
Denis merangkum kedua pipi istrinya dengan telapak tangannya.
"Ada apa?", tanya Denis lembut kepada Nabila yang hanya menjawab dengan gelengan kepala.
Denis tersenyum dan menurunkan kedua tangannya, lalu menarik tangan Nabila, berjalan ke arah tempat tidur.
Denis mendudukan tubuh Nabila ke tepian tempat tidur, begitu juga dirinya. Diletakkannya satu tangan Nabila ke pangkuannya, sambil melihat wajah istrinya yang hanya tertunduk ia berseloroh, "Dari tadi kamu sibuk mengikutiku apa yang sedang kamu fikirkan hemm?"
Nabila mengangkat kepalanya, lalu melihat ke arah Denis dengan matanya yang sayu. "Nggak usah pergi ya, mas", pintanya.
Denis tersenyum tipis dan duduk bergeser mendekati Nabila, sehingga jarak mereka begitu sangat dekat. "Kenapa?" Tanyanya lirih, namun hanya di jawab dengan gelengan kepala oleh Nabila.
Denis mendekap tubuh Nabila, kemudian menghujani kepala wanita itu dengan ciuman. Nabila yang merasa nyaman, membalas pelukan itu dengan erat, lalu menengadahkan kepalanya melihat paras suaminya.
“Boleh aku ikut?” Tanya Nabila.
“Kamu baru saja baikan, Nab. Tidak baik jika malam-malam di luar rumah”, jawab Denis sembari membelai lembut pipi istrinya. “Lagian, aku akan ke bar, kamu belum pernah kan ke bar?”, tanya Denis yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Nabila.
“Aku tidak rela istriku datang ke tempat seperti itu”, ucapan Denis.
“Kalau begitu, mas Denis jangan pergi sendiri, ajaklah Arsyad untuk menemanimu”, kata Nabila.
__ADS_1
Denis mengerutkan dahinya, kemudian tersenyum. “Kamu tak usah sekhawatir itu, sayang. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Lagi pula, dulu aku sering pergi ke tempat seperti itu".
Nabila memandang lekat wajah Denis dari sisi bawah. “Kamu tidak tau siapa Sheila, mas. Dia bisa melakukan apa saja untuk mencapai keinginannya”, gumam Nabila dalam hati.
Denis melihat jam di pergelangan tangannya. “Sudah hampir jam 8, sayang. Aku pergi dulu ya", ucap Denis sambil melepaskan pelukannya, diikuti Nabila yang melakukan hal yang sama.
“Hati-hati ya mas”, ucap Nabila lirih, sambil menyapu dagu Denis dengan telapak tangannya.
Denis mencium kening Nabila, kemudian beralih ke bibirnya sekilas. “Istirahatlah, jangan terlalu banyak pikiran”, nasihat Denis sembari mengacak-acak rambut istrinya, sebelum akhirnya ia beranjak keluar dari kamar itu.
Denis yang sudah berada di lantai bawah, berteriak memanggil kepala pelayan, yang dengan cepat sudah ada dihadapannya. Ia tampak membisikkan sesuatu ke telinga kepala pelayan itu, kemudian menepuk pelan punggungnya dan berlalu.
******
“Selamat datang, Tuan Denis”, seru Sheila yang berdiri dari duduknya, begitu melihat sosok pria yang diidamkannya datang mendekat ke arahnya. Senyumnya nampak begitu mengembang sempurna.
“Kenapa buru-buru, Tuan Denis? Kita nikmati dulu malam ini. Anda tak perlu khawatir, berkas-berkas itu sudah saya bawa”, bujuk Sheila sambil menunjuk dengan dagu ke arah salah satu pengawalnya yang memperlihatkan berkas-berkas yang di maksud oleh Denis.
“Wanita sialan”, gerutu Denis dalam hati. Andai bukan karena urusan kantor, Denis merasa tidak sudi datang ke tempat ini untuk bertemu perempuan yang dianggapnya licik.
“Silahkan”, ucap Sheila sambil, meletakkan satu slot minuman beralkohol di depan Denis. Namun dengan cepat Denis menggeser botol minuman itu menjauh. “Maaf nona, saya tidak minum”, ucapnya.
“Pesankan minuman lain, untuk tamu kita!”, perintah Sheila pada salah satu pengawalnya, sambil mengibaskan tangannya.
“Ehemmmm......bolehkah saya memanggil ada nama saja, sepertinya usia kita tidak jauh berbeda”, ucapan Sheila sembari meletakkan salah satu tangannya di atas punggung tangan Denis yang ada di atas meja, namun dengan cepat Denis menarik tangannya sehingga membuat Sheila kesal.
Tanpa mereka sadari, di meja lain yang tak jauh dari meja mereka ada sepasang mata yang terus menatap ke arah mereka, sejak saat Denis datang. Ia mengepalkan tangannya di atas meja sambil bergumam tak karuan.
__ADS_1
Ekspresi marah, tak bisa disembunyikan dari wajah wanita itu ketika melihat dua manusia yang ada dihadapannya nampak berbincang dengan jarak yang sangat dekat.
Tak lama, seorang pengawal datang membawa minuman sesuai pesanan tuannya. Sheila segera mengambil alih minuman yang dibawa pengawalnya, kemudian memberikannya kepada Denis. “Silahkan diminum", ucapnya dengan senyum yang sulit diartikan.
Denis meminum beberapa teguk minuman yang mengandung soda itu, sambil matanya mencoba mengamati ekspresi Sheila saat itu. “Apa rencana yang ada di otakmu, wanita gila", Denis membatin.
Tampak beberapa pelayan yang dipandu oleh pengawal Sheila, membawa beberapa macam makanan, berjalan mendekati mereka, kemudian meletakkan seluruh makanan yang mereka bawa ke atas meja, tempat Denis dan Sheila duduk. Entah apa saja makanan yang ada disitu. Yang pasti bukan Denis yang memesannya.
Sheila meletakkan beberapa macam makanan di atas piring Denis, tanpa Denis minta. Sementara Denis hanya mengamati saja apa yang diperbuat oleh Sheila, tanpa sedikitpun bicara.
Setelah dipersilahkan oleh Sheila, ia makan beberapa suap makanan dari piringnya. Dia makan bukan karena lapar, hanya menghargai si pengundang saja, karena sebelum tadi ia pergi ke bar itu, ia sudah lebih dulu makan bersama istrinya.
Setelah dirasa wanita di depannya sudah selesai dengan kegiatan makannya, Denis berniat untuk bangkit dan beranjak pergi dari tempat itu, setelah mendapatkan berkas-berkas yang diinginkannya.
"Sial”, seru Denis dalam hati ketika merasakan kepalanya terasa berat saat hendak bangkit dari duduknya, sehingga memaksanya untuk duduk kembali.
Denis memijat keningnya, sambil sesekali menggoyang-goyangkan kepalanya, karena semakin lama ia merasakan semakin berat saja kepalanya. Ia mencoba minum air putih yang ada dihadapannya untuk meringankan sakit kepalanya. Namun, dengan tiba-tiba justru badannya terasa semakin panas.
Denis mencoba mensingkronkan pikiran dan fisiknya, ketika ia merasa ada yang aneh dengan dirinya. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mengirim pesan kepada seseorang, namun belum bisa memastikan pesan itu sudah terkirim atau belum, Sheila lebih dulu merebut dan mematikan ponsel Denis kemudian memasukkan ke kantong kemeja Denis.
Anehnya Denis tidak marah dengan apa yang dilakukan Sheila, ia justru dengan cepat menarik pinggang Sheila yang ramping mendekat, ketika dengan sengaja dan penuh percaya diri, Sheila mengusap - usap paha Denis.
******
Readers semua, author minta maaf karena telat update.
Ditunggu dukungannya ya, boleh like, comment, atau vote.
__ADS_1
😍😍😍