Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Mencari Maaf


__ADS_3

Say it's true, there's nothing like me and you


Not alone, tell me you feel it too


And I would runaway


I would runaway, yeah


I would runaway


I would runaway with you


'Cause I have fallen in love


With you, no never have


I'm never gonna stop falling in love, with you


Suara lagu yang semakin lama semakin keras saja, yang berasal dari ponsel yang masih ada di kantong jaket, mau tak mau memaksa Nabila untuk membuka matanya, kemudian bangkit untuk duduk. Dengan malas ia membuka resleting kantong jaket yang ada di dada sebelah kanan, kemudian mengeluarkan isinya.


Matanya yang tadi masih terbuka sebagian, kini terbuka lebar, saat tangannya berhasil membuka kunci ponsel itu dan disana nampak pemberitahuan sebuah nomor yang diberi nama Vita, sudah melakukan panggilan tak terjawab salama tujuh kali. "Vita?Ada apa?", batinnya. Ia bermaksud menelpon balik, bawahannya itu, namun ia urungkan toh ia berpikir bahwa sebentar lagi juga mereka akan bertemu di kantor.


Mata Nabila teralihkan ke jam digital yang ada di atas nakas. Seperti orang kesetanan, ia tiba-tiba melompat turun dari tempat tidur dan berlari cepat masuk ke kamar mandi, ketika dilihatnya jam itu menunjukkan pukul 06.37

__ADS_1


Kali ini Nabila tak mau berlama-lama di kamar mandi, ketika dirasa badannya dari atas sampai bawah sudah cukup bersih, ia segera mengakhiri mandi paginya dan mengganti handuk pengering badan yang melilit tubuhnya dengan rok panjang warna hitam dan blouse turtle neck warna abu muda.


Setelah perlengkapan ngantor sudah ia siapkan di atas meja, ia bergegas ke dapur untuk sekedar membuat teh. Namun, "brukkkkk" sesuatu jatuh mengenai kakinya, ketika ia berhasil membuka pintu kamarnya.


Ternyata dari semalam Denis tertidur di depan pintu kamar Istrinya. Ia terbangun karena punggungnya membentur lantai lumayan keras. Di tengah rasa terkejutnya karena proses bangun yang mendadak, mata Denis tertuju pada orang yang kini tengah berjalan melewatinya, lebih tepatnya melompati kakinya yang menutupi jalan.


Nabila yang sama sekali tak menegur bahkan tak mau melihatnya, membuat hati Denis terasa sakit. Ingin dia menghampiri wanita itu dan meminta maaf. Namun, setelah ia menimbang-nimbang, ia memilih untuk masuk ke kamarnya daripada mengikuti istrinya yang sedang marah itu.


Nabila yang tengah sibuk di dapur, memilih untuk membuat sarapan yang mudah dan sederhana agar ia tidak terlambat datang ke kantor. Sebenarnya ia berniat tidak membuat sarapan, karena perasaannya yang belum kunjung membaik membuatnya malas untuk makan.


Namun melihat suaminya ada di rumah, mau tak mau ia harus menyiapkan sarapan. Seberapapun rasa marahnya saat ini, melayani suami dengan baik tetap harus ia lakukan.


Setelah meletakkan secangkir kopi dan teh diatas meja makan, Nabila kembali ke dapur untuk memanggang daging asap yang tadi sudah ia keluarkan dari kulkas. Ketika tangannya sedang sibuk dengan alat pemanggang, tiba-tiba sepasang tangan sudah melingkar di pinggangnya. Tanpa harus menoleh ke belakang, Nabila sudah tau tangan siapa itu.


Nabila hanya sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Ia tak merasa direpotkan dengan tubuh Denis yang terus saja menempel, kemanapun ia berjalan. Sampai akhirnya ia bersuara, "Duduklah di kursimu, sarapan akan segera kusiapkan!"


Dengan berat Denis melangkahkan kaki menuju meja makan, kemudian menarik salah satu kursi yang ada di sana dan duduk sembari menatap Nabila yang sudah mulai berjalan menuju ke arahnya dengan membawa piring berisi sandwich.


Begitu sampai di meja makan, Nabila meletakkan makanan yang ia bawa ke atas meja, lalu mengambil sepotong sandwich dan meletakkannya di atas piring yang ada di depan suaminya. Ia pun kemudian ikut duduk di salah satu kursi sambil menikmati sarapannya.


"Aku tau aku salah Nab, tapi aku bisa jelaskan bahwa tidak semua yang kamu lihat adalah benar", ucap Denis meyakinkan.


Nabila mengambil cangkir yang ada di dekatnya, kemudian menyesap isi yang ada di dalamnya dan meletakkan cangkir itu ke tempat semula.

__ADS_1


"Ceraikan aku mas", pinta Nabila tegas, membuat Denis terkejut sehingga sandwich yang ada di tangannya terlepas.


Denis menggeser kursinya dan berjalan mendekati Nabila, kemudian berlutut disamping istrinya yang kini melanjutkan kembali menikmati sarapannya. Ia meletakkan kepalanya di pangkuan Nabila, membuat Nabila kikuk.


Tessss.... air mata lolos dari pelupuk mata kedua insan itu. Nabila bisa merasakan pahanya basah oleh air mata Denis. Ingin sekali ia menyentuh kepala suaminya itu dan mengusapnya lembut, namun rasa kecewanya membuatnya urung melakukan itu.


"Beri aku kesempatan Nab, aku akan memperbaiki semuanya", kata Denis yang sudah mengangkat kepalanya agar bisa melihat wajah istrinya.


"Apalagi, yang perlu diperbaiki, mas?”


"Semuanya, Nab. Ijinkan aku belajar menjadi suami yang baik dan menjaga pernikahan kita sebaik-baiknya"


"Lalu bagaimana dengan Jenica, bukankah kamu masih mencintainya, mas?Lepaskan saja aku, mas. Dan hiduplah berbahagia dengan dia.”


"Tidak, Nab. Aku tidak mau", air mata Denis jatuh kembali. Dulu aku memang pernah mencintainya, Nab. Tapi cintaku sudah benar-benar mati untuknya ketika ia tidur dengan pria lain di depan mataku”


"Aku harus berangkat ke kantor sekarang, mas. Maaf tak bisa membawakanmu bekal makan siang", ucap Nabila sembari bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Denis yang masih terduduk di lantai.


Setelah memakai blazer dan memperbaiki riasan natural di wajahnya, Nabila beranjak keluar dari kamarnya dengan membawa semua peralatan yang tadi sudah ia siapkan.


Denis yang sudah duduk di sofa ruang tengah, segera berdiri begitu melihat Nabila berjalan melewatinya. Dengan gerakan cepat ia menarik lengan Nabila dan memeluknya. Nabila hanya diam tak membalas pelukan itu.


"Aku harus segera berangkat, mas. Aku tidak boleh terlambat", seru Nabila, yang membuat Denis akhirnya melepas pelukannya dan membiarkan Nabila pergi.

__ADS_1


__ADS_2