
Clara menatap sedih ke arah mereka yang membawa pergi sahabatnya untuk selamanya.
Rahma jatuh pingsan, ia tak sanggup kehilangan anak semata wayangnya, para warga membawa Rahma ke dalam kamar.
Clara duduk di teras dengan menangis tersedu-sedu, hari ini ia benar-benar kehilangan sahabat seperjuangannya.
"Nak Clara" seorang nenek-nenek yang usianya sekitar 80 tahunan duduk di samping Clara.
Clara mendongak menatap wajahnya nenek yang lagi tersenyum manis ke arahnya.
"Nenek, nenek kenapa Jia tega ninggalin Clara, kenapa dia gak bilang apa-apa sebelumnya kalau ada orang jahat yang mengintai nyawanya" tangis Clara menghambur ke dalam pelukan nek Sumbi yang merupakan nenek Jia, beliau juga adalah orang yang selama ini merawat Jia ketika orang tua Jia berada di Malaysia.
"Jia memang gak pernah cerita apa-apa sama nenek, nenek juga terkejut dengar dia di temukan meninggal dunia" nek Sumbi mengusap punggung Clara yang bergetar, di sini Clara juga sama-sama terpukul karena kehilangan Jia.
Clara menangis kejer, dalam pelukan nek Sumbi ia bisa menumpahkan segala kesedihannya.
Nek Sumbi membiarkan Clara menangis hingga puas di dalam pelukannya.
"Nak Clara jangan nangis lagi, Jia sekarang sudah tenang di alam sana, kamu harus bisa ikhlasin dia" dengan air mata yang sesekali mengalir Clara mengangkat wajahnya.
Kepala Clara mengangguk."Clara akan berusaha ikhlasin Jia nek, Clara juga akan cari tau siapa orang jahat yang sudah bunuh Jia, Jia bilang dia ada di sekolahan yang sama dengan Clara, Clara akan berusaha tangkap dia!"
"Nenek berharap kamu bisa tangkap dia" nek Sumbi memiliki harapan besar terhadap Clara, ia berdoa semoga Clara bisa menangkap pelakunya.
"Nenek Clara mau nanya, apa dari dulu Jia jadi anak introvert?" nek Sumbi berpikir keras, ia mulai mengingat-ingat sejak kapan cucunya berubah menjadi anak introvert yang sangat tidak suka keramaian.
__ADS_1
"Kayaknya dulu Jia sama kayak anak-anak pada umumnya, dia berubah ketika masuk sekolah menengah atas, dari situlah dia jarang bicara dan jadi anak pendiam"
"Apa yang bikin Jia jadi anak introvert nek, apa nenek tau?" Clara berusaha mencari tau satu persatu informasi yang sebelumnya tak pernah ia ketahui melalui nek Sumbi.
"Nenek kurang tau nak Clara, soalnya Jia gak pernah cerita apa-apa sama nenek, nenek juga gak nanya kenapa dia berubah kayak gitu" Clara menghela nafas berat, nek Sumbi yang selama ini merawat dan membesarkan Jia saja tak tau alasan mengapa Jia menjadi anak introvert apalagi dia yang baru kemarin mengenal Jia.
"Jia memang gak pernah cerita apa-apa sama nenek, tapi dia selalu nulis sesuatu di buku, gak tau apa yang dia tulis" mata Clara langsung berbinar-binar.
"Buku apa itu nek, apa bukunya masih ada?"
"Ada, bukunya masih ada, sebentar nenek ambilkan dulu buku itu" Clara mengangguk senang, dalam hatinya dia berharap bahwa dia bisa mendapatkan sesuatu dari buku itu.
Nek Sumbi melangkah masuk ke dalam rumah, ia mengambil buku tebal yang biasa Jia tulis, baik itu pagi, siang, sore maupun malam.
Clara mengambil buku itu, ia mengamati buku itu dengan seksama, Clara membuka halaman pertama di buku itu, ia dapat melihat goresan demi goresan pena yang menyusun kata-kata indah dan penuh makna tersirat.
"Story of my life" Clara membaca judul buku yang di tulis langsung oleh almarhumah sahabatnya.
"Ini kayaknya kisah kehidupan Jia, aku harus baca buku ini sampai tuntas, aku yakin di dalam buku ini terdapat nama orang yang sudah membunuh Jia" batin Clara memegang kuat buku tersebut.
"Nek Clara mau nyimpan buku ini boleh, soalnya Clara mau cari tau siapa tersangkanya dari buku ini" Clara meminta izin terlebih dahulu pada nek Sumbi, begini-begini juga nek Sumbi merupakan nenek Jia.
"Boleh, kamu bawa saja buku itu, cari sampai dapat, kalau kamu ketemu pelakunya, kasih tau nenek, nenek ingin tau siapa yang tega bunuh cucu nenek" Clara mengangguk cepat, pasti dia akan melakukannya, malahan dia tidak akan berhenti sampai pelakunya mendekam di jeruji besi.
"Baik nek, Clara akan langsung kasih tau nenek kalau Clara sudah berhasil tangkap dia, Clara pamit pulang dulu nek, Clara gak bisa lama-lama berada di sini" pamit Clara pada nek Sumbi yang merupakan satu-satunya orang yang ia kenali di sana.
__ADS_1
"Hati-hati nak Clara, jangan lupa main ke sini meski sudah gak ada Jia" Clara mengangguk sambil tersenyum menutupi kesedihan.
"Iya nek, Clara pasti akan main ke sini lagi kalau ada waktu kosong, Clara pamit pulang dulu nek assalamualaikum" Clara menyalami punggung tangan nek Sumbi.
"Wa'alaikum salam, hati-hati nak Clara" perintah nek Sumbi yang amat khawatir pada Clara.
Clara mengangguk dengan di iringi senyuman, kakinya melangkah meninggalkan rumah Jia, Clara mendekati mobil yang masih terparkir di depan rumah milik orang keturunan Chinese.
"Ayo mang kita pulang" mang Ujang langsung bangkit dari duduk, sedari tadi mang Ujang menunggu Clara di sana.
"Baik non" mang Ujang membawa Clara pergi dari gang kecil itu.
Di perjalanan Clara menatap buku yang berisi perjalanan hidup Jia yang mengundang misteri.
"Aku yakin sekali Jia pasti nulis semuanya di buku ini, baik itu suka maupun duka, aku juga sangat yakin nama orang yang sudah bunuh Jia pasti tertulis dengan jelas di buku ini" batin Clara yang sangat-sangat yakin.
Clara akan menyimpan buku itu baik-baik, tidak akan ia biarkan buku itu sampai hilang karena buku itu satu-satunya petunjuk yang bisa mengarah pada sang pelaku.
Mobil yang membawa Clara berhenti tepat di depan rumah, Clara masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamarnya.
Clara yang amat penasaran dengan buku itu langsung membacanya, di awal bab saja ia langsung di sambut dengan bawang dan bawang, air mata berjatuhan membaca bait-bait kata yang terdapat dalam buku tersebut.
Clara kini menyadari bahwa temannya cukup tertekan karena jauh dari kedua orang tuanya, ia yang masih memiliki kedua orang tua yang selalu berada di sisinya merasa sangat beruntung.
Clara membaca buku itu tanpa henti, setiap bab banyak menguras air mata, hanya karena membaca buku itu Clara tidak keluar kamar sama sekali, ia sangat penasaran apa saja yang menjadi rintangan di dalam hidup sahabatnya, bahkan Clara tidak sadar sama sekali kalau hari sudah berhenti menjadi gelap.
__ADS_1