Menunggu Cintamu Berkembang

Menunggu Cintamu Berkembang
Nyonya Boss


__ADS_3

Nabila baru saja keluar dari area pemakaman. Tadi setelah sholat subuh, dia diam-diam meninggalkan rumah maminya. Ia pergi ke pemakaman maminya yang jaraknya belasan km dari tempat ia menginap, menggunakan angkutan umum.


Badan yang sudah tak bisa tegak dengan wajah yang pucat, menandakan ia sedang tak baik-baik saja. Wanita itu memilih untuk duduk di tepian pot besar yang hanya terisi tanah kering yang telah memadat, yang ada di sebelah kanan luar pintu masuk pemakaman.


Sesekali Nabila memejamkan matanya untuk menahan sinar matahari pagi yang menyoroti wajahnya. Keringat dingin mulai membasahi beberapa bagian tubuhnya. Namun, wanita itu masih mencoba bertahan untuk tidak tumbang, meski kelelahan menerpanya.


"Mbak Nabila", sapa seorang wanita yang mengendarai sepeda motor dan berhenti di dekat posisi Nabila.


Wanita itu kemudian memundurkan sepeda motornya, tanpa turun dari kendaraan itu, agar bisa lebih dekat dengan tempat Nabila duduk sekarang.


Nabila hanya melihat saja tingkah wanita dihadapanya itu. Dia belum tau siapa wanita yang ada di hadapannya itu karena wajah wanita itu masih tertutup kaca helm.


"Lisa", ucap Nabila dengan lemah, tatkala Lisa telah membuka helmnya, setelah turun dari sepeda motor yang tadi ia kendarai sambil memasang senyum manis ke arah Nabila.


"Mbak Nabila ngapain disini?" Tanya Lisa sambil berjalan mendekati Nabila. Namun, hanya dijawab Nabila dengan senyuman.


Lisa menyodorkan tangannya kepada Nabila, yang kemudian disambut oleh tangan kanan Nabila. Mereka menyempurnakan salaman, diiringi senyum tipis dari wajah keduanya.


"Tangan mbak Nabila dingin banget. Mbak Nabila nggak apa-apa?" Tanya Lisa sambil mengamati ekspresi Nabila.


"Muka mbak juga kelihatan pucat", kata Lisa lagi. Seketika bulu kuduk wanita itu berdiri. Dilihatnya kembali Nabila yang hanya diam, dari atas sampai ke bawah dengan penasaran.


"Kamu mbak Nabila benerankan? Bukan hantunya?" Tanya Lisa ragu.


Tentu saja pertanyaan Lisa yang lucu itu, membuat Nabila ingin tertawa. Namun apa daya, ia tak punya tenaga, sehingga hanya memunculkan senyum tipis di wajah wanita itu.


"Iya, aku Nabila, bukan hantu", jawab Nabila.


"Terus, mbak Nabila kesini ngapain?" Tanya Lisa lagi.


"Aku habis ke makam mamiku", jawab Nabila.


"Mbak Nabila sama siapa? Mbak Nabila sakit, ya, kok pucat sekali?" Lisa memberikan pertanyaan beruntun kepada Nabila. Namun, Nabila hanya menjawab dengan anggukan, tanpa berkata apa-apa.


"Bentar mbak", kata Lisa yang kemudian melangkah pergi menuju sepeda motornya diparkir.

__ADS_1


Lisa kembali mendekati Nabila dengan membawa sebotol air mineral. Wanita itu membuka tutup botol minuman itu, kemudian menyodorkannya kepada Nabila. "Diminum dulu, Mbak!" Ucapnya.


Nabila menerima air minum itu dan meneguknya perlahan, hingga tinggal separuh isinya. "Makasih ya, Lis", ucap Nabila sambil memberikan kembali botol minuman tadi kepada Lisa.


"Sama-sama, mbak", kata Lisa, sambil merapatkan tutup botol air minum yang belum tertutup rapat.


"Mbak Nabila sekarang mau kemana?" Tanya Lisa lagi.


Nabila menggelengkan kepalanya. "Entahlah", jawab Nabila singkat.


Sejenak suasana hening. Hingga Lisa membuka mulutnya lagi. "Mbak Nabila mau ketempat saya?" Tawar Lisa.


Nabila yang tadi menunduk, kini mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Lisa. Sejenak wanita itu nampak berfikir, hingga kemudian memberikan anggukan kepala dengan yakin.


"Rumah saya dekat sini, mbak" Lisa memberitahu Nabila, sambil membantu Nabila berjalan mendekati sepeda motornya.


Setelah Nabila naik ke sepeda motornya, Lisa segera menyalakan mesin sepeda motornya dan menjalankan sepeda motor itu menuju rumahnya.


Benar memang, jarak rumah Lisa dan pemakaman memang tidak jauh. Rumah Lisa terletak sekitar 200m dari pemakaman, masuk gang kecil dengan kondisi padat penduduk.


"Wa'alaikumsalam", jawab seorang wanita paruh baya dengan celemek menutupi tubuh bagian depannya. "Sudah pulang, nduk", kata wanita itu pada Lisa.


"Mbak, sini!" Lisa melambaikan tangannya pada Nabila yang masih berdiri di pintu warung, agar istri bossnya itu mendekat.


Suara Lisa, membuat ibunya tertarik untuk menoleh ke belakang, tempat Lisa dan Nabila berdiri. Seketika wajah wanita itu tersenyum tipis, "siapa, nduk?" Ibu Lisa memandang Lisa, minta penjelasan.


"Ini Mbak Nabila, buk. Istrinya Tuan Denis, boss di perusahaan Lisa bekerja", kata Lisa sambil tersenyum ke arah Nabila.


"Ya Allah, istri boss kok tiba-tiba main kesini. Mimpi apa saya semalam, ya", ujar Ibu Lisa. Wanita itu lalu berjalan mendekat ke arah Nabila, begitu juga Nabila mendekat ke arah Ibu Lisa.


Nabila bersalaman dengan Ibunya Lisa dan memperkenalkan diri.


"Lis, bawa Nyonya boss ke rumah! Ibu siapkan dulu nasi uduk buat sarapannya", ucap Ibunya Lisa.


Lisa mengajak Nabila pergi ke rumahnya, yang terletak di sebelah warung. Baru sebentar Nabila duduk, Ibunya Lisa sudah datang membawa sepiring nasi uduk dengan lauk pauknya.

__ADS_1


"Silahkan dimakan nyonya boss! Maaf, saya tinggal dulu, masih ada pembeli", ucap Ibunya Lisa. Wanita itu pergi buru-buru, tepat setelah Nabila mengucapkan terimakasih.


Nabila makan dengan lahapnya, karena memang dari kemarin belum ada nasi yang mampir ke organ pencernaannya. Apalagi memang selama dia hamil nafsu makannya banyak, bahkan dia tak mengalami gejala morning sickness karena justru suaminya yang mengalami mual dan muntah setiap pagi.


"Mbak, saya hubungi kantor ya, biar Tuan Denis tau kalau Mbak Nabila di sini baik-baik saja?" Kata Lisa, sesaat setelah ia mendudukkan dirinya di kursi di hadapan Nabila.


Nabila menggelengkan kepalanya yang masih tertunduk. Kemudian, mengangkat kepalanya menatap Lisa. "Jangan! Aku ingin menenangkan diri dulu disini. Bolehkan aku sementara disini?" Tanya Nabila dan Lisa hanya mengangguk.


Meski duka masih belum hilang darinya, Nabila mencoba untuk menetralkan pikir dan perasaannya, karena dia tahu bayinya akan baik jika pikir dan perasaannya membaik. Meski ada ganjalan yang belum bisa ia selesaikan.


Untuk itu Nabila menurut ketika Lisa memintanya untuk beristirahat. Ia memejamkan matanya yang masih nampak sembab itu, dengan iringan bacaan ayat suci yang terdengar dari speaker kecil di kamar Lisa.


Tiga jam terbang ke alam mimpi, memang tidaklah cukup untuk menggantikan waktu tidurnya yang semalaman hilang berjam-jam, namun Nabila memaksa untuk bangkit dari tempat tidur berukuran 160 x 200 cm itu. Karena dia sadar dia sekarang ada dimana, sehingga tak boleh malas-malasan.


Setelah Lisa yang akan berangkat kuliah, memberi tahu letak kamar mandi yang baru saja ditanyakan Nabila, Nabila segera berjalan menuju kesana. Ia menutup pintu kamar mandi yang tidak cukup besar itu, sesaat setelah masuk ke dalamnya.


Deggggg....jantung Nabila serasa mau berhenti, saat mendapati tetesan darah segar di celana dalam yang baru saja ia lepas. Ia berusaha tenang dan tidak panik.


Setelah ia menuntaskan mandinya, ia bergegas keluar dari kamar mandi. Saat hendak kembali ke kamar Lisa, Nabila berpapasan dengan ibunya Lisa.


"Bu, bisakah saya minta pembalut", kata Nabila ramah.


"Nyonya boss, sedang haid? Tunggu disini sebentar, saya ambilkan juga pakaian ganti! Ibunya Lisa hendak pergi, namun Nabila menahannya.


"Bu, saya sebenarnya sedang hamil, tapi tiba-tiba ada tetesan darah segar di celana saya. Apa itu tidak apa?" Tanya Nabila.


"Nyonya boss, ini nggak bisa dibilang nggak apa-apa. Ayo kita periksa ke bidan terdekat saja. Saya pinjam motor ke tetangga dulu", Ibunya Lisa nampak khawatir. Wanita itu dengan buru-buru keluar untuk meminjam motor ke tetangga.


_____________


**pembaca yang budiman, maaf lelet upnya, ya🙏


semoga masih setia dengan jalan ceritanya.


jangan lupa mampir ke novelku yang lain, ya😉**

__ADS_1



__ADS_2