Misteri Kematian Di Sekolah

Misteri Kematian Di Sekolah
Misteri buku tanpa judul (Telah Revisi)


__ADS_3

Teeet


Bel berbunyi dengan nyaring, semua anak-anak tampak senang setelah sekian lama akhirnya istirahat pun tiba, yang mereka tunggu hanyalah istirahat.


Satu demi satu para murid meninggalkan kelas, dalam waktu yang terbilang singkat kelas menjadi sepi, hanya ada beberapa orang yang berada di dalam.


"Clara kamu mau kemana" teriak Angkasa kala Clara yang beranjak dari tempat duduk.


"Aku mau ke perpus, kamu mau ikut?" tawar Clara.


"Boleh" jawab Angkasa.


"Ayo buruan" ajak Clara.


Angkasa mengikuti Clara yang akan ke perpustakaan, Angkasa yang masih baru kesulitan untuk berinteraksi dan bergerak, banyak tempat yang belum ia ketahui, alhasil ia akan mengikuti kemana Clara pergi.


Clara adalah satu-satunya orang yang bisa Angkasa jadikan partner dalam komunikasi.


"Iiih kok mau ya sama cowok lucun dan malu-maluin kayak dia" hina April kala Clara dan Angkasa hendak lewat di depan.


Langkah Clara langsung terhenti, lirikan mata tajam langsung mengarah pada trio ondel-ondel yang tertawa puas saat berhasil menghinanya.


"Maksud mu apa!" naik pitam Clara.


Sindiran itu telah membangkitkan singa yang tertidur pulas.


"Eh kamu jangan nyolot ya, kita-kita ini bilang apa adanya!" ikut emosi April.


"Bisa gak sih kalian jangan suka nyinyirin orang!" tak terima Clara.


Sikap buruk trio ondel-ondel telah lama membuatnya kesal dan moodnya hancur, tak hanya Clara ada banyak pula anak yang menjadi sasaran empuk mereka.


"Enggak bisa, kita gak bisa diem aja. Eh btw kalian cocok tau, sama-sama culun hahaha" hina Shena, lalu pergi dari sana meninggalkan mereka berdua bersama teman-temannya.


Clara mengepal kuat tangannya, wajahnya bak udang rebus.


"Iiihh kaauuu!" Clara gregetan, rasanya ia ingin merobek keras mulut trio ondel-ondel yang pagi-pagi udah membuat emosinya memuncak.


"Udah-udah, kamu jangan ladenin orang kayak mereka, mereka itu gak pantes di ladenin" cegah Angkasa biar masalah ini tak menjadi panjang.


"Tapi dia secara gak langsung udah hina kamu, aku gak terima mereka main hina orang sembarangan. Aku harus balas mereka, pokoknya mereka harus habis di tangan aku!" Clara terlanjur murka pada trio ondel-ondel itu, hatinya sudah terlanjur tergores karena mulut pedas mereka.


"Clara, plis dengarin apa kata aku, kamu jangan bikin masalah, aku gak apa-apa, aku gak masukin ke hati ucapan mereka, jadi kamu gak perlu memperpanjang masalah" Angkasa menahan Clara yang akan menghajar mereka.


Clara menghembuskan nafas berat, menarik nafas dalam-dalam lalu dengan pelan-pelan membuangnya, ia juga mengusap wajah kasar.


Walau sedikit emosinya telah mereda.


"Baiklah, aku akan lepasin mereka, tapi awas aja kalau sampai mereka keterlaluan lagi, aku gak akan segan-segan bikin mereka menderita!" ancam Clara menaruh dendam pada trio ondel-ondel.

__ADS_1


"Iya, ayo kita pergi dari sini, kamu mau ke perpus bukan?" Angkasa mengingatkan kembali tujuan awal mereka.


Clara mengangguk, ia dan Angkasa kembali melangkahkan kaki menuju perpustakaan.


Setibanya di sana, Angkasa menatap perpustakaan yang sepi, seorang pun tak ada yang lewat.


Angkasa menatap Clara yang tampak biasa saja dengan suasana perpustakaan yang hening.


"Kok sepi, pada kemana semua orang, kok perpus ini jadi sepi?"


"Biasa, perpus memang sepi, mereka kagak ada yang mau ke sini"


"Kenapa, kenapa mereka gak mau ke sini?" Angkasa semakin penasaran, ia merasa janggal dengan perkara ini.


"Mereka bilang perpus ini angker, mangkanya gak ada orang yang mau ke sini"


Angkasa mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti alasan mereka tak menginjakkan kaki di perpustakaan ini.


"Ayo masuk" ajak Clara.


Dengan ragu-ragu Angkasa melangkah memasuki perpustakaan yang sepi dan sunyi, di sana hanya ada mereka berdua saja, satupun manusia tak terlihat di matanya.


Angkasa menatap penjuru ruangan dengan teliti, banyak penampakan yang terlihat di matanya


Ludah pahit Angkasa telan, makhluk halus penunggu perpus begitu menyeramkan.


Clara mengambil buku yang di inginkan, sementara Angkasa diam di tempat, bingung harus melakukan apa.


Brukk


Pandangan Angkasa teralihkan kala ada buku yang jatuh, ia mengambil buku yang jatuh di dekatnya.


"Eh ini bukunya jatuh" Angkasa menyodorkan buku itu pada seorang gadis yang sebaya dengannya.


Wajah gadis itu tampak pucat pasi, ia menatap tajam ke arah Angkasa, lalu secara tiba-tiba menghilang dari sana.


"Loh kok pergi, bukunya juga gak di bawa, apa udah gak penting lagi buku ini" Angkasa menatap buku kisah cinta yang ada di tangannya.


"K-kamu bisa lihat mereka?" kaget Clara yang melihat dengan jelas interaksi Angkasa dan makhluk astral itu.


Angkasa mengangguk, dalam hatinya ia panik karena baru kali ini kelebihannya di ketahui karena kecerobohannya.


Clara tampak terkesiap, ia tak pernah menyangka kalau Angkasa adalah anak indigo.


"Matilah, kenapa aku ceroboh sekali, bagaimana kalau dia nyebar ini semua, aku akan kena masalah besar" batin Angkasa tegang.


"Sama dong kalau gitu, aku juga bisa lihat makhluk-makhluk kayak mereka, kita bisa jadi teman" gembira Clara, untuk pertama kalinya ia menemukan teman yang satu frekuensi.


"Kamu juga bisa lihat mereka?" kaget Angkasa.

__ADS_1


Clara mengangguk cepat."Iya, aku bisa lihat mereka, mangkanya aku betah ada di sini"


"Gadis aneh, kenapa dia malah ingin berdekatan dengan makhluk halus, biasanya anak indigo memilih untuk menjauh dari yang namanya hantu, tapi dia, sungguh aku tidak bisa berkata-kata lagi" batin Angkasa tak habis pikir.


Clara berjalan mendekati buku yang mau ia baca, setelah mengambilnya ia duduk di bangku dan mulai membaca dengan tenang.


Sementara Angkasa malah berjalan melihat-lihat isi perpustakaan yang masih asing, di penjuru tempat pasti ada makhluk halus yang menempati, namun itu semua tidak membuat Angkasa gentar.


Sesuatu tiba-tiba menarik perhatian Angkasa, ia meraih buku yang terletak di paling atas, ia penasaran dengan buku yang tampak lebih tua dari pada buku-buku lainnya.


Dengan susah payah Angkasa mengambil buku itu.


"Akhirnya dapat juga" senyum tipis terukir di bibir Angkasa kala buku yang dia inginkan berada di genggamannya.


Angkasa membersihkan buku yang penuh dengan debu, ia mengerutkan alis saat buku itu tidak memiliki judul tak seperti buku-buku pada umumnya.


"Buku apa ini, kenapa misterius banget?"


Angkasa membawa buku itu mendekati Clara, ia mulai membuka halaman demi halaman yang tertera di buku tersebut.


Setiap halaman mampu membuat mulut Angkasa ternganga ketika membaca isi buku itu.


Clara melirik Angkasa yang fokus membaca buku, ia penasaran buku apa yang Angkasa baca sampai membuatnya tak berkedip.


Clara yang penasaran melempar pertanyaan."Sa buku apa yang kamu baca?"


"Gak tau, buku ini gak ada judulnya"


Clara mengerutkan alis."Kok bisa ada buku yang gak ada judulnya, kamu dapat buku ini dari mana?"


"Dari almari yang paling pojok, aku tadi ambil buku ini di sana"


"Apa isi buku itu, kok kamu bacanya kayak seru gitu?"


"Buku ini menceritakan tentang pembunuhan sadis gitu, banyak nyawa yang jadi korbannya"


Mulut Clara langsung ternganga, baru kali ini ia dengar ada buku seperti itu di sini.


"Kok aku baru dengar ada buku kayak gitu di sini, biasanya yang ada di sini hanya buku-buku tentang pelajaran ataupun buku cerita-cerita kuno, gak pernah dengar cerita pembunuhan kayak yang kamu bilang"


"Gak tau, aku baru nemu buku ini di sini, karena aku penasaran ya udah aku baca aja, dan ternyata isinya beginian"


"Nanti kalau kamu selesai baca, pinjamkan buku itu pada ku, aku ingin baca juga"


"Siap" balas Angkasa sambil mengacungkan jempol.


Dengan penuh khidmat Angkasa membaca buku yang mengandung misteri dan kriminalitas.


Tanpa rasa waktu berlalu dengan cepat, hingga bel masuk terdengar. Mereka menyudahi membaca buku dan terpaksa kembali ke kelas.

__ADS_1


__ADS_2