
"Nggak boleh!" Kata Nabila penuh penekanan.
"Ya sudah, kalau begitu kamu ikut ke kantor saja, ya?" Rayu Denis pada istrinya yang kini masih memeluknya dengan posesif.
Beberapa hari ini Denis dibuat kualahan dengan sikap istrinya yang kelewat manja. Pasalnya setiap kali hendak berangkat ke kantor, istrinya menahannya agar tak pergi. Ia harus membujuk Nabila terlebih dahulu agar wanita itu ikhlas melepas suaminya mengais rezeki.
"Beneran boleh ikut?" Tanya Nabila dengan muka bahagia. Matanya mencoba menatap mata suaminya untuk mencari tau keseriusan pria itu.
"Iya, ayo bersiaplah sekarang!" Perintah Denis yang diikuti senyum lebar oleh istrinya.
"Ok! Aku akan menyiapkan pakaian kerjamu dulu", ujar Nabila. Ia kemudian melepaskan pelukannya dan meninggalkan suaminya menuju lemari pakaian. Namun sebelumnya, ia meninggalkan satu kecupan di pipi pria itu.
Denis hanya senyum-senyum sendiri sambil menggelengkan kepalanya, melihat tingkah istrinya yang begitu manja juga menggemaskan kini. Ia kemudian bangkit dari tempat tidur untuk menyusul istrinya.
Sementara sambil menunggu Nabila yang masih ada dikamar mandi, Denis yang baru saja merapikan rambutnya, berniat untuk turun ke bawah, menikmati sarapan yang sudah disiapkan istrinya. Namun, baru hendak menyentuh handle pintu, perhatiannya tersita oleh suara dering diponsel istrinya yang cukup keras.
Denis mengurungkan niatnya semula dan berbalik badan menuju suara tadi. Ia segera menggesar tombol hijau di ponsel itu, tatkala dirinya mengenal nama yang muncul di layar ponsel itu.
Ia menjawab salam, begitu orang diseberang telepon itu memberinya salam. Tetiba wajah pria itu nampak kaget dan khawatir, setelah ia mendengarkan apa yang diucapkan lawan bicaranya di telepon. Beberapa kali terdengar ia melemparkan pertanyaan kepada orang itu.
"Baiklah kita akan menyusul kesana sekarang", kata Denis sebelum mengakhiri obrolan di telepon.
Nabila dan Denis kini sudah berada di dalam mobil, setelah sebelumnya mereka menyelesaikan sarapan. Sepanjang perjalanan Denis tak banyak bicara, kecuali sekedar menjawab singkat pertanyaan istrinya yang pagi ini nampak begitu ceria dan cerewet.
Nabila memandang heran ke arah suaminya, namun mencoba untuk tidak bertanya, tatkala suaminya tetap menjalankan mobilnya, meski kendaraan berwarna hitam legam itu sudah melewati gedung tempat dimana sehari-hari ia bekerja.
Sejenak suasana hening, sebelum akhirnya Nabila tak kuasa untuk terus mengunci mulutnya. "Mas, kamu nggak serius pengin ngajak aku ke kantorkan?" Tanyanya.
Denis tak menjawab. Ia hanya memalingkan wajahnya sekilas ke arah Nabila dengan memasang senyum tipis yang seperti dipaksakan. Ada sesuatu yang tidak ringan yang sepertinya sedang dipikirkan pria itu.
"Turunkan aku!" Perintah Nabila, namun tak mendapat respon apapun dari pria yang ada disampingnya. "Turunkan aku!" Ucapnya lagi. Dan kali ini Denis memberikan respon kepadanya.
__ADS_1
"Kenapa minta turun? Kamu mau kemana?" Tanya Denis dengan tetap menyetir.
"Aku bisa pulang sendiri ke rumah mami. Nggak perlu suamiku yang menitipkan aku kesana", kata Nabila tanpa mau melihat ke arah suaminya.
Denis tersenyum, lalu melihat sekilas ke arah istrinya yang sudah nampak cemberut. "Siapa yang mau nitipin kamu?" Kata Denis seraya mengambil telapak tangan istrinya dan mengecupnya, namun dengan cepat Nabila menarik tangannya.
"Aku bukan anak kecil lagi, mas. Sampai sini saja, semua orang pasti tau kalau kamu bakal bawa aku ke rumah mami", kata Nabila. Nampak sekali ia tidak dapat mengontrol emosinya.
"Oh ya, apa jalan ini hanya diperuntukkan buat ke rumah mami aja", goda Denis.
"Lalu?" Tanya Nabila.
"Nanti kamu juga akan tau. Sabar, ya sayang!" ucap Denis sambil mengelus kepala istrinya yang masih mengerucutkan bibirnya. Sikap Nabila yang seperti itu membuat Denis senyum-senyum sendiri.
Nabila tetiba mencubit pinggang suaminya. "Nggak usah senyum-senyum begitu! Menjengkelkan", serunya.
"Habisnya kamu akhir-akhir ini suka ngomel-ngomel sendiri. Lucu! Jadi ingat waktu awal-awal ketemu kamu, sayang. Gadis judes dan cuek", kata Denis diikuti senyum kecil yang begitu menawan yang hanya disambut lirikan tajam dari sang istri.
"Nyari apa sih, sayang?" Tanya Denis tatkala melihat sang istri celingukan seolah mencari sesuatu.
"Itu" Kata Nabila sambil jari telunjuknya mengarah ke kerumunan orang yang nampak sedang mengantri. Denis pun memperlambat laju mobilnya dan berhenti sekitar 2 meter setelah tempat yang tadi ditunjuk oleh istrinya.
"Kamu tunggu di sini saja, biar aku yang belikan", kata Denis sambil melepas sabuk pengamannya.
"Aku maunya makan di tempatnya", kata Nabila berharap.
Denis melebarkan matanya. " Kamu kan barusan selesai sarapan, apa nggak apa-apa sarapan lagi?"
"Hmm", ucap Nabila sembari menganggukkan kepalanya.
"Yakin? Kamu tadi sarapan juga banyak loh, sayang. Apa nggak dibungkus aja, ntar agak siang bisa dimakan lagi.
__ADS_1
"Aku maunya, makan disitu", kata Nabila, lalu membuka pintu mobil. Denis pun menuruti yang menjadi keinginan Nabila.
Denis mengelus perutnya sambil bergidik, melihat Nabila begitu lahap memasukkan sendok demi sendok bubur ayam ke dalam mulutnya, padahal jelas tadi di rumah, wanita itu makan cukup banyak.
"Kamu mau, sayang?" Tanya Nabila pada Denis yang sedang menunggunya makan. "aaa" ucap Nabila meminta suaminya membuka mulut agar bisa ia suapi. Wanita itu sudah membawa sesendok penuh bubur di dekat mulut suaminya, namun dengan cepat Denis menggelengkan kepalanya.
Tak butuh waktu lama untuk Nabila menghabiskan semangkuk penuh bubur ayam yang tadi dipesan oleh suaminya. Setelah membayar apa yang dipesan, mereka berdua kembali melangkah masuk ke dalam mobil.
Baru saja Denis menutup pintu mobil, namun dengan cepat pria itu membuka pintu itu kembali. Terlihat pria itu merendahkan kepalanya sambil memegangi perutnya. Tanpa aba-aba Denis mengeluarkan isi perutnya dari mulut.
Nabila yang melihat suaminya sedang tak baik-baik saja, langsung bergerak mendekati suaminya. Memijat pelan tengkuk pria itu.
"Kamu nggak papa, mas?" Tanya Nabila pada Denis yang kini sudah menyandarkan punggungnya pada kursi mobil. Wajah Denis kelihatan pucat, namun dia masih sempat menampakkan senyum pada istrinya. Menandakan bahwa ia baik-baik saja.
"Kita pulang aja, ya?" Kata Nabila. Mimik wanita itu menunjukkan kekhawatiran.
"Aku nggak apa-apa, sayang", kata Denis sembari tersenyum kecil dan membelai lembut pipi istrinya. "Hanya masuk angin biasa aja, sayang. Kemarin juga sempat begini di kantor. Tapi agak siangan sudah baikan", tambahnya lagi.
"Beneran, nggak papa?" Kata Nabila.
"Hemm", jawab Denis singkat. " Kita lanjutkan perjalanannya lagi, ya" Lanjut Denis yang mulai memakai sabuk pengamannya.
Sekitar 30 menit, mobil Denis memasuki area parkir sebuah rumah sakit yang cukup besar dan terkenal di daerah itu. Setelah mematikan mesin mobil, Denis mengusap lembut lengan istrinya. "Sayang, bangun!" ucapanya.
Butuh beberapa kali Denis mengucapkan kata yang sama, hingga akhirnya istrinya membuka matanya. "Ini dimana, sayang?" Tanyanya sembari menggosok matanya.
"Ayo turun!" Ajak Denis.
"Kita mau apa kesini?" Tanya Nabila ketika dirinya sudah menyadari bahwa dia ada di lingkungan rumah sakit.
Tanpa menjawab, Denis lebih dulu keluar dari mobilnya. Meski Nabila kesal karena pertanyaannya tidak di jawab, ia tetap saja mengekori suaminya.
__ADS_1
Langkah dua pasang sepatu memecah keheningan di lorong rumah sakit. Hingga akhirnya langkah itu terhenti seiring dengan berhentinya langkah sepasang suami istri itu.
Langkah Denis terhenti lebih dulu, diikuti Nabila kemudian yang berhenti tepat disamping suaminya. Denis menyelipkan jemarinya di sela-sela jemari istrinya, sambil memberikan senyum kecil yang teduh sebelum ia membuka pintu yang ada di depannya.