Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Hasil yang tidak memuaskan


__ADS_3

"Dia masih bersembunyi Clara, tapi sebaik-baiknya dia bersembunyi, dia past akan ketahuan, kamu sabarlah, kita pasti bisa tangkap dia" sahut Steven.


Clara hanya bisa mengangguk saja, ia berharap penuh bahwa suatu saat nanti ia akan bisa menemukan pelakunya.


Angkasa menoleh ke kanan dan kiri yang sepi, keadaan taman itu berbanding terbalik dengan tadi pagi yang ramai saat masih ada jasad Dyera di sini.


"Kok taman ini sepi banget, kenapa gak ada satupun orang yang berada di sini" merasa aneh Angkasa.


"Taman ini angker, gak ada yang berani datang kemari, mangkanya taman ini jadi sepi" jawab Clara.


"Owh pantesan aja taman ini sepi banget" tampak manggut-manggut Angkasa mendengar penjelasan Clara.


"Mana sih Rev, kenapa lama banget, rapat apa yang dia bahas, kenapa sampai sekarang belum kelar-kelar juga" Clara mencari keberadaan sepupunya yang tak kunjung datang menemui mereka.


"Rapat yang mereka bahas gak jauh dari peristiwa yang terjadi hari ini, apalagi peristiwa ini di alami oleh anak kepala sekolah, pasti persoalannya akan rumit" sahut Steven.


"Hai kalian lama ya nungguin aku" sapa Rev yang mendekati mereka.


"Gimana hasil rapatnya?" penasaran Clara.


"Hasilnya benar-benar gak memuaskan" jawab Rev dengan wajah kusutnya.


"Gak memuaskan, gak memasukan gimana?" kaget mereka kompak, mereka malah tambah penasaran dengan hasil rapat tersebut.


"Iya, hasil rapatnya memang sangat-sangat gak memuaskan, aku kira pihak sekolahan akan kembali membawa kasus ini ke pihak berwajib, tapi ternyata kasus ini gak mau di usut tuntas padahal yang meninggal Dyera, tapi anehnya pihak sekolahan malah ingin menutupnya rapat-rapat" jelas Rev yang benar-benar kecewa dengan hasil rapat hari ini.


"Kok bisa pihak sekolahan gak bergerak dan malah diam aja, perasaan yang meninggal dunia itu anak kepala sekolah, masa kepala sekolah gak mau tau tentang siapa yang sudah bunuh anaknya" terkesiap Clara yang benar-benar heran dengan jalan pikiran para dewan guru.


"Itu masalahnya, kepala sekolah benar-benar gak mau membawa masalah ini ke jalur hukum, mereka malah minta kasus ini di tutup aja, alasannya karena gak mau nama baik sekolahan ini tercemar, kalau sampai di ketahui sama media, wewenang sekolahan ini yang akan di cabut" jawab Rev.


"Benar-benar gak masuk akal, cuman karena citra sekolah kepala sekolah malah gak mau bawa kasus ini ke jalur hukum, seharusnya dia bawa kasus ini biar penjahat jelas dan bisa segera di tangkap" ujar Angkasa yang kesal karena tidak ada yang memproses kasus ini ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

__ADS_1


"Tau, sekolahan benar-benar aneh, ada berita orang meninggal malah di biarin, apa maksudnya coba" sahut Steven yang juga tak terima dengan keputusan pihak sekolahan.


"Apa yang kamu bawa lagi Rev, hanya itu yang kamu bawa?" penasaran Clara.


"Aku cuman dengar kalau kemarin itu ada guru yang lihat pria berpakaian hitam-hitam yang berdiri di lantai 5 saat sekolahan tengah sepi, pria itu begitu misterius namun guru tersebut gak bisa mastiin siapa dia lantaran wajahnya di tutupi masker" jelas Rev.


"Pria hitam-hitam" Clara mengingat-ingat kembali kejadian yang pernah ia alami.


"Apa jangan-jangan pria yang mengenakan pakaian hitam-hitam itu adalah pria yang sama yang kemarin mantau rumah aku" dugaan Clara.


Rev mengerutkan alis."Emangnya ada orang misterius yang mantau rumah kamu?"


Kepala Clara mengangguk cepat."Iya, kemarin malam memang ada pria yang mengenakan pakaian serba hitam dari atas sampai bawah yang lagi mantau rumah aku, gak tau apa yang ingin dia lakukan"


"Kenapa kamu gak bilang sama aku, kenapa kamu bilang sekarang!" Rev melototkan matanya saat Clara menyembunyikan masalah ini.


"Aku sengaja gak bilang sama kamu di rumah karena aku akan bilang di sini, biar yang lain dengar" jawab Clara.


"Enggak, dia cuman liatin rumah aku aja, entah apa yang akan dia lakukan, aku jadi takut, andai aku sadar kalau dia ikuti aku sampai ke rumah, mungkin aku gak akan pulang ke rumah biar dia gak tau rumah aku" menyesal Clara.


Karena kecerobohannya sekarang musuh terbesar yang ingin ia cari telah mengetahui kekediamannya.


"Kamu sih gak hati-hati, sekarang dia sudah tau rumah kamu" omel Rev.


"Mana aku tau Rev, aku benar-benar gak tau kalau dia adalah orang yang ikutin aku dari belakang, kalau aku tau dia yang kita cari-cari, pasti aku akan coba tangkap dia" jawab Clara.


"Emang kamu bisa tangkap dia, dia itu penjahat loh bukan anak kecil, dia pasti bawa senjata tajam, gak mungkin dia cuman jalan gitu aja" timpal Rev.


"Ya walaupun aku gak bisa tangkap dia, setidaknya aku bisa lihat kayak apa mukanya, aku kan pengen tau kayak apa orang yang sudah bunuh Jia, Kayla dan Dyera" sahut Clara.


"Kata kamu kemarin saat pulang sekolah ada pria misterius yang berdiri di lantai 5, apa mungkin dia memang menjadikan sekolahan ini markasnya saat tidak ada satupun orang yang menempati sekolahan ini" firasat Angkasa.

__ADS_1


"Ku rasa iya, dia pasti berada di sekolahan ini saat semua orang udah pulang ke rumah masing-masing" sahut Steven.


"Tapi Bu Yola masih belum yakin sepenuhnya kalau itu pelakunya, dia cuman ngerasa curiga saja sama dia, karena dia yang misterius banget, bisa aja dia itu bukan pelakunya melainkan orang yang memang mau berada di sini karena ada suatu urusan" timpal Rev.


"Bisa jadi sih, kita gak bisa main nuduh orang, kalau sampai salah sangka kita juga yang akan repot" celetuk Clara.


Angkasa tiba-tiba bungkam, ia diam dengan pandangan lurus ke depan.


"Sa, kamu kenapa, kenapa kamu diam aja?" penasaran Steven dengan apa yang menjadi daya tarik Angkasa sehingga Angkasa tak fokus sama sekali.


Angkasa langsung kembali fokus."Enggak kok, gak ada apapun"


Angkasa menyembunyikan segalanya dengan seulas senyum.


"Hari ini kita gak dapat apa-apa geis, kita lanjut lagi besok, kita tunggu berita selanjutnya dari Angkasa, kamu kan mau ikutin Miranda ke rumahnya bukan?" memastikan kembali Rev.


"Iya aku akan ikutin dia sampai ke rumahnya, nanti kalau aku nemuin informasi terbaru aku akan langsung kasih tau kalian" jawab Angkasa.


"Kami tunggu informasi dari kamu" Steven punya harapan besar terhadap Angkasa.


Angkasa menganggukkan kepalanya ia akan mencari tau tentang Miranda sampai ke akar-akarnya.


"Udah waktunya istirahat nih, ayo kita ke kantin aja" ajak Rev yang di balas anggukan oleh mereka berdua tapi tidak dengan Angkasa.


"Sana kalian ke kantin aja, aku gak dulu, aku masih ada urusan" suruh Angkasa.


"Ya udah, kamu selesain urusan mu dulu, kami tunggu informasinya" perintah Rev.


"Iya" jawab Angkasa dengan di sertai senyuman manisnya.


Mereka bertiga melangkah menuju kantin meninggalkan Angkasa sendirian di tempat ini.

__ADS_1


__ADS_2