Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Mengikutinya dari belakang


__ADS_3

Teeet


Teeet


Teeet


Suara bel berbunyi tiga kali, menandakan bahwa sekolahan telah usia.


Beberapa hari ini murid-murid tidak ada yang belajar, tragedi yang terjadi telah membuat waktu belajar mereka terganggu.


"Gawat, bel udah berbunyi tiga kali, Miranda pasti akan pulang, aku harus cari dia sekarang" dengan panik Angkasa berlari mencari keberadaan Miranda yang akan ia selidiki.


Angkasa menerobos kerumunan anak-anak yang menghalangi jalannya, ia tidak peduli mereka kesal dengan ulahnya yang terpenting ia bisa menemukan Miranda.


Setelah keluar dari dalam sekolahan Angkasa langsung celingukan di parkiran, wajahnya panik dan tegang kala tak menemukan orang yang ia cari-cari.


"Di mana dia, kemana dia, apa dia sudah pulang?" panik Angkasa mencari-cari Miranda di tengah padatnya anak-anak yang ingin pulang ke rumah masing-masing.


"Gawat, aku kehilangan dia, dia hilang, ini semua gara-gara gadis misterius itu, dia biang keroknya, awas aja aku akan cekik dia kalau ketemu lagi sampai dia" geram Angkasa menendang tembok dengan kesalnya.


"Rencana ku gagal total hari ini, ini semua gara-gara dia, nyesel aku ikutin dia" pekik Angkasa.


Angkasa yang tidak menemukan Miranda keluar dari parkiran dengan wajahnya yang masih kesal, ia gagal untuk menyelidiki Miranda yang mencurigakan.


Angkasa menatap sekelilingnya, matanya melotot sempurna kala menatap seseorang yang masuk ke dalam sebuah mobil putih.


"Itu dia, dia masih belum pergi, aku harus ikutin dia" Angkasa dengan panik berlari menghadang taksi yang akan segera melintas.


"Pak-pak, berhenti pak!" titah Angkasa.


Taksi itu berhenti, Angkasa kemudian masuk ke dalam taksi.


"Pak tolong kejar mobil itu, jangan biarkan dia lolos" perintah Angkasa dengan wajah yang tegang lantaran takut kehilangan jejak Miranda lagi.


"Baik" supir taksi itu menjalankan perintah Angkasa, ia membuntuti mobil putih yang jaraknya lumayan jauh.


Angkasa masih di selimuti rasa tegang, hatinya berdegup kencang, hampir saja ia kehilangan target utamanya yang patut di curigai.


"Huft syukurlah dia masih bisa ku ikuti, lihat aja nanti aku pasti akan tau di mana rumah mu dan kau tidak akan bisa berkutik, aku jamin 100% kau ada kaitannya dalam masalah ini" tatapan tajam Angkasa terus tertuju pada mobil putih yang berada di depannya.

__ADS_1


"Pak kejar dia pak, jangan sampai dia lolos!" titah Angkasa.


Supir taksi itu menancap gas mengikuti main mobil yang membawa Miranda pergi, Angkasa tak bisa tenang, tubuhnya terus di selimuti rasa tegang, ia sangat khawatir kehilangan jejak mobil putih itu.


"Lebih cepat lagi pak, jangan biarkan dia pergi, cepat pepet terus!" perintah Angkasa yang melihat mobil putih itu semakin melesat cepat dan meninggalkan taksi yang ia tumpangi.


Angkasa semakin was-was saat mobil itu perlahan mulai tak terlihat lagi.


"Pak lebih cepat lagi, lihat dia semakin jauh, cepat kejar!"


Supir itu semakin menancap gas untuk mengejar mobil putih yang jaraknya cukup jauh.


Perasaan Angkasa semakin tidak tenang, ia sangat takut kehilangan jejak Miranda yang sudah susah payah ia ikuti.


"Jangan sampai di pergi pak, saya mohon kerja terus dia" gelisah Angkasa lantaran taksi yang ia tumpangi berjarak sangat jauh dari mobil Miranda.


Supir taksi itu dengan semaksimal mungkin mengejar mobil yang menjadi tujuannya.


Mobil putih terus melaju dengan kencang, sementara taksi yang membawa Angkasa terus mengejarnya dari belakang.


Tiba-tiba mobil yang berisi Angkasa di dalamnya berhenti mendadak.


"Lampu merah dek, saya gak bisa langgar lalu lintas" jawab sang supir.


Angkasa kesal, ia semakin tidak tenang, ia sangat-sangat takut kehilangan jejak Miranda.


"Kenapa pake lampu merah segala, benar-benar sial hari ini!" batin Angkasa yang remuk redam.


Mata Angkasa terus menatap pada lampu merah yang tak kunjung hijau, ia tidak bisa tenang, ia ingin kembali mengejar Miranda sebelum kehilangan jejaknya.


"Ayo cepat ganti lampu, kenapa lama banget, aku lagi buru-buru, tolong kerja samanya" batin Angkasa yang gelisah tak karuan di dalam mobil.


Lampu merah itu berganti hijau, para pengendara baik roda dua maupun roda empat kembali melajukan kendaraannya susuai dengan tujuan masing-masing.


"Pak cepat cari mobil tadi, kita harus temukan dia!" titah Angkasa yang masih berharap kalau ia bisa menemukan jejak Miranda.


Mobil taksi itu melaju dengan kencang, sepanjang perjalanan Angkasa melihat ke kanan dan kirinya, ia mencari mobil putih dengan plat nomor 3036.


"Di mana mobil itu, cepat banget ilangnya, tadi dia kemari, kenapa setelah aku berada di sini dia malah hilang" geram Angkasa yang tak kunjung menemukan mobil yang ia cari.

__ADS_1


"Dek mobil itu sudah gak ada, dia sudah pergi" ujar supir taksi yang telah gagal membawa Angkasa membututi Miranda.


"Aaaaah kenapa dia pake lolos segala, gagal kan usaha ku!" pekik Angkasa yang frustasi lantaran kehilangan jejak Miranda.


Supir taksi itu diam, ia masih terus melajukan mobilnya lurus ke depan, ia masih belum berputar arah.


"Gimana ini dek, apa kita kembali saja?" supir taksi itu meminta perintah selanjutnya dari Angkasa.


"Pu....."


Tiba-tiba ucapan Angkasa terpotong, ia menajamkan pengelihatannya.


"Itu ada apaan pak, kok banyak orang" tunjuk Angkasa pada kerumunan warga yang terletak di samping kanannya.


"Kayaknya ada kecelakaan deh dek, liat aja itu banyak polisi" dugaan pak supir.


Angkasa tampak manggut-manggut."Pak tolong anterin saya pulang, saya tinggal di jalan xxx"


"Baik dek"


Supir itu membawa mobilnya melewati kerumunan orang yang tengah penasaran pada korban yang kecelakaan hari ini, mereka takut itu merupakan sanak keluarga mereka.


"Pak berhenti pak!" titah Angkasa cepat.


Dengan cepat pak supir itu mengerem mendadak.


Angkasa dengan panik keluar dari dalam mobil dan mendekati kerumunan kala melihat sesuatu yang berhasil membuatnya tercekat.


"I-ini bukannya mobil yang tadi membawa Miranda pulang?" tercekat Angkasa menatap mobil putih yang hancur parah, khusunya di bagian depan dan samping.


"J-jadi yang kecelakaan itu...." mata Angkasa melotot dengan sempurna kala menyadari siapa yang sebenarnya kecelakaan di jalan sakura tersebut.


Dalam keadaan yang masih panik Angkasa bergegas menghubungi seseorang.


"Rev, Rev ke sini, tolong kamu ke sini, aku ada di jalan sakura, tolong kamu cepat ke sini!" perintah Angkasa dengan panik.


"Ada apa di sana, kenapa kamu nyuruh aku ke sana" ikutan tegang Rev di balik telpon.


"M-miranda kecelakaan, tolong kamu kemari, tolong bantu aku" Angkasa bingung harus minta tolong pada siapa lagi selain pada Rev yang juga merupakan ketua OSIS.

__ADS_1


__ADS_2