
"Jika papa tahu, siapa ayah dari anak ini, pasti papa akan membunuhnya dan memintaku menggugurkan anak ini, Tante. Aku nggak mau", kata Jenica dengan tangis yang pecah. Mama Denis pun memilih untuk memeluknya.
"Memangnya kenapa?" Tanya mama Denis.
"Dia adalah pengawal aku, tante. Dan sekarang dia di Jepang sedang menjalani hukuman dari papa karena ketahuan menjalin hubungan denganku. Jika papa tau aku hamil anak Roy, pasti papa akan membunuhnya dan aku akan kehilangan anak ini", kata Jenica
"Aku meminta Denis bertanggung jawab, untuk menyelamatkan anak ini. Jika papa tau anak ini adalah anak Denis, papa pasti masih bisa menerima", kata Jenica sembari melepas pelukannya dan melihat ke arah Denis.
"Bukankah Roy, pria yang menjadi selingkuhanmu ketika dulu kita masih menjalin hubungan?" Tanya Denis. Jenica hanya menunduk malu mendengarkan pertanyaan Denis.
"Gila kamu, Jen. Cari api!" Kata Denis.
"Denis!" Bentak mama Denis.
"Terus kamu mau apa, Jen? Lambat laun papamu pasti tau kamu hamil", kata papa Denis.
Jenica menggelengkan kepalanya pelan, " Aku nggak tau harus apa, om. Aku hanya ingin anak ini selamat. Aku nggak mau jika papa memintaku mengaborsinya".
"Kalau begitu, kamu tinggal disini saja, sampai situasi mereda atau sampai melahirkan", kata Mama Denis. "Ya, Pa?" Mama Denis meminta persetujuan suaminya dan dikabulkan.
"Dan kamu tidak perlu khawatir, karena omm akan menanggung biaya hidupmu selama disini. Dan juga akan membantumu menghindari anak-anak buah dari papamu.", kata papa Denis.
"Beneran omm, tante?" Jenica bergantian melihat mama dan papa Denis. Secara bersamaan kedua orang tua itu menganggukkan kepalanya. Jenica tampak bahagia dengan apa yang ia dapatkan.
Beberapa saat, tiba-tiba Jenica bangkit, dan tanpa izin yang lain iya berlari menuju kamar mandi yang ada di dekat ruang keluarga. Terdengar suara wanita itu sedang mengeluarkan isi perutnya.
Mama Denis yang semula akan menyusulnya, mengurungkan niatnya, tatkala sang menantu meminta izin kepadanya agar dia saja yang menyusul Jenica.
Nabila masuk ke dalam kamar mandi yang pintunya tidak tertutup sempurna. "Kamu nggak apa-apa Jen?" Tanya Nabila sembari memijat lembut tengkuk Jenica.
Jenica menggelengkan kepalanya, kemudian membasuh mulutnya dengan air dari kran wastafel. Wanita itu membalik badannya menghadap Nabila.
"Maafkan aku, Nab", kata Jenica dan hanya di balas senyum oleh Nabila.
"Sudah enakan?" Tanya Nabila.
"He'emm", Kata Jenica sembari menganggukkan kepalanya, namun kondisi wajah dan tubuhnya tak seperti yang ia katakan. Wajah perempuan itu nampak pucat dan tubuhnya gemetar.
"Sepertinya kamu tidak baik-baik saja. Biar aku antar duduk kembali", kata Nabila, yang kemudian menggandeng Jenica keluar dari kamar mandi.
"Kamu tidak apa-apa, sayang?" Tanya mama Denis, yang kemudian membantu Jenica duduk.
Jenica tersenyum tipis. "Sudah biasa seperti ini, tiap pagi, tan", katanya.
"Aku buatkan jahe hangat ya Jen, biar lebih nyaman perutnya", kata Nabila. Tanpa menunggu jawaban dari Jenica, ia bergegas menuju dapur.
__ADS_1
"Kasihan kamu sayang, harus menghadapi ini sendirian", kata mama Denis sambil mengelus kepala Jenica dengan sayang.
"Kamu jadi tinggal disini kan Jen? Supaya ada yang merawatmu", kata Papa Denis.
"Iya omm", jawab Jenica.
"Nanti biar omm minta orang, ngambil barang-barangnya ke apartemen", kata Papa Denis.
Tak berapa lama kemudian, Nabila sudah kembali membawa nampan berisi beberapa cangkir minuman. " Minumlah, biar perutmu nyaman", kata Nabila sambil menyodorkan minuman kepada Jenica.
Nabila juga memberikan minuman kepada semua orang yang ada di ruangan itu. "Sayang, minumlah agar pikiranmu tenang", kata Nabila sambil menyodorkan teh hijau pada suaminya.
"Terimakasih, sayang", kata Denis menerima cangkir yang disodorkan padanya. Seulas senyum ia berikan kepada istrinya.
"Kamu sangat beruntung, Nis. Punya istri seperti Nabila. Papa harap kamu menjaganya dengan baik. Jika kamu menyakitinya, kamu akan berhadapan dengan papa", kata papa Denis.
"Kok papa malah lebih galak ke anaknya sendiri", ucap Denis. Laki-laki itu kemudian melingkarkan tangannya ke pinggang istri yang ada di sampingnya dan menyandarkan kepalanya di pundak istrinya itu.
"Kamu itu memang pantas digalakin, Nis. Bukan hanya papa saja yang akan kamu hadapi, tapi mama juga, jika sampai ada apa-apa dengan menantu mama", kata mama Denis.
"Iya ma, pa. Denis janji akan selalu membahagiakan Nabila", kata Denis yang makin mengeratkan pelukannya.
"Nis, besok mama sama papa mau berangkat ke Jerman. Papa sdh waktunya berobat lagi. Tolong, kamu sama Nabila yang gantikan mama sementara buat jagain Jen, ya! "Kata mama Denis.
"Kan ada banyak pembantu disini, ma. Kok kita yang harus nemenin?" Kata Denis.
"Lihat, istrimu saja nggak keberatan bantu mama. Kok kamu malah yang enggan", kata mama Denis.
"Iya...Iya... Denis bantu", kata Denis dengan tampang kesalnya.
"Ayo sayang, kita pulang? Nadira dan papi pasti nunggu kita", kata Denis sambil berdiri dari duduknya.
"Nadira? Nadira anaknya omm Dahlan? Terus siapa yang kamu sebut papi, Nis?" Tanya Mama Denis.
Denis tersenyum sekilas ke arah Nabila. "Omm Dahlan ma, omm Dahlan itu papi kandung Nabila", kata Denis.
"Kok bisa?", sahut Papa Denis.
"Kapan-kapan kita ceritakan, pa. Sekarang kita mau balik ke Rumah Sakit dulu, karena kemarin papi kena serangan jantung", kata Denis.
"Terus, bagaimana kondisinya sekarang?" Tanya papa Denis lagi.
"Terakhir kami tinggal tadi, masih belum sadar, pa", kata Denis.
Setelah berpamitan pada kedua orang tuanya, Nabila dan Denis berniat untuk kembali ke Rumah Sakit, namun ditengah perjalanan, Nadira menelpon bahwa selepas kepulangan Nabila, papinya sadarkan diri. Dan saat itu juga langsung di bawa ke Singapura.
__ADS_1
"Kita langsung pulang, sayang?Nggak mau mampir kemana-mana?atau masih mau nyari es teler yang semalam?" Tanya Denis pada istrinya.
"Kita pulang saja, mas. Aku sangat lelah. Gak tau kenapa akhir-akhir ini badanku sering capek banget tiba-tiba, padahal nggak ngapa-ngapain", kata Nabila yang kini menyandarkan punggungnya ke bangku mobil dengan santai.
"Ya sudah, kita pulang saja kalau begitu", kata Denis dan diberi anggukan oleh istrinya.
Setelah beberapa lama hening di dalam mobil, Denis memulai pembicaraan kembali. "Kamu sekarang nggak pernah minta antar terapi, sayang?" Tanya Denis.
Nabila menoleh ke arah suaminya. "Terakhir kesana, dokter bilang sudah bagus semua, mas. Jadi aku nggak lanjut lagi. Tinggal berdoa aja semoga Allah segera ngasih", kata Nabila dengan senyum tipis yang menghiasi wajahnya.
"Bukan hanya berdoa sayang, tapi harus lembur buatnya", kata Denis dengan diikuti senyum licik.
"Auww", sakit sayang teriak Denis diikuti suara tawa karena cubitan Nabila yang menyasar pinggangnya.
"Habisnya kamu nakal", kata Nabila sambil memonyongkan bibirnya.
"Nakal gimana? Memang kita harus bekerja keras, lembur-lembur sayang, biar cepat jadi adonannya", kata Denis sambil menaik turunkan alisnya.
"Hmmm....udah deh, makin ngelantur aja kamu mas", kata Nabila yang kemudian memilih untuk memejamkan mata.
Sampai kendaraan yang mereka tumpangi memasuki halaman tempat tinggal mereka dan mesinnya berhenti, Nabila masih nampak tidur lelap.
Hal itu membuat Denis kasihan untuk membangunkannya. Sehingga pria itu memilih menggendong istrinya masuk ke rumah.
Denis meletakkan dengan hati-hati tubuh istrinya di atas tempat tidur dan memberikan kecupan dikeningnya dengan lembut sebelum meninggalkannya untuk mandi, karena di Rumah Sakit tadi ia belum sempat membersihkan diri.
"Sayang, kamu sudah bangun", ucap Denis yang baru keluar dari kamar mandi, melihat istrinya sudah membuka mata.
Pria itu mendekati istrinya dan kembali memberikan kecupan di kening perempuan itu.
"Mau dipesankan makanan apa, untuk makan siang, sayangku?", tanya Denis.
Nabila menggelengkan kepalanya, kemudian memeluk punggang suaminya yang duduk di pinggiran tempat tidur.
Dengan sayang, Denis membelai kepala Nabila yang baru saja dilepas hijabnya. Kemudian menaikkan kedua kakinya diatas tempat tempat tidur dan merebahkan dirinya, sehingga kini tubuhnya sejajar dengan istrinya dengan jarak yang begitu dekat.
"Sayang, terimakasih atas semuanya", kata Denis sambil menyelipkan rambut Nabila ke belakang telinganya. Mata mereka saling mengunci.
Perlahan Denis mendekatkan bibirnya ke telinga Nabila dan berbisik, "I love you". Kemudian, memberikan ciuman hangat di bibir istrinya yang mungil.
Dengan tubuh yang saling memeluk erat. Ciuman yang lembut itu berubah menjadi panas, memanaskan suasana kamar tidur yang beberapa hari ini mendingin karena pertengkaran mereka.
******
**Seperti yang sudah author bilang, bahwa novel ini sudah masuk bab - bab terakhir. Tapi insya Allah author sudah siapkan novel baru, yang akan akan diterbitkan menjelang novel ini benar-benar selesai.
__ADS_1
Maaf jika akhir-akhir ini sering telat up nya, karena RL yang memang harus diprioritaskan. Juga author berusaha memberikan tulisan yang tidak pendek tiap bab nya, tidak kurang dari 1000 kata, agar tidak mengecewakan pembaca, sehingga akhirnya harus menunda terbit jika belum memenuhi standart jumlah kata yang author target🙏**