
Di dalam mobil mereka tegang, mereka takut kehilangan jejak ambulance yang membawa jenazah Emilia pergi.
Ketegangan terus terpancar di wajah Angkasa, baju putih yang ia kenakan penuh dengan darah, namun ia tidak mempedulikan hal itu, setidaknya ia bisa berusaha untuk menolong orang.
"Rev lebih cepat lagi Rev, jangan sampai kehilangan jejak" suruh Steven yang gelisah karena ambulance itu semakin menjauh.
Rev dengan semaksimal mungkin mengemudikan mobil, ia tidak bisa menancap gas, karena di kanan dan kiri banyak sekali murid-murid yang berhamburan.
Kendaraan-kendaraan juga memenuhi jalan, Rev tidak bisa main terobos aja karena hal itu akan membahayakan nyawanya dan juga orang lain di sekitarnya.
Personil band Amanda mengikut mobil mereka dengan menggunakan taksi.
"Awas Rev" teriak Clara.
Rev langsung mengerem mendadak saat ada siswi yang tiba-tiba menyebrang jalan.
"Huft untung gak tertabrak" lega Rev dengan memegangi dada yang naik turun.
Hampir saja siswi itu akan bernasib sama dengan Emilia yang menjadi korban tabrak lari.
Rev terus merasa tegang lantaran hampir menabrak orang akibat sifat tergesa-gesa.
"Hati-hati aja, utamakan keselamatan, aku yakin kita pasti akan sampai di rumah Emilia juga" ujar Angkasa.
Lebih baik pelan-pelan dari pada ngebut namun pada akhirnya memakan korban jiwa.
Keselamatan nomor satu, tak boleh meremehkan keselamatan walau sesulit apapun keadaan.
Rev kembali melajukan mobil, wajahnya tampak santai tapi wajahnya terlihat tegang karena khawatir kehilangan jejak ambulance.
Setelah keluar dari kerumunan Rev langsung menancap gas, di jalanan sudah tidak sepadat tadi. Rev terus menancap gas mengejar mobil ambulance yang melaju dengan kencang di depan tanpa hambatan.
Orang-orang memberi jalan bagi ambulance untuk lewat sehingga ambulance dengan lancar bergerak di jalanan.
"Dia akan segera pergi, Rev lebih cepat lagi, jangan sampai dia pergi, kita gak boleh kehilangan jejaknya" panik Clara saat mobil ambulance itu mulai tidak terlihat lagi.
Rev terus menatap ke depan, dengan tingkat fokus yang tinggi Rev mengejar mobil ambulance tersebut.
Di dalam mobil mereka semua tegang, tegang karena takut kehilangan jejak ambulance yang membawa jenazah Emilia.
__ADS_1
Setelah 1 jam kejar-kejaran di jalanan akhirnya mereka tiba juga di rumah Emilia yang besar dan mewah.
Mereka keluar dari dalam mobil, pihak keluarga Emilia yang mendengar bahwa Emilia kecelakaan dan tawas di tempat menyambut kedatangan ambulance dengan tangisan.
Suara tangisan itu terdengar menggema seisi rumah.
Mereka semua yang berjumlah 9 orang hanya diam di tempat, mereka tidak ada yang bergerak, mereka hanya diam menatap orang-orang yang histeris mendapati Emilia yang sudah tak bernyawa.
Kepala Emilia pecah, tepat di atas telinganya ada luka yang menganga, darah terus saja keluar, mulai dari hidung, mulut bahkan telinga.
Ibu Emilia pingsan di tempat, terpukul kala mendengar bahwa anaknya yang tadi berangkat dalam keadaan baik-baik saja tapi pulang-pulang sudah meregang nyawa.
Ibu mana yang tidak akan jatuh pingsan kala melihat anak tersayangnya meninggal dengan cara yang tragis.
Clara yang melihat kesedihan keluarga Emilia merasa iba."Kasihan keluarga Emilia, dia begitu terpukul karena kehilangan Emilia"
"Aku kira hanya Cantika saja yang tewas hari ini dan kita bisa berhasil menyelamatkan Emilia, tapi siapa sangka dia malah kecelakaan tepat di depan mata kita dan kita gak ada yang bisa menyelamatkan dia" sambung Clara.
Apa yang telah di rencanakan, di rancang-rancang hingga matang tak ada gunanya.
Mereka tetap saja tak dapat menyelamatkan orang yang lagi di incar oleh sang penjahat berseragam sekolah.
"Mungkin hari ini adalah hari kegagalan kita, namun besok kita harus bisa bergerak lebih cepat. Kita jangan lengah lagi, pelakunya semalain gila, dia membunuh tanpa aba-aba, kita harus lebih waspada lagi, karena kita tidak tau kapan dia bergerak, kapan dia diam" sahut Rev.
Gagalnya usaha yang mereka lakukan telah membuat mereka down. Tapi satu sama lain harus saling menguatkan, tidak boleh patah semangat.
"Kita jadikan hari ini sebagai sebuah pelajaran, kita ambil hikmahnya yang terkandung" timpal Bryan dengan tatapan lurus kedepannya.
Bryan melihat banyak sekali para warga dan pihak keluarga Emilia yang berlalu lalang di depannya. Tangisan tak kunjung usai, makin lama makin keras.
"Kita doakan saja semoga Emilia bisa beristirahat dengan tenang, hanya itu yang bisa kita lakukan" sambung Aldo.
Mereka semua mengangguk, mereka memang lelah, sudah seharian mereka bergerak menyelidiki kasus ini namun yang mereka dapatkan hanyalah kegagalan, mereka terus gagal sehingga sudah ada banyak nyawa yang telah melayang tapi mereka tak berhenti sebelum pelakunya di tangkap.
"Sekarang sana kalian bantu-bantu, kalian anterin Emilia ke tempat pengistirahatan terakhirnya, aku akan jaga di sini" suruh Clara.
Mereka semua pun langsung bergerak membantu-bantu di sana.
Jenazah Emilia langsung di kuburkan, pihak keluarga tidak menunggu kerabat jauh yang masih berada di perjalanan karena kasihan Emilia, sudah sepatutnya dia segera di makamkan, tak mungkin menunggu kedatangan kerabat-kerabatnya yang berada di luar kota bahkan luar negeri.
__ADS_1
Jenazah Emilia mulai di mandikan, di kafani kemudian di sholati setelah itu di antar ke pemakaman umum tempat terbaik untuknya beristirahat.
Angkasa, Rev, Steven, Aldo, Bryan, Rafael, Reyhan dan Aryan ikut mengantar jenazah Emilia menuju pemakaman umum bersama warga-warga lainnya.
Sementara Clara berada di depan umah Emilia menungggu kedatangan mereka.
"Permisi" seorang pemuda yang kisaran umurnya 3 tahun di atas Clara menghampiri Clara.
Clara mendongak menatap pria berkulit putih, hidung mancung, bibir tipis tersebut yang lagi berdiri tepat di depannya.
"Iya ada apa mas?" Clara mendadak menjadi gugup saat di hampiri oleh pria yang tak ia kenal.
Dalam hati Clara menyesal menunggu di depan rumah Emilia yang tak ada seorang pun yang ia kenali.
"Apa kamu temannya Emilia?" Clara menganggukkan kepalanya, walaupun ia tidak terlalu dekat dengan Emilia, namun ia tau seperti apa Emilia.
"Aku kakaknya Emilia, aku ingin tanya kenapa adik ku bisa meninggal, apa kamu ada di lokasi?" maksud tujuan pemuda itu menghampiri Clara hanya karena ingin mengetahui kronologi kematian Emilia.
Clara merasa sedikit lega kala mengetahui jika pemuda di depannya adalah saudara Emilia. Pikiran-pikiran buruk Clara seketika menghilangkan.
"Iya mas, tadi saya ada di lokasi di mana Emilia meninggal" jawab Clara tak lagi gugup.
"Kok bisa adik ku kecelakaan, gimana ceritanya?" pemuda bernama Vero bertanya pada Clara, ia begitu penasaran dengan kronologi kematian adiknya.
"Tadi saat Emilia menyebarang jalam, tiba-tiba ada mobil hitam yang melesat dengan kencang dan menabraknya. Emilia langsung tewas di tempat, padahal udah ada banyak anak-anak yang berusaha untuk menyelamatkan Emilia, tapi sayangnya Emilia gak bisa ketolong" jelas Clara.
Wajah Vero tampak kusut, sebagai seorang kakak ia merasa kehilangan adiknya meskipun ia dan Emilia sering bertengkar. Sekarang pertengkaran itu akan menjadi kenangan yang bakal Vero rindukan karena tak ada lagi sosok yang bisa ia ganggu kembali.
"Kok Emil ceroboh banget, kenapa dia main nyebrang aja, seharusnya dia lihat dulu kanan kiri biar kejadian ini gak terjadi" ujar Vero.
Clara diam, ia sadar betapa sakitnya Vero ketika kehilangan adiknya yang tewas di depan sekolah.
"Mas sebelumnya apakah Emilia pernah cerita tentang adanya bahaya?" Clara mengorek informasi lebih dalam lagi tentang Emilia yang tidak ia ketahui.
Clara punya harapan jika mungkin saja kakak Emilia mengetahui hal apa yang sebelumnya terjadi pada Emilia sesaat sebelum Emilia meninggal dunia.
"Enggak, Emil gak pernah cerita apapun, dia memang suka mendam apapun sendiri"
Wajah Clara langsung manyun, Clara tak bisa mendapatkan apa-apa dari Vero.
__ADS_1
Dengan kakaknya saja Emilia tidak terus terang apalagi dengan ayah dan ibunya.
"Mas yang sabar saja, mas harus tabah, mas doain saja semoga Emilia bisa tenang di alam sana" Clara menenangkan Vero yang terpukul akibat kehilangan adiknya.