
Rev membawa Gina masuk ke dalam mobilnya, ia langsung melesat membawa mobilnya menuju rumah sakit terdekat dengan wajah tegang sekaligus khawatir.
"Cepetan Rev, kita harus bawa Gina ke rumah sakit segera, dia harus segera di tolong, dia butuh pertolongan pertama" titah Steven khawatir terjadi apa-apa pada Gina.
Rev tak menjawab, ia terus melajukan mobil dengan sangat fokus.
Di dalam mobil Rev hanya di tumpangi oleh Clara, Steven, Aldo, dan Gina. Angkasa membawa mobil ke sekolahan, ia satu mobil dengan kawan-kawannya.
"Bryan cepetan kejar Rev, jangan sampai kita kehilangan jejak Rev, kita gak boleh sampai kehilangan mereka" suruh Angkasa dengan cemas kala mobil Rev telah melesat dengan kencang.
"Kamu tenang aja, aku pasti akan ikutin dia, tidak akan aku biarkan kita kehilangan jejak mereka" jawab Bryan dengan pandangan lurus ke depan.
Angkasa dan kawan-kawannya tidak ada yang bisa tenang, mereka gelisah, tegang dan juga cemas dengan keadaan Gina yang mengkhawatirkan.
"Semoga gak terjadi apa-apa sama Gina, semoga dia baik-baik aja, aku gak akan bisa bayangin kalau terjadi apa-apa sama Gina" gelisah Angkasa tak henti-hentinya memikirkan keadaan Gina yang parah.
"Kamu tenanglah sa, Gina pasti akan baik-baik saja, dia pasti akan selamat, aku yakin dia pasti bisa bertahan" Rafael menenangkan Angkasa yang terus menerus cemas memikirkan Gina.
Angkasa tak bisa tenang sama sekali, pikirannya berkecamuk, kejadian-kejadian terdahulu membuatnya takut untuk kehilangan orang yang di jadikan target selanjutnya oleh sang dalang.
Bryan mengejar mobil Rev tanpa henti, mobil Rev melaju kencang di jalanan, kondisi jalanan yang agak sedikit ramai membuat Bryan kesulitan untuk mengejar Rev.
Di dalam mobil Rev semua penumpang panik dan cemas, darah dari perut dan juga hidung Gina tak kunjung berhenti.
"Gina, Gina buka mata kamu, Gina aku mohon bukalah mata kamu, kamu jangan tinggalin kami, kamu harus bertahan, kamu harus bisa kuat, ada kami di sini, kami yang akan lindungi kamu Gina, kami mohon kamu jangan nyerah" Steven terus berusaha untuk membangunkan Gina yang memejamkan mata dengan kuat.
Sesekali Steven menepuk pipi Gina halus dengan harapan bahwa Gina akan kembali membuka mata.
"Lebih cepat lagi Rev, tangan Gina dingin banget, dia harus segera di bawah ke rumah sakit" perintah Aldo dengan menggosok-gosok tangan Gina yang dingin, sedingin es batu.
__ADS_1
Rev yang mendengar hal itu semakin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Aku harus bisa selamatkan Gina, aku tidak boleh biarkan dia mati di tangan dalangnya lagi, aku gak mau gagal lagi, dia harus hidup, aku harus bisa lakukan hal itu" batin Rev menancap gas tanpa henti.
Mereka yang berada di mobil tak berhenti cemas, pikiran-pikiran buruk terus berdatangan, namun mulut mereka tidak ada yang mengeluarkan suara agar siatusi tidak semakin menegang.
Rev menghentikan mobilnya telat di rumah sakit Medika Cahya, dengan panik Rev langsung keluar dari dalam mobil.
"Suster, suster tolong kami" teriak Rev keras agar para suster segera membantu mereka.
Suster-suster yang mendengar langsung berlari menghampiri mereka dengan membawa brankar.
"Tolong kami sister, tolong selamatkan teman kami, dia terluka parah" titah Steven mengendong tubuh Gina dan meletakkannya di brankar.
Suster itu tanpa menjawab langsung mendorong brankar menuju ruangan UGD.
Mereka berlari mengejar suster-suster itu yang berniat akan membawa Gina ke ruangan gawat darurat.
"Sial, dia benar-benar kurang ajar, kenapa dia bisa tau kalau Gina ada di gedung IPA, apa dia ngikutin kita ke sana" kesal Rev menendang tembok lantaran tempat persembunyian Gina di ketahui tanpa ada satupun yang menyadari.
"Apa mungkin dia emang udah ngikutin Gina dan kalau punya kesempatan dia langsung celakain Gina" dugaan Aldo.
"Licik sekali dia, dia bergerak setelah kita pergi ninggalin Gina, tau gitu kita tadi gak tinggalin Gina biar dia gak berhasil nyelakain Gina" ikut kesal Steven dengan rencana licik yang dalang itu layangkan.
Muka Rev remuk redam, emosi menjalar ke seluruh tubuhnya, Rev tak bisa diam sama sekali.
"Gimana ini, Gina udah berhasil dia celakain, aku takut banget Gina bernasib sama kayak teman-temannya" cemas Clara sebab sebelum-sebelumnya tak ada satupun yang bisa selamat dari cengkraman maut sang dalang.
"Kamu tenang dulu Clara, kita berdoa aja semoga Gina baik-baik saja, semoga kita gak telat bawa dia ke rumah sakit sehingga nyawanya masih bisa di tolong" sahut Angkasa menjadi penengah di saat kawan-kawannya tengah emosi.
__ADS_1
"Bagaimana kita bisa tenang sa, dia udah bikin Gina kayak gini, dia harus di kasih pelajaran" geram Aldo.
"Aku tau, aku tau kalian marah, tapi saat ini kita gak bisa emosi, percuma kita emosi, kita saat ini hanya bisa tunggu kabar dari dokter, kita gak bisa gegabah, ingat di sini ini rumah sakit, jaga sikap, gak cuman kita aja yang marah, kesal, sedih, cemas tapi ada banyak orang juga yang merasakan hal yang sama seperti kita" ujar Angkasa.
Rev makin frustasi, sebagai ketua OSIS ia rasanya gagal menghandle kasus ini, kekhawatiran dan penyesalan tersimpan jelas di wajahnya.
Mereka semua mondar-mandir ke sana kemari menunggu informasi dari dokter terkait keadaan Gina.
Krieet
Pintu ruangan UGD terbuka, mereka yang mendengar langsung bergegas mendekati dokter.
"Gimana keadaan teman kami dokter, dia baik-baik saja kan dok, gak ada yang terjadi sama dia kan dok?" ragam pertanyaan di ajukan oleh Rev yang gelisah tak menentu sejak tadi.
"Pasien mengalami luka cukup parah di bagian perut, luka tusuk itu sudah berhasil membuat pasien kehilangan banyak darah hingga sampai tidak sadarkan diri" jawab dokter.
Mereka terdiam sesaat, ternyata memang benar bahwa Gina sedang terluka parah dan itu gara-gara sang dalang.
"Tapi pasien baik-baik aja kan dok, dia gak kenapa-napa kan dok?" tanya Steven.
"Keadaan pasien kritis, kami akan memindahkan pasien ke ruangan ICU, pasien harus di pindahkan ke ruangan yang lebih insentif lagi" jelas dokter.
Bungkam, itulah yang terjadi di sana, mereka semua terdiam, luka yang di alami oleh Gina benar-benar parah sehingga dia harus di rawat di ruangan ICU.
"Tolong selesaikan administrasinya, baru kami akan pindahkan pasien ke ruangan ICU" titah dokter melihat mereka semua yang kacau balau.
"Baik dok, pindahkan saja ke ruangan ICU, tolong selamatkan pasien" jawab Rev.
"Kami akan melakukannya semaksimal mungkin untuk menyelamatkan pasien" sahut dokter.
__ADS_1
Rev mengangguk, ia kemudian bergegas menuju bagian administrasi untuk menyelesaikan biaya perawatan Gina agar Gina mendapatkan perawatan yang lebih memadai lagi.