
"Gak mungkin" teriak Angkasa bangun dari tidur panjang.
Mata Angkasa menyisir area sekitar, yang ia temukan adalah pohon dan pohon.
Angkasa bernafas lega karena kembali ke tempat terakhir di mana ia bertemu dengan gadis misterius.
"Huft syukurlah tadi itu cuman mimpi" tak henti-hentinya Angkasa mengucap syukur.
Mimpi buruk yang datang itu telah membuat separuh nafas Angkasa berhenti berdetak, keanehan yang di tampakkan membuatnya ketakutan.
Nafas Angkasa tersengal-sengal, seperti orang habis lari maraton, mimpi buruk yang baru ia alami begitu menakutkan. Di mimpi itu Angkasa seperti layaknya orang yang sudah meninggal sehingga tak bisa berbuat apa-apa.
Teringat pada mimpi buruk membuat ketakutan kembali mendatangi Angkasa.
Bola mata Angkasa menatap sekeliling yang kosong, seorang pun tak nampak di lensa matanya, hanya Angkasa seorang satu-satunya manusia yang berada di sana.
Teriknya sinar matahari telah redup, pancaran sinar terangnya pelan-pelan mulai menghilang dan suasana hutan perlahan-lahan mulai gelap.
Keangkeran hutan satu demi satu datang menyelimuti.
Angkasa diam di tempat, mencari keberadaan seseorang yang telah berhasil membuatnya takut pada dirinya sendiri.
"Di mana gadis itu, apa lagi sembunyi?"
Tatapan mata Angkasa berusaha mencari keberadaan gadis misterius pembawa petaka, karena ulahnya Angkasa masuk ke dalam sebuah mimpi buruk yang isinya mengerikan.
Wussshhhh
Kelebat bayangan cepat melintas di dekat pohon Pinus yang berjarak 3 meter di samping kiri Angkasa.
Pahitnya ludah kembali Angkasa telan, niatnya yang ingin mencari keberadaan gadis misterius pembawa petaka terpaksa ia urungkan.
Angkasa bangkit dari duduk, kakinya melangkah meninggalkan tempat terkutuk yang membuatnya hampir mati.
Dengan pikiran kosong Angkasa berjalan, pikirannya masih tertuju pada mimpi buruk yang baru-baru ini ia lewati. Angkasa mencoba mencari tau kenapa ia tidak bisa menyentuh para siswa maupun siswi di dalam mimpinya.
Tingkat kefokusan Angkasa terus ia jatuhkan pada mimpi buruk yang tadi mendatanginya, Angkasa tak terlalu memikirkan ada apa di sekitarnya.
Kakinya hanya terus melangkah dengan pikiran yang makin lama makin bertambah kacau. Tak lama kemudian Angkasa telah sampai di sebuah tempat yang banyak sekali tenda-tenda yang di dirikan.
__ADS_1
Suara ricuh anak-anak terdengar, ia telah masuk ke dalam area yang ada kehidupan.
"Nah itu Angkasa" tunjuk Aryan pada Angkasa yang baru memasuki area camping, meski dengan tatapan kosong serta linglung.
"Ayo kita samperin" ajak Aldo.
Mereka setuju, dengan bersamaan mereka menghampiri Angkasa.
"Angkasa" teriak mereka memanggil nama Angkasa.
Dengan wajah murung Angkasa menoleh pada teman-temannya yang mendekat.
"Angkasa kamu dari mana aja, kamu ngilang kemana sih!" Omel Bryan.
Gara-gara Angkasa pergi tanpa pamit, mereka di buat kalang kabut, dalam waktu singkat Angkasa hilang tak berbekas, telah mereka cari di area sekitar camping namun nihil.
"Aku gak kemana-mana kok, tadi aku cuman cari udara seger" balas Angkasa dengan nada yang kurang bersemangat.
"Kalau cuman nyari udara seger kenapa muka kamu sampai luka-luka?" Heran Bryan sedikit curiga.
Angkasa yang tersadar langsung menyentuh luka akibat ulah sosok gadis misterius.
"Kenapa bengong, jawab pertanyaan kami!" Suruh Bryan tak sabaran.
"Tadi pas aku nyari udara seger gak sengaja jatuh, kegores jadinya. Tapi ini cuman luka kecil kok, nanti juga akan sembuh sendiri" jelas Angkasa.
Untuk sementara Angkasa akan rahasiakan apa yang terjadi padanya, kenapa dia bisa kembali membawa luka dan siapa yang sebenarnya telah membuatnya terluka.
Urusan akan tambah panjang dan rumit jika mereka mengetahui sesuatu yang ia sembunyikan.
Angkasa belum tau pasti siapa gadis misterius itu, sebelum memberitahu mereka ia akan mencari tau terlebih dahulu.
Clara mengerutkan alis, menatap intens wajah Angkasa, muncul kecurigaan di wajahnya."Kamu bener gak papa, gak ada yang kamu sembunyiin kan dari kami?"
Perubahan mood Angkasa jauh dan berbanding terbalik dengan Angkasa yang tadi mereka temui serta mereka ajak kompromi.
"Gak kok, gak ada apa-apa, aku baik-baik aja" senyum merekah di wajah Angkasa, senyum itu dapat menyelamatkan dia dari ragamnya pertanyaan serta kecurigaan.
"Kalau kayak gitu ayo kita balik ke tenda masing-masing, ini udah mau gelap" ajak Rev.
__ADS_1
Anggukan kepala mereka lakukan, mereka membubarkan diri dan kembali ke tenda masing-masing sesuai perintah.
Kegelapan menyelimuti hutan Pinus, cahaya matahari telah menghilang secara sempurna, sekarang giliran malam datang menghampiri mereka.
Di malam yang sunyi dan dingin, suara hewan-hewan kecil memecah keheningan.
Semua murid berkumpul dan duduk di batang pohon yang tumbang, mereka sesekali mengobrol, saling tukar cerita untuk mengusir keheningan.
Beda jauh dengan seorang pemuda menggunakan kaca mata, bibir tipis, hidung mancung, kulit putih, yang tetap diam ketika semua orang sibuk sendiri.
Pandangan matanya menatap lurus ke depan tanpa ekspresi.
"Kenapa mimpi buruk tadi begitu mengerikan, aku gak pernah mimpi sampai aku berperan sebagai orang mati" batin Angkasa.
Angkasa terus kepikiran akan musibah yang tadi ia alami. Untuk lepas dari mimpi serta gadis misterius begitu susah Angkasa lakukan.
"Mimpi buruk tetaplah mimpi buruk, kenapa aku harus mikirin mimpi buruk yang gak bakal jadi nyata" batin Angkasa membantah dan mencoba menyingkirkan mimpi buruk yang bersarang di benaknya.
"Tapi tadi mimpi buruk itu serasa nyata, apa yang tadi aku alami itu terlihat nyata banget" batin Angkasa.
Hal yang membuat Angkasa susah lepas dari mimpi buruk hanya karena mimpi yang ia alami terkesan nyata dan memang benar-benar adanya, tapi nyatanya itu tetap mimpi semata.
"Seumur-umur baru pertama kali aku mengalami mimpi seburuk itu. Aku yakin banget mimpi buruk itu ada kaitannya dengan gadis misterius" batin Angkasa.
"Sebelum aku bertemu dengannya aku gak pernah mimpi seburuk itu, aku yakin dia adalah awal mulanya" batin Angkasa yakin penuh.
"Sa" panggil Rafael menyadarkan Angkasa dari lamunannya.
Angkasa tersentak kaget, Angkasa seperti kembali ke dunia nyata.
"Kenapa?" Tanya Angkasa terkejut.
"Kok kamu diem aja, ada apa?" Rafael berbalik melontarkan pertanyaan.
"Gak ada apapun kok, aman-aman aja" sahut Angkasa tetap menyembunyikan problem yang ia hadapi.
"Gini ya sa, beban itu akan berat kalau di pukul sendiri, kamu cerita aja sama kami apa yang terjadi sama kamu. Kami ini teman-teman mu, masa sama teman sendiri kamu main rahasiaan" ucap Aryan masih menaruh kecurigaan walau Angkasa telah memberikan jawaban.
"Nah tumben kamu bener, kali ini aku setuju sama Aryan. Kami sedari tadi aku ngerasa ada yang aneh sama kamu, sebelumnya kamu gak pernah kayak gini, kami yakin kalau ada yang kamu sembunyiin dari kami. Kami minta kamu ceritain isi yang ada di kepala kamu sekarang" suruh Reyhan setuju dengan Aryan.
__ADS_1
Rahasia yang ingin Angkasa sembunyikan, belum apa-apa telah mereka ketahui. Sulit bagi Angkasa untuk menyimpan rahasia dari teman-teman karibnya, sedari kecil mereka bersama, mereka tumbuh dewasa bersama, untuk berbohong rasanya tak mungkin bisa.