
Tidak sulit bagi seorang Dahlan, untuk mendapatkan informasi keberadaan putrinya yang pergi tanpa pamit meninggalkan rumah. Di hari kedua Nabila di rawat rumah sakit, Dahlan dan Nadira mengunjunginya di rumah sakit.
Begitu juga hari ini, di hari ketiga Nabila dirawat. Hanya saja, untuk hari ini Dahlan tak ikut serta. Hanya Nadira dan Fendi yang kini hadir di ruangan bernuansa serba putih itu, sekaligus mereka pula yang nantinya akan membawa Nabila pulang ke tempat Papinya, sesuai permintaannya.
"Kakak sudah menghubungi Denis dan memberi tahu jika kamu dirawat disini", kata Nadira sambil memasukkan barang-barang Nabila kedalam tas.
Nabila menoleh kearah kakaknya, "Kenapa kak Dira melakukan itu? Bukankah sudah aku katakan, aku belum ingin bertemu dia", kata Nabila.
Nadira berhenti dari aktivitasnya, kemudian duduk di pinggiran ranjang, tempat Nabila kini sedang duduk menyelonjorkan kakinya. "Sampai kapan? Sampai dia bosan dengan maumu, kemudian meninggalkanmu begitu saja".
Nabila hanya diam menunduk, mendengarkan sindiran kakaknya. Hatinya sakit sebenarnya dengan ucapan itu.
"Kamu sudah besar, tidak seharusnya kabur-kabur begini jika ada masalah. Kamu harus menghadapinya!" Nadira berusaha menasehati adiknya.
"Kak Denis sampai berhari-hari nggak kerja, wajahnya kusut tak terurus. Tiap pagi masih saja muntah-muntah", Fendi yang duduk di sofa menambahi omongan Nadira.
Nabila mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah adiknya. Ada rasa ingin tahu lebih tentang bagaimana kondisi suaminya sekarang, namun ia masih enggan untuk menanyakan kepada Fendi karena rasa gengsi yang masih tinggi.
"Kamu masih menyalahkan Denis atas kematian Mami?" Pertanyaan Nadira membuat Nabila terhenyak, ia penasaran, bagaimana kakaknya bisa membaca pikirannya tentang hal itu.
"Denis datang atau tidak di siang itu, Mami akan tetap meninggal. Karena jatah umur mami memang hanya sampai segitu", kata Nadira.
Air mata Nabila lagi-lagi turun, meski tak deras. Bayangan buruk beberapa hari lalu saat ia menjumpai ibunya dalam keadaan terbujur kaku, kembali berkelebat di benaknya.
"Paling tidak, jika Mas Denis bisa mengantarku kesana lebih awal, pasti aku masih bisa bertemu terakhir kali dengan Mami yang masih hidup", kata Nabila.
Pintu ruangan kamar inap Nabila terbuka bersamaan dengan munculnya sosok pria yang tak asing bagi semua orang yang saat itu ada di dalam ruangan.
"Selamat siang!" Kata Andre sembari melangkah ke arah Nabila berada.
__ADS_1
"Ndre, Nabila jadikan diizinkan pulang siang ini?" Tanya Nadira. Dan Andre hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Nadira.
"Nada, kamu sudah ingin pulang?" Tanya Andre pada Nabila. Nabila mengangguk sebagai jawaban pertanyaan yang dilontarkan Andre.
"Berdasarkan pemeriksaan beberapa hari ini, kondisi Nada cukup baik dan bisa dilakukan perawatan di rumah saja", perkataan Andre tentu saja membuat semua yang ada di ruangan itu menjadi senang.
"Tapi ingat, kondisi kesehatan Nada harus benar-benar dijaga. Jangan melakukan pekerjaan yang berat-berat! Dan tentunya emosinya harus dijaga, jangan terlalu stres !" Nasihat Andre pada keluarga Nabila.
Untuk kesekian kalinya, pintu kamar perawatan Nabila terbuka. Tapi kali ini cara membuka pintu ruangan itu nampak terlalu kasar, hingga membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu mengarahkan pandangannya ke arah pintu.
"Denis!" Seru Nadira, ketika sosok yang baru saja membuka pintu itu mulai masuk ke dalam ruangan.
Pria itu nampak penampilannya begitu semrawut, berbeda dengan kondisinya yang biasanya rapi dan wangi. Lingkaran hitam di sekitar mata, menandakan bahwa pria itu kurang tidur.
Nabila yang semula sempat melihat sosok Denis, dengan cepat ia memalingkan mukanya dari suaminya itu.
"Sayang!" Suara Denis lirih. Ada kesedihan mendalam nampak di kedua manik pria itu.
Denis memilih untuk mengalah dan tak mendekat ke Nabila, dia hanya memiringkan kepalanya agar bisa melihat dengan jelas istrinya, meskipun Nabila tetap tak mau melihatnya.
"Aku perlu bicara padamu", ucap Andre. "Ayo!" Andre menarik Denis agar mengikutinya.
Fendi hendak mengikuti dua pria yang baru saja keluar dari ruangan itu, namun Nadira mencegahnya. "Kamu tetap di sini dek! Biarkan saja kedua orang itu menyelesaikan urusannya. Kita jangan ikut campur", kata Nadira dengan ujung mata yang melirik kearah Nabila yang hanya diam terpaku.
"Lepaskan!" Denis menyingkirkan tangan Andre dari tangannya, ketika baru saja pintu kamar Nabila ditutup kembali oleh Andre.
"Apa yang ingin loe bicarakan sama gue?" Denis dan Andre berjalan beriringan melewati lorong rumah sakit yang sepi. Hanya nampak petugas kebersihan sedang mengepel lantai.
"Kita bicarakan disana", kata Andre sambil menunjuk taman yang dekat dengan pintu keluar rumah sakit.
__ADS_1
Baru saja kaki Denis menginjakkan kaki di taman, tetiba buuugghhh, kepalan tangan Andre mendarat di wajah Denis, hingga membuat suami Nabila itu terhuyung ke belakang.
"Itu untuk luka yang loe berikan ke Nada", kata Andre yang kemudian nampak kembali mendekati Denis.
Andre menarik bagian depan kerah baju Denis yang sudut bibirnya nampak berdarah. "Ini untuk loe yang hampir mengilangkan anak loe sendiri", kata Andre sambil memukul Denis kembali.
Denis tak membalas perlakuan Andre, karena ia merasa dirinyalah yang menjadi penyebab Nabila harus dirawat di tempat itu.
"Sudah pernah kukatakan, jangan pernah sakiti Nada! Tapi yang loe lakuin justru sebaliknya", kata Andre dengan tatapan marah pada Denis. "Jika loe memang tidak bisa menjaganya dengan baik, biarkan aku yang menjaganya" Ucapnya lagi.
Ucapan Andre yang demikian, membuat darah Denis mendidih. Dengan gerakan cepat ia bangkit dan mendekati Andre. Kemudian menghujani dokter di hadapannya itu dengan pukulan-pukulan kemarahan.
"Brengsek loe, loe pikir istri gue barang! Sampai kapanpun gue nggak bakalan ngelepas Nabila, tidak juga buat loe", kata Denis dengan masih melayangkan tinju-tinjunya ke arah Andre.
"Tunggu!" Suara Lisa menghentikan Denis yang hendak memukul Andre yang sudah tak berdaya. Wanita itu berlari mendekati Andre, kemudian membantu dokter itu untuk berdiri.
"Cukup yang anda lakukan! Dia bisa mati, kalau pak Denis memukulnya lagi", kata lisa dengan nada cukup tinggi kepada Denis.
"Ayo dok, saya bantu anda berjalan", Lisa memapah Andre berjalan, meninggalkan Denis yang masih berusaha menekan emosinya.
Denis berlari menuju istrinya, tatkala matanya menangkap bahwa Nabila yang kini duduk kursi roda yang di dorong oleh Nadira, hendak berjalan menuju pintu keluar rumah sakit.
"Sayang, tolong maafkan aku!" Kata Denis yang berdiri sejajar di samping Nabila. "Aku bisa jelaskan semuanya", lanjutnya lagi.
Mata Nabila dan Denis sejenak bertemu, namun dengan cepat pula Nabila memalingkan wajahnya. "Ayo kak, kita jalan lagi! Aku ingin segera istirahat kembali" Kata Nabila pada Nadira.
Akhirnya Denis hanya bisa pasrah ditinggalkan sendiri dalam kesedihan dan kecewa.
______
__ADS_1
***Happy Reading 🍁🍁🍁
bersambung***.....