
"Ganti yang lain saja ya, yang!" Seru Denis, meminta keringanan pada Nabila. Karena sudah muter-muter lebih dari sejam, pria itu tak kunjung mendapatkan makanan seperti permintaan istrinya.
Nabila tak menjawab. Ia hanya mengerucutkan bibirnya, pertanda tidak menerima permintaan suaminya.
"Siapa yang mau jual es teler hampir tengah malam begini yang, apalagi sedari siang hujan", gerutu Denis, sambil masih fokus terhadap kemudinya.
"Gimana yang? Ganti STMJ, Bandrek, atau Ronde gitu gimana yang?" Tanya Denis lagi.
"Kalau kamu nggak mau nyariin gak papa, mas. Aku bisa nyari-nyari online sendiri", kata Nabila kesal, membuat Denis memilih untuk diam.
"Yang online juga, dicari-cari juga ternyata tutup. Dasar wanita!" Kata Denis dalam hati.
Beberapa saat suasana tampak hening di dalam mobil, hingga terdengar panggilan masuk di ponsel Nabila.
"Assalamu'alaikum, iya kak. Kenapa?" Kata Nabila, sesaat setelah menggeser tanda hijau di layar ponselnya. Hal itu sempat menyita perhatian Denis.
"Baiklah, aku kesana segera", kata Nabila menyahuti orang di seberang telepon.
"Mas, kita ke Rumah Sakit xxxxx sekarang ya", pinta Nabila, dengan raut muka khawatir.
"Ada apa?" Tanya Denis pada istrinya.
"Papi kena serangan jantung", kata Nabila dengan mata berkaca-kaca.
Denis berusaha menenangkan istrinya dengan mengambil tangannya dan menciumnya dengan lembut. "Jangan sedih ya, yakinlah papimu akan baik-baik saja", kata Denis.
Denis menjalankan laju mobilnya lebih kencang dari sebelumnya, mrmbelah malam yang semakin dingin karena rintik hujan masih tak mau berhenti.
"Kak", suara Nabila yang lemah disertai sentuhan di pundak Nadira, berhasil membuat wanita itu mengangkat kepalanya, meski dengan rasa kantuk yang masih sangat besar.
"Nabila, Denis! Kalian sudah disini", kata Nadira, saat matanya menangkap sosok sepasang suami istri itu kini berada satu ruangan bersamanya.
Wanita itu kemudian menghambur, memeluk sang adik. " Aku belum siap kehilangan papi, dek. Aku belum bisa membahagiakan papi", kata Nadira.
"Kakak jangan bilang begitu, papi pasti baik-baik saja", kata Nabila sambil menepuk-nepuk punggung kakaknya, berusaha menenangkan.
"Jika terjadi apa-apa sama papi, aku tidak akan membiarkan mereka hidup tenang", ujar Nadira dengan air mata yang masih tak berhenti.
__ADS_1
Nabila melepaskan pelukannya, mendorong kedua pundak kakaknya perlahan. "Dia siapa kak?" Tanya Nabila, namun kakaknya hanya menangis, tak menjawab.
"Apa tante Vivi?" tanya Nabila lagi.
"Mereka mengirimi papi video Vanya sedang berhubungan intim dengan pacarnya, lalu mengancam dan mememeras papi", kata Nadira.
Nabila mengepalkan kedua tangannya, mendengar penuturan kakaknya. Meski rasa sakitnya akibat tindakan papinya dulu, masih belum hilang seluruhnya. Namun, ia merasakan kemarahan, mendapati orang tuanya itu diperlakukan demikian.
"Kakak, istirahat dulu saja di rumah. Biar aku sama mas Denis yang jagain papi disini", pinta Nabila.
"Iya Dir, biar aku sama Nabila yang jaga disini. Kamu pasti lelah seharian sudah menjaga papi", kata Denis sambil berjalan mendekati istrinya, kemudian merangkul pundak istrinya dengan sayang.
"Baiklah, aku titip papi ya. Tolong segera kabari aku jika ada apa-apa sama papi", kata Nadira, yang kemudian mengambil tasnya dan melangkah pergi, setelah berpamitan dengan papinya yang belum sadarkan diri.
"Sayang, kamu istirahatlah dulu. Biar aku yang jagain papi", kata Denis sambil menuntun istrinya ke tempat tidur yang biasanya digunakan untuk penunggu pasien beristirahat di ruangan VVIP.
"Hemmm...aku mau tidur, badanku terasa lemas sekali", kata Nabila yang kedua kakinya baru saja di angkat oleh Denis dan diletakkan di atas tempat tidur.
"Iya, tidurlah!" Kata Denis, yang kemudian memasangkan selimut ke tubuh istrinya dan memberikan kecupan ringan di kening istrinya.
"Bolehkah aku meminta sesuatu?" Kata Nabila pada Denis dengan tatapan sangat berharap.
"Maukah mengusap punggungku sampai aku tertidur. Pinggang dan punggungkuterasa sangat kaku" Kata Nabila.
"Tentu, sayang. Sini biar kuusap", kata Denis yang kemudian melakukan keinginan istrinya. Ia berhenti ketika telah memastikan bahwa istrinya telah terlelap.
Matahari sudah mulai meninggi, bersamaan dengan Nabila dan Denis yang baru saja menghabiskan bubur ayam yang baru saja dibawakan oleh Nadira, yang pagi-pagi sekali sudah kembali ke rumah sakit.
"Biar aku saja kak", kata Nabila, saat melihat kakaknya hendak mengelap tubuh papinya. Nadira pun memberikan waslap yang ia pegang kepada adiknya.
Dengan telaten, Nabila membersihkan perlahan tubuh papinya. Senyum kecil beberapa kali menghiasi bibirnya, ketika menatap wajah orang yang beberapa belas tahun pernah tinggal satu atap dengannya.
Ada rasa bahagia dan bersyukur, ia bisa berjumpa kembali dengan papinya itu, meski awalnya penuh drama dan sakit hati.
Huekkkk.....huekkkk..... terdengar suara dari kamar mandi, membuat fokus Nabila teralihkan. Dengan sigap dia melangkah menuju kamar mandi.
"Kamu nggak apa-apa, mas?" Tanya Nabila yang baru saja berhasil membuka pintu kamar mandi dan masuk ke dalamnya.
__ADS_1
Ia dengan lembut memijat leher suaminya yang masih berdiri di depan wastafel dengan wajah pucat. "Mumpung disini, kita priksa sekalian ya sayang?" Kata Nabila, namun Denis menolak dengan menggelengkan kepalanya.
"Aku nggak apa-apa, sayang. Ini sudah biasa", Kata Denis setelah mengelap mulutnya. Ia memutar tubuhnya, kemudian merangkul wanitanya untuk keluar dari kamar mandi.
"Nggak apa-apa gimana, tiap hari seperti itu terus", kata Nabila kesal, namun Denis menanggapinya dengan senyum lucu sembari menarik hidung mancung milik istrinya.
"Kamu kenapa, Nis? Masuk angin?" Tanya Nadira yang kini tengah duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Gak apa-apa, Dir. Sudah biasa begini, tiap pagi", kata Denis.
Nadira memandang Nabila dan Denis bergantian sambil mengerutkan keningnya, lalu tersenyum aneh. "Udah kayak orang hamil aja, Nis, muntah-muntah tiap pagi. Jangan-jangan Nabila hamil!"
"Kakak bisa aja, aku yang hamil, kok mas Denis yang mabok", kata Nabila.
"Siapa tau dek", kata Nadira diikuti tawa ringan.
"Aamiin", sahut Nabila
"Kok aamiin, sayang? Kamu yang hamil, kok aku yang susah" Kata Denis pura-pura cemberut.
"Berbagilah, sayang. Orang hamil itu berat, jadi bebannya dibagi", kata Nabila terkekeh sambil mengelus pipi suaminya yang duduk di sampingnya.
Di tengah obrolan mereka bertiga, tiba-tiba terdengar dering dari ponsel Denis. "Papa?" Kata Denis pelan, ketika melihat tulisan yang tertera di layar ponselnya.
Pria itu segera mengangkat telpon, setelah pamit keluar pada yang lain. Namun, tak berapa lama ia masuk kembali ke dalam ruangan, dengan tampang yang nampak kesal.
"Ada apa, mas?" Tanya Nabila sambil mengamati perubahan muka suaminya.
"Papa memintaku ke rumah sekarang", kata Denis yang kemudian mencium kening istrinya.
"Aku ikut ya?" Pinta Nabila sambil menahan tangan suaminya yang hampir melangkah pergi.
"Kamu disini saja, temani Nadira. Kalau kamu ikut, nanti kecapekan harus bolak-balik", kata Denis lembut sembari membelai pipi istrinya.
Nabila menggelengkan kepalanya. "Aku ikut ya!" Kali ini Nabila agak memaksa, membuat Denis tak bisa menolaknya.
Denis berjalan mendahului Nabila, sesaat setelah mereka turun dari mobil yang Denis parkir di halaman rumah orangtuanya.
__ADS_1
Dengan kuat Denis mengetuk pintu rumah orang tuanya. Tiga kali ketukan pintu rumah terbuka, namun baru saja ingin menyapa si pembuka pintu, tiba-tiba bukk.....bukkk..... bukk... Sebuah tangan besar memukul wajah dan perutnya bergantian, tanpa bisa melawan.