Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Prihatin


__ADS_3

"Ayo Tante om ikut saya ke ruangan di mana Gina di rawat" ajak Rev kala sudah sampai di rumah sakit.


Mereka yang cemas akan nasib Gina pun bergegas mengikuti Rev ke ruangan ICU, tempat di mana Gina di rawat saat ini.


"Di mana Gina, katanya Gina di rawat di sini?" tanya Marissa cemas.


"Itu Tante, Gina ada di dalam ruangan ICU" balas Rev menatap Gina dari kaca.


Marissa menutup mulut tak percaya, tangisnya langsung pecah ketika mendapati putrinya yang kini berada di dalam ruangan ICU dalam keadaan yang memprihatinkan.


"Gina, pa lihat Gina, itu Gina anak kita pa. Kenapa dia bisa kayak gini pa hiks hiks hiks" isak tangis Marissa.


Pertahanan Marissa hancur saat melihat dengan mata kepalanya sendiri anaknya yang kini tak berdaya pasca di celakai oleh orang jahat.


"Mama yang tenang, anak kita pasti akan baik-baik saja, Gina pasti bisa bertahan, dia gak mungkin ninggalin kita" Gunawan menenangkan Marissa yang cemas berlebihan akan kondisi Gina saat ini.


"Clara bagaimana keadaan Gina sekarang, apa kata dokter. Apa masih gak ada perubahan?" tanya Rev.


Kepala Clara menggeleng."Gak ada Rev, dokter gak bilang apa-apa lagi tentang Gina. Kondisi Gina masih sama"


Rev menghembuskan nafas berat, ia tak sanggup mendengar suara tangisan ibu Gina yang begitu menyayat hati.


"Gina, siapa yang sudah tega berbuat jahat sama kamu nak. Apa yang sudah kamu lakukan sehingga ada orang jahat seperti ini hiks hiks" tangis Marissa menatap putrinya dari balik kaca.


"Papa, mama gak terima anak kita di buat kayak gini, papa lapor polisi. Mama gak terima ada orang jahat yang udah bikin anak kita celaka seperti ini. Mama gak mau tau papa harus tangkap dia, dia gak boleh di biarin aja setelah bikin anak kita kayak gini" titah Marissa amat gedeg dan jengkel pada penjahat yang sudah membuat keadaan Gina menjadi mengkhawatirkan.


"Iya ma, papa pasti akan lapor sama pihak berwajib, papa gak akan diam aja kok" balas Gunawan.


"Om sama Tante yang tabah, kami yakin cepat atau lambat penjahatnya pasti akan ketemu. Sebenarnya ini bukan kali pertama dia membuat orang terluka separah ini. Sebelumnya sudah ada banyak orang yang dia celakain dan naasnya mereka semua sampai tutup usia dan sekarang yang dia jadikan target adalah anak om dan Tante" ujar Angkasa.

__ADS_1


Tangis Marissa makin kejer, ia pun kini di hantui rasa takut yang berlebihan.


"Kami sebagai teman Gina akan berusaha untuk mencari penjahatnya om Tante, kami tidak akan diam saja" tambah Rafael.


"Terima kasih kalian sudah mau peduli sama Gina. Om sama Tante hanya berharap kalian bisa tangkap penjahat itu, Tante benar-benar gak terima dia perlakuin anak Tante seperti ini" jawab Marissa.


"Kami pasti akan cari dia sampai ketemu Tante. kami hanya minta doanya semoga kami bisa bertahan sampai dia di tangkap" sahut Steven.


"Tante sama om pasti akan doakan kalian yang terbaik. Niat kalian udah baik, om yakin Allah pasti melindungi kalian semua" timpal Gunawan.


"Aamiin ya Allah" jawab mereka semua.


"Om sama Tante kalau mau masuk ke dalam silahkan, Gina pasti butuh semangat dari kalian berdua" ujar Rev.


"Iya, om sama Tante masuk dulu, kalian tunggulah di mari" titah Gunawan.


Gunawan dan Marissa masuk ke dalam ruangan ICU, namun sebelum itu mereka harus menggunakan masker dan juga baju yang sudah steril dan khusus di gunakan saat memasuki ruangan ICU.


Air mata ayah dan ibu Gina berjatuhan bagaikan hujan, mereka sangat tidak tega melihat banyak selang yang menancap di tubuh Gina.


Clara, Steven, Aldo, Rev, Angkasa, Bryan dan Rafael tak tega melihat kedua orang tua Gina yang begitu bersedih akan nasib Gina yang memprihatinkan.


"Kasihan banget mama sama papanya Gina, mereka pasti khawatir banget dengan keadaan Gina" ujar Clara merasakan rasa khawatir yang di alami oleh ayah dan ibu Gina.


"Tapi mau bagaimana lagi, kita hanya bisa berdoa semoga Gina cepat sembuh dan dia bisa kembali beraktivitas seperti semula" timpal Rafael.


"Semoga aja kali ini kita berhasil menyelamatkan target yang akan di habisi oleh dalangnya" harapan besar Rev.


"Eh tapi kemana Reyhan sama Aryan, kenapa mereka gak ikut kita kemari" Rafael tersadar bahwa dua temannya ada yang hilang.

__ADS_1


"Mereka lagi halau April, Shena dan Laras yang mau buntutin kita" jawab Clara.


"Buntutin kita? Kenapa mereka mau buntutin kita" terkesiap mereka.


"Mereka itu curiga sama kita, mereka punya kecurigaan kalau kita selama ini berkumpul karena ada sesuatu yang kita rencanakan dan untuk itu kita nyuruh Aryan sama Reyhan buat halau mereka, biar mereka gak ikutin kita ke gedung IPA" jelas Steven.


"Gawat, mereka udah mulai curiga, kalau kayak gini kita harus muter akal biar gak ada kecurigaan yang mendalam di hati siswa baik siswi di SMA kebangsaan pada kita semua" panik Rev lantaran adanya berita yang akan mencekik kelompoknya.


"Nah itu masalahnya, April, Shena sama Laras udah curiga sama kita, aku yakin pasti ada lagi orang yang curiga sama kita. Gimana ya kalau semisal pihak sekolahan tau kalau kita lagi berusaha buat mengungkap kasus ini" gelisah Clara memikirkan dampak yang akan mereka terima setelah ini.


Rasa cemas menghantui mereka semua, ketakutan datang secara tiba-tiba.


"Begini aja, biar tidak menimbulkan kecurigaan yang lebih dalam lagi, besok kita pencar aja. Kita kan segeng punya 9 anggota, kita pecah menjadi dua bagian. Dalam satu geng ada 4 atau gak 5 orang anggota, gimana kalian setuju gak dengan rencana aku" Aldo meminta persetujuan mereka prihal rencana yang tiba-tiba muncul di otaknya.


"Boleh juga, ide kamu itu bisa coba kita lakukan, semoga saja setelah kita pecah menjadi dua bagian, tidak akan ada orang yang curiga lagi sama kita. Kita itu harus terlihat santai dan seperti tidak lagi ngelakuin apapun. Kalau geng kita pecah jadi dua orang-orang gak akan curiga sama kita lagi. Kita jangan terlalu sering terlihat bersama biar rasa kecurigaan siswa dan siswi tidak semakin meningkat" setuju Rev.


"Kamu atur setiap anggota siapa aja, biar enak besok kita gak pusing-pusing lagi" suruh Bryan.


"Geng pertama anggotanya aku, Clara, Steven sama Aldo, selebihnya kalian berlima. Itu gak akan nimbulin kecurigaan kan, soalnya kan kalian emang udah lama bersama. Kalau semisal di antara aku, Clara, Steven sama Aldo di campur sama anggota kalian bakalan percuma karena pasti ada yang akan curiga" jawab Rev.


"Iya gak apa-apa, aku sama teman-teman ku, kalian berempat aja. Nanti kalau ada apa-apa kalian langsung hubungi kami, biar kami gak ketinggalan berita" perintah Angkasa.


"Iya, kami pasti akan lakuin itu" jawab Aldo.


"Tapi nanti ada saatnya kita bersatu namun cari tempat yang sepi dan sekiranya gak ada orang yang tau. Aku akan coba menyisir area sekolahan yang jarang di huni oleh penduduk sekolah besok" tutur Rev.


Bryan mengangguk."Kamu cari tempat yang aman buat kita kumpul dan bahas kasus ini, pastikan gak akan ada orang yang tau"


"Siap, aku pasti akan cari tempat itu" sahut Rev.

__ADS_1


__ADS_2