
"Apa maksudmu? Tentu saja ini anak Denis. Bahkan kamu sendiri tau saat aku dan Denis berada diatas ranjang berdua. Bagaimana, kamu bisa mengingkari itu?" Kata Jenica. Air mata wanita itu turun lagi setelah tadi sempat berhenti.
"Ma, taukah mama berapa usia kandungan dia?" Tanya Nabila, dengan nada penuh penekanan di tiap katanya. Melihat mama Denis dan Jenica secara bergantian.
Mama Denis mengerutkan keningnya. Ia menatap penasaran pada menantunya. "Hmmm... Jen bilang tadi, 5 minggu. Iya kan Jen?" Kata mama Denis ragu-ragu.
"Benarkah Jen?" Tanya Nabila, namun Jenica sama sekali tidak bergeming. Membuat Nabila mengalihkan pandangannya ke arah suaminya yang kini nampak frustasi.
"Mas Denis", Nabila memutar sedikit badannya sehingga bisa dengan jelas melihat ekspresi suaminya.
"Apa benar mas Denis, telah tidur berkali-kali dengan dia?" Kata Nabila, membuat Denis tersentak dan menatap tajam ke arah istrinya itu. Ada kilatan kecewa dari wajah pria itu atas pertanyaan istrinya.
"Apa kau masih meragukanku selama ini?", Denis memukul ujung sofa yang ia duduki, kemudian menarik rambut bagian depannya dengan keras sambil meniupkan udara di mulutnya dengan kasar.
Mata Denis yang mulai berkaca-kaca kembali menjangkau istrinya. "Aku memang brengsek, sayang. Tapi sebrengsek-brengsek dan seba*****nya aku, aku tidak pernah meniduri wanita lain selain istriku, kecuali malam itu, karena obat laknat itu", kata Denis dengan nafas tak beraturan.
"Sebesar apapun cintaku pada pacar-pacarku dulu, pantang bagiku untuk menikmati tubuh mereka. Apalagi sekarang aku punya kamu. Membayangkan berdua dengan wanita lain saja aku tak mau, apalagi tidur dengan mereka, bahkan Jen sekalipun", kata Denis dengan suara yang bergetar karena menahan tangis.
Denis nampak begitu kecewa dengan istrinya. Ia berdiri hendak pergi, meninggalkan tempat itu. Namun dengan cepat Nabila menahannya.
Nabila, manahan kuat tangan Denis. "Duduklah, mas. Aku belum selesai bicara", ucap Nabila. Namun Denis memalingkan mukanya berusaha melepaskan tangan Nabila dari tangannya.
"Kumohon, mas!" Pinta Nabila lagi.
"Duduklah, Nis! Dengarkan apa yang ingin istrimu katakan. Papa ingin dengar bagaimana saja kelakuanmu selama ini", ujar papa Denis. Denis pun menurut, ia duduk kembali ke tempat semula meski terpaksa.
"Terimakasih, mas", kata Nabila.
Ia sejenak memandang suaminya yang nampak kusut wajahnya. Ada sakit pula yang ia rasakan melihat suaminya seperti itu. Namun, dia tak ingin mundur untuk menyelesaikan permainan yang sudah terlanjur dimulai.
Nabila lalu mengarahkan perhatiannya kepada Jenica. Menatap tajam ke arah wanita itu. "Bagaimana Jen, apa benar suamiku hanya tidur sekali denganmu atau sudah berkali-kali?" Tanya Nabila.
__ADS_1
Jenica tampak gelisah. Dia mencoba memperbaiki posisi duduknya. "Maksudmu?" Tanya Jenica tergagap.
"Ya, seperti yang tadi kutanyakan tadi. Apa suamiku tidur berkali-kali denganmu? Hingga bisa membuatmu hamil sekarang ini?" Kata Nabila.
"Nabila cukup!" Teriak mama Denis. "Kenapa kamu umbar aib suamimu seperti ini?", lanjutnya.
Nabila mencoba tak menanggapi protes dari mertuanya. "Jawab Jen, aku ingin tahu pengakuanmu?" Tanya Nabila lagi.
"Cukup, Nabila. Sudah kukatakan aku hanya tidur dengannya sekali saja, itupun tanpa adanya kesadaran. Jika kau masih bertanya yang demikian, aku akan pergi", kata Denis jengkel.
"Aku tidak butuh jawabanmu, mas. Aku butuh jawaban dari dia", kata Nabila sambil menunjuk Jenica.
"Jika Jen, masih tak mau menjawab, aku yang akan menjawab sendiri pertanyaanku itu", kata Nabila yang membuat Jenica bingung dan salah tingkah.
Tampak Nabila mengambil tas yang ia letakkan di sebelahnya. Kemudian, memasukkan tangannya ke dalam tas itu hendak mencari sesuatu dan beberapa saat kemudian mengeluarkan beberapa benda dari dalam sana.
"Aku percaya pada suamiku, bahkan tak sedikitpun aku ragu. Jika bukan karena dijebak, suamiku tidak akan pernah satu ranjang denganmu", kata Nabila, yang sempat tersenyum pada suaminya tapi tak mendapat balasan.
"Pa, lihatlah ini!" Nabila menyerahkan beberapa lembar kertas kepada papa Denis. Nampak semua orang yang ada di tempat itu penasaran dengan apa yang diberikan oleh Nabila kepada mertuanya itu.
"Papa, perhatikan baik-baik orang yang ada di situ dan papa lihat waktunya! Itu adalah gambar dari CCTV di bar, tempat dimana mas Denis dan kliennya bertemu, sekaligus pertemuannya dengan Jenica sebelum Jen membawa pergi mas Denis dari sana menuju apartemennya dan__", belum sempat menyelesaikan ucapannya, Nabila terdiam tampak mengingat ingat sesuatu.
Mata Nabila nampak berkaca-kaca. "Mereka melakukan apa yang seharusnya tidak boleh mereka lakukan", Nabila berusaha menahan air matanya agar tak tumpah, tapi ternyata ia gagal.
Denis yang melihat Nabila menangis, tergerak hatinya untuk menenangkannya. Pria itu menarik istrinya dalam pelukannya. Memberikan beberapa ciuman di kepala istrinya dan mengucapkan maaf.
Setelah sedikit tenang, Nabila melepaskan diri dari pelukan suaminya. "Papa lihat, berapa waktu sudah kejadian itu berlangsung dari sekarang?" Tanya Nabila, sambil mengarahkan pandangannya ke arah mertuanya. "Berapa, Pa?" Tanya Nabila lagi.
"Empat bulan, sayang", jawab papa Denis.
Lalu Nabila berdiri dan mendekati mama mertuanya. Memberikan selembar kertas berukuran kecil kepada wanita setengah baya itu, sebelum ia kembali duduk ke tempatnya.
__ADS_1
"Ini...Ini...gambar USG milikmu, sayang? Kamu hamil?" Nampak mama Denis kebingungan, tentu saja hal itu menarik perhatian yang lain.
"Tidak ma. Mama tolong baca nama yang tercantum disitu dan usia janinnya", kata Nabila.
"Ini punya Jen. Benarkah, sayang?" Tanya mama Denis pada Nabila. Dan menantunya itu menganggukkan kepalanya.
"Aku mendapatkannya di meja kerja mas Denis. Sehari, setelah Jen menemui mas Denis untuk meminta pertanggung jawaban dengan menggunakan gambar itu" Kata Nabila lagi.
"Apa mungkin, pembuahan yang terjadi empat bulan lalu, baru menghasilkan usia janin 5 minggu?" Nabila menatap tajam ke arah Jenica. Membuat Jenica semakin gusar.
"Jadi jelas, bahwa anak yang dikandung Jen sekarang, bukan anak mas Denis. Buka begitu, sayang?" Tanya Nabila pada suaminya yang masih terbengong atas penjelasan istrinya itu.
"Mas!" Panggilan Nabila, menyadarkan Denis. Denis kemudian tersenyum tipis pada istrinya, setelah menyadari maksud Nabila sebenarnya.
"Benarkah itu, sayang?" Tanya mama Denis pada Jenica, namun Jenica hanya diam menunduk. Butiran bening, mulai meluncur dari kelopak matanya. Membuat mama Denis akhirnya memeluk wanita itu dengan sayang.
"Ceritakanlah pada tante, apa yang terjadi padamu, sayang! Tante memang kecewa denganmu karena kebohonganmu hampir menghancurkan pernikahan anak-anak tante. Tapi kamu bs cerita pada tante apa yang membuatmu seperti ini?" Kata mama Denis sambil masih memeluk Jenica.
"Tante tau, Jen nggak akan melakukan hal seperti ini kalau tidak ada alasan yang jelas. Tante sudah cukup mengenalmu, selama ini, sayang. Kamu anak yang baik", ucap Mama Denis sambil mengelus lembut kepala Jenica.
"Kamu tega ya Jen, membuat permainan seperti ini hanya untuk menutupi aibmu", kata Denis, membuat tangis Jenova semakin keras. "Kamu hampir saja membuat kami berpisah", lanjutnya.
"Bukan....bukan itu maksudku", kata Jenica sambil meng geleng-geleng kan kepalanya. " Aku hanya ingin anak ini selamat dan hidup bahagia, tidak lebih", lanjutnya.
"Kamu minta saja pertanggungjawaban pria yang menghamilimu? Atau jangan-jangan kamu nggak tau siapa ayahnya!" Kata Denis yang kemudian mendapat teguran dari istrinya.
"Jangan begitu mas. Kita dengar dulu penjelasan dari Jenica", kata Nabila menenangkan suaminya.
"Kenapa kamu tidak minta pertanggung jawaban dari ayah anak ini, sayang?" Tanya mama Denis, sambil mengelus perut Jenica yang masih datar.
"Jika papa tahu, siapa ayah dari anak ini, pasti papa akan membunuhnya dan memintaku menggugurkan anak ini, Tante. Aku nggak mau", kata Jenica dengan tangis yang pecah. Mama Denis pun memilih untuk memeluknya.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" Tanya mama Denis.