
Nabila sudah keluar dari gedung tempat ia bekerja. Helm yang baru ia pinjam pada sekuriti pun sudah bertengger di kepalanya.
"Sudah lama dek?", tanya Nabila yang tengah berjalan mendekat ke arah Fendi yang sudah ada di atas motornya.
Ketika Denis mengirim pesan ke ponselnya, bahwa ia akan keluar kantor lebih sore karena meeting belum selesai dan memintanya untuk menunggu di ruang Direktur agar bisa pulang sama-sama, Nabila memanfaatkan momen itu untuk menghindari pulang bersama suaminya dengan meminta adiknya membawanya pulang serta. Tentu saja tanpa izin dari suaminya.
Fendi segera menarik gas motornya, ketika ia sudah memastikan kakaknya telah duduk diatas jok motor miliknya. Dengan kecepatan sedang, cenderung kencang mereka melintasi jalan-jalan ibu kota yang lumayan padat karena saat itu memang jam-jam pulang kantor.
Nabila menikmati sore ini dengan bahagia. Sudah lama ia tak naik kendaraan roda dua itu, senyum bahagia menghiasi wajahnya. Rasanya lebih bebas berkendara naik motor, juga lebih asyik, apalagi ketika terkadang Fendi mengajaknya berpacu dengan kecepatan tinggi sambil body motor meliuk-liuk. Masalah yang ia hadapi sedikit terlupakan.
Meski perjalanan sudah memakan waktu 25 menit, tapi jarak yang mereka tempuh belum mencapai setengahnya untuk tiba di tempat tujuan. Hari ini Nabila berencana bermalam di rumah orang tuanya, selain untuk melepas rindu dengan ibundanya, tujuan utamanya adalah menghindar sementara waktu dari suaminya untuk menata hatinya.
"Dek, berhenti dulu di kedai kopi depan!", ucap Nabila sedikit berteriak sambil mendekatkan mulutnya ke telinga adiknya yang tertutup helm, sementara satu tangannya menepuk pundak sang adik dan tangan lainnya menunjuk suatu tempat.
Fendi pun pelan-pelan menurunkan kecepatannya, kemudian berhenti di halaman kedai kopi yang nampak ramai dengan para remaja yang lagi kongkow.
Mereka berjalan beriringan, setelah turun dari motor, masuk ke kedai kopi.
"Biar aku aja yang pesen, kak", kata Fendi.
"Es Kopi alpukat sama roti bakar keju ya dek, aku tunggu disana", kata Nabila sambil menunjuk satu meja yang ada di pojokan.
Fendi berjalan mendahului Nabila untuk mengantre menu yang akan ia pesan, sedangkan Nabila menuju tempat yang sudah ia tunjuk tadi.
Nabila mendudukan tubuhnya ke kursi yang baru saja ia geser, kemudian meletakkan dagunya di atas meja yang ada di depannya, sambil memperhatikan adiknya yang sedang mengantre menu yang tadi ia pesan.
Ia beberapa kali menguap karena rasa kantuk yang sedari tadi di atas motor menghampirinya. Semalam tidurnya amat kurang, jadi pantaslah jika angin kencang yang menerpa di atas motor membuat kantuk itu datang.
Tak perlu menunggu lama, karena memang antrean tidak begitu panjang, Fendi sudah terlihat berjalan mendekati kakaknya dengan membawa dua cup es kopi dan 2 bungkus roti bakar.
__ADS_1
Fendi meletakkan kopi dan roti bakar di atas meja, kemudian menggeser sebuah kursi di sebelah Nabila dan duduk di sana.
Nabila mengeluarkan selembar uang seratus ribuan dan memberikannya kepada Fendi, "Nih gantinya say", kata Nabila.
"Nggak usah kak, aku yang traktir", sambil mendorong tangan Nabila.
"Tumben nraktir, ada angin apa nih?" ucap Nabila sembari memasukkan kembali uangnya ke dalam dompet.
"Kan aku sekarang udah punya gaji kak", kata Fendi sambil mengangkat kerah jaketnya.
Nabila menyeruput kopinya, kemudian menimpali, "Halah gaya, berapa sih gaji anak magang di banding pekerja tetap apalagi kelas manager?", sambil tersenyum mengejek.
"Sombong tuh yang manager apalagi istri direktur", sindir Fendi sembari mencebikkan bibir bawahnya membuat Nabila tertawa puas.
"Kakak ada masalah sama kak Denis?", tanya Fendi pada Nabila.
Nabila tersenyum terpaksa. "Yang namanya rumah tangga pasti nggak selalu mulus, ibarat jalan raya kadang ada tanjakan, turunan, atau lubang. Jadi kalau ada masalah dalam hubungan suami istri itu wajar, dek", jelas Nabila yang kemudian menggigit rotinya.
Nabila berhenti mengunyah rotinya, kemudian menyeruput kopinya kembali sehingga roti di mulutnya yang belum sempurna terkunyah, ikut masuk kedalam kerongkongan. Ia menatap lekat wajah pria muda di sebelahnya itu, kemudian mengambil jemari tangannya dan ia letakkan di atas meja, persis di depannya.
"Kamu lihat kakak, apa kamu bisa melihat kalau sekarang kakak nggak bahagia?", ujar Nabila yang dibalas Fendi dengan gelengan kepala. Nabila pun kini tersenyum tipis bisa meyakinkan adiknya.
"Tapi kenapa sampai ada berita tak sedap di kantor tentang hubungan kakak dan kak Denis, bahkan ada yang bilang kakak itu simpanannya kak Denis untuk dapat jabatan tinggi?" Tanya Fendi.
"Itu karena kakak dan mas Denis ingin profesional. Tau kapan harus jadi suami istri, kapan jadi atasan sama bawahan. Makanya banyak yang mengira kita bukan suami istri. Apalagi dulu kami nikahnya sederhana, nggak ngundang orang kantor. Jadi wajar kalau ada yang berfikir buruk. Tapi mas Denis kan sudah ngumumin kalau kakak istrinya", kata Nabila, berusaha mempengaruhi adiknya.
"Kakak tau, kakak adalah orang penting kedua setelah mami. Aku akan berusaha selalu menjaga dan melindungi kakak. Aku tidak akan membiarkan seorangpun melukai kakak, termasuk suami kakak", tutur Fendi membuat mata Nabila berkaca-kaca mendengarnya.
*******
__ADS_1
Sementara Denis yang baru saja keluar dari ruang meeting, segera menghubungi ponsel Nabila, karena tak mendapati istrinya ada di ruangannya sebagaimana perintah yang sempat ia kirimkan lewat pesan tertulis di ponselnya. Namun ternyata, ponsel Nabila tak aktif.
Denis sedikit kesal dengan kenyataan yang kini didapatnya, namun perasaannya sedikit lega ketika memperoleh informasi bahwa istrinya telah pulang bersama seorang karyawan magang, yang tak lain adalah adik iparnya.
Oleh karena itu ia memutuskan untuk segera pulang ke apartemen menemui istrinya yang ntah kenapa ingin segera dilihatnya, padahal baru beberapa jam yang lalu ia menemuinya.
Dengan perasaan bahagia Denis masuk ke dalam apartemen, berharap bisa menatap wajah istrinya nan ayu, namun sekali lagi ia harus kecewa karena sosok yang ia cari, tak dapat ia jumpai, meskipun ia sudah mencari ke setiap sudut ruangan.
Dengan berbekal dugaan, setelah selesai mengistirahatkan tubuhnya sebentar dan mandi malam, Denis memutuskan untuk mencari istrinya ke rumah ibu mertuanya.
Mobil sudah terparkir sempurna di halaman sebuah rumah sederhana, dengan berbagai hiasan bunga dalam pot, di terasnya. Setelah keluar dari mobil, Denis melangkah menuju pintu rumah itu dan mengetuknya beberapa kali hingga muncul wanita yang sudah berumur dari balik pintu.
Wanita itu mempersilahkan Denis masuk, setelah sebelumnya dengan sopan Denis menyapa dan mencium punggung tangan mertuanya itu.
"Fen, tolong panggilkan kakakmu, ada nak Denis datang", perintah Mami pada putranya yang sedang nonton televisi di ruang tengah, dengan agak sedikit berteriak.
Fendi menuruti apa yang diperintahkan ibunya. Ia pun mengetuk pintu kamar kakaknya. Cukup lama Fendi melakukan itu, karena memang Nabila sudah tertidur sekitar 10 menit yang lalu. Namun akhirnya Nabila membuka pintu itu juga.
"Ada apa sih, dek?", Tanya Nabila dengan rmuka khas bangun tidur.
"Tuh ada kakanda tercinta", jawab Fendi sambil mengarahkan dagunya ke arah ruang tamu.
Mata Nabila yang tadinya nampak sulit terbuka, kini sudah membulat sempurna begitu mendengar apa yang di ucapkan adiknya. "Mas Denis?", batinnya.
"Suruh dia pulang saja, bilang kakak sudah tidur", ucap Nabila ketus lalu menutup pintu dengan keras hingga membuat Fendi tertegun.
______________
Happy Reading😉
__ADS_1
Jangan lupa buat tinggalin jejak ya, like, comment atau vote. terimakasih ^_^