
Clara dan Cantika menunggu kedatangan mereka semua yang belum balik dari kuburan di depan teras dengan tidak tenang.
"Kemana mereka semua, kenapa masih belum pulang juga, orang-orang udah pulang dari tadi tapi kenapa mereka masih belum sampai, nyasar kemana mereka semua itu" Clara menunggu mereka yang tak kunjung datang dengan resah.
Clara takut terjadi sesuatu sama mereka di jalan.
"Mereka lagi ada di perjalanan, sebentar lagi mereka juga akan datang" jawab Cantika tampak tenang tidak gelisah sama sekali.
"Nah itu mereka" senyuman merekah di bibir Clara kala melihat kedatangan orang yang ia tunggu-tunggu sejak tadi.
Clara tanpa aba-aba langsung mendekati mereka semua."Kalian dari mana aja sih, kenapa baru sampai, apa yang kalian lakukan di sana, kenapa lama banget"
Clara langsung memarahi mereka, berada di tempat yang tak ia kenali sama sekali membuatnya merasa takut.
"Sstt kamu jangan ngomel, kita cuman pergi sebentar kok" jawab Rev.
"Pergi sebentar? hampir 2 jam loh kalian pergi dan baru sekarang sampai di sini, kalian gak mikirin aku apa, di sini gak ada yang aku kenal, gak bisa aku berada di tempat kayak gini, untung aja tadi ada Cantika yang nemanin aku saat kalian pergi" Clara terus mengeluarkan unek-uneknya yang ia pendam sejak tadi.
"Cantika?" Aldo ingin memastikan apa yang barusan ia dengar dari mulut Clara.
"Iya, tadi di sini ada Cantika, eh tapi kok sekarang malah gak ada, pergi kemana dia, apa dia menghilang saat kalian datang" Clara kehilangan Cantika, ia melihat sekelilingnya namun tak ada orang yang ia cari-cari.
"Kayaknya dia udah pergi clar" timpal Angkasa.
"Tapi beneran loh tadi di sini ada Cantika, dia sempat nunjukin aku benda-benda yang di kirim oleh dalangnya ke rumahnya" sahut Clara dengan mata yang masih melirik ke kanan dan kirinya mencari keberadaan Cantika.
"Benda apa?" mereka semua penasaran sama benda yang Clara maksud.
__ADS_1
"Benda-benda itu sebagian ada di dalam tas ku dan sebagiannya lagi ada di dalam tas hitam ini" Clara memperlihatkan tas hitam itu yang ia pegang pada mereka.
"Apa aja isinya" amat penasaran Aldo dengan apa saja isi yang terdapat di dalam tas itu.
"Nanti aja kita buka, jangan di buka sekarang, di sini bukan tempat yang tepat buat buka benda-benda ini" larang Clara.
"Kalau seperti itu ayo kita balik ke sekolahan lagi, kepala sekolah minta kita ke sana, ada sesuatu yang ingin dia bicarakan sama kita" ajak Rev.
"Iya, tapi sebelumnya ayo kita temui tante Sari, kita pamitan dulu sana dia" ujar Aldo.
"Tante Sari ada di dalam, ayo kita temui dia" ajak Clara.
Mereka semua setuju dan berjalan mengikuti Clara ke dalam rumah Cantika kembali.
Ketika berada di dalam rumah pandangan mereka langsung tertuju pada seorang di kerumuni orang-orang.
Sari sudah siumana sesaat sebelum mereka masuk ke dalam rumah.
Aldo yang di panggil langsung mendekati Sari yang begitu kehilangan sosok Cantika.
"Aldo kenapa Cantika memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri, apa yang sudah terjadi sama dia al, kenapa dia bunuh diri, masalah apa yang sudah bikin dia kayak gini" Sari masih penasaran dengan masalah yang mampu merenggut nyawa putrinya.
Aldo menghela nafas, untuk mengatakan yang sebenarnya pada Sari rasanya ia berat.
"Ada orang yang ingin bunuh Cantika tante, dia dari kemarin neror Cantika, orang itu ngancem kalau 24 jam ini Cantika gak meninggal, maka dia akan bunuh tante, Cantika gak mau tante kenapa-napa, dia melakukan ini semua semata-mata hanya karena ingin menyelamatkan tante" jelas Aldo.
Sari yang mendengarnya tertegun, tangisnya langsung kembali pecah, ia tidak menyangka bahwa Cantika rela berkorban untuk menyelamatkan dia.
__ADS_1
"Ya Allah Cantika, kenapa dia gak bilang sama tante, kenapa dia pendam ini semua sendiri" tangis Sari menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.
"Cantika hanya gak mau tante cemas mangkanya dia sembunyiin ini semua, Aldo sungguh gak tau tante kalau Cantika akan melakukan tindakan bunuh diri, jika Aldo tau lebih dulu, Aldo gak akan biarkan Cantika melakukannya" jawab Aldo merasa bersalah lantaran tak bisa menyelamatkan Cantika.
Sari menangis kejer di sana, ia tidak mampu membayangkan beban yang di rasakan oleh putrinya sehingga memilih untuk bunuh diri.
"Siapa yang udah ngacem akan bunuh Cantika Aldo, apa alasan dia melakukan itu?" sebagai seorang ibu Sari tidak terima anaknya seperti ini.
"Aldo gak tau tante, Aldo dan yang lain masih nyari tau siapa dia, tante doakan aja semoga Aldo bisa temukan dia, kami sedang berusaha untuk tangkap dia, nanti kalau kami udah tau siapa dia, kami pasti akan kasih tau tante" jawab Aldo.
"Iya, kamu tolong kasih tau Tante kalau kamu udah tau siapa orang yang udah bikin Cantika kayak gini, tante gak terima Aldo Cantika meninggal gara-gara dia" ujar Sari dengan air mata yang sesekali berjatuhan.
"Kami pasti akan melakukannya tante, kami akan berjuang sekeras mungkin untuk bisa tangkap dia, tante doakan saja semoga usaha kamu di lancarkan" timpal Aldo.
"Iya, tante pasti akan doakan kamu yang terbaik, tapi Aldo tante ingin tau apa alasan dia ingin bunuh Cantika, apa dia memang musuh Cantika?" penasaran Sari.
"Aldo masih belum tau pasti alasan dia mau bunuh Cantika, tapi dari penyelidikan yang Aldo lakukan selama ini dia itu lagi balas dendam, gak cumaan Cantika saja yang sudah tewas karena ulahnya tante, sudah ada 4 orang yang meninggal sebelum Cantika meninggal dan itu gara-gara dia" jelas Aldo.
"Jadi maksud kamu dia lagi balas dendam sama Cantika?" Sari mengartikan apa yang Aldo katakan.
Aldo mengangguk cepat."Iya tante, dia memang ingin balas dendam, entah apa yang sudah di lakukan Cantika selama ini sehingga ada orang yang mau balas dendam sama dia"
Sari termenung memikirkan apa yang barusan ia dengar."Apa yang sudah bikin dia balas dendam hingga separah ini, kenapa Cantika gak pernah cerita ke tante kalau ada masalah kayak gini, kenapa dia malah memilih untuk mendamnya"
Sari kesulitan untuk menemukan masalah yang berhasil menewaskan putrinya lantaran Cantika yang sangat tertutup, bahkan Cantika tidak pernah bilang-bilang pada Sari tentang apapun yang terjadi.
"Kami akan cari tau tante, kami pasti akan bisa tau apa alasan dia bunuh mereka semua" ujar Clara menimpali.
__ADS_1