
"Aku berangkat dulu ya", kata Nabila setelah memasukkan 2 kotak bekal kedalam sebuah tas, kemudian mengulurkan tangan hendak berpamitan pada suaminya.
Denis tidak menyambut uluran tangan itu, ia melah menarik pergelangan tangan Nabila, hingga Nabila terduduk diatas pangkuannya. Nabila hendak berdiri dengan cepat tangan Denis meraih pinggang Nabila sehingga Nabila duduk kembali ke pangkuannya.
"Temani aku sarapan dulu ya", bisik Denis ke telinga Nabila membuat bulu kuduk Nabila berdiri dan pipinya bersemu merah.
"Ini sudah siang, nanti aku terlambat", kata Nabila yang tak dihiraukan Denis membuat Nabila sebal.
"Diamlah!", perintah Denis membuat Nabila mengurungkan niatnya untuk membuka mulutnya kembali.
Nabila sedikit memutar kepalanya ke arah Denis, kemudian cup.... cup.... Nabila mencium pipi Denis bergantian. Denis yang kaget mengendurkan pelukannya, sehingga Nabila bisa berdiri.
Nabila segera menyahut tasnya, dan bergegas keluar. " Dahhhh..... Assalamu'alaykum", sambil melambaikan tangan ke suaminya dan memasang senyum genit.
Denis menyahuti salam sambil masih mengelus-elus pipinya. Sesekali dia tersenyum sendiri sambil meneruskan makannya. "Gadis tengil....kapan aku bisa memakannya", ucap Denis dalam hati sambil memejamkan mata membayangkan wajah istrinya.
" Shittt...... Sejak kapan aku tergila-gila padanya, ahhh sialan", ucapnya lirih sambil mengusap mukanya dengan kedua telapak tangannya.
*********
Nabila masih menunggu taksi di depan gedung apartemen, sudah beberapa menit namun taksi belum kunjung ada yang menghampirinya. Hingga tiba-tiba sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depannya.
Dua orang pria berbadan besar keluar dari mobil itu dan mendekatinya. Tiba-tiba mereka menarik dan mendorong Nabila ke dalam mobil yang didalamnya sudah ada sopir yang langsung melajukan mobil. Nabila berusaha melawan namun tubuhnya yang mungil tak bisa mengimbangi tenaga laki-laki tersebut.
Nabila mencoba berteriak minta tolong.
"Diamlah nona! atau kami akan bertindak kasar jika anda tidak bisa tenang", teriak salah satu pria itu. Akhirnya membuat Nabila berhenti berteriak minta tolong.
"Siapa kalian? Dan apa yang kalian inginkan?", tanya Nabila namun mereka semua tidak ada yang menjawab.
Salah satu dari mereka tiba-tiba menutup mata Nabila dengan sehelai kain. Dia hendak melepaskannya, namun dengan cepat pria lainnya menari kedua tangan Nabila dan mengikatnya ke belakang.
" Cari alat komunikasinya dan berikan kepadaku", terdengar suara salah satu pria itu berbicara.
Tak sulit untuk menemukan ponsel Nabila di dalam tas. setelah ketemu, salah satu pria itu membuka tutup ponsel, melepaskan dan mengambil memori dan SIM card didalamnya kemudian membuang ponsel itu lewat jendela mobil.
__ADS_1
Tak berapa lama mobil berhenti di sebuah bangunan rumah tua, disebuah perkampungan yang jarang penduduknya. Rumah itu nampak lama tidak terurus, terlihat dari tingginya rumput dan tanaman liar yang ada di sana.
Mereka mengeluarkan Nabila dari dalam mobil dan membawanya ke sebuah ruangan. Di dalam ruangan itu penutup mata Nabila dan ikatannya dilepas kemudian dibiarkan sendirian diruangan yang terkunci dari luar.
Nabila menyisiri ruangan itu mencoba mencari celah untuk dia bisa kabur. Tapi hasilnya Nihil. Tapi dia tidak menyerah. Dia terus berpikir untuk bisa segera pergi dari tempat itu.
*******
Denis melihat jam tangannya, 30 menit lagi waktu istirahat makan siang selesai, namun istrinya belum juga muncul membawakannya bekal makan siangnya. Biasanya Nabila datang ke ruangan Denis membawa bekal makan siang tepat waktu.
Denis pun menghubungi Arsyad untuk memintanya mengambilkan bekal makan siangnya di ruangan kerja Nabila.
Tak lama kemudian Arsyad masuk ke ruangan Denis, tp tanpa membawa bekal seperti yang diminta Denis.
"Nona Nabila, hari ini tidak datang ke kantor tuan. Dari absensi hari ini juga tidak ada info kenapa nona tidak masuk kantor", kata Arsyad.
Denis kaget dengan info yang dibawa asistennya, jelas-jelas tadi dia berpamitan berangkat ke kantor. Lagi pula kemanapun Nabila pergi pasti dia akan minta izin, bahkan untuk turun ke lantai bawah mengambil orderan makanan saja ia akan minta izin. Pikiran Denis nampak tak tenang.
Ia segera menghubungi no ponsel istrinya, tapi hpnya tidak aktif.
Tak berapa lama, Fendi tiba di ruangannya. Ia menceritakan perihal menghilangnya Nabila dan meminta adik iparnya mencari tau informasi ke rumahnya atau ke siapapun yang mungkin mengetahui dimana istrinya berada.
Fendi berusaha menghubungi mami dan karyawati kedai kakaknya, tapi tak satupun yang tau keberadaan kakaknya. Pikiran Denis semakin tak tenang, ia segera mengajak Fendi pergi untuk mencari informasi mengenai istrinya itu.
*******
Nabila masih tidak menyerah untuk mencari celah pergi dari tempat itu. Dia telah menghabiskan 2 kotak bekal nasi yang ada di tasnya untuk mengisi tenaga agar ia bisa lari dari tempat itu, meski dia tahu itu tidaklah mudah.
Badannya yang letih membuatnya hampir tertidur, namun kantuk itu tiba-tiba hilang ketika ada yang membuka pintu kamar itu. Nabila melihat ke arah pintu ada dua laki-laki yang menculiknya dan dibelakangnya seorang wanita memakai kacamata yang tak asing baginya. "Vanya", ucapnya dalam hati dengan yakin.
Vanya melepas kacamatanya dan berjalan ke arah Nabila yang sudah berdiri dari duduknya. Ia mengangkat dagu Nabila dan mencengkramnya. " Hai p******, apa kau masih bisa bicara sombong sekarang ha..ha...ha...", ejek Vanya dengan sombong.
Nabila menarik tangan Vanya hingga akhirnya cengkeraman itu terlepas.
"Kau pilih mau kubuat gila atau mati perlahan hemm??", ucap Vanya dengan penekanan kemudian diikuti tertawanya yang keras. Nabila hanya diam saja tak menjawab.
__ADS_1
"Jawab go****!"Perintah Vanya diikuti satu tamparan yang cukup keras hingga tampak ujung bibir Nabila berdarah.
"Kau melakukan ini demi mendapatkan suamiku? Apa kau yakin dia akan mau denganmu jika ia tau kelakuan tak beradabmu hah? " Ucap Nabila tak kalah pedas.
Tiba-tiba Vanya menginjak kaki Nabila dengan gak sepatunya yang membuat Nabila berteriak kesakitan. "Kurang ajar kau, tunggulah kejutan dariku, kau tak akan pernah bisa melupakannya hahahaha", teriak Vanya sambil berjalan keluar ruangan itu.
Sebelum meninggalkan rumah itu Vanya berkata kepada pria suruhannya, "Jaga dia, jangan sampai lepas! Kalian kuijinkan untuk bersenang-senang dengan dia".
Dua pria itu mengangguk. Salah satunya berkata, " Tentu nona muda, kami tak akan menyia-nyiakan wanita secantik itu".
Vanya refleks menendang tulang kering pria yang berbicara itu. "Hhhhh jangan bilang dia cantik. Aku jauh lebih cantik dari dia, paham! "
"I_iya nona, Maaf", kata pria itu sambil menelangkupkan kedua telapak tangannya.
Waktu sudah lewat tengah malam, Nabila pun akhirnya terlelap dilantai yang dingin tanpa alas tidur. Dua pria itu masuk ke ruangan dimana Nabila berada.
Mereka mendekati Nabila. Salah satu mulai menmbelai pipi Nabila, kemudian berlanjut kebibirnya. Nabila yang merasa ada yang memegangnya, akhirnya terbangun. Ia sangat terkejut mendapati dua pria asing dihadapannya dengan tatapan yang sangat menakutkan.
Ia langsung duduk dan menggeser badannya kebelakang, tapi pria-pria itu semakin mendekat. "Mau apa kalian, pergi!" Teriak Nabila tetapi pria-pria itu tidak mempedulikannya dan malah semakin mendekat.
Satu pria memegangi tangan Nabila kebelakang. Sedangkan yang satu mulai membuka kerudung Nabila. Nabila berteriak minta tolong sambil memanggil-manggil nama suaminya. Airmata pun mulai jatuh membasahi pipinya.
"Denis.... Denis.... tolong aku... Hiks.. hiks... Denis....Denis....aku tidak mau. Pergi kalian pria brengsek", Nabila mengucapkan kata-kata itu berulang-ulang sambil mencoba sekuat tenaga melepaskan diri.
Pria itu mulai menciumi rambut Nabila, kemudian menelusuri wajah dan leher Nabila dengan jari-jarinya. Mereka berusaha melepas blazer yang dipakai Nabila yang berusaha meronta.
Blazer itupun akhirnya terlepas. Hingga Nampak Nabila mengenakan blouse tanpa lengan yang memperlihatkan kulit putihnya, membuat pria itu semakin menggila, ia mencoba menyingkap rok Nabila yang ternyata di dalamnya dilapisi celana panjang. Nabila terus menjerit meminta tolong dan memanggil-manggil nama suaminya.
Pria itu hanya tertawa mendengar teriakan Nabila. Dia menciumi lengan dan pundak Nabila. Nabila sangat ketakutan dan terus menangis.
_____________
selamat lebaran ya🙂
ditunggu like, komen, dan votenya ya ^_^
__ADS_1