
Angkasa dan kawan-kawannya pulang dari rumah Emilia, keringat-keringat bercucuran di wajah mereka yang menandakan bahwa mereka seharian ini begitu kelelahan.
"Sumpah hari ini capek banget, gak nyangka dalam 1 hari, ada dua orang mati sekaligus" ujar Reyhan.
"Ini baru permulaan, udah ada banyak nyawa yang melayang, bagaimana jika nanti psikopat itu gak di tangkap, aku yakin pasti ada banyak nyawa orang yang tumbang dalam hal ini" sahut Rafael.
"Mangkanya dari itu kita harus tangkap dia, kita jangan biarkan dia berkeliaran bebas biar dia tidak semakin leluasa membunuh orang" timpal Bryan.
"Oh ya habis ini kita harus latihan tau, om pasti nungguin kita di studio, kita harus ke sana, kita harus pergi latihan biar om gak curiga kalau sebenarnya kita lagi berusaha buat menyelidiki kasus ini" tutur Aryan.
"Haduh aku capek banget, rasanya gak kuat buat latihan hari ini" jawab Reyhan kelelahan karena banyaknya aktivitas yang ia lakukan seharian ini.
"Begini saja besok kalian jangan ikut lagi, biar kalian gak capek kayak gini" saran Angkasa.
"Enggak, aku gak capek!" Reyhan langsung membantah, itu ia lakukan agar Angkasa tak melarangnya untuk ikutan dalam kasus ini lagi.
"Sial bocah ini, kenapa aku susah sekali bikin mereka berhenti dari kasus ini, mereka gak mikir apa kalau terjun langsung dalam kasus ini berbahaya, tapi mengapa mereka seakan tidak peduli dengan hal itu" batin Angkasa mulai gedeg lantaran teman-temannya tak bisa di ajak kompromi.
Drrt
Drrt
Drrt
Tiba-tiba telpon Angkasa berdering, Angkasa langsung mengangkat panggilan tersebut tanpa banyak bicara.
"Halo ada apa om?" tanya Angkasa.
"Kamu ada di mana, kenapa jam segini belum datang ke studio juga, perasaan kamu udah pulang dari tadi, apa kamu lupa kalau sehabis pulang sekolah kamu dan teman-teman mu harus latihan?" omel om Jun dari balik telpon.
Suara om Jun terdengar khawatir lantaran mereka tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
"Iya om Angkasa tau, Angkasa gak lupa kok, Angkasa sama yang lain lagi otw ke sana, om tunggu aja kami di sana, sebentar lagi kami akan segera sampai di sana" jawab Angkasa.
"Cepetan, jangan lama-lama!" perintah om Jun.
Angkasa membalas dengan dehaman kemudian mematikan sambungan telpon.
"Siapa sa yang nelpon?" penasaran Aryan.
"Om Jun, dia minta kita ke studio, dia lagi nunggu kita di sana, tapi aku bingung harus jawab apa kalau dia nanya kemana kita pergi" Angkasa tak memiliki alasan yang tepat agar om Jun tidak curiga padanya dan juga teman-temannya.
__ADS_1
"Kita gak usah bohong, bilang aja kalau kita habis ngelayat ke rumah salah satu teman kita yang kecelakaan di depan sekolah, om Jun pasti percaya kok, gak mungkin dia curiga lagi sama kita, orang apa yang kita bilang fakta, gak mengada-ada" sahut Bryan.
"Betul itu, lebih baik jujur dari pada bohong, karena jujur itu menyelamatkan, meskipun pahit kita harus jujur" timpal Rafael.
"Ya udah nanti kita bilang gitu aja, semoga om Jun gak curiga" Angkasa setuju dengan pendapat mereka semua.
Mereka pun berdoa semoga om Jun tidak mencurigai mereka.
Di studio.
Om Jun menunggu dengan tidak tenang, mereka berlima adalah tanggung jawabnya, sebagai menajemen ia harus bertanggung jawab terhadap mereka berlima yang di amanahkah padanya.
"Di mana lima bocah itu, kenapa belum sampai juga, mereka berlima pergi kemana, kenapa sejak tadi gak datang-datang" mondar-mandir om Jun memikirkan mereka berlima yang masih tak kunjung datang juga.
"Mereka itu pergi kemana coba, kenapa tidak datang-datang, perasaan mereka udah pulang sekolah sejak tadi, kenapa masih belum sampai di sini juga" gelisah om Jun khawatir terjadi apa-apa pada mereka berlima.
Om Jun menunggu dengan tidak tenang, ia tidak bisa duduk tenang sama sekali sebelum melihat batang hidung mereka dengan mata kepalanya sendiri.
"Assalamualaikum" salam mereka berlima yang baru tiba di studio.
"Wa'alaikum salam, kalian ini dari mana aja, kalian itu habis pergi kemana, kalian biasanya pulang jam setengah dua belas, tapi lihat sekarang, ini udah jam 5, habis dari mana aja kalian sehabis pulang sekolah" omelan langsung terdengar di telinga mereka.
Mereka berlima sudah menduga akan kena omel setelah tiba di studio.
"Seharusnya kalian itu ngabarin om kalau kalian mau ngelayat atau kemana, biar om gak cemas mikirin kalian, sekarang ini kalian jadi tanggung jawab om, kedua orang tua kalian nitipin kalian ke om" perintah om Jun yang naik tensi karena memikirkan mereka berlima.
"Baik om, lain kali kami akan ngasih tau om, kami gak akan ulangi lagi kesalahan kami" jawab Angkasa.
"Itu kenapa baju kamu darah semua, kamu luka kenapa?" langsung khawatir om Jun kala melihat baju putih Angkasa yang penuh dengan darah.
"Owh ini, ini itu darahnya teman aku om yang nempel di sini, aku gak apa-apa, gak ada luka juga, karena bukan aku yang terluka" jelas Angkasa.
Angkasa belum sempat untuk mengganti pakaiannya yang penuh dengan darah, lantaran ia langsung ke studio tidak pulang ke rumah terlebih dahulu.
"Ya sudah sekarang kalian mulai latihan, om mau nilai, kalian udah lama hiatus" suruh om Jun.
Mereka semua dengan semangat memulai latihan, walaupun tubuh mereka lelah, tapi mereka harus tetap semangat karena mereka ingat perjuangan yang sudah mereka lalui selama ini untuk bisa berada di atas.
Om Jun menonton mereka latihan dengan mengoreksi apa yang salah dari diri mereka.
Setelah sekitar 1 jam mereka selesai latihan, mereka langsung mengambil air dan menegaknya hingga tandas.
__ADS_1
"Capek banget" tutur Aryan dengan keringat-keringat yang membasahi wajahnya.
"Latihan hari ini cukup baik, khusus untuk Angkasa kamu mulai hari ini gak boleh makan gorengan, suara kamu nanti fales!" perintah om Jun.
"Emangnya konser kami udah dekat om?" penasaran Angkasa.
"Prediksi om masih lama, tapi untuk antisipasi kamu jangan makan gorengan dulu, karena itu akan bikin suara kamu serak, kamu mengerti?" Angkasa menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Kalau untuk yang lain semuanya aman-aman aja" mereka semua pun bernafas lega.
"Tapi ingat tingkatkan lagi, om mau ketika kalian performs nanti semuanya perfect, penampilan kalian harus perfect, karena sudah lama kalian gak manggung" perintah om Jun.
"Baik om, kami akan berusaha untuk lebih baik lagi" sahut Bryan.
"Apa ada pertanyaan lagi?" om Jun ingin memastikan apakah ada yang ingin mereka tanyakan.
Angkasa mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Iya Angkasa, kamu ingin nanya apa?" penasaran om Jun.
"Boleh gak om kita latihan pas selesai sholat isya' aja, kalau sehabis pulang sekolah itu kami capek banget, udah seharian berada di sekolahan, eh pas pulangnya kami mesti latihan, tapi kalau latihannya di tarok di jam 7-8 itu masih mending" usul Angkasa.
"Boleh aja sebenernya, tapi kan kalian harus belajar biar pinter" sahut om Jun.
"Kita itu udah pinter om, gak usah belajar lagi, nanti lebih pinter kami dari pada gurunya" tutur Aryan.
"Tadi Angkasa bilang kalau sehabis pulang sekolah capek buat latihan, emang kalian beneran sekolah, kalian kan biasanya selalu bolos sekolah" om Jun sudah tau seluk beluk tentang mereka berlima yang memang jarang sekolah selama ini.
"Itu kan dulu om, itu pas masih di Jakarta, sekarang mah beda, kita udah insyaf" jawab Rafael.
"Beneran?" terkejut om Jun.
"Benarlah om, kita gak nakal lagi, kita udah jadi anak yang baik dan sholeh" tutur Bryan.
"Betul itu om" sahut Reyhan.
"Ya udah mulai besok kalian latihannya jam 7, jam 7 lewat 15 menit paling lambat sampai di sini, mengerti" om Jun akhirnya setuju dengan kemauan mereka.
"Mengerti" jawab mereka dengan semangat yang berkobar.
"Sekarang kalian boleh pulang, istirahat, jangan keluyuran, di luar masih gak aman" suruh om Jun.
__ADS_1
"Baik om" jawab mereka.
Mereka berlima pergi meninggalkan studio, setelah sekalian lama mereka akhirnya bisa pulang ke rumah.