
Di kelas Angkasa pelajaran kembali di mulai dengan tenang dan tanpa hambatan, semuanya berjalan dengan semestinya, tak ada kejadian menegangkan apapun yang terjadi.
Hingga ada suatu momen yang membuat senyuman merekah di bibir para siswa, yakni terdengar kabar bahwa salah satu guru tidak masuk sehingga jam kosong.
Jam kosong saat ini memang tengah terjadi, meskipun begitu mereka mesti tetap berada di dalam kelas tidak boleh keluar sebelum bel istirahat berbunyi.
Kebisingan terjadi di kelas Clara, semua mulut terbuka, tak ada yang tertutup, suara demi suara dengan ragam kata keluar, para murid bercanda hanya karena pada momen ini yang bisa membuat mereka bebas dari materi untuk beberapa saat.
"Eh kalian tau gak, satu persatu gengnya Dyera itu mati, ada apa kok bisa gini ya" suara April terdengar di telinga Steven, Angkasa, Clara, Aryan dan Reyhan yang duduk tak jauh darinya.
"Kena azab itu palingan, suruh siapa mereka jahat banget, itu karma bagi mereka karena selama ini mereka selalu jahat sama orang" sahut Shena.
"Betul itu, mereka kena karma, orang jahat emang patut mati mengenaskan kayak gitu" timpal Laras.
"Tapi yang jadi permasalahannya siapa yang sudah bunuh mereka, apa itu orang yang sama?" mikir keras April.
Berita kematian yang terus berdatangan membuat banyak orang bertanda tanya siapa dalangnya namun sampai detik ini masih belum ada titik terangnya.
"Aku rasa dia itu orang baik yang ingin balas dendam sama geng mereka, mereka kan sering bikin anak-anak ketakutan, mereka kalau menghina memang tidak pernah pandang bulu, kalian masih ingat betul kan kayak apa mereka saat membully anak-anak" Shena mengingatkan mereka dengan kepahitan dan penderitaan anak-anak yang dahulu pernah di jadikan babu oleh geng monster.
"Inget banget dong, masa aku lupa, mereka juga jahat banget, mungkin ini ganjaran bagi mereka karena mereka selama ini udah jahat pada orang" timpal April.
"Tapi geis aku itu curiga sama satu kelompok yang selama ini terlihat terus bersama" ujar Shena.
"Siapa?" tanya mereka berdua dengan mengernyitkan dahi.
__ADS_1
Clara dan yang lain menajamkan telinganya agar bisa mendengarkan siapa yang lagi mereka curigai.
"Itu loh geng Clara, geng mereka makin banyak aja, ada kak Rev juga lagi yang gabung di geng mereka" jelas Shena.
"Loh kan emang dari dulu kak Rev selalu sama mereka" sahut Laras.
"Iya sih, tapi gak terlihat selalu bersama setiap saat, kadang-kadang aja kak Rev gabung sama mereka, tapi entah kenapa akhir-akhir ini satu geng itu selalu bersama kayak lagi memberantas kasus apa gitu" celetuk Shena sedikit mengeraskan suara agar orang yang bersangkutan mendengarnya.
"Gawat mereka curiga sama kita, aku kira gak bakal ada yang curiga sama kita, eh gak taunya mereka yang malah curiga" ujar Steven mulai panik.
Segala apa yang mereka tutup rapat-rapat perlahan-lahan mulai terendus dan itu akan membahayakan kelompok mereka.
"Ini bahaya, kita harus lapor sama Rev dan yang lain kalau mereka lagi curiga sama kita, mereka gak boleh sampai tau apa yang kita lakukan, mereka bisa bahayain kita" sahut Angkasa ketar-ketir lantaran apa yang ia dan teman-temannya sembunyikan perlahan-lahan mulai terendus juga di hidung mereka.
"Iya nanti kita lapor sama yang lain, kita harus diskusiin dulu untuk nyari solusi yang terbaik dalam masalah ini, kita gak boleh gegabah, di sini kita jadi detektif, kita harus tetap rahasiakan ini semua, gak boleh sampai ada yang tau" timpal Clara tetap terlihat tenang, ia tengah memainkan perannya biar tidak ada yang curiga.
"Gini aja, nanti kita pas istirahat alihkan perhatian mereka, kita harus bikin mereka gak ngikutin kita, aku yakin mereka gak akan tinggal diam, aku curiga kalau mereka ingin berusaha nyelidiki kita juga" usul Clara.
"Ide bagus, nanti aku sama Aryan yang bakal ngalihin perhatian mereka, sementara kalian datang aja ke gedung anak IPA karena di sana ada Gina, kalian harus lindungi Gina, kali ini kita gak boleh keduluan sama dalangnya, Gina harus hidup walaupun ada penjahat yang lagi menginginkan nyawanya" setuju Reyhan.
"Boleh tuh, nanti kalian coba alihin perhatian mereka bertiga, jangan sampai mereka ngikutin kita hingga ke gedung IPA, itu pasti akan bikin kita dalam bahaya" perintah Clara.
Mereka berdua mengangguk."Iya nanti kita yang akan ngurusin ketiga geng itu, kalian gak perlu khawatir" jawab Aryan.
Pandangan mereka kembali terarah pada ketiga manusia yang di kabarkan tengah menaruh kecurigaan terhadap mereka semua.
__ADS_1
"Gimana kalau kita selidiki aja mereka, kita harus pastikan siapa mereka, aku rasa mereka itu bergabung jadi satu karena ada sebuah tujuan" usul Shena dengan menurunkan volume suaranya.
"Iya ide bagus itu, kita harus cari tau apa yang ingin mereka lakukan, kita kudu pastikan apa yang lagi mereka selidiki, aku juga ikutan curiga sama mereka" setuju April dengan usulan Shena.
"Gak bahaya ta, gimana kalau nanti kak Rev tau dan dia marah sama kita, kalian tau kan siapa kak Rev itu" Laras mengingatkan kembali siapa yang lagi berhadapan dengan mereka.
"Iya kita tau, dia adalah ketua OSIS yang tegas, tapi di sini dia itu harus di curigai karena gerak-geriknya akhir-akhir ini mencurigakan" jawab April.
"Walaupun dia ketua OSIS, kita jangan takut, kita harus tetap maju pantang mundur, lagian kita di sini hanya ingin cari tau apa yang lagi mereka rencanain, bukan mau nyelakain mereka kok" sahut Shena.
"Tapi aman gak, aku malas berurusan sama orang kepercayaan sekolah, aku takut ada apa-apa dan bikin aku keluar dari sekolahan ini" Laras masih ragu untuk menyelidiki satu geng itu.
"Udah kamu jangan takut, ada kami di sini, gak usah kamu takut segala, mereka gak akan curiga kok, tenang aja, ada April yang akan menjamin keselamatan kalian berdua" jamin April biar Laras tak lagi khawatir apalagi takut berlebihan seperti ini.
"Betul itu ras, kamu jangan takut, kita gak akan kenapa-napa kok" tambah Shena ikut menenangkan Laras.
"Ya udah deh aku ikut juga, tapi ingat ya kalau ada apa-apa, kalian berdua mesti tanggung jawab" perintah Laras.
"Gampang itu, kami pastikan rencana ini aman kok" jawab April.
Clara, Angkasa, Steven, Aryan dan Reyhan berusaha mendengarkan perbincangan mereka lagi namun kesulitan.
"Apa yang lagi mereka bicarakan coba, kenapa gak kedengaran, mereka mau rencanain apa lagi" mulai penasaran Angkasa namun sayangnya tak bisa mendengar rencana mereka.
"Kayaknya mereka lagi rencanain sesuatu deh, kita kudu hati-hati, musuh mulai bergerak, jangan sampai kita ketahuan, karena itu akan bikin kita dalam bahaya" ujar Steven.
__ADS_1
"Kita jadikan keberadaan mereka sebagai kewaspadaan, kita harus lebih jaga-jaga lagi" sahut Clara.