
"Kak Denis!" Seru Vanya sambil mengalungkan tangannya dari belakang ke leher Denis, tatkala melihat pria itu duduk sendiri di sebuah kursi di balkon.
Denis yang sedang serius memeriksa beberapa dokumen terkejut. Dengan cepat ia menyingkirkan tangan wanita itu, setelah sebelumnya meletakkan kertas yang ada di tangannya ke sebelah tempat duduknya.
"Vanya, apa-apan kamu!" Denis segera berdiri ketika sadar siapa yang memeluknya.
Vanya tak tinggal diam, ia berjalan memutar melewati kursi untuk mendekat ke Denis. Ia mencoba bergelanyut di lengan Denis, namun dengan cepat Denis menepis tangan Vanya dan menjauh. Hal itu membuat Vanya geram.
"Kak Denis kenapa sih jadi begini, nggak asiik?" Kata Vanya sambil menyilangkan tangannya di depan dada, dan memelengoskan wajahnya.
Denis tidak mempedulikan ocehan gadis itu, iya kini sibuk merapikan dokumen-dokumen yang ada di atas meja dan kursi.
"Apa ini gara-gara istri kakak itu ya?" Kata Vanya dengan muka juteknya, membuat Denis berhenti sejenak dari aktivitasnya, kemudian sedikit memutar kepalanya melihat ke arah gadis itu.
"Apa maksudmu?" Tanya Denis dengan raut wajah tak suka.
Tanpa mereka berdua sadari, kini ada sepasang mata yang sedang sibuk memperhatikan mereka berdua, dari balik tirai yang menutupi jendela kaca yang membatasi balkon dan ruangan lain di lantai dua, rumah itu.
Vanya duduk di kursi yang kini digunakan sebagai tempat tumpukan sebagian dokumen yang sudah ditata rapi oleh pemiliknya. Wanita itu menaikkan kaki kanannya menyilang diatas kaki kirinya, membuat warna kakinya dan sebagian pahanya tereksplor karena memang pakaian yang dipakai Vanya hanya dress lengan pendek yang panjangnya di atas lutut.
Denis berusaha memalingkan pandangan dari gadis yang memang dengan sengaja menggodanya itu. Ia mempercepat pekerjaannya, memasukkan kertas-kertas yang tadi ia bawa ke map-map, tempatnya semula.
"Kakak dulu teman yang asik buat bercanda, jalan bareng, clubbing dan menghabiskan waktu bareng-bareng atau hanya berdua, tapi sekarang? Mana bisa kakak kayak dulu? Sama aku aja kayak alergi" gerutu gadis itu. "Mana pernah sekarang kakak nongkrong sama temen-temen, apalagi clubbing? Pasti istri kakak yang nggak gaul itu ngelarang-ngelarang kakakkan", sindir gadis itu.
__ADS_1
Awalnya Denis tidak ingin menanggapi omongan Vanya, karena memang pada faktanya ia yang dulu dan sekarang sudah banyak berbeda. Jika dulu dia hampir selalu menghabiskan malam bersama teman-temannya hanya untuk sekedar nongkrong di cafe atau di bar, bahkan clubbing sampai pagi, tapi sejak menikah ia lebih suka di rumah bersama istrinya. Bahkan bisa di hitung dengan jari berapa kali dia keluar nongkrong bersama teman-temannya, itupun dulu pada saat awal-awal menikah.
Tapi karena Vanya membawa-bawa istrinya dalam omelannya, Denis pun akhirnya bersuara. "Nabila tak pernah melarangku untuk bergaul dengan siapapun atau melarangku untuk melakukan ini dan itu. Dan justru karena sikapnya itu, aku lebih suka untuk menghabiskan waktuku bersamanya di rumah daripada kluyuran diluaran", ucap Denis dengan tenang.
"Mas, sudah ditunggu yang lainnya di meja makan!" Seru Nabila, membuat semua orang yang ada di balkon melihat ke arahnya.
Denis tersenyum lembut ke arah Istrinya yang berjalan mendekatinya. "Iya sayang, bentar", kata Denis yang hampir selesai dengan pekerjaannya.
"Apa perlu kubantu, mas?" Tanya Nabila.
"Nggak perlu sayang, nih udah selesai kan!", kata Denis sambil menunjukkan pekerjaan yang baru saja ia selesaikan. Ia kemudian melingkarkan salah satu tangannya ke pinggang istrinya dan mengecup samping kepala wanita itu.
"Ayo kita makan! Pasti masakanmu enak", kata Denis sambil menuntut Nabila pergi dari tempat mereka berada sekarang, tanpa mempedulikan Vanya yang kini tengah pengepalkan tangannya.
"Vanya, ayo kita makan dulu!" Ajak Nabila, ketika melewati depan Vanya. Nabila sebenarnya masih menyimpan dendam pada Vanya, namun ia berusaha menahan diri dan mencoba belajar memaafkan gadis itu.
"Kenapa sayang?" Tanya Denis, saat merasakan kaki istrinya tak lagi seirama dengan langkah kakinya.
Nabila hanya menggelengkan kepalanya, kemudian kembali melangkahkan kaki, meninggalkan suaminya yang kini justru melamunkan sikap istrinya. Namun lagi-lagi ia harus memaksa kakinya untuk berhenti melangkah, ketika matanya menangkap sosok yang sempat ia rindukan, berada tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.
"Papi", kata Nabila tanpa mengeluarkan suara. Wanita itu mencoba menahan air mata yang nyaris berjatuhan. Tiba-tiba sebuah tangan mencekram kuat pergelangan tangannya, namun tak menyakitkan. "Ayo, sayang!" Kata Denis pelan, sambil menarik tangan wanitanya agar mengikutinya.
"Om, tante!" Sapaan Denis membuat ruang makan yang tadinya ramai, tiba-tiba menjadi hening. Seakan dikomando, secara bersamaan empat pasang mata itu teralihkan akan kehadiran Denis dan istrinya.
__ADS_1
"Denis apa kabar? Kamu makin cakep aja", Tanya seorang wanita bernama Vivi, yang tak lain adalah mama Vanya, bersamaan dengan senyum lebar wanita itu ke arah orang yang ia tanya.
"Baik, tan", jawab Denis tak kalah ramah, namun wajah ramahnya seketika berubah datar tatkala melihat raut wajah Vivi berubah menjadi sinis ke arah istrinya.
"Perkenalkan, ini istri saya, Nabila", ucap Denis sambil mengusapkan-usapkan telapak tanganya ke pundak istrinya.
"Sayang, kenalkan ini tante Vivi dan ini omm Dahlan", kata Denis, yang tangannya bergerak bergantian ke arah orang-orang yang ia kenalkan pada istrinya.
Nabila memandang Vivi dan Dahlan bergantian sambil menyunggingkan senyum tipis dan menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan atas perkenalan mereka, sesaat sebelum akhirnya Denis mengajaknya untuk duduk di sebuah kursi yang sudah ditarim oleh pria itu sebelumnya.
Dari keempat manusia yang sedari tadi ada di ruang makan itu, ada satu orang yang masih mempertahankan pandangannya ke arah pasangan suami istri itu, setelah beberapa menit waktu berganti. Bukan ke arah pasangan suami istri, tapi lebih tepatnya kearah Nabila.
Pria yang berusia hampir 60 tahun itu, melihat ke arah Nabila saja, tanpa mempedulikan obrolan orang-orang yang ada di sekitarnya. Ada aura kesedihan di dalam tatapan pria itu. Beberapa kali matanya bertemu dengan mata Nabila. Dan ketika itu terjadi ia akan menunduk dalam.
"Dad, bolehkah nanti malam aku clubbing bersama kak Denis?" Tiba-tiba Vanya yang datang langsung memeluk Dahlan dari belakang. Gadis itu tersenyum licik ke arah Denis dan Nabila.
"Sayang, apakah kamu tidak suka berdiam diri di rumah saja bersama dadymu ini dan momy, menikmati kebersamaan keluarga selama ada di Indoneaia?" Kata Dahlan sambil mengusap lembut tangan putrinya itu.
"Ayolah dad, ini malam minggu. Kayak dady nggak pernah muda saja", rengek Vanya.
Ada lara yang datang menghampiri Nabila, tatkala melihat begitu dekatnya anak dan bapak yang ada di hadapannya itu. Kedekatan yang lama tak pernah lagi ia temui, semenjak papinya lebih sibuk dengan sekretaris barunya daripada dengan keluarganya sendiri. Ingin dia menangis dan protes dengan orang tua itu, tapi mulutnya serasa terkunci karena luka yang terlanjur dalam.
"Bahkan dia tega mencelakakan darah dagingnya sendiri, demi kebahagian anak dari wanita tak punya harga diri itu", batin Nabila saat mengingat suara yang tak begitu asing baginya di malam penculikan itu. Nabila mengepalkan tangannya dengan kuat seraya melihat ke arah Vivi dan Dahlan bergantian.
__ADS_1
"Bolehin ajalah, dad. Kasihan dia kalau di suruh di rumah aja selama di sini", suara Vivi mendayu sambil mengelus lembut lengan suaminya. "Kamu mau kan Denis, nemenin Vanya?" Lanjut Vivi sembari menatap Denis seolah memohon.
Vivi yakin Denis tidak akan menolak permintaannya, karena ada Dahlan disitu. Balas budi menjadi alasan kuatnya.